Jagung dan ingatan tentang kekeluargaan

0
66
jagung
Dari jagung orang tua kami menanamkan banyak hal - Foto: Dokpri

Selasa lalu, saya dapat oleh-oleh dari saudara. Mereka mendapatkan jagung dari wilayah Arso, Kabupaten Keerom, Papua, lalu kami makan sama-sama.

Jagung ini mengingatkan saya pada tanah tumpah darah saya nun jauh di Pulau Flores; mengingatkan saya pada kisah-kisah kecil masa silam bersama orang-orang terkasih.

Dulu ketika musim panen jagung tiba kami makan jagung muda. Bersama-sama di rumah dan pondok-pondok di kebun.

Selain jagung muda, orang-orang tua punya kebiasaan adalah menyimpan jagung yang memang dibiarkan matang (tua) dan dimakan di kemudian hari.

Setelah dipastikan matang baru dipotong dan dipisahkan, lalu dirapikan untuk disimpan selama setahun atau dua tahun kedepan. 

Jagung yang akan disimpan itu kami ikat rapi. Ikatan yang rapi itu namanya ponte, wese atau deleng

Setelah di-ponte, maka kami menyimpannya di atas tungku api (rangkung api) dan langit-langit rumah (na’a eta lobo).

Ini dilakukan untuk jaga-jaga sewaktu masa paceklik, kelaparan, gagal panen atau bencana tiba.

Ketika masa kelaparan tiba atau panen gagal, jagung yang disimpan di atas tungku api tadi diambil untuk dimakan bersama keluarga.

Ada beberapa pilihannya ketika memakan jagung tua ini (latung kora).

Pilihan pertama dengan cara dimasak. Biji jagung yang sudah dipisahkan dari tongkolnya dimasak dan dicampur kacang panjang atau kacang-kacangan lainnya dan daun-daunan. 

Ketika dimasak, teksturnya lembut seperti bubur. Kami menamainya bombo lowuk. Bubur ala kami tempo itu.

Ketika kami makan, rasanya kenyang, persaudaraan terjalin dan ada kekuatan baru untuk menghadapi masa paceklik. Persaudaraan tercipta dalam seperiuk bombo lowuk.

Pilihan kedua digoreng. Kami menamainya jagung goreng. Sebenarnya itu disangrai, tapi karena keterbatasan kosakata, dan sesuatu yang dimasak pakai kuali kami hanya menamainya dalam bahasa Indonesia sebagai jagung goreng. 

Tapi kami menyebutnya latung cero dalam bahasa kami, atau cero latung kora.

Ketika latung cero sudah di dalam piring dan dimakan sama-sama sambil duduk melingkar, kami memakannya dengan daun kacang panjang mentah (saung tago) atau dengan kopi dan tuak. Nikmat dan kenyang. Kadang-kadang sambil bernyanyi, minum tuak atau kopi.

Pilihan ketiga, disangrai dan ditumbuk pakai batu (penang). Jagung yang sudah ditumbuk itu kemudian diayak pakai daun (dan aren) dan dipisahkan tepung halus dan kasarnya. 

Jagung yang sudah ditumbuk itu kami menamainya rebok. Sedikit dicampur gula merah untuk menambah rasa dan aroma yang sedap.

Kami makan rebok bersama kopi dan dalam suasana kekeluargaan. 

Kadang-kadang rebok juga dijadikan bekal atau oleh-oleh untuk keluarga di kampung seberang. Saat merantau bagi anak-anak sekolah juga biasanya diselipkan rebok sebagai oleh-oleh andalan.

Dari rebok ini lahirlah kosakata baru dalam bahasa kami. Namanya imus rebok

Baca juga:

Cerita ikan cara

Kenapa imus rebok? Itu karena saat makan rebok tidak boleh ketawa meski tingkat kelucuan sebuah cerita selama bersama-sama itu  melebihi adegan Mister Bean, Warkop DKI atau Tom & Jerry.

Hukumnya adalah dilarang tertawa. Kalau Warkop DKI dengan jargonnya “tertawalah sebelum tertawa dilarang“, maka saat makan rebok, kami punya pantangan khusus adalah jangan tertawa atau “tertawalah kalau mau keselek dan batuk-batuk“. 

Jika kau tertawa, maka keselek menjemputmu sehingga kita hanya tersenyum. 

Senyum atau imus rebok ini kerap disematkan untuk menggambarkan senyuman paling manis dari anak-anak Manggarai di Flores.

Bila di daerah kami kami dikenal latung penang (jagung yang ditumbuk batu), maka di daerah lain di Pulau Flores dikenal jagung titi seperti di Flores Timur.

Pilihan keempat, ditumbuk dan dicampur dengan beras lalu dimasak. Ini adalah sebuah pilihan mengandaikan bahwa stok beras masih ada. 

Kami menamainya “hang kabo“. Disebut kabo karena dia dicampur beras. Nasi jagung begitu.

Itulah jagung. Dari jagung orang tua kami menanamkan banyak hal kepada kami. 

Pertama soal strategi menghadapi masa paceklik dengan persiapan jauh-jauh hari sebelumnya; kedua, soal persaudaraan, kekeluargaan, dan pertahanan menghadapi masa paceklik dan rasa bersyukur atas hasil alam, serta ingatan akan kekeluargaan dan cinta kasih yang tidak dibatasi ruang dan waktu.

Ketika kami besar dan mengenal ilmu pengetahuan, kami baru mengetahui bahwa dalam jagung terdapat banyak vitamin.

Selain nilai-nilai yang tadi saya sebutkan, ternyata makan jagung membuat kita lebih kenyang untuk waktu yang lama daripada makan nasi. 

Jagung juga memiliki nilai gizi. Dokter Kevin Adrian dalam laman Alo Dokter, 6 September 2018 mengulas bahwa jagung mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral. Ia juga mengandung vitamin A, B dan Vitamin C.

Jagung juga mengandung antioksidan seperti asam ferulat, phytic acid dan zat antosianin, mengatasi sembelit, mengurangi diabetes dan kadar gula darah, baik untuk kesehatan jantung, mata dan divertikulosis.

Sejak kecil kami tidak mengetahui apakah jagung punya nilai gizi atau tidak. Hal yang kami tahu hanya nilai-nilai seperti yang saya sebut tadi dan waktu untuk kenyang lebih lama dan gigi kuat dan kokoh. Apalagi dalam menghadapi pandemi global virus corona.

Di tengah pandemi global virus corona atau coronavirus disease 2019 (covid-19) banyak orang yang dilanda panic buying. Tengok saja di mal-mal atau swalayan. 

Mereka memborong makanan di mal-mal untuk persiapan selama masa lockdown atau social distancing yang kini menjadi physical distancing dan #dirumahaja.

Saya kira sebaiknya kita memborong pangan lokal seperti jagung, ubi, dan hasil-hasil kebun lainnya dari para petani daripada membeli di mal-mal. 

Kita membeli makanan di mal-mal atau pasar modern sama dengan menambah daftar kekayaan orang kaya. Secara tidak sadar kita menambah pundi-pundi kekayaan mereka. 

Di satu sisi, masih banyak orang-orang kecil yang tidak “diperhatikan” tetapi justru menjadi orang yang rentan terdampak pandemi “kurang ajar” ini. Mereka itu adalah petani, buruh, mereka yang kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan tidak berdaya sama sekali.

Jagung, ubi, pisang, dan hasil-hasil kebun lainnya adalah stok makanan alami yang membikin kita kenyang dan “kembali ke rumah”, kembali ke alam, kembali ke persaudaraan atau cinta kasih seperti pesan Kamis Putih. []

Sudut Kota, 8420

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here