Komunikasi interkultural: Sebuah filsafat global menurut Karl Jaspers

0
49
dialog
Satu budaya, konsep dan pemikiran lain akan mudah dibicarakan dengan mudah dalam diskusi yang bersifat dialogis - Pixabay.com

Karl Jaspers menjadikan cinta sebagai puncak dalam komunikasi antaraeksistensi dan eksistensi.

Bagi Jaspers untuk mencapai tujuan itu diperlukan sebuah perjuangan dalam sikap komunikasi, yang mana dikatakan suatu perjuangan individual demi sebuah eksistensi, entah demi dirinya sendiri, maupun semua orang lain.

Perjuangan demi sebuah eksistensi ini tentu sangat berbeda dengan perjuangan bersenjata dalam dunia militer.

Perjuangan ini dilakukan dengan suatu pembicaraan terbuka, terus terang, pembicaraan dari hati ke hati, dengan prinsipnya menghilangkan segala kelebihan atau keunggulan diri, dengan mengakui dan menghargai diri sendiri dan

Jaspers menekankan di mana kita menjadi diri sendiri dalam sebuah komunikasi adalah seperti menciptakan sesuatu yang baru, atau singkatnya menciptakan sesuatu dari ketiadaan (namun perlu disadari menciptakan sesuatu dari ketiadaan di sini, tidak dimaksudkan sama seperti Tuhan yang menciptakan kosmos ini dari ketiadaan).

Bila komunikasi dengan suatu daya juang demi eksistensi yang demikian, maka baik secara ekonomis, politis, maupun sosial, orang mendekati dan membutuhkan yang lain secara pasti.

Satu budaya, konsep dan pemikiran lain akan mudah dibicarakan dengan mudah dalam diskusi yang bersifat dialogis.

Dalam perjuangan komunikatif demi suatu eksistensi orang tidak boleh mempersoalkan menang atau kalah, unggul atau tidak, baik atau buruk, yang ada dalam suatu kenikmatan perjuangan melawan diri sendiri dan yang lain demi suatu kebenaran. Ada aspek solidaritas.

Dalam solidaritas yang eksistensial, bagi penulis melihat yang lain secara timbal balik, bukan untuk menghukum mereka, tetapi untuk memegang tangan yang lain dalam rintangan dan kegagalannya, dalam suka dan dukanya, dalam untung dan malangnya, dsb. 

Hal ini sebenarnya ingin memperlihatkan bahwa jika seorang ingin menjadi benar, ia harus berani membuat kesalahan atau menempatkan dirinya dalam kesalahan itu.

Kita tidak bermaksud membenarkan kesalahan sebagaimana ungkapan “Jika ingin damai siapkan perang”, tetapi kita melibatkan suatu proses dalam esksistensi manusia sebagai yang mungkin salah.

Hanya ketika saya menderita sakit, saya tahu betapa pentingnya menjaga kesehatan.

Hanya dengan menyadari dan mengetahui yang salah, orang akan mengerti apa itu benar.

Dalam masalah sosio-politik yang memecah-belah masyarakat, kita sanggup membuat pengertian perdamaian kalau pelaku kejahatan pernah mengaku salah kepada korban (Jaspers: 1970).

Pada suatu kesempatan Paus Yohanes Paulus II memohon maaf atas kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk penghukuman terhadap penemuan yang dibuat oleh Galileo Galilei, ia mendapat penghormatan sebagai Paus yang paling populer dalam Gereja sampai saat ini. 

Contoh lain, ketika Paus Emeritus Benediktus XVI menyampaikan maaf kepada umat muslim, dalam kaitan dengan kuliahnya di Regensburg, ke- 138 pemimpin negara Islam sedunia bersedia datang ke Vatikan-Roma untuk menandatangani suatu kesesakan dialog bersama (Antaranews.com, 25 September 2006).

Di dalam dialog antariman, kebudayaan dan tradisi yang membentuk dan mencirikan manusia dan peredabannya, juga merupakan momen sebuah komunikasi interkultur. 

