Ketika hari guru tiba

0
21

Forsiada, Merauke, 25 November 2019. Hari ini semua mengucapkan dan diucapkan selamat hari guru. Semua merasa yakin bahwa sudah menjadi seperti sekarang karena pernah ada dan bersama bapak ibu guru berproses menapaki hidup.  

Disadari atau tidak bahwa guru sudah menjadi bagian dari hidup orang lain dan sudah total juga bekerja untuk orang lain. Kepuasan kerjanya terukur ketika sesamanya, murid, siswanya dan mahasiswanya berprestasi dan sukses dalam hidupnya.  

Berprestasi dan sukses sudah pasti meraih hidup yang baik dan benar dalam kebersamaan hidup dengan orang lain baik di rumah, tempat kerja maupun lingkungan sosial lainnya. 

Apakah guru sudah berprestasi dan sukses dalam hidupnya sendiri? Susah dijawab jika ukurannya materil. Tetapi jika ukurannya spiritual barangkali guru sudah sukses manakala ada satu atau dua peserta didiknya sudah berprestasi dan sukses dalam hidup. Apalagi kalau sudah lebih dari 10, 100, dan 1.000 yang sudah berprestasi dan sukses. Luar biasa.  

Guru sudah mengabdikan dirinya, berbakti, melayani demi terwujudnya peradaban dalam diri seseorang dan memajukan kebudayaan bangsa dan negara ini. 

Tentu hari ini dikenang lagi guru-guru yang pernah kita gugu dan tiru hidupnya. Guru yang oleh caranya telah memberikan inspirasi, motivasi dan spirit hidup kepada kita. Barangkali mereka masih berbakti, purna tugas bahkan ada yang sudah tiada. 

Memberikan ucapan selamat dan berdoa  untuk kebahagiaan hidup mereka sudah pasti membanggakan para guru tersebut. Guru tidak gila hormat, guru tidak haus kekuasaan, guru tidak haus materi, dan tentu guru tidak haus pujian.  

Guru adalah pekerja keras, tangguh, loyal, inspiratif, motivator, bertanggung jawab, kritis dan bijak dalam membaca dan menguraikan tanda-tanda zaman melalui berbagai metode ajaran dan didikannya. 

Bahwa ada guru pemalas dan terjebak dalam praktik hidup amoral sudah pasti itu segelintir oknum yang mengalami disorientasi hidup. Mereka layak mendapat sanksi sesuai regulasi. 

Tentu semua berharap bahwa kesejatian hidup para guru adalah selalu berusaha dan menjadi garam dan terang bagi sesamanya kapanpun dan dimanapun. 

Guru, homo educandum dan homo educandus itu tentu semakin berkibar dan bersinar tatkala permenungan jati dirinya dan panggilan hidupnya senantiasa diasah, diasih dan diasuh dalam frame kehidupan yang patut.  

Semua orang baik dan benar di negeri ini selalu pro dengan para guru yang senatiasa berjuang bak “dian tak kunjung padam” mencerdaskan kehidupan anak bangsa.   

Aneka reward diharapkan selalu diberikan kepada mereka yang sudah dinilai patut menerimanya. Para penghambat lajunya kreasi dan kreativitas menyejahterakan guru sepatutnya diberi orientasi lagi dalam memaknai kerjanya. 

Para pelayan guru di NKRI ini saatnya bermenung diri akan makna pelayanan terhadap semua guru selama ini.    

Terima kasih untuk semua jasamu,  pahlawan berjasa besar menghadirkan generasi hebat di negeri ini. Selamat berkarya para guru hebat.   

Salam senyum, sehat, semangat selalu dari Papoti (paling pojok Timur Indonesia). []

Foto: Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) di Kabupaten Mappi, Papua – Dok guru GPDT/Dedi Looansolot

Penulis: Gerardus Wen, PNS di Dinas Pendidikan Mappi, Papua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here