Inisiasi suku Kamoro

0
300
Timika
Kerajinan yang dipamerkan pada pameran Pelestarian dan Aktualisasi Adat Budaya Daerah di Halaman Gedung Eme Neme Yauware., Tmika, 22 Agustus 2019 - Foto: Anya Fatma/Seputarpapua.com

Kita mengerti dengan mudah bahwa kehidupan itu belum selesai dan masih harus disempurnakan secara terus-menerus. Seorang anak yang berumur 12 tahun telah merasa diri lebih dewasa dan lebih kuat daripada seorang anak yang berumur 7 tahun.  

Demikian pula seorang anak yang telah berkeluarga merasa diri lebih dewasa dan kuat dari seorang yang belum berkeluarga. 

Seorang mahasiswa akan merasa lebih dewasa dari pada pelajar SMA dan seterusnya. Namun perlu ditanyakan bahwa, apakah sungguh benar dan dapat dipertanggungjawabkan pertanyaan-pertanyaan ini?

Pada intinya manusia masing-masing mengalami suatu proses perubahan  serta perkembangan dalam dirinya mulai dari kanak-kanak ke orang muda lalu kawin dan akhirnya sampai juga pada masa tuanya, lalu sampai saatnya meninggal.

Dalam setiap fase perkembangan, pada suku-suku tertentu di dunia, termasuk Kamoro (Papua) semakin menyadari untuk menyempurnakan diri. 

Kesadaran itu disebabkan oleh karena disadari bahwa mereka belum mencapai puncak kedewasaan yang baik. 

Penyempurnaan dalam setiap fase perkembangan ini selalu dan di mana-mana dirayakan secara terus-menerus dalam wujud upacara ritual mereka masing-masing.

Tulisan ini mencoba menggali tentang beberapa wujud upacara pendewasaan dari salah satu suku bangsa di Papua bagian selatan yaitu suku Kamoro. 

Usaha penulisan makalah ini bermaksud memberikan data pengertian inisiasi suku Kamoro dalam kehidupan konkret.

Inisiasi adat suku Kamoro

Pengertian inisiasi pada umumnya adalah suatu peralihan dari suatu masa ke masa yang lebih tinggi dari semula, dimana orang memperoleh daya hidup baru atau kehidupan baru. Misalnya: dari keadaan sakit menjadi sembuh, dari keadaan tidak subur menjadi subur, dari keadaan takut menjadi berani, dan lain sebagainya. 

Setiap suku bangsa di dunia ini menempuh masa peralihan ini dengan cara, motif dan tujuan tertentu dalam suku-suku mereka.

Maksud dan tujuan inisiasi

Ada berbagai tujuan yang hendak dicapai oleh budaya-budaya tertentu di dunia melalui upacara inisiasi. 

Semua tujuan yang berbeda ini pada akhirnya berpangkal pada suatu tujuan akhir yaitu kedewasaan. 

Adapun kedewasaan itu sendiri adalah keadaan kebahagian yang sempurna (bdk Poerwadarminta, 1999: 248). 

Itu berarti bahwa semakin orang menunjukkan sikap kedewasaan dalam hidupnya, maka hidupnya akan mencapai kebahagiaan.

Simbol

Simbol dilihat dan dimengerti sebagai lambang yang berdaya menghadirkan suatu realitas di dalam apa yang pada saat itu dipakai sebagai simbol, sehingga realitas di dalam apa yang menjadi simbol saat itu (bdk. Somar, 1980:1).

Apa yang ditandakan dengan simbol itu menunjukkan pada suatu tuntutan dan harapan, untuk memperoleh daya hidup baru atau kehidupan baru. 

Daya hidup baru yang dimaksudkan adalah dengan berbagai tujuan, antara lain, untuk memperoleh kesembuhan, kesuburan, keberanian dan lain sebagainya.

Makna dan tujuan inisiasi dalam adat Kamoro

Salah satu tujuan utama pesta dan ritual di daerah Kamoro adalah inisiasi dalam rahasia suku dan dalam masyarakat sosial. 

Dalam acara tersebut seorang anak pria dan seorang anak perempuan diperkenalkan secara demonstratif dengan susunan sosial dan pandangan dunia, sebagaimana dihayati oleh suku dan bangsa mereka. 

Perlahan-lahan dan secara hati-hati anak muda, dengan bimbingan kaum tua, semakin masuk ke dalam ikatan suku dan mengambil bagian dalam kekuasaan-kekuasaan yang harus melestarikan suku dan bangsa (bdk, Coenen, 2012: 119).

Tahap inisiasi sosial dan panggilan menuju kedewasaan dalam kebudayaan Kamoro

Orang Kamoro hidup di pantai selatan Papua, tepatnya di Kabupaten Mimika. Mereka terpencar di wilayah pesisir pantai dan sebagian bermukim di tepi sungai-sungai besar. 

Orang Kamoro berada di antara Kabupaten Kaimana di sebelah barat dan Kabupaten Asmat di sebelah timur. Batas wilayah orang Kamoro Otakwa di sebelah timur dan Teluk Etna di sebelah barat. 

Teluk Etna masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kaimana. 

Inisiasi sosial mulai dengan pesta taori (dari tali sagu) dan berakhir dengan pesta mirimi. Pada waktu yang sama mulailah inisiasi kultus. 

Untuk mempermudah uraian, penulis akan memisahkan dua soal ini.

Waktu yang tepat seorang anak pria akan mengambil bagian dalam pesta taori ditetapkan oleh orang tuanya. 

Pada pesta yang terakhir anak yang berumur 14 tahun sampai 20 tahun mulai dipisahkan dari orang tuanya dan kelompok kerabatnya. Inilah tanda permulaan akan dilaksanakan ritual inisiasi.

Tatkala seorang anak pria mendapat cawat taori (taori adalah serat sagu yang dianyam), dengan menggunakan cawat ini sudah dianggap dewasa. Orang memuji kemaluannya. 

Ritus ini mengingatkan akan suatu mitos sebagai berikut: 

Mimanareo (manusia roh yang memimpin orang Koperapoka dan roh ini dibunuh Imbaio) menyamar sebagai ikan lumba-lumba dan karena dengan demikian, anak pria menjadi anggota suku; seorang yang dewasa dan seorang prajurit di masa depan (Coenen, 2012 :120).

Anak laki-laki, yang belum diperkenankan orang tuanya untuk mengambil bagian dalam pesta, mendapat tapena (cawat) pada pesta itu. 

Pada pesta berikut mereka akan mendapat cawat taori dan akan diinisiasikan.

Pesta mirimu merupakan tahap kedua dalam inisiasi sosial. Anak itu sekarang sudah dewasa dan berhak menikah. 

Seorang pemuda yang belum berjanggut dapat ditusuk hidungnya dan hal ini dapat dilaksanakan pada umur 18 sampai 20 tahun. Akan tetapi, ia belum berhak menikah. 

Namun kebanyakan pemuda pada umur seperti ini sudah berjanggut. Mereka ini sudah dapat menikah enam bulan setelah pesta mirimu. Dengan ini mereka mendapat kewajiban baru lagi, yakni kewajiban terhadap keluarga dan istri.

Nama-nama untuk mereka yang telah diinisiasikan ini disesuaikan dengan tahapan sebagai berikut:

PantaiSempan
1.Sebelum pesta taoriAyruTiwi: anak
2.Sesudah pesta TaoriMutapoka       Miakapetema
3.Sesudah penusukan hidungKo-Apoka       Mirao
4.Setengah baya   Wenako       Owenanato
5.Tua/ Usia lanjutPeraoka       Owe nakowo

Perlu digarisbawahi bahwa pada waktu inisiasi sosial, dilaksanakan juga inisiasi kultus. Sebenarnya inisiasi-inisiasi ini merupakan suatu kesatuan. 

Namun, dalam tulisan ini, penulis hanya menitikberatkan penjelasan pada inisiasi sosial dan panggilan menuju kedewasaan dalam budaya.

Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa masyarakat saat ini mengalami suatu keadaan buruk. 

Keadaan itu tidak dilihat begitu saja, melainkan mereka berusaha untuk mengartikan dan menghayatinya lewat simbol-simbol. 

Keadaan yang baik sering diartikan kesesuaian hidup karena mengikuti maksud nenek moyang yang sudah meninggal. Sementara keadaan yang kurang baik diartikan sebagai siksaan dari nenek moyang karena tidak mengikuti kehendak mereka. []

Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Referensi

Coenen, Julianus. 2012. Kamoro Aspek-Aspek Kebudayaan Asli. Kanisius: Yogyakarta

Somar, Yos. 1980. Sakramen-Sakramen. Abepura.

Poerwadarminta, W.J.S. 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here