Istana ular di Flores barat dan dongeng-dongengnya

0
Seekor ular menampakkan diri di depan mulut gua Istana Ular di Kampung Weto, Desa Galang, Manggarai Barat, Flores-NTT, Rabu, 17 Fehruari 2021 - Lomes/Yohan Taldir

Di bagian barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kampung Weto, Desa Galang, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, terdapat istana ular. Ratusan ular tinggal di dalam gua sepanjang kira-kira lima kali panjang lapangan sepak bola.

Banyak jenis ularnya. Mulai dari ular piton hingga ular-ular hijau, ular sawah, dan lain-lain. Dari ular pendek hingga sepanjang 23 meter. Berwarna-warni.

Saat musim hujan ular-ular itu akan keluar gua. Namun ular-ular tidak mau keluar gua jika di luar gua banyak orang. Mereka akan “pesiar” keluar gua jika di luar sepi.

Ular-ular di istana ular rupanya jelmaan dari manusia pada masa lalu. Kepala Desa Galang, Marianus Samsung, kepada saluran Manggarai Berdesa menceritakan asal-muasal ular-ular di dalam gua tersebut.

Alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yatim piatu di Kampung Niti bernama Latim. Dia mau kawin tapi tidak punya apa-apa, sehingga Latim mengawini perempuan cantik bernama Ndasam. Latim mengira Ndasam ini memang si nona cantik, padahal jelmaan dari darat (bidadari).

Setelah Latim dan Ndasam kawin dan berumah tangga, mereka tinggal di dalam gua. Di situ mereka hidup hingga beranak pinak. Dalam penglihatan Latim gua itu adalah rumah mewah. Nyatanya hanya gua.

Seiring waktu berjalan, lahirlah seorang anak laki-laki dari hasil perkawinan keduanya. Namanya Aben. Kelak ketika dewasa Aben memperistri seorang perempuan bernama Nodia.

Pasangan Latim dan Ndasam kemudian mempunyai banyak anggota keluarga. Ular-ular itu tadi, yang merupakan jelmaan darat atau kakar tana (jin).

Ular-ular yang berwarna-warni ini beranak pinak dan punya nama. Ular yang berwarna merah bernama Sota. Ia sekarang menjadi semacam kepala atau pemimpin dari ular-ular. Sedangkan ular cokelat bernama Siti dan ular putih bernama Ja’ik. Ular putih ini berjenis kelamin perempuan.

Alur kisah Latim dan Ndasam tentang asal muasal istana ular di Weto, Desa Galang tadi, persis seperti dongeng yang pernah saya dengar semasa kecil. Mama saya pernah menceritakan dongeng tentang seorang pemuda yang menikahi gadis cantik.

Dalam penglihatan manusia, gadis cantik ini adalah nepa (ular piton). Namun pemuda ini justru melihat nepa itu sebagai gadis cantik.

Ketika tiba saat lamaran, sang pemuda menyanyikan sebuah lagu di beranda kampung atau pa’ang, sebagai permintaan untuk memasuki kampung dan melamar si gadis. Dialog antara si pemuda dan sang gadis dilakukan melalui lagu.

Demikian liriknya.

Liba ko toe, ko toe, ko toe laku natasm enu ee, e enu liba ko toe.” (Apakah saya bisa memasuki halaman kampungmu enu, hai enu bisa ka tidak saya masuk?).

Lalu si perempuan ini menjawab dengan nyanyian juga: “Liba na, eee hau nana liba na, natas rum ho ce’e!” (Masuklah, hai kau nana masuklah, ini halaman rumahmu sendiri [anggap saja]).

Pemuda ini pun memasuki halaman kampung atau natas. Sesampai di natas dia menyanyi lagi. “Lambu ko toe, ke toe, ko toe laku mbarum enu e, e enu lambu ko toe?” (Bisakah saya masuk, atau tidak, atau tidak bisa saya ke rumahmu enu, hai enu bisa kah tidak?).

