Terbaru, kompiang dan pizza asli Labuan Bajo

Saya kaget dengan postingan di dinding facebook beberapa waktu lalu. Kue-kue, roti, bahkan pizza nongol di sana. Saya penasaran lantas menelusuri sumber postingan tersebut.

Tertulis nama akun milik Ignas Suradin, Sogo Bakery, di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggarai Timur.

Saya pun tak ketinggalan. Mencari tahu jenis makanan yang diposting. Dan mengulik produk pengusaha 30-an tahun asal Sirimese, Ndoso, Manggarai Barat itu.

Sebelum memulai wawancara beliau per saluran elektronik, saya harus memastikan, bahwa produk yang dipasarkan tadi adalah kue, roti, dan pizza.

Gayung bersambut. Sorotan mata saya tertuju pada kue berbentuk bundar. Ingatan langsung menuju masa kecil dan sewaktu memakannya. Ya, tentang kompiang.

Lalu saya memulai percakapan ringan. Ignas pertama-tama memperkenalkan produknya bernama kompiang longa.

“Dagingnya kenyal. Gurih. Sekali makan, kau pasti ketagihan,” katanya.

Air liur saya meleleh. Saya telan saja. Saya membayangkan betapa kompiang longa menjadi lengkap jika ditemani kopi sore, atau pelengkap menu rapat di kantor dan hotel. Pun di rumah saat bersantai dengan sanak famili dan para sahabat.

Membayangkan makanan yang satu ini air liurmu pasti meleleh juga. Atau sontak jadi lapar.

Saya mungkin tak seberuntung kawan-kawan di Labuan Bajo, sebab, di perempatan Langka Kabe, dekat SMAK St. Ignasius Loyola, kau bisa meluncur saja ke arah Sernaru. Tepatnya Jalan Serenaru-Lancang, Gang Puar Pake No.08. Di situ kompiang longa itu diproduksi.

Sebuah bangunan ikonik bercat putih, dengan anterior sederhana, bernama Sogo Bakery, berdiri kokoh di sana. Milik anak muda asli Manggarai, Ignasius Suradin tadi.

Ignasius baru merintis usaha kuliner. Usaha ini terbilang baru, mengingat selama di Bali, lulusan Pariwisata Universitas Udayana ini hanya menekuni bisnis jasa perjalanan wisata, Komodo Tur.

Namun, kali ini, Ignas demikian sapaan akrab pemuda 30-an tahun itu, melebarkan sayap bisnisnya dengan ide “gila”: kuliner lokal dengan rasa internasional: kompiang longa, pizza lodok lingko, dan aneka roti.

Berbicara tentang kompiang, tentu tak asing ditelinga dan lidah anak-anak Manggarai. Kue khas ini populer sejak era 1970-an.

Kisah-kisah kecil di waktu kecil tentang kompiang longa tak hanya sejauh perjalanan satu jam dari Ketang ke Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, atau perjalanan empat jam antara Labuan Bajo – Ruteng dengan travel.

Kali ini, di akhir Juni 2019, kompiang itu hadir di depan mata. Di Kota Pariwisata Labuan Bajo, gerbang barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kehadiran kompiang longa dan pizza lodok lingko bakal menambah daftar oleh-oleh khas Flores Barat, tempat mana komodo, pulau padar, pantai pink, batu cermin, menanti kehadiran Anda dengan teduh–seteduh matahari sore di El Bajo.

Ignas mengatakan bahwa kompiang longa dan pizza lodok lingko memang memiliki keunikan tersendiri. Pizza lodok lingko, misalnya, merupakan produk dengan bahan baku asli Manggarai.

“Kalau kompiang longa dan pizza output-nya bukan hal baru. Kami melihat bahwa peluang ini, industri kuliner ini–setua dan sepanjang sejarah manusia. Dia tetap kontekstual dan kita menyesuaikan dengan zaman (pasar),” kata Ignasius kepada saya.

Dia mengakui bahwa Labuan Bajo masih mempunyai peluang pasar, untuk mendistribusikan kompiang longa dan pizza lodok lingko.

“Kita siapkan, misalnya, produk untuk hotel, anak sekolahan, pegawai, baru kita siapkan produknya,” ujar dia.

Soal kompiang, Sogo Bakery dapat menyesuaikan dengan lidah pembeli.

“Trend sekarang tidak terlalu manis, sehingga kita siapkan menu sesuai kebutuhan. Ini kuenya rakyat Manggarai. Jadi, pasarnga bagus,” katanya.

Kemudian soal pizza, penamaan sebuah produk harus dibarengi kualitas produk itu sendiri. Penamaan pizza lodok lingko merujuk pada kearifan lokal orang Manggarai. Dalam tata budaya Manggarai, lodok merupakan sebuah pusat.

Pizza Lodok LingkoDalam pembukaan kebun komunal, dikenal dengan nama lingko. Sebuah lingko, memiliki bagian-bagian atau petak-petak sawah (kebun) dengan pusat di tengah bernama lodok, dan bagian luar kebun bernama cicing. Praktis seperti jaring laba-laba raksasa jika dilihat dari angle bird.

Sebagai pencinta budaya Manggarai, Ignasius tetap mempertahankan kearifian lokal dalam penamaan produknya.

Disinggung soal harga, beliau tak menampik sesuai kebutuhan masyarakat. Sebutannya harga rakat alias ramah kantong. Bayangkan saja, kompiang longa hanya dijual Rp 1.000 per biji.

“Harga masuk di berbagai kelas, pizza ini bukan makanan kelas menengah atas. Bahan-bahannya pun dalam negeri. Malah kita mau kembangkan pizza dari sagu,” katanya optimistis.

Lantas bagaimana pemasaran? Ignas berujar, bisnis kuliner ini harus memenuhi semua kebutuhan manusia dan memanfaatkan semua saluran yang ada, misalnya media sosial (facebook, youtube, instagram, twitter).

Untuk sementara, pihaknya masih melakukan pemasaran secara manual dan sedang melayani pemesanan via online.

Saya pun mengacak-acak favebook beliau, ternyata bisa dipesan melalui Fanpage Sogo Bakery 

Kawan saya asli Manggarai, Yustinus Diano penasaran dengan kompiang longa dan pizza lodok lingko bikinan Sogo Bakery.

Dia berjanji, suatu saat bisa ke Labuan Bajo dan membawa oleh-oleh kompiang longa dan pizza lodok lingko dari Labuan ke Tanah Papua. Sukses Sogo Bakery! (*)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *