Kolam air asin di Lembah Balim

Kali Baliem - TimoMartenFoto/Facebook

Suku-suku di pegunungan tengah Papua, sejak masa prasejarah sudah mengenal kolam air asin sebagai sumber garam tradisional. Garam ini diperoleh dari abu hasil pembakaran batang pisang atau tanaman berserat lainnya yang direndam dalam waktu lama dalam kolam tersebut.

Suku Yali yang mendiami Lembah Baliem bagian timur memiliki cerita rakyat berkaitan dengan asal usul sumber garam ini. Dulu pernah ada seorang wanita bernama Ilfilik datang dari arah timur melewati Pasinpass.

Sepanjang jalan yang dilewati, dia dipukuli oleh laki-laki, sehingga seluruhnya tubuhnya penuh dengan luka-luka yang bernanah dan berbau. Dia kemudian melewati Helariki dan Tanggeam dan sampai di Tinggili.

Di sana dia tidur di dalam sebuah gua. Keesokan harinya, dia meninggalkan noken-nokennya di dalam gua dan turun ke Sungai Yaholi. Di sana dia kemudian menghilang di antara dua batu besar “Meibo” (darah) dan “Hoanggen” (nanah).

Di antara kedua batu itu kemudian muncul sebuah sumber garam. Kepada anak laki-lakinya dia berkata, “Datanglah besok pagi untuk menengok saya!”

Keesokan harinya anak laki-lakinya turun ke sungai dan melihat air berwarna hitam yang berbuih-buih. Dia kemudian mencicipi air itu dan rasanya enak sekali.

Dia kemudian pulang, memberikan seekor babi sebagai korban sakral dan membawa noken-noken ibunya ke Tinggili. Di dalam noken itu ada sebuah batu yang dinamai “Saho Insinga” (ibu garam).

Sejak peristiwa itu di Tinggili selalu dipelihara seekor babi sebagai korban sakral.

Apabila babi itu dipotong, maka diletakkan sepotong daging berlemak ke dalam gua untuk ibu itu. Tempat-tempat dimana ibu itu tidur dalam perjalanan ke Tinggili disebut “Sahi Waltibag” (asal usul garam).

Garam tradisional ini berzodium rendah. Sebelum ada garam pabrik, garam tradisional menjadi salah satu komoditas perdagangan atau pertukaran bagi suku-suku di pegunungan tengah Papua.

Dikhawatirkan, dengan adanya garam buatan pabrik, kolam air asin beserta tradisi membuat garam akan ditinggalkan. Untuk itu, kolam air asin ini dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata di Lembah Baliem.

Selain itu tradisi pembuatan garam tradisional juga akan menarik bagi wisatawan yang berkunjung di Lembah Baliem. []

Foto: Ilustrasi. Kali Baliem, Wamena, Desember 2012 – facebook.com/timoteus rosario marten

Penulis: Hari Suroto, Peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *