Kisah “eko roto” dan “nanang lose” dari Ende Maria Keset di pedalaman NTT

Penulis: Markus Makur, jurnalis Kompas.com wilayah Flores bagian barat

0
tokoh perempuan
Almh Ende Maria Keset dan Alm Ame Nikolaus Dahu - Dokpri

Banyak kisah menarik dari Ende Maria Keset (almh), istri dari Ame Nikolaus Dahu (alm) di Kampung Lembah Wajur, Desa Wajur, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Zaman dulu, seorang perempuan harus memiliki keterampilan sebelum menikah. Banyak keterampilan, seperti nanang lose (menganyam tikar), cara eko roto (cara pikul keranjang) dan menenun.

Untuk wilayah Kolang, kaum perempuan tidak diwariskan menenun kain songke, mungkin saya keliru, namun berangkat dari pengalaman pribadi saya selama hidup bersama dengan keluarga besar Uku Besi Wajur.

Khusus untuk anak gadis di wilayah Kolang, seorang anak gadis harus bisa nanang lose (anyam tikar) yang berbahan daun pandan.

Zaman dulu, untuk alas tidur, alas duduk dengan lose atau tikar yang berbahan daun pandan.Daun pandan atau pohon rea tumbuh liar di seluruh kebun di wilayah Kampung Wajur.Di pinggir sawah kami di Uma Lewe, Ngelu, tumbuh pohon rea atau pohon pandan.

Ende Maria terampil nanang lose

Saya ingat dan tahu persis, bagaimana ende nanang lose, menganyam tikar berbahan daun pandan, rea dalam bahasa Kolang.

Semua kakak saya juga sangat tahu betul tentang keterampilan nanang lose dari Ende Maria Keset.

Ini merupakan keterampilan sampingan selain pekerjaan pokok dalam keluarga. Masak sudahpasti. Melayani kebutuhan suami itu nomor satu.

Pergi ke kebun terus dilakukan dalam kehidupan keluarga. Misalnya tanam jagung, padi, ubi kayu, ubi tatas, jahe, kastela (ndesi), mentimun, dan tanam ghela. Tanam lia atau jahe dan lain-lainnya, selalu dilakukan dengan penuh semangat dan kerja keras. Dempul wuku tela tuni.

Jikalau semua tanaman itu siap panen, biasanya Ende Maria menggali dan menaruh di dalam roto—keranjang yang dibuat dari anyaman bambu halus, bahasa Kolangnya, bambu  gurung. Bambu halus. Bambu “gurung” muda.

Biasanya yang anyam roto adalah kaum laki-laki, bisa juga oleh kaum perempuan. Ende Maria juga bisa nanang roto (anyam keranjang). Kaum perempuan memiliki keterampilan yang lebih dalam kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat.

Biasanya Ende Maria, seingat saya, pekerjaan utama tetap dilaksanakan dengan baik. Untuk aktivitas nanang lose dan nanang roto dilaksanakan di waktu senggang atau pada malam hari dibantu dengan nyala lampu pelita.

Ende Maria menghadapi kesulitan dan tantangan denganpenuh kesabaran, ketabahan serta tekun dengan apa yang sudah direncanakan. Perencanaantidak dibuat dalam sebuah lembaran dengan tulisan tangan, melainkan perencanaan itu adadalam pikiran dilaksanakan.

Ende Maria membaca teks kehidupan dengan nanang lose dan nanang roto. Nanang roto dan lose bagian dari identitas seorang perempuan yang tinggal di desa.

Hal yang utama dari Ende Maria Keset saat merawat anak-anaknya. Pertama, biasanya sambil nanang lose, anaknya yang masih menyusui dibaringkan dalam pangkuannya sambil nanang lose.

