Kopi manus khas Flores

kopi flores

Kopi yang khas di Pulau Flores cuma di Manus. Aeh, benar ka tida ini? Iihh, PD skali kau tah. Ya, it is my impression, so what? Kalo mo tau silakan kawan-kawan baca sampe habis sa pu celoteh.

Sa tir mau menafikan pendapat kalian soal kopi. Toh soal rasa, lidah tir bisa bohong. Kau boleh tipu-tapu maitua. Tapi kalo bilang kopi Manus tir enak, sa jamin kau lagi malaria tropika plus empat. Malaria yang naik sampe ubun-ubun itu. Sakit yang bikin jipi-jara (bicara sembarang). Begitu.

Terus kenapa sa bilang kopi Manus itu khas? Sabar kawan. Mari kitorang ganda-ganda (bincang-bincang). Mumpung nona-nona ada bikin kopi. Kita tunggu dorang sampe selesai ini ulasan.

Sa yakin semua tahu tentang “barang ini”. Barang yang bikin kaum urban jadi trendy di kota-kota besar. Barang yang bikin film dan buku berseliweran di tanah air.

Teori-teori tentang asal-muasal penyebaran dan manfaatnya, kawan-kawan su tau. Misalnya kau jangan minum kopi bila lambung lagi luka. Lagi sakit hati usai diputus pacar. Ups, yang ini pengecualian e.

Kau harus minum “air hitam” itu untuk menguatkan daya ingat, jantung, dan antikanker. Kurang lebih begitu.
Dorang yang suka minum kopi pasti memililki memori dengan kapasitas lebih dari satu tera bite. Ya, iyalah, otak kan bukan hardisc.

Aduh, sa jadi ingat sa pu nene di kampung. Dia masih mengingat beberapa kosakata bahasa Belanda. Paal, king grass, dam, werkik, de el el, adalah beberapa dari kata bahasa Belanda, yang dia ingat. Mungkin nanti sampai mati.
Sa jadi pikir begini: selain makanan yang masih asli, kopi memang bikin nene kuat. Detak jantungnya normal. Daya ingatnya kuat. Dia bilang, itu karena rajin minum kopi.

Baca juga

Bukan hanya rajin, meminum kopi bagi orang Manggarai memang menjadi tradisi. Kalo kau ada pigi kerja di kebun, kopi punya porsi lebih dari nasi dan ubi.

Pagi sebelum kerja di kebun Lopo Nadus, Mekas Radus su sarapan. Ubi dan kopi jadi teman setia. Tapi pas di kebun, kira-kira jam sembilan, Lopo Nadus sudah siapkan kopi satu periuk besar. Masak di kebun. Semua pekerja minum rame-rame. Jadi rame raes.

Saat matahari beranjak pelan menuju peraduannya, kopi juga su disiapkan. Itu sebelum kitorang pulang ke rumah. Asyik, man!

Saat kau menjelajah tanah Nucalale, kau lelah. Haus. Siang terik membakar kukit mulus. Lalu mengaso sejenak. Mencari tumpangan. Bertamu ke rumah orang Manggarai.

Hal pertama yang tuan rumah buat adalah reis (menyapa). Lalu menyediakan kopi. Bukan air es, kopi es, atau munuman berkarbonasi. Tapi ini: kopi.

Bila bertamu ke rumah mereka, wajib hukumnya menyedu kopi. Jika kau menolak kopi berarti menolak persaudaraan. Keluarga. Semua terasa satu tenaga, satu keluarga, satu darah. Satu cinta dalam gelas. Itulah Manggarai. Tanah yang membentang dari Selat Sape sampe Wae Mokel.

Demikian gambaran umumnya. Sa juga mo cerita sa pu pengalaman menjulur lidah. Mengecap itu barang. Adu mama sayangeee. Woiiii, jangan pikir mesum kalo bicara lidah. Ini masih tentang kopi.

“Nana, bangun sudah. Ada kopi ini,” kata Nona itu suatu pagi berkabut tebal.

Sebut saja namanya Genes. Dia kalem. Sorotan matanya bagai elang. Senyumnya bagai kopi borot di lingko Lopo Nadus.

Sa kenal Genes di Mukun. Genes terbilang jadi bunga desa. Maka sa, Rikus, dan Nasus ke dia pu rumah suatu kesempatan. Tak sekadar mau kopi, tapi mau tau cara dia membikin kopi. Cerita punya cerita, bai de wei, kopi tiba di meja pagi ini. Satu teko setinggi 30 senti dan diameter 25 senti banyaknya.

Saat kukecap, lidah jadi menjulur keluar. Mata terpejam. Menyembur seisi rumah.

“Pahit ka?” Tanya Genes.
“Bukan pahit. Ini tida ada gula,” sa menjawab.
“Ini namanya Kopi Manus, Nana.”
“Kenapa disebut kopi manus?”
“Tidak ditaro gula to?”

Ya, begitu sudah. Kitorang di daerah Manggarai Timur menamainya kopi manus. Manus itu salah satu kampung di kawasan Mukun. Bagian timur laut Manggarai, Flores Barat. Kini masuk dalam administrasi Kabupaten Manggarai Timur. Kopi manus menyatukan setiap insan.

Rinduku membuncah saat mengecapnya. Rinduku tetap terpatri meski melintas di jalan aspal dan berlobang yang luput dari mata bapa-bapa di kursi sana.

Wuyuh, macam sa tambah puitis ka. Iyo, bagi saya kopi adalah teman begadang bersama aksara. Lantas melahirkan berkas-berkas curahan hati dan nyanyian.

Kopi ini memang tanpa gula. Tidak diberi gula bukan karena trada gula. Kenapa? Bukan kopi manus kalo ditaruh gula. Bukan sembarang kopi juga. Bukan kopi “sampan air”, bukan pula kopi “kapucing”. Tapi asli dari kebun masyarakat. Diolah secara alami dan sederhana. Arabika dan robusta. Itu kekhasannya. Pahit di lidah. Satu dalam pekat.

Tapi kopi manus membuat saya kecanduan kafein dan tegar melawan malam. Atau saat menulis sajak-sajak untuk Genes di sana. Yang sedang meracik kopi, kala menyambut meka peresmian jalan provinsi di Mbeling.

Ya, rinduku padanya. Pada merah meronanya. Pada hitam pekatnya. Pada robusta dan arabika berbalut cerita cinta. Bagaimana dengan kawan-kawan? Pelesirlah ke Flores. Genes ‘kan membikinmu kopi yang enak dan khas. Lalu kau bersenandung: “Maram dongkin hi Genes landing beres pande kopi“. []

 

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tabe Ite

 

Facebook Comments

2 thoughts on “Kopi manus khas Flores”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *