Kepala batu dengan corona atau dibayang-bayangi nemba

2
99
virus
Ilustrasi - Pixabay.com

Tulisan ringan ini sekadar flashback. Semacam kilas balik tentang wabah di masa lalu, yang memakan korban banyak, yang mirip dengan pandemi virus corona atau coronavirus disease 2019 atau Covid-19. Bukan tentang black death di Eropa abad keempat belas, yang mematikan sepertiga hingga dua per tiga penduduk benua Eropa. Bukan pula tentang pandemi flu, flu spanyol, flu asia dan flu babi

Lebih dari itu, tulisan ini mengingatkan saya akan wabah masa lalu di tanah kelahiran saya. Di daerah Manggarai. Entah namanya wabah, endemi atau pandemi. Tapi memang mengerikan dan membuat populasi manusia di sana “habis”. Orang Manggarai menyebutnya nemba atau bambo.

Jika Anda adalah orang Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, maka saat membaca tulisan ini mungkin sebaiknya sambil ngopi. Kopinya dicampur halia. Sambil makan jagung dan ubi kita menengok masa lalu—masa dimana nemba itu terjadi—dan mengheningkan cipta bagi mereka yang meninggal karena nemba dan wabah lainnya, atau epidemi dan pandemi.

Konon pada zaman dulu juga ada kejadian luar biasa semacam pandemi virus corona ini. Nemba atau bambo itu tadi. Barangkali tahun 1960-an atau malah jauh sebelum itu. Saya belum mengkonfirmasi data validnya, tapi berdasarkan cerita dari mulut ke mulut yang saya rekam saat kecil tahun 1990-an.

Generasi kelahiran sebelum tahun 2000-an seperti saya hampir pasti tidak asing dengan cerita bambo atau nemba

Meski belum mendapatkan data valid perihal waktu dan korbannya, dan hanya berdasarkan cerita orang-orang tua, saya semakin yakin setelah membaca ulasan Floresa.co tentang belis dan asal-usulnya dari wabah tahun 1930-an seperti dikatakan sosiolog Universitas Indonesia, Robert M.Z. Lawang.

Artinya bahwa kematian massal itu benar-benar terjadi dan direkam dengan baik oleh banyak orang Manggarai, yang mungkin seperti bambo atau nemba karena wabah cacar tadi.  

Meskipun demikian, saya belum memastikan apakah wabah zaman dulu itu karena cacar air atau cacar monyet, mengingat penyakit cacar monyet dan cacar air memiliki perbedaan dan persebaran.  

Cacar monyet muncul pertama kali di Republik Demokratik Kongo tahun 1958 dan tersebar pada 1970 di beberapa negara Afrika, seperti Republik Demokratik Kongo, Kamerun, Pantai Gading, Liberia, Afrika Tengah, Sierra Leon, Gabon dan Sudan. Penyakit ini menimpa warga Singapura pada 8 Mei 2019 setelah pada 28 April 2019 warga Nigeria menyinggahi Singapura, padahal dua tahun sebelumnya cacar monyet mewabah di Nigeria.

Ihwal perbedaan cacar monyet dan cacar air dapat dilihat dari ulasan CNN Indonesia, 14 Mei 2019 dan blog Alodokter, 15 Mei 2019.

Saya menduga bambo atau nemba pada masyarakat Manggarai zaman dulu merupakan wabah cacar air, mengingat wabah ini disebut paling mematikan sepanjang sejarah dunia sebab hampir 300 sampai 500 juta penduduk dunia abad 20, dan pada abad 18 mengorbankan 60 juta penduduk Eropa.

Mereka yang lahir di atas tahun 2000-an pun familiar dengan kata nemba atau bambo tadi. Minimal dalam umpatan seperti ini, “com mata le bamboh” atau “ba koe le nemba hau“.  Artinya, biarlah kau mati seperti saat bambo dulu, atau biarlah kau juga disertakan saat nemba.

Umpatan ini keras. Sekeras alam Flobamora yamg dipenuhi batu karang dan batu-batuan lainnya dan mungkin batu yang berubah menjadi “kepala batu”. Itu tadi. Titik tolaknya dari kejadian yang disebut nemba.

Saya sebelum menulis catatan kecil ini sempat searching di laman google, siapa tau menemukan padanan kata bambo atau nemba. Eh, saat sa googling nemba akhirnya nyantol di luar negeri. Di Eropa dan Afrika.

Di Eropa ada semacam organisasi atau komunitas sepeda gunung yang namanya Nemba (New England Mountain Bike Association). Anggotanya lebih dari 7.500 orang. Ke sini lagi, di Afrika Timur sana, Rwanda. 

Di negara Rwanda malah sebuah kota atau daerah bernama Nemba. Wkipedia mencatatnya berada di Distrik Bugesera, Provinsi Timur. Berbatasan dengan Republik Burundi atau sepanjang 60 kilometer ke tenggara Kigali, ibu kota Rwanda. 

Nemba atau bambo adalah bahasa Manggarai untuk kematian massal manusia dan tiba-tiba menakutkan orang-orang tua kala itu. Bambo manusia.

Nemba atau bambo kurang lebih berarti sama—merujuk pada kematian massal, tiba-tiba dan menakutkan. Namun bila kita mendengar pembicaraan sehari-hari, saya menduga bahwa bambo ditujukan untuk binatang, sedangkan nemba untuk manusia. 

Barangkali wabah, endemi atau pandemi atau semacamnya dalam bahasa Indonesia. Yang pasti bikin panik atau bahkan takut. Diceritakan oleh orang-orang tua bagaimana nemba begitu menyedihkan.

Zaman itu tak secanggih abad ini. Tak secanggih era internet, yang akses informasinya begitu terbuka dan cepat. Meski kebetulan terjadi kematian massal, nemba tidak lalu berarti punya keterkaitan dengan kematian 800 ribu orang suku Tutsi dan Hutu yang dibantai ekstremis Hutu di Rwanda tahun 1994. Mengaitkan nemba dengan peristiwa itu terlalu nonsense dan kurang kerjaan, sebab nemba jauh sebelum 1994.

Ada juga rumors dulu bahwa nemba itu punya keterkaitan dengan senjata biologis dua negara yang berperang—entah negara apa. Namun saya tidak punya cukup bukti akurat untuk mengaitkan kejadian tersebut. 

Wabah atau nemba hanya disebut kematian oleh karena “kerjaan setan” atau makhluk halus. Untuk konteks yang terakhir ini memang tidak masuk akal, tetapi bisa dimengerti jika kita memahami konteks kehidupan masyarakat tradisional yang kental dan belum tersentuh kemajuan teknologi seperti sekarang . 

Nemba atau bambo itu hadir kembali, atau setidaknya menjadi pengingat ketika dalam bentuk lain di abad 21, pandemi virus corona atau Covid-19 mematikan ribuan penduduk dunia.  

Virus ini memunculkan ketakutan, kengerian, dan sederet kata lainnya yang mungkin tidak bisa diucapkan bila kita mengikuti perkembangan informasi di Indonesia dan dunia. 

Laman organisasi kesehatan dunia atau WHO merilis kasus Covid-19 per 30 Maret 2020 waktu 00.53 GMT+9, terkonfirmasi sebanyak 634.835 kasus, dan kematian 29.957 di 203 negara.

Sedangkan di Indonesia, Laman resmi Pemerintah Indonesia untuk Covid-19 melaporkan per 30 Maret 2020 sebanyak 1.285 kasus, 1.107 orang sedang dirawat, 114 orang meninggal, dan 64 orang sembuh. 

Pemerintah telah menetapkan social distancing atau pembatasan sosial dan sekarang menjadi physic distancing atau jaga jarak untuk memutus rantai penyebaran virus corona. 

Di laman facebook saya berceloteh, masih at home dengan stay at home gara-gara corona. Memang virus corona dan penyebarannya yang begitu cepat membikin siapa pun, mau tidak mau, harus betah di rumah saja, dan tidak kepala batu untuk keluyuran trada guna, sampai batas waktu yang ditentukan sesuai imbauan pemerintah, sambil menjaga kesehatan–jaga kekebalan tubuh, berdoa, dan “jaga jarak aman” seperti tulisan-tulisan di belakang truk-truk atau dump truck

Kalau tidak at home di rumah dan masih keluyuran tra tentu arah, ya nemba siap menanti, dan wajar bila masih ada umpatan “ba le nembah“. Bayang-bayang nemba bakal menghantui kita seperti dikatakan peneliti Iqbal Ridzi dari Eijkman-Oxford Clinical Research Unit atau EOCRU seperti dilansir dari suara.com yang mengatakan bahwa akan mencapai 70 ribu kasus sampai akhir April 2020 jika tidak melakukan social distancing atau physical distancing tadi.

Persoalannya, bagaimana mau at home tinggal di rumah atau stay at home jika tidak bekerja atau trada kerjaan? Makan apa? Semoga saja “nemba” ini segera berlalu, seperti sebuah postingan kawan saya: “Selama ini kami hanya mengenal ‘bambo’ pada binatang, tapi kali ini pada manusia. Semoga segera berlalu”

Vaksin dan obatnya, semoga segera ditemukan dan ribuan pasien segera sembuh, dan kita beraktivitas seperti sedia kala tanpa dibayang-bayangi virus corona atau nemba seperti tempo dulu. []

#Tpkt300320

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here