Dua pekerjaan itu dilaksanakan bersamaan agar anaknya tidak menangis. Atau,membaringkan dalam tempat tidur sampai anaknya tidur. Kemudian, Ende Maria bangununtuk melanjutkan nanang lose. Selama kurang lebih 1×24 jam, Ende Maria bekerja ekstrakeras. Suaminya, Ame Nikolaus Dahu hanya mungkin kerja dari pagi sampai jam makan malam,kemudian tidur, sementara Ende Maria terus bekerja dengan membereskan semua pekerjaandomestik hingga larut malam. Istirahatnya juga sangat kurang, tapi bangun pagi lebih awal untukmemasak dan membereskan hal-hal yang diperlukan oleh suaminya.

roto  atau kranjang
Roto atau keranjang untuk membawa ubi, sayuran dan padi dari kebun. Roto terbuat dari anyaman kulit bambu gurung. Jenis ini namanya roto matang (keranjang berwarna). Ada dua jenis roto, yaitu roto biasa dan roto matang. Roto biasa tidak berwarna alias polos, sedangkan roto matang berwarna-warni/bermotif – Foto/Timoteus Marten

Cara mempersiapkan nanang lose dan roto

Biasanya Ende Maria mengambil daun pandan mentah atau masih muda. Dipikul dengan roto. Biasanya dibawa ke rumah atau dibersihkan di kebun. Kemudian daun pandan atau rea yang sudah dibersihkan, dihaluskan dengan sebuah alat yang terbuat dari bambu tipis (kulit bambu: lampek). Selanjutkanya dimasak dalam periuk besar.

Setelah dimasak, dijemur di matahari hingga kering. Setelah kering direndam di kali hingga lembek. Kemudian dijemur lagi di matahari hingga kering. Selanjutnya, dicampur denganpewarna yang terbuat dari bahan-bahan alami dari kulit kayu.

Lakukan semua pekerjaan dengan kasih

Kasih tidak hanya dalam kata-kata. Melainkan kasih nyata salam segala tindakan dalam
kehidupan keluarga. Sebagai wote ngaho atau anak mantu sulung, Ende Maria menanggung semua pekerjaan dengan penuh kasih.

Ende Maria memegang prinsip dalam kehidupan keluarga. Rendah hati. Menanggung segala kesulitan keluarga dengan menyimpan dalam hatinya. Tidak banyak mengeluh. Bahkan, hanya sesekali ia marah kepada suaminya.

Cara menegur suaminya tidak dilaksanakan di depan umum. Bertukar informasi dilakukan secara santun dan di ruang privat, seperti di kamar.

Ia benar-benar sopan santun dan saling menghargai, menghormati satu sama lain. Beda karakter dan mental diikat dengan balutan kasih sayang. Menyatukan perbedaan dengan sikap saling mendengar.

Ketika suami bicara, Ende Maria mendengar dan juga sebaliknya. Segala keputusan dalam keluarga dibuat atas kesepakatan bersama.

Menopang hidup keluarga dengan dasar kasih yang dimeterai dalam sakramen perkawinan.Sikap saling rendah hati, saling mendengar serta saling mengalah menjadi pedoman dalam kehidupan keluarga. Walaupun berat situasi yang dialami, semua itu dilalui dengan kasih.Berdoa juga menjadi keutamaan dalam kehidupan keluarga.

Nanang lose agu roto sebagai teks kehidupan keluarga.”

Kini hanya sebagian kecil kaum perempuan di kampung-kampung yang masih bisa nanang lose dan eko roto. Dan juga hanya sebagian kecil kaum laki-laki yang bisa anyam roto.

Tradisi ini bisa dibilang sudah tergerus dengan perkembangan zaman dengan produk-produk berbahan plastik.

Ramah lingkungan

Seandainya lose sudah lusuh, maka tuan rumah atau pemilik lose bisa buang di samping rumah. Lose lusuh dimakan rayap atau cacing yang menimbulkan humus di tanah. Begitu pun bahan roto yang sudah lapuk dan tak bisa dipakai lagi dibuang saja di samping rumah. Selanjutnya menjadi humus bagi tanah.

Bahan-bahan alami yang tumbuh liar atau ditanam ulang, apabila tak bisa dipakai lagi akan dibuang, maka akan memberikan kesuburan tanah. Sangat berbeda dengan bahan plastik yang tak bisa dipakai dan dibuang ke tanah tidak akan menimbulkan humus tanah, melainkan merusak tanah karena tak bisa terurai di dalam tanah. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here