Lawan covid-19 di hutan Papua

0
64
anak papua - lomes
Anak-anak Wawoy, perbatasan Papua Nugini - Foto/Dok. Penulis

Biasanya, orang-orang di kampung sini—Wawoy—perbatasan—sebelah barat daya Papua Nugini (PNG), paling senang kalau yang namanya ada hujan lebat pada malam hari atau siang hari. Karena pada musim hujan itu, tikus tanah, kuskus, babi hutan, ular dan lainnya suka keluar dari sarang atau kandang untuk cari makan di hutan.

Ini adalah kisah dari Y. Amsal dan K. Sance, kedua orang tua dari Y. Jack pada musim pandemi virus corona atau covid-19 ini.

Lee itu nama panggilan dari Amsal. Orang di kampung ini biasa panggil istri dari Lee, San. Mereka punya anak hanya satu saja. Namanya Y. Vickto Jansen. Nama panggilan lelaki kecil berusia 3 tahun itu, Jack.

Rumah mereka tidak jauh dari kuburan tua. Di belakang kuburan adalah hutan lebat. Di samping kiri kanan kali dan daerah rawan penuh dengan pepohonan sagu, kelapa, pinang dan lainnya.

Biasa mereka berkebun dan berburu di hutan Wawoy dan sekitarnya. Jarak tidak terlalu jauh bagi orang kampung yang terbiasa jalan kaki—tidak manja dengan kendaraan.

Tapi bagi orang kota, bisa hosa (capai) sampai mati—bisa serasa seperti orang yang dapat kejar dari para anarko legal di zaman neraka satu ini. Jarak tempuh kurang lebih 2-5 km.

“Bapa Immount dengan Jack tinggal di rumah ya,” kata Jack punya mama sebelum pergi hutan. Lanjutnya, “kita pergi ke kebun Wawoy.”

Tapi Jack punya bapa berencana lain. Tujuan Lee, mau pergi ke hutan. Konon, lelaki yang tidak bisa jauh dengan pinang ini hendak pergi ke hutan lebat. Dari rumah dia keluar dengan anjing-anjing kecil yang setia dan cerdik.

Sigit… Sigit… Dawa.. Dawa… Saw oi… Saw oi…!” begitu dia memanggil anjing-anjing kecil di rumah yang setia menjaga di rumah dan pintar berburu di hutan.

Anjing-anjing itu pun segera ikut Lee yang menggunakan sepatu rimba, parang di tangan, dan noken pinang dari belakang.

Dari rumah menuju kuburan tua itu kelihatan. Namun sampai di turunan dan sampai masuk hutan sudah tidak kelihatan lagi. Hujan gerimis, kabut, pohon cokelat dan alang-alang sudah menutupi wajah Lee.

“Berkebun, pergi ke kebun atau berburu, pergi ke hutan itu jauh lebih baik ketimbang tinggal di rumah. Bayangkan kalau saja petani (pekerja sawah) di Jawa, Vietnam dan lainnya yang menjadi sumber produksi beras berhenti bekerja atau pemerintah pusat membatasi bantuan beras ke daerah koloni sebelah, West Papua. Sungguh, pasti sa pu orang-orang tak hanya akan mati covid-19. Tapi juga pasti banyak yang mati karena kelaparan akibat krisis pangan lokal dan nasional.”

Inilah yang muncul dalam benak pikiran saya.

Di sini membuat saya berpikir, bahwa berkebun dan berburu adalah solusi yang tepat. Manfaatnya pada musim pandemi covid-19 ini sangat banyak.

Pertama, dengan cara fokus berkebun dan berburu di hutan, secara tidak langsung kita menghindari ancaman covid-19;

Kedua, juga secara tidak sadar, kita menyelamatkan nyawa kita, keluarga dan orang lain;

Ketiga, kalau kita fokus berkebun dan berburu di hutan, kelaparan, baik pada musim pandemi covid-19 maupun sampai kapan pun, tidak akan menimpa kita.

Kuncinya, jangan jual tanah adat, jual hutan adat, dan lautan, danau, sungai, kali, telaga yang menjadi sumber mata pencaharian hidup kita.

Tapi kalau jual, setelah itu, apalagi pada musim pandemi covid-19 seperti ini mau lari kemana? Mau makan apa? Kita akan mati. Covid-19 maupun virus lainnya akan menyambut ajal kita. Bahkan kelaparan sangat mudah membawa kita pada kematian.

Kalau perlu uang, ya olah tanah adat, hutan adat dan perairan yang bisa menghasilkan dan menguntungkan seumur hidup. Bisa saja kita kasih kontrak atau sewa. Atau membuat tempat wisata, rekreasi dan lainnya. Bila perlu buka lahan (babat hutan) dan berkebun di situ. Karena kita tidak tahu covid-19 ini kapan akan berakhir.

Barangkali, pada awal-awal ini, banyak orang kaya, pejabat dan pengusaha, dan pemerintah membantu kita. Tapi kalau covid-19 bertahan sampai Desember atau tahun depan, tidak mungkin mereka akan bantu lagi. Semua orang akan pikir masing-masing untuk menyelamatkan diri dan keluarganya.

“Bagi saya, kita di kampung ini masih ada harapan. Jika covid-19 masuk di kampung, kita bisa lari ke hutan. Bikin pondok di hutan dan bertahan di sana. Kalo lapar pun, tidak susah. Kita bisa ambil pisang, gali keladi, sayur gedi dan lainnya untuk makan,” kata Built, adiknya Lee, pada Kamis, 16 April 2020, di samping kebun, pohon mangga—Wawoy Atas.

Masyarakat sipil di sini tidak butuh bantuan dana dan bahan makanan, seperti beras, super mie, minyak goreng, dan lainnya. Soal makanan di kampong-kampung sudah cukup. Mereka bisa bertahan dan bertahan dengan sagu dan tanaman pangan lokal lainnya.

Yang mereka butuh saat ini adalah tenaga medis (dokter, perawat dan relawan) beserta peralatan medis untuk menekan ancaman covid-19, sekaligus mengontrol masyarakat.

Petugas ini harus melakukan pelayanan dan sosialisasi dari rumah ke rumah. Kemudian itu harus bertahan di sebuah pos darurat. Mereka harus bertahan hingga covid-19 benar-benar tidak ada dan situasi umum kembali kondusif. Jika tidak, ya masyarakat di pinggiran kota dan pedalaman harus masuk hutan. Di hutan bisa lawan covid-19.

Tapi di permukiman warga sipil harus dijaga ketat. Bukan oleh aparat. Tapi masyarakat, terutama relawan. Sedangkan masyarakat sipil lainnya diarahkan masuk hutan. Di sana, mereka akan bertahan hidup dengan cara berkebun, berburu dan lain sebagainya.

“Itu yang saya pikir. Kita lebih baik ke kebun atau di hutan. Bikin pondok dan tinggal di sana. Nanti covid-19 trada baru kita kembali pulang ke rumah,” demikian kata Lee setelah pulang dari hutan ke rumah pada Jumat, 10 April 2020. []

Penulis: Che Lee Q. Ghe, warga Papua di Jayapura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here