Kata kopi dan buah masak

0
23
Menulis
Ilustrasi - Foto/Dokpri

 

Kau pasti pernah makan buah-buahan yang masak di pohonnya dan yang disimpan atau diperam. Enaknya tentu berbeda, bukan?

Pisang, nangka, dan buah-buahan biasa diperam (dalam bahasa Manggarai iwung atau umung). Ya, rasanya tentu beda! Lebih enak yang matang di pohon.

Begitulah saya membandingkan rasa kopi ini. Kopi Manggarai tepatnya. West Flores dalam gelas.

Kopi ini beda dengan kopi lainnya, seperti, “kopi kapal asap”, atau sa pu kaka laki-laki biasa bilang “kopi kios”.

Saya tidak bisa deskripsikan secara panjang lebar soal keenakan kopi ini.
Soal rasa lidah bisa jadi beda. Subjektif.

Faktornya, barangkali karena lidah kena air panas. Mungkin juga karena sedang malaria, sebab rasa pil kina, klorokuin, resochin dan malarex menjajah seluruh bagian lidah. Begitu.

Yang pasti kopi punya rasa manis bercampur pahit atau pekatnya. Itu tadi. Kopi ini sama dengan buah yang matang di pohon.

Sesimpel itu saya gambarkan. Tanpa mengolah banyak kata, frasa dan kata sifat atau keterangan. Bahkan metafora. Hanya itu: buah yang matang di pohonnya. Asli.

Kalau Kau belum rasakan buah seperti itu, saya jamin, Kau dilahirkan di kota–yang hanya mengenal buah-buahan di kulkas.

Tapi kalau Kau lahir di kampung, hidup di kampung, saya pastikan bahwa saya tra tipu. Kita sama-sama rasakan itu. Ya, buah itu tadi.

Daripada sibuk baca berita hoax, dan duduk berlama-lama menonton “operasi plastik”, menonton “baku tipu rame”, mending kita me-ngopi, “ngue” dan “ngo-ngo” yang lainnya. Ups!!

Hoax juga bikin urat saraf tegang, darah tinggi. Setinggi tugu monas di Mama Kota. Oleh karena itu, mari minum kopi. Angkat topi untuk persaudaraan dalam gelas.

Sambil merangkai kata kita berkata-kata. Bersenda gurau menghalau galau. Bersama angin sepoi-sepoi. Dibarengi tawa dan banjir air mata gembira ria. Ayo ngopi, kawan!

Saat Kau didera kantuk, atau lupa pada satu hal lumrah, ingatlah: segelas kopi adalah teman setiamu. Ia ‘kan menunggumu hingga pagi datang lagi.

Begitu pun saat kau didesak kenangan untuk mencoret-coret di atas selembar kertas putih. Si hitam manis ini mungkin jadi alternatif di tengah kebuntuan.

Ini bukan sekadar kopi. Tapi semacam sihir. Yang mengusik pikiran. Menyerap jejak-jejak ingatan. Meracik tiap jejak yang kadang harus dipapah.

Kopi yang kuteguk ini, tumbuh di atas 1.100-an dpl. Di tanah aer beta bernama: Nucalale atau Manggarai. Sebuah daerah kopi, cokelat, cengkeh, vanili dan kemiri, serta padi di ujung barat nusa bunga.

Kau ingin meneguknya? Aku sudah menghabiskannya. Kau kan menulis ceritanya? Mulailah dari ampas pengais inspirasi di dasar gelas.

Lalu bertolak lebih jauh ke kebun berbentuk sarang laba-laba bernama lingko.

Nun jauh di tenggara atlas. Atau di ujung utara benua Kanguru. Di daerah lempengan gempa, yang oleh S.M. Cabot abad 15 namai “Cabo de Flores“.

Di sana kau tahu, betapa petani meracik dan memerosesnya dari tanah harapan. Kopi robusta namanya.

Pohon yang sewaktu kecil kupanjat hingga setinggi tiga meter. Meraih merahnya. Memetik pucuknya untuk segelas teh.

Buah yang memerah adalah keberanian. Manis buahnya mengingatkan aku tatkala berebutan dengan kelelawar dinihari di kampung berbukit.

Hitamnya adalah keabadian. Abadi dalam dunia yang fana dan baka nanti.

Mau tahu kopi ini? Mau rasakan kopi ini? Dari tana nagi kopi ini terbang di atas 3.600 kaki hingga ujung harapan. Ufuk timur, di bawah kaki langit pulau kasuari.

Kalau ada sore menyapa, biarlah tawa menghadirkan suka. Kalau ada segelas asa, itulah gelasku. Jangan lupa: buah yang masak di pohon seperti yang disinggung di muka. Marilah kawan, kita bercerita. Tentang dunia yang serba sementara ini. []

#celotehgelas
Jpr||60K18

Foto: Dok. Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here