Komunikasi interkultural itu bisa dipahami sebagai cross culture communication, yang dimaksudkan dengan ini ialah satu tindakan di mana orang dari berbagai latar belakang yang berbeda saling berkomunikasi dan merasakan dunia di sekitar mereka. 

Setiap orang yang terlibat dalam komunikasi menghidupkan budaya sebagai sharing akan pelbagai unsur hakiki dalam komunikasi itu sendiri (simbol, kepercayaan, sikap, nilai, harapan, norma dan perilaku), juga suatu keterampilan (suatu seni berperilaku demi efektivitas dan ketepatan dalam interaksi).

Pengetahuan, motivasi dan keterampilan. Dari ketiga aspek ini pada prinsipnya memungkinkan sebuah komunikasi itu dapat terjadi dan berlangsung.

Dalam perdebatan antara Joseph Ratzinger (Paus Emeritus XVI), yang dulu dikenal dengan penjaga iman Katolik yang kuat, benar dan tanggung (Ortopraksis Katolik) dengan Jurgen Habermas, seorang pakar nalar yang tidak pernah puas dan skeptis, di Akademi Katolik Bayern, Jerman, Ratzinger berpendapat, bahwa semua dialog mesti melibatkan seluruh umat manusia dan itu berarti mencakup semua agama dan kebudayaan di dunia. Inilah satu keterbukaan yang baik. 

Keterbukaan ini di kemudian hari diungkapkan secara tersirat dalam kata-kata Ratzinger sebagai berikut: “saya kira interkulturalitas ini sekarang merupakan dimensi yang tidak terelakkan dalam pembicaraan mengenai esensi manusia..” (Bosetti: 2009).

Dialog interkultural adalah kodrat manusia. Apa yang dikemukakan Paus Benediktus XVI juga telah dibicarakan secara lain oleh Karl Jaspers “sudah dari kekal orang saling mengenal”. 

Namun perlu dimengerti, bahwa apa yang dikatakan oleh Paus Emeritus Benediktus XVI pada tempat pertama dimaksudkan sebagai  “dialog Gereja Katolik dengan penganutnya dalam praktek iman dan dialog Gereja Katolik dengan dunia”. 

Dalam dialog seperti ini diharapkan sikap intoleran dan fanatisme agama dikuburkan, sehingga ada upaya untuk mengukur penyesuaian diri agama tertentu dengan sebuah tatanan sosial yang bebas, toleran dan pluralitas. Sikap seperti ini misalnya nyata dalam menghindari satu identifikasi islam dengan fundamentalisme (Kleden dan Sunarko: 2010).

Dalam kenyataan kita, agama juga termasuk sistem simbol yang dengannya manusia berkomunikasi dengan yang Ilahi. Pelbagai simbol religius dan sikap hormat penganutnya mengungkapkan juga eksistensi keberagamaannya. 

Yang dimaksudkan dalam konteks ini ialah pengetahuan serta sikap yang tepat terhadap keberagaman realitas yang disimbolkan memungkinkan terjadi komunikasi interpersonal.  

Sarana, media atau dikenal dengan simbol, termasuk keagamaan mengungkapkan kebutuhan kita. Pelbagai simbol ini masuk dalam kerangka realitas interpersonal. Komunikasi antarmanusia juga dapat terjadi dalam komunikasi antarindividu dan model umum tindakan dan ritualnya (Baal: 1971). []


Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Referensi:

Baal, J. Va, Symbol for Communication. An Introduction to The Anthropological Study of Religion, Netherland; Assen, 1971

Bosetti, Giancarlo, Iman Melawan Nalar, Yogyakarta; Kanisius 2009

Jaspers, Karl, Philosophy, The university of Chicago Press, 1970

Kleden, Paul Budi dan Adrrianus Sunarko, Dialektika Sekularisasi, Diskusi Habermas-Ratzinger dan Tanggapan, Maumere; Ledalero 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here