Kisah “banga welu” dan “maeng kedodol” di NTT (Bagian 1)

Penulis: Markus Makur, jurnalis Kompas.com di Flores bagian barat

0
anak-anak NTT timo foto
Ilustrasi. Anak-anak pedesaan di Manggarai, Flores, NTT ketika memburu tikus hutan - Foto/Timoteus Marten

Kampung-kampung di wilayah Kolang, Kecamatan Kuwus dan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur memiliki berbagai permainan tradisional untuk mengasah kecerdasan, kesabaran dan persaudaraan antara anak-anak usia sekolah.

Permainan tradisional ini juga menguji keterampilan, mengasah kemampuan dan mata jeli melihat sekumpulan welu (kemiri) di dalam lubang kecil dan sebuah lingkaran.

Biasanya permainan ini dilakukan di halaman rumah (natah beo). Permainan ini dilakukan seusai pulang sekolah. Salah satu dari sekian kampung yang memiliki tradisi permainan tradisional itu adalah Kampung Lembah Wajur, Beo Wajur, Desa Wajur.

Dari sekian permainan tradisional yang sangat diminati anak-anak kecil adalah maeng banga welu dan maeng kedodol. Ini bahasa dialek/goet kolang.

Jika diterjemahkan secara harafiah, maeng artinya main, bermain, permainan, dan banga welu artinya main kemiri. Jadi, maeng welu artinya permainan dengan bahan kemiri. Sedangkan, maeng kedodol, permainan dengan bahan batang kayu dengan ukuran kecil.

Saya ingat saat ini, sewaktu usia sekolah dasar di kampung itu, saya biasa maeng banga welu dengan teman-teman seusia di kampung. Biasanya, permainan ini melibatkan dua sampai tiga orang bahkan bisa bermain secara berkelompok.

Permainan ini hanya bisa dilakukan sekali setahun saat panen kemiri tiba. Biasanya anak anak memungut kemiri di kebun sendiri. Kemudian, mengajak rekan-rekannya untuk memulai main di halaman rumah.

Pertama, saya dan rekan-rekan menggali lubang berukuran kecil. Lalu, tentukan berapa biji sekali main. Biasanya, lima sampai sepuluh biji kemiri kering. Masing-masing pemain memiliki kemiri unggulan, yang biasa disebut erang.

Selanjutnya masing-masing kemiri, welu dimasukkan dalam lubang tersebut. Lalu ada jarak antara lubang dengan para pemain untuk melempar erang welu, kemiri unggulan yang dipilih dari berbagai kemiri tersebut.

Untuk menentukan siapa pemain yang melempar duluan, maka dilakukan kesepakatan dengan sebut pong pilang pong dengan jari tangan. Biasa disebut susten. Jadi, yang menang susten itu yang duluan melempar kemiri unggulan, welu erang.

Apabila ada kemiri yang terlempar keluar dari lubang dengan sentuhan welu erang maka si pemain melanjutkan banga-nya walaupun pemain lain masih melempar kemiri ke lubang tersebut. Goet Kolang disebut peke welu lempar kemiri unggulan tersebut. Lubang kecil yang berisi setumpukan kemiri disebut bungki.

Biasanya permainan itu hingga senja tiba. Dari permainan ini bisa dimaknai uji ketangkasan, keterampilan, kesabaran, persaudaraan, kecerdasan, demokrasi.

Biasanya yang mempunyai kejelian dan ketangkasan yang lebih menang dalam permainan tersebut dan membawa pulang biji kemiri tersebut ke rumah masing-masing.

Tidak ada wasit dalam permainan tersebut, sekali ada perdebatan terkait jarak. Yang dikatakan banga itu apabila welu erang, kemiri unggulan itu tinggal di dalam lubang dan sebagian kemiri terpental keluar dari dalam lubang tersebut. Maka semua kemiri diambil oleh si pemenang dan permainan dihentikan serta dilanjutkan permainan baru lagi.

Warga asal Wajur, Guru Emilianus Egor saat dihubungi via telepon seluler, Kamis (1/4/2021) menjelaskan, banga welu bisa juga disebut ghena welu.

Permainan-permainan tradisional ini sebagai uji kelihaian bagi anak-anak usia sekolah. Dan juga uji ketangkasan agar daya nalar anak-anak yang sedang bertumbuh tetap terjaga dengan baik.

Pelajaran ini tak dijumpai di kelas di sekolah. Egor menjelaskan, Ini warisan orangtua di wilayah Manggarai Raya zaman dulu agar anak-anak memiliki keterampilan dalam hidup. Membangun ikatan persaudaraan lintas suku lewat sebuah permainan tradisional.

“Saat kecil saya juga sering ghena welu atau banga welu dengan rekan-rekan sebaya saat pulang sekolah. Saya tak tahu siapa yang memulai permainan ini. Namun, permainan dilakukan oleh anak-anak usia sekolah,” jelasnya.

Tidak ada aturan tertulis, lanjut Egor, permainan-permainan diatur secara lisan aturan aturan yang dipatuhi oleh seluruh peserta saat bermain.

Sarana lain, selain bungki adalah buat lingkaran bulat dan buat garis vertikal. Dalam lingkaran bulat itu, seluruh biji kemiri yang sudah ditentukan jumlahnya disimpan dalam lingkaran tersebut. Sedangkan garis vertikal, biji kemiri ditaruh sejajar.

Jadi, seorang pemain yang mau berjuang untuk menang, biasanya, dia memegang dua buah biji kemiri unggulan, satunya sebagai welu erang atau erang welu dipegang di tangan kanan sementara satu bijinya dipegang di tangan kiri.

Jadi sebelum dilemparkan, dua kemiri yang dipegang dibunyikan, seperti tok tok tok tok, kemudian dilemparkan ke lubang yang tertumpuk kemiri tersebut.

Saat seorang pemain melempar welu erang harus penuh konsentrasi. Mata tajam. Badan tegak lurus. Tidak ada yang ganggu.

Selain banga welu, ghena welu, ada juga permainan kedodol atau maeng kedodol. Maeng kedodol dengan sarana batang kayu kering. Biasanya hanya dua pemain.

Pertama, kedua pemain itu lakukan susten untuk menentukan siapa yang pertama memulainya. Kemudian yang menang susten memiliki dua batang kayu kering kecil. Menggali lubang berbentuk vertikal.

Lalu, si pemain memainkan, pertama, soket, mengungkit kayu kecil. Sementara lawannya berada di tempat agak jauh. Batang kayu kecil itu di-soket ke udara dan lawannya harus menangkap.

Jikalau lawan bisa menangkap maka dihitung nilai 50. Ini penilaian dari kemampuan seseorang yang bisa menangkap batang kayu kecil di udara sebelum jatuh ke tanah.

Apabila lawannya bisa menangkap batang kayu kering itu, maka permainan diganti. Lawan tadi memegang dua batang kayu kecil, dan kembali di-soket. Jikalau lawannya tidak bisa menangkap batang kayu itu, maka permainan dilanjutkan ke bagian berikutnya.

Permainan berikutnya, bobol atau memukul batang kayu kecil yang tersimpan di lubang vertikal berukuran kecil. Saat di-bobol batang itu, lawannya tak boleh berada searah melainkan berada di samping lapangan permainan.

Saat batang kayu jatuh di tanah, lawannya mengambil batang itu dan melemparkan kembali ke lubang vertikal itu dimana ada batang lain yang ditaruh secara horizontal.

Jikalau batang kayu yang dilempar lawannya itu mengenai batang kayu horizontal maka diberi nilai 100. Jikalau tidak kena di batang itu, maka yang menang adalah pemain pertama.

Dilanjutkan giliran kepada lawannya untuk melakukan soket dan bobol batang kayu tersebut.

Saat terjadi menang kalah, tidak ada permusuhan. Bahkan meningkatkan keakraban di antara pemain dalam satu kampung tersebut. Permainan ini ada nilai aljabar atau menghitung matematikanya.

Permainan ketangkasan ini memiliki nilai ketabahan, kesabaran, keuletan dan rasa kekeluargaan di antara para pemain.

Sewaktu saya masih usia anak-anak, permainan tradisional ini terus dilakoni dalam keseharian bersama rekan-rekan saat pulang sekolah.

Kini, saya jarang melihat permainan ketangkasan bagi anak-anak di kampung-kampung. Yang terlihat saat ini adalah anak-anak memegang handphone sambil main game online, tiktok, nonton youtube dan media sosial seperti facebook, dan permainan dunia maya lainnya.

Ini bisa dibayangkan bahwa permainan-permainan tradisional untuk ketangkasan otak anak-anak perlahan-lahan tergerus oleh arus teknologi yang semakin canggih di tahun-tahun mendatang.

Sarannya untuk membangkitkan dan mempertahankan permainan tradisional, lembaga pendidikan memiliki peran penting untuk memulai dengan permainan tradisional saat ekstrakurikuler di lembaga pendidikan masing-masing. Jikalau tak dimulai saat ini, maka permainan ini akan perlahan-lahan punah.

Mari kita terus lomes/lomeh di media dan mencintai permainan-permainan tradisional kita masing-masing. Narasi ini kita anggap biasa-biasa saja dalam keseharian, namun dari segala permainan tradisional ini terkandung nilai luhur untuk perkembangan otak anak anak. Bersambung. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here