Jalan etis dan opsi humanis di bawah dominasi kekuasaan

Oleh: Marselinus Haristasianus Saka

Michel Foucault (1926-1984) dalam pemikirannya tentang “Kuasa” mengajukan sebuah proposisi, bahwa manusia, kebenaran atau pengetahuan, atau apa pun yang ada merupakan produksi dari relasi dominasi yang inheren dalam pluralitas relasi kekuatan (kekuasaan). Proposisi ini sangat menarik didalami ketika perdebatan episteme masih berkutat antara inteligibel dan sensibel (ide dan realitas) dan konteks kekinian mengenai subjektivitas manusia. Proposisi Foucault bisa saja meminggirkan peran vital manusia (subjek), serentak membuat sistem sosial dan pengetahuan kita jatuh pada “dominasi rasio objektif”.

Refleksi sederhana ini pada dasarnya tidak ingin menantang pandangan Foucault yang sangat sistematis. Refleksi ini berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana, yakni, apakah tepat menempatkan manusia (subjek) di bawah dominasi kekuasaan (kekuatan) kehendak?

Saya ingin memberikan jawaban yang bisa saja diperdebatkan secara filosofis. Jawabannya terletak pada pandangan tentang “kehendak” yang menjadi tema sentral pemikiran filosofis dua filsuf yang sangat mempengaruhi pemikiran Foucault, yakni, Arthur Schopenhauer (1788-1860) dan Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900).

Tentu saja jawaban singkat ini bukan sebuah jawaban akhir (memuaskan), tetapi merupakan maxim, jalan tengah yang mengarah pada “cara bertindak” ketika manusia ditempatkan di bawah dominasi kekuasaan.

Pemikiran Foucault tentang kuasa sebenarnya bermuara dari pemikiran Schopenhaur dan Nietzsche tentang kehendak. Schopenhauer telah meletakkan batu pijakan penting ketika ia memberikan penjelasan yang mendalam tentang “sang kehendak”, terutama berkaitan dengan makna dan manifestasi sang kehendak.

Ia mengatakan bahwa sang kehendak adalah esensi hidup, alam semesta. Ia ada di mana-mana, meresapi dan menerobosi seluruh realitas dari yang paling rendah ke yang paling tinggi (dari mineral sampai manusia). Manifestasi esensial sang kehendak tampak dalam kehendak untuk hidup (hasrat melestarikan diri) yang tampak dalam insting seksual.

Nietzsche mengamini pemikiran Schopenhauer tentang sang kehendak dan mempengaruhi pemikirannya tentang kehendak berkuasa. Meskipun demikian, Nietzsche memberikan kritik yang sangat tajam kepada Schopenhauer. Nietzsche melihat Schopenhauer masih jatuh dalam idee fixe, menganggap seolah-olah yang namanya kehendak adalah realitas pejal yang bisa diidentifikasi, sebuah esensi yang lebih asali dari segala lainnya dan akhirnya memiliki kualitas causa sui metafisis.

Dimanakah titik letak atau persamaan cara pandang Schopenhauer dan Nietzsche ketika mereka memperdebatkan konsep tentang sang kehendak? Hal ini bisa kita temukan pada basis intelektual argumen mereka dan nilai historis.

Dalam teori tentang kehendak mereka sepakat bahwa kehendak itu berawal dari keinginan. Tetapi, keinginan itu sendiri paradoks. Artinya, keinginan itu bisa mengecewakan manusia karena keinginan itu sendiri tidak pernah menuntaskan keinginan manusia untuk berhenti. Dengan kata lain, keinginan itu sendiri merupakan derita.

Secara historis, pemikiran Schopenhauer dan Nietzsche merupakan anti-tesis atas klaim kebenaran agama yang sangat metafisis. Schopenhauer mengkritik pandangan Martin Luther (1483-1546) yang menegaskan bahwa kondisi manusia pada dasarnya telah rusak akibat dosa asal dan hanya rahmatlah (iman) yang bisa menyelamatkan manusia.

Hal senada juga ditegaskan Nietzsche. Ia mengkritisi sejarah peradaban Eropa yang salah memahami dan menafsirkan agama (iman). Atas dasar tersebut, secara provokatif ia mengganggu kemapanan agama dengan menegaskan bahwa Tuhan telah mati.

Basis argumen tentang kehendak dan kritik atas identitas agama menghantar mereka untuk memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehendak dan pandangan iman yang sangat chaos dan menawarkan karakter fundamental dalam cara bertindak yakni “Jalan Etis”.

Jalan Etis merupakan cara penebusan yang fundamental. Manusia bisa selamat bukan karena iman, tetapi karena mampu menunjukkan belas kasih pada derita orang lain. Di luar pandangan yang teologis tersebut, Jalan Etis ini bisa dimaknai sebagai cara berprilaku di tengah sistem sosial yang tidak hanya menuntut cara pandang atas realitas, tetapi juga cara bertindak tanpa menerobos kebebasan manusia lain.

Ada dua nilai utama ketika penulis merefleksikan Jalan Etis dalam kerangka pemikiran Schopenhauer dan Nietzsche dan inheren dengan pengalaman pribadi.

Pertama, Jalan Etis dimaknai sebagai cara manusia untuk menerima kehidupan dan realitas apa adanya. Realitas kehidupan itu sendiri merupakan pertentangan antara yang baik dan jahat, serta posisi manusia berada di antara pertentangan dua nilai dasariah ini.

Artinya, dua nilai ini harus diterima sebagai sebuah kewajiban menjalankan kehidupan. Manusia yang sejati yakni mereka yang menerima kehidupan apa adanya tanpa mencari pembenaran atau melarikan diri pada idee fixe yang menawarkan ide semu dan racun yang bisa mengganggu eksistensi manusia itu sendiri;

Kedua, Jalan Etis merupakan jalan perjumpaan. Jalan perjumpaan bernilai sosial dan memiliki dua makna. Jalan perjumpaan dimaknai sebagai cara berpikir yang berani membongkar “bias”, cara pandang yang negatif terhadap individu dan kelompok sosial tertentu. Selain itu, jalan perjumpaan merupakan cara berprilaku yang menghormati nilai luhur manusia itu sendiri.

Apa kesimpulan yang mau ditarik dari refleksi sederhana ini? Yang pertama tentunya Jalan Etis merupakan opsi jalan tengah ketika manusia harus tunduk pada dominasi relasi kekuasaan ala Foucault. Ada ketakutan bahwa ketika posisi manusia ditempatkan terlalu jauh pada dominasi relasi kekuasaan, manusia akan terkungkung oleh sistem dan kehilangan nilai luhurnya sebagai manusia;

Kedua, ide jalan etis merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas kehidupan pribadi penulis (titik ke-32) sebagai manusia. Manusia harus mensyukuri kehidupannya, dan kehidupan itu sendiri harus direfleksikan agar manusia bisa menempatkan diri pada ruang yang tepat dan memberi arti pada manusia yang lain. (*)

Yogyakarta, 2 Mei 2019
Penulis adalah peneliti dan pemerhati masalah sosial

Foto: Pixabay

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *