Kopi baku sayang

0
84
Menulis
Ilustrasi - Foto/Dokpri

Setiap kali kita ikut sebuah acara, misalnya sosialisasi, seminar atau sejenisnya, kita dengar sebutan kopdar alias kopi darat. Semacam minum kopi dengan suasana kekeluargaan dan keakraban.

Nanti kitong punya lain lagi. Kitong kase nama kopda, kopla dan kopka — kopi danau, kopi laut dan kopi kali. 

Maksudnya kitong ngopi-ngopian di atas perahu tooo? Asal jangan fotokopi saja karena nanti kertas basah.

Dan jangan kopas alias kopi paste karena nanti ikan-ikan dorang ramai-ramai minta laptop atau gadget. 

Baik kalo mujair saja. Kalo paus dan hiu repot jadinya. Terpaksa kitong ngopi sambil maen futsal di perut ikan.

Ah, kaka Timo ada-ada saja. Aiiii, ini bukan cerita nabi Yunus, yang ditelan ikan besar dan tiga hari tiga malam di perut ikan, baru de keluar karena campur tangan Yahwe. 

Ada juga kopsus alias kopi campur susu. Tapi sa tra mau kopsus. Karena kebun kopi tak pernah sama-sama dengan kebun susu.

Upssss….rasa kopi beda deng rasa susu maksudnya. Kopi campur susu bukan tong pu kebiasaan mooo. 

“Betu, betu, betu,” kata Upin dan Ipin.

Jangan kopra alias kopi udara juga. Awas mabuk udara. Lagian kalo kopra kitong harus undang Pace Albert Einstein. 

Itu de pu teori relativitas paling andalan. Sementara de su jauh di alam sana eeeee.

Ah, kitong berimajinasi saja sudah. Biar paitua de pu teori relativitas itu menyatu dalam tong pu pikiran to. 

Dia kan pernah bilang juga seperti begini: “imajinasi lebih penting dari pengetahuan.”

Koprasa boleh, kopi rasa sayang. Baru kitong rame-rame nyanyi sayang-sayangan sambil makan ubi dan jagung. Jadilah kitorang baku sayang, karena kitorang ni berasal dari Sang Cinta. 

Itulah esensi me-ngopi. Iyo ka trada? Iyooo saja. Gitu aja kok repot, kata sa pu tete ft Gusdur.

Pace Kahlil Gibran bilang:

“bila cinta memanggilmu ikutlah dia meski jalan yang ko pilih terjal, maka ia akan merengkuhmu. Aiii ini lebih lagi.”

Ah, sa terlalu berceloteh kah? Trada!

Celoteh itu pas kalo ada teh. Tapi bukan Teteh ee.., nanti Complex Oedipus-nya Pace Sigmund Freud muncul lagi. 

Sa tra paham teori psikoanalisa jadi. Teh saja sudah.

Sipppp, selain kopi, kalo teh ada sambil menulis juga inspirasi meleleh. Ups…jadilah sa pu celoteh ringan pelepas penat, di ujung pekan, dalam ruang sempit berdinding poster para inspirator.

Hmmm, ini masih ada cangkir kopi kawan. Daripada ngantuk, mari kitong melihat kopi sampe ampas-ampasnya. 

Ampas kopi juga seni. Kitong ciptakan seninya hidup bersaudara dari aneka latar belakang.

Ampas, semacam lika-liku laki-laki yang tra laku seperti kami. 

Itu sudah. Bisa cek jejak kopi baru macam ahli nujum. Mama sayang eeee.

Baru kitorang rangkai cerita lagi. Dari akronim kopdar, kopka, kopda dan kopra tadi. 

Cerita pu enak apa bilang. Anak cucu pasti senang kalo kitong baku sayang. 

Dan pasti Tuhan de tersenyum dan bilang:

Inilah anak yang Kukasihi, kepadanyalah aku berkenan!

Dan Paitua itu de tambah semangat dan pasti bilang begini lagi:

Anak, kasihilah sesamamu seperti Aku mencintai kamu!

Sabda ini keras. Butuh pemahaman menyeluruh dan meng-konteks, serta keyakinan teguh pada Sang Kebijaksanaan.

Tapi kalo bunuh-membunuh, sikut-menyikut dan benci tak bertepi, apa itu wujud cinta kasih? 

Ini memang susah. Perlu rekonsiliasi dan perdamaian.

Rekonsiliasi mengandaikan terjalinnya komunikasi antarpribadi dan intrapribadi, dari hati ke hati, mendengar dan didengar. Lalu menemukan duduk perkara dan solusi. Itu.

O, iya ternyata hari ini Kamis. Menurut tradisi iman Kristiani hari ini adalah Hari Kenaikan Isa Almasih, Yesus Kristus.

Selamat buat basodara semua! Su sembahyang toooo. Jang lupa kopi. Minuman sarat pesan.

Sepuluh hari lagi setelah Kenaikan, kitong merayakan Pentakosta. Roh Kudus turun atas kitong semua: umat beriman, seperti di Kisah Para Rasul.

Kitong pu sayang pasti tambah sirbeh, sirbeh dan kuat lagi berkat Roh Kudus tooo.

Kalo kopi su habis, ko pu cangkir talepas dan telungkup, menyimpan sudah. Siap hati, pikiran dan budi. Baru kitong menyanyi bersama.

Dari dalam tubir dosa padamu seruanku

Sudi Bapa perkenankan mengindahkan doaku

Jangan palingkan wajahmu bila aku merindu

Ampunilah dosa-dosa turunkanlah cintamu.”

Ah, ini bukan lagu Pentekosten kaka Timo. Terus lagunya apa? Veni Creator Spiritus. O iyoo, datanglah Roh Kudus.

Sa pu bahasa Latin dulu tra pernah dapat poin tujuh jadi, bahasa Indonesia sudah. Baik!!

Datanglah Roh Maha Kudus
Masuki hati umatMu
Terangi jiwa yang layu
Dengan embun kurnia-Mu.”

Yooo, itu sudah. Kitong bernyanyi untuk persatuan, kesatuan dan perdamaian di kitong pu tana ini.

Jang sampe tong cerai-berai macam debu yang ditiup angin to.

Kalo ada provokator tra usah peduli dorang. Provokator dorang tra senang kalo kitong hidup tenang dan senang.

Tong harus bersatu macam kopi, air dan gula to.

Tiga zat ini bersatu dalam air meski mempertahankan esensinya masing-masing. Toh tetap enak di lidah. Meski bikin insomnia juga. 

Tapi tra apa-apa. Let us enjoy!

Dan ribuan mata yang menatap pasti senang kalo tong duduk malingkar, jabat erat, baku polo dan di bawah lindungan Sang Khalik.

Kalo om Iwan Fals lihat, mungkin de tiup harmonika dan ambil gitar akustiknya. Menyanyi lagu Bangunlah Putra-Putri Pertiwi atau Damai Kami Sepanjang Hari.

Sa juga mo bilang, damai kita sepanjang waktu. Damai di hati, damai di bumi. Pacem In Terris. Apalagi di surga.

Itu tadi. Kopi rasa sayang. Torang baku sayang.

Itu baru namanya karya Roh Kudus, karena Roh Kudus itu mempersatukan.

Kalo memporak-porandakan baru namanya roh halus–yang merasuk dan mengusik nurani dan ketenteraman umat manusia.

Uppsss, kopi masih ada. Nanti baru lanjut ee. Torang dikejar waktu jadi. Di bawah kejaran deadline. []

Bengkel Kata, 250517

Celotehan ini dipublikasikan di facebook pada 27 Mei 2017 sebagai refleksi kejadian Padangbulan 25 Mei 2017. Kawan Julian H. Menulis kronologisnya di  https://www.kompasiana.com/www.tabloidjubi.com/59298cddd07a61b04f485fbd/kronologis-kericuhan-terkait-dugaan-pembakaran-alkitab-di-jayapura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here