Si perempuan lagi menjawab dengan nyanyian: “Lambu na ee hau nana lambu na, mbaru rum ho ce’e!” (Masuklah/bertamulah kau nana masuklah, [anggaplah] ini rumahmu sendiri).

Ketika sudah di depan pintu sang pemuda menyanyi lagi, “Weda ko toe, ko to e, ko toe laku redangm enu e, e enu weda ko toe?” (Apakah saya bisa menaiki tangga rumahmu, atau tidak enu?).

Dia menjawab, “Weda na e hau nana weda na redang rum ho ce’e!” (naiklah kau nana anggap saja ini tangga masuk rumahmu).

Lalu sang pemuda memasuki rumah si gadis tadi karena sudah diizinkan olehnya. Mereka lalu memasuki kamar (lo’ang) dan terjadilah perkawinan. Tak dijelaskan bagaimana kisah selanjutnya, karena mereka sudah menjadi suami istri.

Dalam tradisi tutur orang Manggarai, nepa atau ular piton sering disebut ata molas (seorang gadis). Sebelum menangkap nepa dengan tali biasanya didahului ucapan, “conga bokak data molas” (menengadahlah lehermu hai gadis cantik), dan nepa itu pun meninggikan lehernya. Lalu manusia memasukkan tali ke leher nepa tadi, dan tertangkaplah si nepa karena jeratan.

Sebutan ata molas (gadis cantik/muda) untuk nepa (piton/sanca/ular sawah) juga ditulis Sareng Orin Bao (1969, hlm 110) dalam bukunya Nusa Nipa Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba). Ia menulis, nepa bagi suku Manggarai sebagai ular sakti. Nepa tidak akan keluar liang (gua) atau tidak berpindah tempat jika tidak didahului ucapan “conga bokak data molas”.

Dongeng tentang lamaran sang gadis melalui lirik liba ko toe (masuk atau tidak), kini menjadi lagu yang akrab di telinga anak-anak Manggarai. Penyanyi-penyanyi lokal menyanyikannya dalam versi yang modern (pop). Lagu ini juga biasa dinyanyikan pemain caci (penari tarian perang), terutama saat caci wagal (saat meminang gadis, membawa mas kawin).

Rupanya dalam versi yang lain, terdapat dongeng tentang awal mula istana ular di Weto, Desa Galang. Rustam (2018), mahasiswa program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, menulisnya dalam sebuah skripsi berjudul “Kajian Hermeneutika Legenda Gua Istana Ular di Desa Galang Kec Welak Kab Manggarai Barat NTT“.

Diceritakan pada zaman dahulu ada dua saudara kandung (weta-nara) dari suku Ronggot. Ketika tiba musim kemarau (musim kelang) mereka tinggal di kebun untuk menjaga tanamam dari hewan buas.

Pada suatu ketika weta-nara yang sudah dewasa ini ditinggal oleh kedua orang tuanya, sehingga di sekang (pondok) sangat sepi. Dalam situasi seperti ini mereka melakukan hubungan suami-istri.

Belakangan diketahui oleh warga kampung dan tetua adat bahwa dua saudara/i ini melakukan hubungan terlarang. Hubungan mereka adalah inces atau jurak dalam bahasa Manggarai. Sebagai hukumannya mereka diusir dari kampung sebagai akibat atau hukuman atas perbuatan mereka.

Setelah diusir dari kampungnya, pasangan suami-istri terlarang ini tinggal di dalam gua, yang jaraknya sekitar 2 kilo dari perkampungan. Kini gua tersebut menjadi rumah baru.

Anehnya, hasil perkawinan mereka bukan manusia biasa tetapi seekor ular. Kelahiran seekor ular ini dipercaya sebagai hukuman atas perbuatan terlarang tadi (itang agu nangki).

Kini ular-ular yang beranak pinak di gua ini merupakan keturunan dari keduanya. Ular yang menjadi empo (pemimpin) diyakini berasal dari keturunan dari suku Ronggot yang diusir tadi.

