Ide produk kata-kata

Pernahkah Anda mendengar ungkapan, nama adalah tanda (nomen est omen), kenalilah dirimu (nosce te ipsum), atau apalah arti sebuah nama?

Ya, begitulah tentang nama. Nama itu memang penting. Dia adalah simbol keakuan, identitas.

Tiap benda, binatang, tumbuhan, tempat, kepemilikan dan manusia punya nama kan?

Itulah pergulatan ihwal menamai sebuah brand. Tak terkecuali blog yang sedang Anda baca.

Awalnya saya bingung menamainya. Terutama dan pertama-tama, karena “barang ini” dirindukan untuk menjadi ruang produk kata-kata, ide, kalimat, dan kumpulan paragraf. Maka nama dianggap penting kalau tidak bisa disebut punya “nama dan tanda”.

Saya mengenal blog, sekitar tahun 2010. Ketika itu kami belum mengetahui, bahwa tiga tahun sebelumnya, tepatnya 27 Oktober 2007, Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh mencanangkan hari blogger nasional.

Praktis saya dan kawan-kawan kala itu buat blog sekadar belajar. Kami pun berlomba-lomba membuat blog, dan memilih fasilitas blogspot dan wordpress. Lomba tulis dan bikin desain elegan.

Berharap bahwa blog sebagai ruang belajar–menulis dan utak-atik. Tidak ada intensi khusus atau embel-embel uang selain itu tadi. Maka mutlak memilih nama unik, khusus, dan mengandung muatan cita-cinta. Ups!

Singkat cerita, dari domain gratis ke domain gratis, lompat-lompat dan tidak konsisten, tahun berganti. Timbul keinginan untuk membeli domain dan hosting. Tralaaaa, maka jadilah terang dan malam. Di bawah terang kata-kata dan suara hati.

Kembali ke nama. Pertama ide menamainya dere ge (semua huruf e dibaca seperti pada kata elok, etnis). Dua kata ini serasa enak dan ramah lidah. Setidaknya bagi orang-orang berbahasa Manggarai. Dari kata dere: menyanyi, nyanyian, lagu (cantare, song, sing), dan ge: milikku (mine).

Dere ge juga bermakna ajakan atau perintah. Dere ge (bernyanyilah, silakan menyanyi). Kata (akhiran) ge merupakan penegasan terhadap perintah.

Ini mengindikasikan bahwa komunikan adalah pria (maskulin). Jika komunikannya perempuan (feminin), maka kalimatnya menjadi dere ga!

Dere ge juga bermakna kepunyaan (genetif), misalnya:

  • Dere ge : nyanyianku, laguku.
  • Dere de hau atau dere me : lagumu (tunggal).
  • Dere diha : lagunya.
  • Dere dise : laga mereka.
  • Dere de meu : lagumu (jamak).
  • Dere dite : lagu kita.
  • Dere dite : lagu Anda (orang kedua tunggal untuk lebih sopan).

Jadi, derege merujuk pada makna kedua (kepunyaan), sehingga berarti laguku, nyanyianku, saya punya lagu: lagu batin.

Penamaan derege terutama karena blog ini bakal berisi semacam “kumpulan lagu batin”. Mungkin terlalu keren untuk disebut kumpulan puisi.

Timbul juga ide mengembangkannya jika napas terus berembus dan jantung masih memompa darah, dengan menampung prosa (cerita) dan ulasan.

Menyampaikan buah pikiran, perasaan, kritikan/masukan, dan fakta/data, ibarat menyanyikan sebuah lagu. Jika terjadi kesulitan menulis, kuanggap saja sedang menyanyi; menulis adalah menyanyi. Menyanyi adalah bagian dari seni.

Berhenti di situ? “Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap…” Wuyuh…., su mau menyanyi lagi sampai-sampai terbawa Berhenti Berharap-nya Sheila On 7.

Kembali ke topik, soal nama. Pernah terlintas dalam kepala tentang nama bengkel kata plus semboyan: sarana mereparasi ide, ide kami tak pernah mati.

Akhirnya jatuh hati pada kata Lomes, untuk mengenang “ide kami tak pernah mati” yang sudah mati tadi. Dengan pertimbangan, bahwa hasil dari bengkel kata adalah keindahan.

Ai mama ee, terlalu indah dilupakan. Andaikan kau datang kembali. Sip ya…, sa terlarut dalam nyanyian lawas lagi.

Begini. Tiap pribadi yang mau menulis punya intensi. Semacam motivasi. Ada yang sekadar ikut ramai, barangkali! Ada juga yang sekadar menulis pengalaman harian atau jurnal pribadi, meng-update informasi dan menganalisisnya, bahkan semacam terapi psikologis.

Bagi saya, sebagaimana layaknya fungsi media massa, blogging juga aktivitas memberikan informasi. Jurnalisme warga tepatnya. Tergantung dari angle mana dan bagaimana mengolahnya menjadi renyah dan enak dibaca. Apa yang ditulis akan abadi–seperti pada adagium klaik “verba volant scripta manent“. Kira-kira begitu dalilnya.

Menjadi blogger juga berarti menulis dengan merefleksikan realitas. Jadi, saya melihat, merasakan dan mendengar, maka saya menulis. Tentu yang dianggap layak dan lolos dari “sensor” nurani, serta mematuhi kode etik dan undang-undang yang berlaku.

Baca juga:

Dengan melatih diri menulis, kita belajar untuk peka terhadap realitas dan suara hati. Saya menulis maka saya belajar. Belajar berpikir analitik, skeptis, solutif dan mendengar suara hati.

Dengan begitu, sedianya tulisan dapat mempengaruhi pembaca dengan karya kreatif dan motivatif.

Ada semacam trend, bahwa menulis juga bagian dari cara melawan lupa. Kalau saya tidak menulis berarti ide liar yang terlintas di benak hilang tanpa jejak. Saya menulis dan saya mencipta. Di sini saya dirangsang untuk berpikir kritis dan kreatif. Kira-kira begitu.

Lantas bagaimana? Berpangku tangan, baku omong, atau tidur-tiduran saja? Pak De Jokowi bilang, kerja, kerja, kerja! Yoi, sekarang atau tidak sama sekali. []

Foto: dokpri/delomes

#Jpr, dujul19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *