Ketika “monyet” menjadi “kingkong”

“Saat melihat Kota Jayapura diduduki massa aksi, sa baru merasa tinggal di Papua.”

Kalimat di atas, sa utarakan kepada kawan-kawan jurnalis orang Papua. Mereka tertawa. Sesekali mereka juga menertawai sa yang kerap ternganga melihat massa aksi sebanyak itu.

Kalau melihat massa saat kampanye mungkin biasa. Tapi ini, kamu satu-satunya orang yang bukan ras Melanesia, yang berada di tengah-tengah massa, yang sesekali bisa saja terjadi bentrok. Pandangan mata sa beberapa kali bertumbuk dengan demonstran. Sa selalu tersenyum. Ada yang membalas, ada pula yang tidak.

Meski sa ditemani kawan-kawan jurnalis Papua, sa masih merasa khawatir. Tak ada berita seharga nyawa. Apalagi saat tahu, di Manokwari massa sudah membakar sejumlah gedung. Tapi sa berusaha menyakinkan dalam hati, niat sa baik, Tuhan akan jaga sa.

Ada seorang polisi berpakaian preman, berjalan dari mobil patroli lalu mendekati sa. Ia lalu bertanya sa wartawan dari mana. Sa menjawab dari Beritagar.id. Sa saat itu memang membawa dua ID card, Jubi dan Beritagar.id. Keduanya sa gantungkan di leher secara bergantian.

Saat coba mengambil gambar dari atas jembatan penyeberangan di depan kampus Uncen di Abepura, kami sempat dihardik.

“Jangan foto-foto! Kami tidak perlu wartawan!” teriak seorang demonstran, saat naik ke atas jembatan.

Tapi karena kawan-kawan lain orang Papua juga, mereka segera menegur orang itu. Ia turun dari jembatan. Sa segera dibayang-bayangi kejadian Abepura Berdarah, 2000 lalu. Namun bayangan itu segera sa tepis.

Sa lantas bertanya kepada kawan mengenai pendapatnya, apakah aksi ini akan ricuh.

“Kemungkinan kecil, iya,” katanya.

Sa berharap banyak, semoga tidak akan ricuh. Sa semakin yakin, saat melihat bagaimana koordinator aksi dan mahasiswa-mahasiswa Uncen mengontrol massa. Tali rafia dibentang melingkari ribuan massa. Sepanjang jalan, mahasiswa yang beralmamater coba memastikan agar provokator tidak ikut bergabung.

Sa berboncengan dengan kawan, lalu menyusuri jalan memutar agar lebih dulu sampai ke kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) di Kotaraja. Semua lorong macet. Mobil, motor, taksi (angkot), bahkan truk berhimpitan. Semua memilih menghindar dari jalan raya. Di jalan raya, ketika sa melirik ke kiri dan kanan, tak ada satu pun warga pendatang. Semua toko ditutup. Bahkan saat kehausan, kami baru mendapati warung yang dibuka, jauh ke dalam lorong. Meski dibuka, hampir semua warung di Jayapura dipakai terali besi, lalu diberi celah untuk bertukar uang dan barang.

Di jalan raya, hanya ada warga orang Papua yang berani berjajar di tepi jalan. Massa menyanyikan lagu “kami bukan merah putih, kami bintang kejora” di bawah terik matahari. Ratusan pengendara sepeda motor memimpin massa. Dari bocah sampai yang renta, terpanggil ikut aksi. Bahkan ada anak-anak sekolah yang masih berseragam.

Sa merinding, ketika massa melewati seorang nenek yang berdiri di depan rumah. Ia menyambut teriakan “Papua merdeka”. Seorang kakek di deretan rumah berikutnya pun demikian. Mungkin mereka dulu pernah pula turun ke jalan, lalu ingatan menyeret mereka ketika melihat ribuan massa mengular di atas aspal mendidih.

Saat massa sampai di depan kantor MRP (Majelis Rakyat Papua), orasi lima menitan terkoar. Mereka mengajak agar lembaga kultural orang Papua itu, ikut bergabung dengan massa. Sa belum banyak mengenali para anggota MRP, tapi menurut kawan, ada beberapa yang ikut bergabung dengan massa.

Massa mulai dinaungi rindang pepohonan ketika menanjak di Skyline, tempat terindah untuk menikmati es kelapa muda dan hamparan Teluk Youtefa. Tapi jalan yang menanjak tak menyurutkan semangat mereka. Sebagian demonstran diberikan air mineral oleh mama-mama Papua yang berjualan di sana.

Dari Skyline, massa kembali bergerak menuju Entrop, selanjutnya hendak menuju ke Taman Imbi, tepat di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).