Demikian dongeng-dongeng tentang awal mula istana ular di Kampung Weto, Desa Galang. Percaya atau tidak faktanya bahwa tidak semua orang dari kampung Weto atau Desa Galang bisa menjadi pawang atau bisa memanggil ular di istana ular. Hanya orang-orang dari suku atau keturunan suku Ronggotlah yang dapat berkomunikasi dengan ular di dalam gua.

Menurut Marianus Samsung, ular-ular ini memang mempunyai keterkaitan dengan manusia di Desa Galang, terutama suku Ronggot, karena memang lokasi gua istana ular berada di atas tanah ulayat suku Ronggot.

Kini istana ular menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Manggarai Barat. Pengunjung berdatangan pada hari-hari libur atau Minggu untuk melihat ular.

Akses ke sini cukup mudah. Turis menggunakan motor atau mobil dari arah barat dan utara bisa diakses melalui Lembor—jalan trans-Flores dari arah Labuan Bajo dan Kecamatan Kuwus, sedangkan dari arah timur dan selatan bisa diakses melalui Kecamatan Kuwus (Manggarai Barat) dan Kecamatan Lelak (Kabupaten Manggarai).

Saya menyarankan agar pengunjung dari timur dan selatan harus melewati jalur Kecamatan Lelak (Ketang-Lentang-Gelong-Ndiwar), karena memang cukup dekat dan mudah.

Sebelum jalan-jalan beraspal tembus ke kampung-kampung seperti sekarang, kami biasa jalan kaki ke daerah Galang, Orong, bahkan Kampung Weto di Kedaluan Welak (kini kecamatan Welak). Begitu pun sebaliknya, mereka biasanya ke Ketang saat pasar dengan berjalan kaki.

Mengunjungi istana ular tidak sekadar melihat ular. Paling tidak, turis diperkenalkan dengan budaya permisi atau ketuk pintu dan terima tamu dalam tradisi Manggarai.

Orang-orang Manggarai mengenal tuak baro cai (sai) dan tuak reis dalam penyambutan tamu. Tuak baro cai diberikan tamu kepada tuan rumah, sedangkan tuak reis diberikan tuan rumah.

Tuak baro cai merupakan simbol bahwa tamu sudah datang, sehingga diharapkan tuan rumah tidak kaget atau bahkan histeris.

Dalam menerima tamu atau mengunjungi keluarga, tuak baro cai itu berupa tuak raja atau sopi, yang disadap dan disuling dari air pohon enau atau aren (raping).

Namun, ketika mengunjungi tempat-tempat mistis, yang diyakini sebagai tempat tinggal makhluk lain di dunia seberang (ata pali sina), tuak yang diberikan adalah telur ayam kampung. Sebelum telur persembahan dibuka cangkangnya, tetua adat mengucapkan doa bernama tudak.

Demikian pun saat mengunjungi istana ular di Weto. Turis harus melalui ritual permisi atau pa’u tuak baro cai di mulut gua. Kalau tidak dibuatkan ritual seperti ini, jangan harap ular-ular menampakkan diri.

Informasi yang didapat juga menyebutkan bahwa ular-ular berada di gua setiap hari, kecuali hari Selasa dan Sabtu. Ular-ularnya jinak, bisa dipegang tapi tidak untuk dibawa pulang. Orang Manggarai menyebutnya ireng. Pamali.

Bila pembaca tulisan ini berencana mengunjungi istana ular, terutama perempuan, pastikan dia tidak sedang hamil di bawah tiga bulan, karena dia akan keguguran. Jangan juga sedang haid. Sekurang-kurangnya menurut keyakinan warga setempat. Pun jangan berbuat mesum di lokasi istana ular, karena ular-ular akan tersinggung dan marah.

Jadi, pelesirlah ke Flores, ke istana ular. Menurut saya, istana ular tidak sekadar unik atau langka—seperti sang naga purba Varanus komodoensis di Taman Nasional Komodo dan Flores barat bagian utara—dan memacu adrenalin, tetapi ia juga menjadi trend wisata ekologi, budaya, dan sejarah atau arkeologi.[]

#Ltg17221

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here