Kompos “sapu rata” dan kampanye lingkungan

Tulisan ini merupakan sebuah terobosan pemuda desa untuk mengembangkan pupuk kompos arang sekam dan sebentuk kepedulian terhadap lingkungan

0
349
pupuk kompos
Pupuk kompos olahan Lorens Gerak di Desa Ngancar, Kecamatan Lembor, Mabar, Flores, NTT - Foto/IST

“Kemana-mana saya membawa oto pick up. Mobil ini dijadikan sebagai teman jalan sekaligus pembantu. Jika di pinggir jalan ditemukan kotoran babi, sapi, kerbau, ranting-ranting, dan sampah yang dapat diurai, saya mengangkutnya ke mobil hingga penuh.”

Begitu pria asal Rejeng, Desa Bangka Lelak, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, Laurensius Marselinus Gerak mengawali percakapan dengan saya via seluler, pada Rabu malam, 16 September 2020.

“Jadi, saya tulis di saya punya oto ini ‘sapu rata’ karena dia banyak membantu saya,” katanya sambil tertawa.

Sesampai di rumah, kotoran padat tadi dibakar dalam sekam, untuk menjadi pupuk kompos.

Sebenarnya aktivitas ini dilakukan untuk menyuburkan tanaman jahe miliknya pada lahan satu hektare. Lama-kelamaan pupuk ini banyak peminatnya, bahkan menjadi ladang udang baginya.

Hingga kini pria jangkung ini sudah bolak-balik mengantar pupuk kompos dengan mobil miliknya. Sekarung dijual Rp 30 ribu. Harga standar Rp 28 ribu, ditambah nilai jual karung dua ribu rupiah.

Dia tidak bekerja sendiri, tetapi dibantu lima orang keponakannya, terutama saat mengaduk-aduk atau membuat campuran kotoran padat.

Gerak tinggal di dekat hutan, semak-semak dan padang ilalang (satar) di Desa Ngancar, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat. Ini membuatnya dapat mencari kotoran sapi dan kerbau dengan mudah.

Sedangkan kotoran babi diminta pada tetangga atau warga setempat. Di sini berlaku prinsip mutualisme. Dia membawa pulang kotoran babi, tetapi di sisi lain pemilik ternak babi dapat membersihkan kandangnya secara gratis.

Jika di hutan atau padang dia menemukan anak-anak yang sedang mencari kayu bakar atau bermain, maka dia menawarkan jasa mereka untuk mencari kotoran padat atau kering. Sekarung dibeli Rp 10 ribu.

Cara ini dianggap efektif untuk menumbuhkan jiwa dagang pada anak-anak. Di hutan mereka dapat mencari kayu bakar dan mendapatkan uang dengan menjual kotoran padat pada si pemilik “sapu rata“.

Saat melihat kampung halamannya di Rejeng (sekitar 1,5 jam perjalanan dari Lembor), bapak dua anak ini mengangkut apa saja; mulai dari ranting-ranting, kotoran kerbau, dan sampah yang bisa diurai.

Dia menyebutnya dalam ungkapan bahasa Manggarai “neka tinang ita, neka oke ngoeng” (jangan biarkan begitu saja sesuatu yang ditemukan dan menghasilkan uang, jangan buang jika ada kemauan untuk memprosesnya menjadi sesuatu yang bermanfaat), dan pupuk kompos buatannya familiar dengan “sapu rata”.

“Asal jangan curi saja. Sapu rata pas sekali,” ujarnya.

Di kampung halamannya, sang kakak mempercayakan Lorens untuk memproduksi pupuk kompos pada tanaman jahe seluas tiga hektare. Butuh 300 karung untuk lahan seluas itu. Ditambah 200 karung untuk tanaman jahe miliknya pada lahan 1,5 hektare.

Lorens bercerita bahwa produksi pupuk kompos menggunakan prinsip kehati-hatian karena prosesnya yang rumit. Kotoran-kotoran padat dihancurkan terlebih dahulu (peruk) sebelum dimasukkan ke dalam sekam panas.

Butuh waktu delapan hingga sembilan jam untuk 25 karung dalam satu kali pembakaran, sehingga sehari dia menghasilkan 30 – 40 karung kompos.

Sistem pembakarannya juga termasuk pembakaran tidak sempurna. Artinya pembakaran jangan sampai menghasilkan abu (warna putih), tetapi tetap berwarna hitam, karena pupuk kompos ini akan kehilangan unsur haranya jika berwarna putih.

Puji Tuhan, pupuk kompos produksi Lorens diminati banyak pemesan, dari Labuan Bajo hingga Manggarai Timur. Salah seorang pemesan pernah membeli 16 karung untuk sayur-sayuran, bahkan ada yang memesan hingga 50-60 karung.

Bonaventura Nursi Nggarang, yang menanam jahe di sela-sela pekerjaan pokoknya, sudah memesan sekitar 30 karung kompos olahan Lorens dengan harga terjangkau. Sekali pesan pupuk langsung diantar ke lokasi dengan sangat cepat. Sistemnya COD (cost of delivery) atau bayar di tempat.

Namun, dia belum memastikan kualitas pupuk kompos tersebut karena dirinya baru mau mencoba.

Menurut Ovan, sapaan pria bertubuh subur ini, sebagian besar masyarakat Kecamatan Lelak menggunakan pupuk kimia untuk tanaman jahe. Ini beralasan mengingat kondisi tanah merah (tidak subur), terutama di Desa Bangka Lelak dan desa sekitarnya.

“Saya punya tahun ini jujur tidak gunakan pupuk kompos saja. Karena saya belajar di Pelus dan Kalo (Desa Lentang). Mereka memang gunakan kompos, tetapi saat daun berumur 2-3 bulan. Tetap pakai itu pupuk kimia, tetapi dengan volume yang kecil, untuk merangsang (pertumbuhan) saja,” ujar sulung dari tiga bersaudara ini.

Ovan bercerita bahwa penggunaan pupuk kompos dalam usaha tani memang baik saat awal pertumbuhan tanaman. Namun tidak memungkinkan untuk masa panen dalam jangka waktu delapan bulan.

“Mau hasil yang banyak memang harus disuplai dengan pupuk kimia. Tapi memang volume sedikit saja,” katanya.

Pria yang kesehariannya mengajar di Universitas Katolik St. Paulus Ruteng ini belum yakin betul apakah kompos olahan Lorens berkualitas baik.

“Saya pesan juga pupuk organik 20 karung (dari orang lain), tapi belum sampai ke saya. Organik itu memang berat, karena itu diolah secara keilmuan, kalau Pa Lorens punya memang berdasar pengalaman saja,” ujarnya.

Dilansir dari RapaFM Pakpak ada beberapa hal yang dilakukan untuk mengetahui pupuk kompos berkualitas baik,. Paling tidak ditandai dengan ciri-ciri, seperti;

  • Berwarna cokelat tua hingga gelap atau mirip dengan warna tanah;
  • Tidak larut dalam air;
  • Memiliki efek baik pada tanah, dan tidak berbau meski terbuat dari limbah organik, dan memiliki suhu yang sama dengan suhu lingkungan, serta memiliki rasio karbon terhadap nitrogen (C/N) 10-20.

Kampanye lingkungan

Lorens punya kerinduan untuk bekerja sama dengan LSM atau Dinas Pertanian, agar dapat bersinergi memberdayakan masyarakat kecil, dengan menyediakan bibit jahe dan sosialisasi tentang manfaat pupuk kompos.

Pasalnya bahwa penggunaan pupuk kompos tidak hanya bermanfat secara ekonomis, tetapi juga dianggap ramah lingkungan, dan memperbaiki struktur tanah.

Dia bercerita, pupuk kompos diolah dari bahan baku sederhana tetapi melalui proses yang rumit, hingga membuahkan hasil memuaskan. Paling tidak tanaman jahe dan bunga-bungaan, serta sayuran miliknya di Kecamatan Lembor menjadi kebun percontohan.

Arang sekam disebut menjaga kondisi tanah tetap gembur dan memacu pertumbuhan mikroorganismenya, mempertahankan kelembaban tanah, dan menjaga cadangan air pada tumbuhan.

“Walau belum diuji secara lab, tapi menurut pengalaman saya, arang sekam ini sangat bermanfaat,” katanya.

Dia juga menyinggung kondisi tanah pertanian dan perkebunan di kampung halamannya di Kecamatan Lelak.
Puluhan tahun lalu daerah yang berbukit-bukit ini dikenal dengan tanaman jeruk. Hampir setiap petani memiliki lahan kebun jeruk yang luas. Namun memasuki tahun 2000-an, jeruk tinggal cerita.

Dia menduga hal ini tidak hanya faktor hama, tapi juga dipengaruhi oleh kondisi tanah yang semakin kritis. Tanah kritis disebabkan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Salah satu cara mengembalikan kondisi tanah seperti itu adalah dengan menggunakan pupuk kompos. Ini juga dianggap sebagai bagian dari kampanye perubahan iklim dan lingkungan.

“Di Lelak tanahnya merah, maka pilihannya pupuk kimia. Tapi pupuk kimia merusak tanah. Unsur hara dalam tanah sudah tidak ada,” katanya.

Dia juga mengharapkan kesadaran masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan dengan menggunakan pupuk kompos.

“Terserah orang mau bilang apa saya punya pekerjaan. Saya menginginkan anak muda jangan gengsi. Kalau saya bikin ini barang, harus ada yang ikut. Pemerintah juga harus buka mata,” katanya sembari mengimpikan bahwa Lelak akan menjadi penghasil jahe terbesar untuk daratan Flores dan NTT. []

#16920

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here