Ketika bersama massa aksi, ada banyak teriakan yang kerap membuat sa tersenyum. Misal, “Kami monyet, keluarkan kami dari NKRI”, “Kami monyet kalian usir, kami usir Indonesia dari tanah monyet”, “Kami monyet, tapi kami tidak merusak alam seperti kalian”, “Kalian manusia suka mencuri kekayaan monyet”, “Kami monyet pergi menuntut ilmu ke negeri manusia, tapi manusia datang cari makan ke negeri kami, lebih terhormat siapa?”, dan masih banyak teriakan lainnya lagi. Mereka melawan rasisme dengan sarkasme cerdas dan balik meninju keras.

Setelah menyerah karena berada di belakang massa aksi di jalan menanjak, kami memilih melewati jalan belakang, agar lebih dulu sampai di Taman Imbi, tepat di jantung Kota Jayapura. Di sana, ratusan massa juga telah turun ke jalan.

Di Kota Jayapura, semua toko tutup. Di atap-atap gedung tampak beberapa karyawan memegang ponsel dan mengabadikan momen langka itu. Ketika massa aksi dari Waena tadi sampai, beberapa polisi sempat dikejar dengan balok kayu. Tapi tak ada yang terluka. Demonstran lain mengamankan situasi, sembari mengatakan ini adalah aksi damai.

Di saat berkejar-kejaran dengan polisi itu, sa segera merapat ke kawan wartawan Papua. Sa dilewati oleh massa yang memegang balok. Tapi ada seorang demonstran mendekati sa lalu bertanya dari media mana. Ketika menyebut Jubi, ia segera berlalu sambil tersenyum.

Sudah sekitar pukul 3 sore. Massa sudah menempuh jarak sejauh kira-kira 16 kilometer. Ada di antara mereka bahkan tak beralas kaki. Mereka berjalan sudah sekitar enam jam lamanya. Di depan kantor DPRP, mereka berorasi selama lima menit. Kemudian melanjutkan perjalanan ke kantor gubernur.

Di halaman kantor gubernur, massa disambut oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe. Dari belakang panggung orasi, pandangan sa menyapu ribuan orang. Ketika mereka meneriakkan kata “merdeka”, gemuruh suara mereka menjadi serupa auman Kingkong.

Benar sudah, sesuai orasi Juru Bicara Internasional KNPB, Victor Yeimo, rasisme yang menimpa orang Papua bukanlah satu-satunya alasan mereka berhimpun, lalu turun ke jalan. Itu adalah akumulasi amarah yang sekian lama mereka pendam. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), nasib para pengungsi Nduga yang bahkan lainnya masih kedinginan di dalam hutan, dan pengrusakan alam Papua, adalah kegelisahan yang selama ini diabaikan pemerintah.

Salah seorang mama juga tak ketinggalan menyampaikan amarahnya di depan gubernur dan massa, atas sikap rasisme yang menimpa mahasiswa Papua di Jawa.

“Saya ini ibu. Saya mengandung dan melahirkan. Dan saya tidak pernah melahirkan anak monyet!” teriaknya, yang disambut gemuruh dukungan massa.

Mama itu mengatakan, Tanah Papua adalah tanah yang diberkati, maka ketika penghinaan ras mendera orang Papua, itu sudah menyangkut harga diri orang Papua.

“Manusia tidak melahirkan monyet. Manusia tidak melahirkan singa. Karena itu, mari orang Papua dari pesisir pantai sampai pedalaman pegunungan, kita bersatu menuntut kemerdekaan untuk menentukan nasib sendiri. Referendum adalah solusinya!” pekiknya.

Lukas Enembe, menitikkan air mata. Ia mengatakan, orang Papua sangat mencintai mendiang Gus Dur begitupun sebaliknya. Karena itu, ia menyampaikan permintaan agar gubernur Jawa Timur bisa menjamin nasib para mahasiswa Papua di sana.

“Kita bukan kera. Saya juga heran, Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun, tapi masih ada orang-orang berpikiran picik seperti itu,” kata gubernur.

Sampai pukul 6 sore, massa mulai berangsur pulang. Namun, selanjutnya, ternyata drama rasial ini belum berhenti. Dari Malang kini menjalar sampai ke Makassar.

Sa lantas ingat percakapan seorang kawan jurnalis Papua dan seorang pendatang asal Makassar di Taman Imbi, Kota Jayapura. Ceritanya, orang Makassar itu bertanya kepadanya mengenai situasi demonstrasi kali ini. Ia menjawab bahwa mahasiswa Papua di Surabaya diserang lalu disebut monyet, karena itu aksi besar-besaran ini terjadi.

Lalu, orang Makassar itu menjawab, “Saya juga kalau dipanggil monyet, ya, marah!” []

Foto: Aksi tolak rasisme di Jayapura, 19 Agustus 2019 – Lomes.id/Hengky Yeimo

Penulis: Kristianto Galuwo, Kontributor Beritagar.id dan editor Jubi.co.id

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *