Kata adalah doa?

0
29

Suatu kesempatan saya dan seorang kawan bercerita, berdiskusi. Tukar pikiran begitu. Apa yang didiskusikan?

Begini. Ditemani kopi dan sesekali kuisap asap, kami mengobrol banyak hal. Mulai dari A dan hampir pasti sampai Z. Entah sampai topik mana.

Lalu mengerucut ke pengalaman iman. Jadinya saling sharing, sebab kami sama-sama beriman Kristiani. Sama-sama membuat tanda salib sebelum dan sesudah berdoa.

Dia bilang begini: “Kata adalah doa.”

Saya lalu diam. Dan lagi-lagi terdiam karena sedang bingung.

Bingung sekaligus heran. Sambil merefleksikan diri saya yang hina dina ini.

Saya baru mendengar ucapan ini. Karena itu saya bingung. Barangkali itu pendapat, pengalaman dan refleksi pribadinya. Saya tidak mempersoalkan itu.

Cuma pertanyaannya adalah, jika saya mengumpat, mengucapkan kata-kata kotor, najis, negatif atau caci maki, apakah itu artinya saya juga sedang berdoa? Doa macam apa itu? Itukah yang dimaksud “kata adalah doa?” Atau seperti apa?

Dia lantas diam mendengar dan mencerna pertanyaan saya. Saya juga diam sambil membongkar memori, dan menemukan pengalaman iman. Dan saya berani menulis celotehan ringan di sini. Ya, itu tadi; berdoa.

Berdoa itu memang berkata-kata. Artinya doa itu kata benda dan berdoa kata kerja. Ketika saya berdoa saya mengeluarkan kata-kata, rangkaian kata dan kalimat, yang terucap di mulut dan tak terucap (di dalam hati saja), dalam relasi yang sangat pribadi dengan Yang Ilahi.

Misalnya kata permohonan, syukuran, dan harapan atau pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang saya dan dia imani. Dalam suasana batin yang tenang atau hening. Agar permohonan, pujian dan syukuran ke haribaan-Nya terfokus. Kusyuk!

Bagaimana mungkin kau berdoa tapi hati dan budimu berkata lain?

Kata-kata yang terucap bernama doa itu, kemudian diakhiri dengan amin. Meski begitu, ada juga jenis doa melalui tata gerak dan suara atau nyanyian.

Pujangga Gereja Santu Agustinus dari Hippo bilang, siapa yang bernyanyi dengan baik, dia itu bedoa dua kali. Dalam bahasa Latinnya, Qui Bene Qantat Bis Orat. Artinya bila menyanyi untuk memuji Tuhan dengan baik, konsentrasi, penuh penghayatan, dia berdoa dua kali daripada yang terucap.

Saya tidak akan terlalu ulas panjang lebar dan mendalam soal berdoa ini. Saya pikir ada teolog dan ekseget yang mengulasnya. Pada intinya saya mau mempertanggungjawabkan iman saya.

Iman itu harus dimengerti dan dipertanggungjawabkan, baik kepada sesama, maupun kepada Dia yang saya imani. Itu saja.

Lalu kembali ke soal tadi. Kata adalah doa? Ah, lupakan saja. Kalau kami terlarut dalam debat kusir ini, maka kami tak akan selesai di sini. Mungkin harus bolak-balik katekismus, alkitab, tradisi gereja, kisah para rasul dalam gereja perdana, dan pengalaman iman masing-masing.

Berhubung saya dan teman tadi seiman, kami bersepakat untuk diam sejenak. Mengingat lagi nasihat Sang Mesias dan Tuhan: Jika kamu berdoa, tutuplah pintu kamarmu dan berdoalah dalam keheningan. Maka Allah yang tersembunyi akan mendengarmu. Bukan pamer-pamer.

Keluhan, pujian, syukuran, yang terucap kepada Tuhan tadi, bisa jadi semacam doa yang dimaksudkan sang kawan. Tapi sudahlah.

Kami pun berdoa dalam hati masing-masing. Mengarahkan hati dan pikiran kepada Sang Pemberi napas kehidupan. Entah permohonannya apa. Toh urusannya dia dengan Tuhan.

Di ujung doa tadi, kulihat kawan ini juga membuat tanda salib. Saya pun begitu. Puji Tuhan!

Saya punya doa adalah pujian, syukuran dan permohonan. Bahwa hari ini, kronik kehidupan makin tebal. Hingga hampir lusuh. Singkatnya doa ulang tahun.

Bahwa hari demi hari, berkat itu diterima seiring pertambahan usia. Disyukuri.

Semakin ke sini, saya membuka akun facebook. Saya membaca pesan, ucapan, dan harapan dari kawan-kawan.

Saya lalu sadar bahwa itu juga doa. Doa yang tertulis–yang entah dari hati atau karena terdorong oleh keriuhan dunia maya.

Lebih dari itu, sebagai makhluk sosial, berterima kasih dan bersyukur atas kepedulian sesama juga tidak salah jika ditulis. Balasannya tentu tak harus ditulis satu per satu. Hanya melalui itu tadi: kata dan doa juga. Tuhan juga tahu itu. (*)

Foto: Dokpri
#Jpr 240818

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here