Kisah misi Fransiskan di sekitar Paniai

Penulis: Vredigando Engelberto Namsa, OFM, Biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua, tinggal di Papua

0
Enarotali
Enarotali, Paniai, 29 Januari 1972 - Dokpri

Tulisan ini dibagi ke dalam lima bagian, yakni, kehadiran misi Fransiskan di Papua, perjumpaan awal yang serba baru, kisah mengenai guru-guru yang mogok, kedatangan para suster yang siap membantu karya misi, dan misi baru ke arah barat

Kehadiran misi Fransiskan di Papua

Cerita mengenai misi para Fransiskan di daerah yang waktu itu bernama Nederlands Nieuw Guinea, dimulai dengan adanya sepucuk surat pendek yang ditulis oleh Provinsial Misionaris Hati Kudus, Pater Nico Verhoeven, MSC, pada tanggal 23 November 1935 kepada Pater Paulus Stein, OFM, Kustos dari Fransiskan Belanda.

Isi surat itu kurang lebih berbunyi: Mgr. Aerts, MSC, Vikaris Apostolik dari Nederlands Nieuw Guinea, mengusulkan kepada kami supaya mencari sebuah ordo atau kongregasi yang bersedia mengambil ahli sebagian dari Vikariat yang sangat luas dan sebagiannya belum digarap (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2012, hal. 3). 

Secara jujur dapat dikatakan bahwa Fransiskan (OFM) tidaklah begitu kenal dengan daerah yang ditawarkan itu, tetapi itu pun tidak aneh. Perlu diakui bahwa usaha-usaha pembicaraan antara pihak MSC dan OFM di Belanda tidak membawa hasil yang memuaskan. 

Masalah yang cukup berat ialah masalah keuangan ordo, pada waktu itu situasi Belanda cukup mempengaruhi pendapatan ordo dalam hal keuangan. 

Selain itu, Fransiskan Belanda juga mempunyai daerah misi di tempat lain. Tempat-tempat itu antara lain Cina, Brasilia dan Norwegia. Tempat misi ini membutuhkan biaya hidup yang cukup tinggi. Apalagi ditambah dengan daerah misi baru yakni Nederlands Nieuw Guinea. 

Dengan perbincangan yang begitu lama, baik antara pihak OFM Belanda, pihak MSC Belanda dan Propaganda Fidei (Roma). Akhirnya pada tanggal 28 September 1936, Prefek Propaganda Fidei menyerahkan misi baru ini kepada Fransiskan dan atas kesepakatan bersama antara MSC dan OFM yang kemudian hari menjadi misi yang mandiri dari Fransiskan.

Dua hal penting yang masih harus dilakukan, yaitu harus diadakan kesepakatan antara Vikaris Apostolik Nederlands Nieuw Guinea dan Provinsi Ordo Fratrum Minorum (OFM) Belanda. Selain itu masih harus diselenggarakan pengutusan dan perpisahan secara gerejani. 

Kesepakatan itu ditandatangani pada 22 Desember 1936 di Tilburg oleh Minister Provinsial Belanda, Pater Honoratus Caminada, OFM dan Superior Provinsi MSC Belanda Pater Nico Verhoeven, MSC. Yang terakhir ini, menandatangani kesepakatan tersebut atas nama Vikaris Apostolik Nederlands Nieuw Guinea Mgr. Aerts, MSC. Di dalamnya dijelaskan pertama-tama tentang daerah misi yang akan diberikan kepada Fransiskan (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Red, hal. 12-13).

Perpisahan secara gerejawi para misionaris pertama pada  29 Desember 1936 di gereja Hartenberg Leiden. Peristiwa ini merupakan sebuah peristiwa bersejarah dalam pembukaan misi baru di Papua. Perayaan ini dilakukan secara meriah dan disiarkan oleh salah satu radio di Belanda (KRO). Hampir seluruh anggota OFM Belanda hadir dalam peristiwa ini. 

Di saat yang sama pater provinsial menyerahkan salib misi kepada saudara-saudara yang akan menjadi misionaris di Papua. Setelah perayaan Ekaristi itu selesai, perpisahan pun terjadi, karena keenam misionaris Papua itu langsung berangkat ke Genua dengan kereta api. Sesampai di Genua mereka akan menggunakan kapal laut menuju Papua.

Keenam misionaris OFM dari Belanda yang ditugaskan di tanah Misi Nieuw-Guinea (sekarang dikenal dengan Papua). Mereka berangkat dari Belanda pada 29 Desember 1936. Para saudara ini terdiri dari lima orang pastor dan satu orang Bruder. 

Pada tanggal 29 Januari 1937, keenam Misionaris ini tiba di Batavia (sekarang Jakarta) Jawa. Perkenalan mereka dengan dunia Hindia – Belanda sangat menakjubkan mereka. Tulis Sdr. Van Egmon: “semuanya menakjubkan, kota, alam, cara hidup orang-orang setempat, sebagaimana saudara-saudara bertingkah laku, singkatnya semuanya itu bagi kami merupakan dunia baru. Waktu di Belanda, sesungguhnya kami tidak mengetahui sedikit pun tentang dunia dengan iklim tropis.”

Sebelum ke Papua, perjalanan mereka melalui Makassar dan Ambon, dengan tujuan Tual-Langgur di Kei Kecil (tempat ini adalah pusat Misi Katolik untuk Nieuw Guinea dan Pusat “Missionarii Sacratissimi Cordis” dikenal dengan MSC). Mereka diterima sangat hangat dan ramah di Tual-Langgur. 

Dari Tual mereka menyebar. Sdr. Van Egmond dan Sdr. Vugts pergi ke Ternate (Maluku Utara), yang pada awalnya Ternate menjadi pusat misi yang baru bagi OFM. Sdr. Moors dan Sdr. Vendrig ditentukan ke Manokwari (Papua Barat). Sedangkan Sdr. Louter dan Sdr. Tettero berangkat ke Kaimana (Papua Barat). Maka pada tanggal 18 Maret 1937, mereka untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Nieuw Guinea. Dari Kaimana (Papua Barat), Sdr. Louter dan Sdr. Tettero ke Fakfak (Papua Barat), tepatnya di desa Gewirpe.

Perjumpaan awal dan semua serba baru

Sesudah Fransiskan menjalankan misi di daerah lain di Papua. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuka misi baru, daerah misi itu dikenal dengan sebutan “daerah Danau-Danau Wisel”. Daerah ini merupakan daerah pegunungan pertama yang menjadi misi Fransiskan. 

Sesudah itu, masih ada Lembah Baliem dan Pegunungan Bintang. Sebenarnya misi ke daerah Paniai sudah direncanakan sebelum pecahnya Perang Dunia II, namun terkendala akibat perang yang berlangsung. Pekerjaan di daerah ini pada awal sudah dilaksanakan oleh Pater Herman Tillemans, MSC (di kemudian hari menjadi Uskup Pertama Keuskupan Agung Merauke). Setelah Perang Dunia II berakhir Fransiskan mulai kembali membangun misi di daerah danau-danau Wissel.

Daerah pegunungan di atas pantai Mimika, pada pertengahan abad 20 menjadi perhatian banyak antropolog. Maka, pada saat yang sama dimulailah ekspedisi-ekspedisi. Pada tahun 1910 dimulailah ekspedisi Inggris GoodfellowWollaston di sini mereka berjumpa dengan orang-orang Pigmi-Tapori. Tahun 1931, dr. H. Bijlmer mencoba memasuki daerah itu namun gagal. 

Bijlmer tidak menyerah, akhirnya ia memutuskan untuk melaksanakan ekspedisi yang kedua. Pada saat ekspedisi kedua ini, ikutlah Pater Herman Tillemans, MSC. Mereka menjelajahi puncak gunung setinggi lebih dari 2.500 meter. Pada 26 Desember 1936 akhirnya mereka tiba dengan selamat di Modio. Modio adalah salah satu pusat penduduk pegunungan Papua dan di sini tinggallah kepada suku Auki Tekege (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Red, hal. 188).

Berkat informasi ditemukannya danau-danau Wissel oleh seorang pilot yang bernama Wissel pada tahun 1937. Maka pada 11 November 1937 mendaratlah pesawat terbang pertama pada danau terbesar dari tiga danau itu, yakni danau Paniai (bdk. Bijlmer, “Naar de achterhoek der aarde”, hal 198). 

Oleh karena itu, diadakan suatu ekspedisi baru, di bawah pimpinan Van Eechoud dan saat yang sama bergabunglah Pater Herman Tillemans, MSC. Pada 16 Juni 1938 Pater Tillemans dapat pertama kalinya merayakan ekaristi di tepi Danau Paniai. Van Eechoud membuka di situ juga pos pemerintah Belanda yang pertama, tempat itu sekarang dikenal dengan sebutan Enarotali. 

Dalam situasi ini Pater Tillemans menggunakan waktu tersebut untuk menjelajahi seluruh daerah Mapia. Saat yang sama pecahlah Perang Dunia II dan hal ini cukup mempengaruhi karya misi Katolik di Papua.

Mengingat perkembangan ini, para Fransiskan yang berkarya di sebelah utara Papua mulai berencana untuk mengambil ahli pekerjaan misi di daerah danau-danau Wissel dari tangan MSC yang mempunyai basis di sebelah selatan Papua. 

Maka hal itulah yang diputuskan oleh Mgr. Grent dengan kesepakatan pimpinan para Fransiskan. Atas permintaan tersebut, Mgr. Grant juga menyetujui bahwa pembukaan kembali misi di daerah danau-danau Wissel yang sempat vakum ketika pecahnya Perang Dunia II. Saat yang sama para Fransiskan mulai mengadakan perjalanan pengenalan medan di daerah tersebut.

Pada Maret 1949 dalam suatu penerbangan dengan pesawat Catalina berangkatlah Pater Tillemans bersama dua orang Fransiskan ke Enarotali, mereka itu adalah Pater Misael Kammererer, OFM dan Pater Leo Boersma, OFM, serta ikut juga dua guru katekis asal Kei (Maluku Tenggara). 

Mereka itu adalah Gerardus Ohoiwutun bersama istrinya Leonilla Letsoin dan Bartholomeus Welerubun. Setelah tibalah di sana, nyatalah bahwa umat tidak lupa dengan pastor mereka yang lama. 

Jonas Mote misalnya, seorang murid yang pernah bersama Pater Tillemans, MSC yang berasal dari Yaba, membawa seekor babi. Pada saat yang sama mereka mulai mencari bahan bangunan dan mulai mebangun rumah apa adanya.

Tanpa disangka-sangka, pada 3 Maret 1950 tibalah Pater Lactantius Noiwen, OFM untuk memperkuat misi di daerah tersebut. Sebenarnya P. Tillemans, MSC telah menentukan Pater Noiwen, OFM untuk daerah Mapia, namun dengan pertimbangan konflik antara misi Katolik dan Zending yang masih begitu kuat di daerah tersebut, maka Pater Noiwen, OFM belum bisa ke sana. 

Dalam tahun yang sama Pater Misael Kammererer jatuh sakit dan harus beristirahat untuk sementara waktu. Ia dipersilakan mengambil cuti ke Belanda untuk mengurus kesehatannya, kurang lebih setengah tahun. 

Dalam tahun yang sama, Pater Tillemans, MSC akhirnya pindah dari daerah yang dirintisnya itu. Sebelum berangkat, ia sempat pergi ke beberapa daerah untuk berpamitan. Maka pada Mei 1950 Pater Tillemans, MSC akhirnya berpisah dengan mereka yang ada di Paniai. Akhirnya Januari 1951 kembalilah Pater Kammererer, OFM dengan keadaan pulih dan siap bertugas. 

Setelah tinggal di Enarotali beberapa Minggu, akhirnya ia pergi ke tempat kerjanya. Tempat kerja itu ialah Kugapa, Kampung Moni di wilayah Ekari. Dari sanalah ia mulai menjelajahi daerah sebelah Timur. 

Kisah mengenai guru-guru yang mogok

Di Enarotali orang bekerja keras membangun sebuah gereja. Pada permulaannya, bila sedang libur, para guru dengan rajin membantu. Tetapi sayang, mengenai pekerjaan itu timbul perselisihan antara pastor setempat dengan beberapa orang guru. 

Sang Pastor berpendapat bahwa mereka terlalu sedikit menolong, sedangkan pada hemat guru-guru itu mereka dituntut terlalu banyak pekerjaan. Guru-guru telah menyatakan saling solider dan berpendapat bahwa mereka tidak dapat lagi bekerja di Danau Wissel. 

Kendati telah diadakan berbagai usaha mediasi, mereka tetap berpegang pada keputusannya untuk kembali ke pantai. Selama bulan Agustus mereka semua berangkat ke Biak. 

Dengan demikian lowonglah tenaga pengajar di sebelas tempat yang sudah didirikan sekolah-sekolah. Maka terpaksa diputuskan, bahwa di tiga tempat yang paling penting, yaitu Enarotali, Waghete dan Yaba, pastor sendiri akan mengajar di depan kelas, sehingga subsidi oleh pemerintah tetap terjamin.  

paniai papua
Pastoran Enarotali tahun 1967 – Dokpri

Sementara itu pembagian kerja yang pernah disepakati dengan CAMA, di sana sini menjadi masalah (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Red, hal. 209). Di beberapa tempat yang menurut kesepakatan diperuntukkan bagi misi, CAMA mulai juga dengan sekolah alkitab. Masalah itu menjadi semakin mendesak, ketika menjelang bulan-bulan akhir tahun 1950.

Berdasarkan permasalahan ini, pater Kammerer di Enarotali mengadakan pembicaraan dengan pendeta Kenneth Troutman dari zending CAMA. Pertemuan ini dipimpin oleh kontrolir Meyer Ranneft. Dalam pertemuan ini dibicarakan juga kesepakatan terdahulu mengenai pembagian daerah yang telah disepakati sebelum perang. Tetapi tak seorang pun dari yang bersangkutan ini mengetahui dengan tepat kesepakatan tersebut yang memang hanya bersifat lisan dan tak pernah dituliskan. 

Mengenai hal ini mereka berdua memutuskan untuk menyurat kepada atasan masing-masing: Pater Kammerer ke Hollandia dan Troutman ke Makassar. Ketika tiba jawaban dari kedua belah pihak, bahwa tidak diinginkan lagi adanya sebuah ‘agreement‘, maka tertutuplah kemungkinan untuk mengacu kepada kesepakatan yang dahulu pernah dibuat. Kesepakatan ini tidak berlaku lagi. 

Bagaikan seorang malaikat penyelamat, tiba-tiba muncullah Yaba, pada permulaan 1951, uskup baru dari Merauke, Mgr. Tillemans. Dengan berjalan kaki dari Mimika, yang dikunjungi setelah tahbisannya menjadi uskup, tibalah ia di daerah Danau Wissel. Walaupun sekarang tidak lagi termasuk daerah vikariatnya, wilayah itu mempunyai arti yang istimewa baginya, karena dirinya adalah misionaris pertama di wilayah itu. 

Dia membawa tujuh orang katekis bersama dengan tujuh orang lain lagi, yang akan membantu dalam membangun perumahan. Tambahan lagi, tidak lama sebelumnya juga P. Drabbe MSC tiba di Enarotali untuk mengerjakan katekismus dalam bahasa Ekari. Juga Pater Steltenpool, yang karena sebuah konflik dihukum oleh Cremers dengan dipindahkan ke Manokwari, sekarang tiba kembali di wilayah Enarotali. Apalagi, barusan tiba juga dari Merauke Bernardus Goo, seorang Ekari, dan Martinus Zonggonau, seorang Moni. 

Selama masa perang, mereka ini mengungsi bersama Pater Tillemans. Sekarang mereka akan bekerja di antara sukunya sendiri. Dengan demikian kelihatanya kekurangan tenaga mulai terpecahkan. 

Tetapi Mgr. Tillemans mengingatkan bahwa katekis-katekis yang telah dibawanya serta bukanlah tamatan sekolah kateketik. Beberapa dari mereka hanya dapat membacakan katekismus. Untuk sementara sebaiknya dipandang sebagai eksperimen yang layak untuk dilakukan. 

Meskipun “katekis” ini akan membuat kesalahan, kiranya lebih baik berbuat sesuatu daripada tidak berbuat apa-apa. Segera dua orang pater dan empat orang katekis menuju Tigi, untuk menghuni kembali pos-pos di sana yang sementara itu kosong. Mereka itu bersama-sama juga menjadi gugus pembangun, yang selama minggu-minggu pertama tidak mengerjakan hal lain kecuali membangun rumah-rumah untuk guru, semua menurut satu model yang sama, 5 x3,6 meter. 

Untuk ini pater Nouwen menjadi pimpinannya. Dengan demikian dalam kurun waktu kurang dari dua bulan terselesaikan lima rumah guru, sebagai pengganti bangunan lama, yang telah ambruk sama sekali karena begitu lama ditinggalkan kosong (bdk. Benny Giay, “Zakheus Pakage and His Communities”, hal 62).

Pada tahun 1951 datanglah Pater Steltenpool, OFM di Enarotali di sinalah ia mulai membuka kebun demi menunjang kebutuhan makanan. Tahun 1951 sebagian besar daerah-daerah di tempat tersebut sudah dibuka sekolah oleh para Fransiskan. Daerah-daerah itu ialah: Enarotali, Timika, Kugapa, Uwebutu, Waghete, Yaba, Meyepa, Deai dan Ayata. Hal ini bukanlah perkara yang muda karena membutuhkan banyak biaya dan juga tenaga. 

Pada tahun yang sama, Pater Leo, OFM sangat sibuk menuliskan bahasa Ekari yang sampai saat ini hanya terdapat dalam bahasa lisan. Hal ini bertujuan agar para Misionaris Fransiskan dapat mengajar orang dalam bahasa mereka sendiri. Awal tahun 1952 beberapa daerah seperti, Enarotali, Waghete, Kugapa, Daratan Kamu, Epouto dan Mapia telah mendapat pastor yang melayani umat di tempat-tempat tersebut (bdk. “Sejarah Gereja Indonesia Jilid III. A, KWI 1974, hal 656). 

Tibalah para suster yang siap membantu karya misi

Pada waktu itu diterima berita, bahwa dari Belanda akan datang suster-suster untuk asrama di Epouto. Pater Noiwen, OFM dipercayakan untuk menyiapkan segalanya. Asrama masih harus dibangun, sekaligus dengan rumah suster, begitu pula dengan sekolah dan bangunan-bangunan sampingan. Perabotan pun masih harus diadakan. 

Kayu yang diperlukan untuk semuanya itu masih tegak berdiri sebagai pohon-pohon dewasa di dalam hutan. Karena itu dari Kokonao dia membawa serta tujuh orang penebang kayu, mempersiapkan perlengkapan di Yaba dan dengan diperlengkapi tenda, Pater Noiwen, OFM berangkat ke hutan itu juga, yang pernah dihuninya selama bulan pertama ketika baru mulai menetap di danau-danau itu. 

Kali ini dia tinggal di sana tujuh Minggu dalam rumah kainnya, sampai jumlah pohon yang ditebang itu dirasa sudah mencukupi (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Red, hal. 212-213).

Sekolah direncanakan berpola asrama. Pengasuhan anak-anak asrama akan dipercayakan kepada suster-suster Kerasulan ordo ketiga dari Brummen, yaitu sebuah serikat sekuler yang didirikan pada tahun 1936. Mereka itu adalah Sr. Fried Gerards, Sr. Anna Penners dan Sr. Carla Holla. 

Setelah lama perjalanan, tibalah mereka di Enarotali pada 14 Mei 1952. Waktu itu perumahan untuk mereka di Epouto belum selesai. Pater Noiwen, OFM belum juga menyelesaikan pembangunan tersebut ia jatuh sakit. Menurut dokter di Enarotali ia harus sesegera mungkin diterbangkan ke Hollandia untuk berobat, karena sakitnya semakin para. 

Tak disangka beberapa minggu di Hollandia (sekarang dikenal dengan nama Jayapura), ia akhirnya dijemput oleh saudari maut badani pada 14 Agustus 1952 dalam usia 31 tahun. Ia dimakamkan di Jayapura pada hari berikutnya, tepat pada hari raya Maria diangkat ke Surga (bdk. Laporan di NS 22 (1952), Necrologium “Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua” Tahun, 2020).

Membuka misi baru ke arah barat

Sementara itu Pater Steltenpool, OFM sudah mulai dengan sebuah sekolah di Ugapa, yang setelah beberapa bulan berjalan mendapat lebih dari 50 murid. Orang dewasa itu dikumpulkannya pada hari Minggu di tempat terbuka untuk mengadakan sembahyang bersama. 

Beberapa kepala desa antara lain, Yonas Mote, bekerja sama dengan sang pastor dalam mengumpulkan orang-orang itu (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Red, hal. 214). Rencana Pater Steltenpool, OFM yaitu menempatkan guru-guru mulai dari Ugapa, sampai ke Mapia. 

Pada setiap jarak berjalan kaki satu hari, ia menempatkan seorang guru, untuk dengan demikian langka demi langka memasuki daerah Mapia, dimana kepala suku Auki Tekege tinggal.

Pada saat itu tidaklah berarti, bahwa daerah Mapia tidak diperhatikan dan hanya dibiarkan begitu saja. Wilayah itu cukup padat penduduknya dan misi terlalu banyak berhutang budi kepada Auki Tekege. Dialah yang pertama menerima seorang pastor pada tahun 1935 dan memperkenalkannya dengan penduduk danau-danau Wissel. 

Pada tahun 1951 pergilan Pater Steltenpool, OFM bersama dengan Pater Boerma, OFM dan dokter Boelen untuk mengunjungi Auki (bdk. C. Zwartjes, OFM, “missiegeschiedenis van het Mappiagebied”, 1961, ST, hal 77).

Setelah sekian lama berkarya di daerah Paniai. Akhirnya pada Februari 1952 tibalah di sana seorang pater baru yang siap menjalankan tugasnya. Ia adalah Pater Engelbert Smits, OFM, dia juga adalah pastor pertama yang menetap di Modio. 

Dalam hal ini kepala suku Auki Tekege mempunyai peranan yang cukup besar, di mana ia menyuruh beberapa orang dewasa (kurang lebih 60 orang) untuk membantu pastor memikul barang-barangnya di Obano.

Bersama dengan Pater Steltenpool, OFM, Pater Smits, OFM menjelajahi daerah sekitar. Sesudah beberapa minggu Pater Steltenpool kembali ke Ugapuga. 

Ketika pada tahun itu dua sekolah yang pertama dibuka, dan datanglah dua orang katekis dari Mimika untuk mengajar di situ. Sudah bertahun-tahun terjalinlah hubungan dagang antara penduduk pegunungan Mapia dengan penghuni pantai dari Mimika. Juga Pastor Smits, OFM sekurang-kurangnya dua kali setahun ke Mimika untuk menjemput katekis-katekis dan mengangkut kebutuhan-kebutuhan hidup. 

Guru-guru berijazah tidak dapat ditempatkan di daerah pastor Smits ini, karena daerah ini belum berada di bawah pemerintahan, sehingga belum juga bisa ditarik subsidi bagi sekolah-sekolah yang ada di sana. (bdk. C. Zwartjes, OFM, “missiegeschiedenis van het Mappiagebied”, 1961, ST, hal 37). 

Kendati demikian pendidikan berkembang dengan cepat. Dalam jangka waktu dua tahun, di sana dibuka sekolah katekis enam belas buah, yang kemudian disusul oleh yang lainnya. Untuk pendidikan lanjut, murid-murid terbaik pergi ke Vervolgschool (Sekolah Lanjutan) di Kokonao. 

Demi penyediaan makanan dan barang-barang lain yang mutlak perlu, pastor harus dua kali setahun mengadakan perjalanan ke pantai. Perjalanan itu berat sekali. Selama beberapa hari orang harus berjalan kaki ke arah bivak perahu. Jika semuanya tepat waktu, maka dari sana naik perahu ke pantai. 

Tetapi kadang-kadang segalanya gagal. Misalnya bulan September 1953, bergabunglah dengan kelompok yang seperjalanan itu seorang yang menderita sakit keras disentri. Akibatnya sungguh mengerikan. Di tengah jalan, dalam bivak yang kecil itu, dimana orang-orang duduk dan tidur saling berhimpitan, beberapa orang ketularan, sedemikian parah sehingga bahkan di rumah sakit Kokonao tidak dapat diselamatkan. 

Setelah kasus-kasus kematian yang pertama ini, pemikul-pemikul, termasuk mereka yang menderita sakit, tidak tahan lagi dan serta merta kembali ke kampungnya. 

Di tengah jalan dua orang lagi meninggal dunia, di antaranya seorang kepala desa. Masyarakat memang dapat memahami musibah ini, dan tidak begitu saja mempermasalahkan pastor. []

Sumber:

Benny Giay, “Zakheus Pakage and His Communities”,1995

Bijlmer, “Naar de achterhoek der aarde” (semacam catatan harian), 1941.

Zwartjes, OFM, “Missiegeschiedenis van het Mappiagebied”, 1961

Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2012

Necrologium “Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua” Tahun, 2020.

Sejarah Gereja Indonesia Jilid III. A, KWI 1974

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here