Huru-hara di Jayapura

Tak ditemukan kendaraan di jalanan ini. Hanya beberapa kios yang buka. Dua atau tiga orang berkumpul. Seratus meter dari mereka, dua anak masih bermain badminton. Selebihnya entah. Jalanan lengang.

Saya melirik jam di telepon seluler. Pukul setengah enam sore. Perumnas 2 Waena, Distrik Heram.

“Malam ini kerja ka?” Tanya Kaka Yafas, saat saya menyamper rumahnya dan meminta kunci kantor.

“Itu yang saya mau tanya.”

Kantor ini pintu pagarnya menghadap ke selatan. Pagarnya masih terkunci. Tidak ada motor dan mobil yang diparkir di sini. Orang-orang kantor sepertinya sedari tadi pulang.

Saya menelepon Miky, kawan sekantor. “Nomor yang Anda tuju tidak menjawab.”

Saya tidak mau tidak mendapatkan informasi. Saya lantas menelepon si Dikruz, kawan lainnya. Jawabannya hampir sama: nomor yang Anda tuju sedang sibuk.

“Sa kasi kunci tapi sa tidak bertanggung jawab ee,” jawab Kayafas.

Dia berdiri di depan rumahnya. Saya mengobrol dengannya dari balik pagar. Persis rumah beliau berhadapan dengan depot air isi ulang. Bersebelahan dengan tempat kami mencari nafkah.

Tidak biasanya Yafas mengatakan hal seperti itu. Agaknya Jayapura tidak aman. Tapi saya harus memastikan bahwa dugaan saya salah.

“Besok baru cetak tapi ko siap saja materi,” kata Dikruz di ujung telepon.

“Baik sudah.”

Tidak lama kemudian Yopin muncul. Kami bertiga tetap di sini. Mencari kepastian informasi. Mencari tahu informasi yang pasti. Setelah itu bubar. Saya, Dikruz, Miky, Kaka Yayas, Yopin adalah karyawan satu kantor.

Adik laki-laki pergi sejak kemarin. Belum kembali. Namanya Si Liano. Saya harus bisa memastikan bahwa dia aman. Saya masih kepikiran tentang Jayapura beberapa tahun silam.

Ketika itu, 14 Juni 2012, Mako Tabuni dari Komite Nasional Papua Barat, ditembak di kawasan Perumnas 3 Waena, Distrik Heram.

Beberapa hari menjelang kematian beliau, kematian beruntun. Mulai dari penembakan misterius peneliti berusia 50-an tahun asal Jerman bernama Dietmar Pieper di Base G, Distrik Jayapura Utara, 29 Mei 2012, hingga pembunuhan misterius Satpam Supermarket Saga Abepura, suatu malam.

Sekitar dua minggu Jayapura sepi. Sejak pukul 5 sore, Abepura seperti pukul 3 atau 4 dinihari. Bahkan bunyi lalat dan nyamuk pun terdengar. Abepura seperti kota mati.

Apakah ini pola cipta kondisi? Saya tidak tahu. Yang pasti seminggu Jayapura sedang hangat-hangatnya. Berawal dari kematian di Base G dan Abepura, hingga penembakan di Waena.

Tiga tahun sebelumnya. Saya baru dua bulan tinggal di Jayapura. Kami terjaga dan dikagetkan pada dinihari, 9 April 2009. Rektorat Universitas Cenderawasih di Waena dikabarkan terbakar.

Sepaginya Polsek Abepura, yang berada di Jalan Dewi Sartika atau sekitar Lingkaran Abepura, diserang kelompok warga. Ditemukan satu orang tewas usai penyerangan. Mayatnya tergeletak di got. Persis di dekat Tugu Pelajar Lingkaran Abepura.

Hari kesembilan di bulan keempat ini, merupakan pekan paskah. Dalam tradisi Kristiani, pekan paskah dimulai Minggu palma dan berakhir pada hari raya paskah, hari Minggu berikutnya.

Sebentar sore adalah misa Kamis putih. Saya dan Om Karlos tidak ke gereja. Bertahan di rumah kos karena malaria. Di rumah kos yang berada di Kampkey, Distrik Abepura ini, saya dan Om Karlos tinggal bersama Om Evan.

Karlos dan Evan adalah kakak beradik. Masih kuliah di Uncen. Satu Bahasa Indonesia. Dan Om Evan Bahasa Inggris. Keduanya saudara sepupu mama. Saya tetap memanggil mereka om karena memang dalam hubungan keluarga kami, mereka adalah om. Meski usia kami terpaut dua sampai tiga tahun, panggilan itu tetap melekat.

Kamis siang ini, adalah hari pemilihan legislatif. Bertepatan dengan Kamis Putih dalam tradisi Kristen Katolik.

Saya memicing mata keluar jalan. Hanya beberapa orang yang melintas. Entah pergi-pulang mencontreng di Tempat Pemungutan Suara.

Kabar tersiar begitu cepat. Kabar miring yang bikin jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Ndatat. Kami hanya berdiam di rumah kos. Tak ke gereja sore hingga malam ini.

Sementara kawan-kawan kami masih bertahan di Gereja Gembala Baik. Malam ini informasi tersiar cepat. Diisukan akan ada gelombang penyerangan terhadap warga. Besar-besaran. Karenanya, kawan-kawan memilih bertahan di kompleks gereja.

Eh, tahu-tahunnya hanya radio mulut dan aman-aman saja. Puji Tuhan semuanya berlalu. Hingga tiba pada Rabu kelabu, pada 2011. Tepatnya 19 Oktober.

Siang menjelang, kampus-kampus sepi. Pertokoan di kawasan Abepura dan Padangbulan ditutup. Sekolah-sekolah di Abepura memulangkan murid-muridnya.

Di belakang SMA Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Santu Paulus Padangbulan Abepura, ada lapangan bola. Namanya lapangan Zakeus.

Di sini, Kongres Rakyat Papua III dihelat. Hari ini adalah hari terakhir atau penutupan kongres, setelah dimulai 17 Oktober 2019.

Beberapa titik di Abepura dan sekitarnya siang ini, terlihat aparat gabungan TNI-Polri. Baraccuda dan personil gabungan siaga di beberapa titik. Saya membayangkan bahwa Abepura seperti perang.

Saya dan beberapa kawan jurnalis tidak ke lapangan Zakheus. Kami hanya memantau perkembangan situasi dari kantin Kantor Pos Abepura.

Saban hari kawan-kawan jurnalis nongkrong di kantin ini. Selain karena makanannya ramah saku dan dianggap lebih higenis, letaknya strategis. Berada di jantung Abepura. Berhadapan dengan Lampu Merah Abepura.

Makanya tempat yang berdampingan dengan Gereja Gembala Baik Abepura ini, menjadi “tempat terbaik” untuk makan, mengetik berita, dan berdiskusi.

Tiba-tiba, Padangbulan dan Abepura pecah saat siang. Masyarakat kocar-kacir. Lari berhamburan. Ada yang ditangkap. Dibui. Dan lainnya entah.

Keributan pecah usai bintang kejora naik di kerumunan massa kongres.
Langit Abepura laksana halilintar oleh tembakan. Kami memilih bertahan di Kantin Pos, hingga memastikan situasi pulih.

Sore harinya, saya mengamankan diri di Gereja Gembala Baik, sebelum akhirnya pukul 7 malam, ke rumah kos di kawasan Perumnas 2 Waena. Di jalanan sirene masih mengaum-ngaum saat saya balik ke rumah kos.

Gereja Gembala Baik adalah tempat bagi kami berdiskusi. Sesekali bersama beberapa fratres Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur Abepura, yang kebetulan ke sini. Wisma para fratres dan pastor diosesan Keuskupan Jayapura memang di kompeks gereja.

Lagi pula koster Gembala Baik adalah anak Manggarai. Mahasiswa Uncen. Jadi, kami biasa berdiskusi sambil reuni antaranak rantau, yang mengadu nasib di Papua.

Itulah potongan fakta yang tercecer beberapa tahun silam, yang membuat nyali jadi peot.

Saya tidak mau mengulang pengalaman-pengalaman seperti tadi itu. Oleh sebabnya, saya mengkhawatirkan adik laki-laki, si Liano tadi. Jangan sampai terkena peluru nyasar atau terjebak dalam ketakutan. Karenanya, saya memastikan dia aman-aman saja.

Saya menelepon kawan-kawan. Mau mengkonfirmasi situasi terkini.

“Adik, bagaimana Jayapura?”

Tiba-tiba om Fidelis menelepon saat malam usai magrib. Dia adalah jurnalis senior yang tinggal di Merauke. Pernah memimpin majalah mingguan Pelita Papua.

Tapi setelah itu, edisi keduanya ditutup, pasca dia diinterogasi lantaran sampul majalahnya bergambar bintang kejora.

Belum lama ini, dia pernah pimpin koran Bintang Papua. Setelah dua atau tiga edisi, tutup lagi.

Haeh, Om tidak di Jayapura ka?”
Sa di Merauke, Ase.”
Ole Om begitu ka?”
“Iyo, Ase. Sa dengar ada wartawan dapat tembak. Betul ka?”
Aeh, sa belum dengar itu, Om.”
Sa dengar begitu jadi sa pastikan. Kalo begitu itu hoaks.”
“Ta Om, memang demo tadi dan banyak massa longmarch.”
“Iyo, katanya ada lempar tadi di GA.”
“Saya belum tahu itu tapi di berita tadi ada. Katanya di pinggir jalan ada lempar-lempar. Kantor MRP terbakar.”
“Baik sudah, Ase. Tadi liput ka?”
Aeh, tidak Om. Sa pantau dari rumah saja.”
“Baik sudah, Ase. Jaga diri saja.”

Di luar masih seperti tadi sore saat sa ke kantor. Jalanan sepi. Hanya beberapa motor dan beberapa pejalan kaki.

Saya menelepon dua saudara di Army Post Office atau APO, Distrik Jayapura Utara. Hanya mau memastikan kabar mereka dan informasi terkini di sana.

Tapi tak satu pun ponsel dua saudara ini yang aktif. Belakangan diketahui listrik mati. Sambungan telepon juga terganggu, dan baru terkoneksi pukul 12 malam.

“Di situ situasi bagaimana?” Sa tanya saudara De Bale, yang tinggal di sekitar Lampu Merah Waena.
“Sepi e. Tadi sa pulang kerja jam 3. Lewat jalan baru.”
“Iyo, sa mau tanya saja. Menurut berita kantor MRP dan Telkom terbakar.”
“Saya tra tau karena sa lewat jalan baru tadi.”

Kemudian sa menelepon Fanus. Kawan si Liano. Siapa tahu dia di sana.

“Ce Padangbulan, Kae.”
“Oh, nia Liano?”
“Am lau kos, Kae.”
Eng tae hia neka jide-jadek kaeng kat one kos.”
Iyo, Kae.”

Malam makin menyelimuti Waena. Jalanan masih sepi. Padahal baru jam 7 malam. Saya menelepon saudara Hendraduz, yang kuliah di Uncen dan bekerja di salah satu kawasan di Waena.

“Warung bagaimana?”
“Ole warung dapat lempar. Kaca ada pecah. Ini ditempel tripleks.”
“Oeh, warung tida buka ka?”
“Sekarang tutup dan tidak ada yang lewat di jalan.”
“Baik hati-hati saja e, kitong baku kabar.”
“Iyo, bangunan di sebelah ni juga dapat lempar.”
“Olee, begitu ka?”
“Eh, iyo ee.”

Sa lalu nonton bersama dua saudara: Rodriquez dan Xander. Di televisi muncul berita tentara dapat panah. Kejadiannya Kamis siang tadi di Deiyai, sebuah kabupaten pemekaran di wilayah pegunungan.

Sang tentara kini dievakuasi ke Rumah Sakit Timika. Mayatnya mau dibawa pulang ke Palembang, Sumatra Selatan.

Dari Deiyai kemudian dilaporkan Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Dekenat Paniai, Keuskupan Timika. Bahwa insiden ini mengorbankan delapan warga sipil yang tewas, 39 luka-luka, sedangkan di pihak TNI-Polri sebanyak sembilan orang mengalami luka-luka.

Lalu kami ganti chanel lagi. Gonta-ganti dengan acara hiburan. Atau memastikan ada televisi yang memberitakan Papua, meski hanya narasumber di Jakarta.

Praktis hanya Kompas yang kami buka dan mendapatkan informasi terkini dari sana. Kawan Findi Rakmeni asal Flobamora ini melaporkan dari tempat kejadian peristiwa di Jayapura ke studio di Jakarta.

Hingga siang ini, 29 Agustus 2019, internet mati total. Sejak sepuluh hari yang lalu. Maka pilihan informasi adalah televisi. Satu dua kali baca koran kemarin. Internet, ya selamat tinggal.

Sedang menonton, suara mama di ujung telepon. Bagaimana pun, keluarga pasti mengkhawatirkan anggota keluarganya, bila berada di daerah yang dikabarkan terjadi gejolak.

“Ini baru pulang reis mereka pulang wagal,” kata mama di ujung telepon.

Kebetulan sore ini keluarga di kampung baru pulang wagal. Secara sederhana wagal adalah salah satu prosesi adat, yang mana keluarga pihak laki-laki mendatangi kampung dan keluarga pihak mempelai perempuan.

Di saat wagal, terjadi kesepakatan dua pihak usai melalui proses yang alot. Proses negoisiasi yang panjang kemudian melahirkan keputusan untuk memberikan paca atau belis (maskawin) kepada keluarga perempuan.

“Berapa paca-nya?”
“Lebih dari Rp 50 juta.”
“Ckckckk.”
Asa ase?”
Aeh aikn one meseng main moran ga,” saya menjawab karena jengkel, sebab si adik ini kepala batu dan suka keluyuran.
Ta nana neka pande jantung aku!”
One kos de teman e mama. Jera laku maram toko nitu landing neka jide-jadek.”
Eng de, Dè dia lau itu.”
“Aman-aman ta mama.”

Malam pun terus berjalan. Di luar tidak ada motor atau mobil yang lewat. Hingga saya menulis catatan ini, pukul 20.59, Kamis, 29 Agustus 2019, masih sepi.

Saya takut, Tuhan! Tidak biasanya seperti ini. Bantu saya!”

Saya membatin sebelum akhirnya tertidur. Dinihari, Jumat keesokan harinya, 30 Agustus 2019, saya tiba-tiba terbangun.

Oh, Puji Tahun hari baru su tiba. Semoga damai jangan pergi dari tanah kami ini. Entah sebentar atau esok hari. Apakah Jayapura masih seperti kemarin? Di beberapa ruas jalan masih sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lewat.

Sementara pertokoan dan kios-kios di pinggir jalan urung dibuka. Kios-kios dan warung makan di pinggir jalan Raya Abepura-Sentani dikabarkan sebagiannya terbakar. Info lainnya dilempar batu. Kaca-kaca pecah.

Saya punya perut terus berbunyi berbarengan dengan waktu yang terus berputar. Busyet! Beras habis. Mau beli beras dimana malam-malam begini? Trada toko-toko penjual beras yang buka, sehingga kami hanya memakan mie instan. Dibeli dari kios kecil sebelah kos.

Dari kabar yang beredar pompa bensin juga tutup. Dan memang benar ditutup. Banyak yang mengeluh karena motornya kehabisan bensin.

“Banyak yang mau beli bensin eceran tapi su trada,” kata kawan saya, sambil mengecek motornya.

Bahkan untuk membeli pulsa juga masih susah. Di kios-kios atau konter kehabisan pulsa atau entah dilarang menjualnya.

“Saya tadi lama cari pulsa. Susah dapatnya. Dapat hanya pulsa 10 ribu seharga Rp 15 ribu,” kata kawan saya, setelah mengecek konter hingga Lampu Merah Waena.

Menurut informasi yang beredar itu karena dilarang. Aparat misalnya, melarang membuka toko atau pompa bensin. Mereka berdalih tidak bertanggung jawab, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Makanya lebih baik memilih tutup.

Demo Kamis ini, memang lain dari hari pertama, 19 Agustus lalu, yang aman-aman saja meski massa berjubelan. Diperkirakan ribuan banyaknya.

Kali ini beda memang. Apakah ada semacam grand desain, agar Papua ini dibikin jadi lahan konflik? Ataukah ada faktor pemicu lainnya? Entahlah.

Yang pasti, rusuh ini bermula dari aksi rasisme di Surabaya, Jawa Timur, menjelang 17 Agustus 2019. Papua lantas jadi membara. Huru-hara di beberapa kota. Di Fakfak, Manokwari, Sorong, Provinsi Papua Barat, dan Deiyai, Timika, dan kini ribut kembali ke Jayapura, ibu kota Provinsi Papua.

Di berita televisi, polisi sudah menangkap beberapa pelaku dan saksi dalam aksi di Jawa Timur itu. Sedang diproses.

Sedangkan mahasiswa Papua yang dituding menjatuhkan bendera ke got lalu diteriaki rasis, tak ditemukan kesalahan oleh polisi usai diperiksa. So what? Hmmm.

Biarkan hukum berjalan sesuai koridornya. Seadil-adilnya. Bila perlu polisi harus menangkap sekalian dengan otaknya. Kitorang yang tra punya apa-apa tetap berharap, bahwa Tuhan menghentikan huru-hara ini.

Ya, apalah arti seruan Papua Tanah Damai, kalau damai itu hanya palsu atau dibuat-buat hanya untuk dibilang tanah ini damai, tapi kemudian sewaktu-waktu meledak?

Ah, saya jadi ingat, hari ini 30 Agustus, tulisan kecil ini hampir rampung. Dua puluh tahun lalu, 30 Agustus sanak saudara di Timor Lorosae menggelar referendum, dan kini mereka sudah menjadi negara merdeka dengan nama Timor Leste atau Timor Matahari Terbit.

Apakah Papua mengikuti jejak Timor Leste yang sudah dua kali merdeka? Saya tidak tahu. Papua memang rumit. Masalahnya sangat kompleks.

Tidak hanya soal sejarah yang perlu diluruskan, tapi juga kemiskinan, kesejahteraan, pendidikan yang tidak merata, kesehatan, alihfungsi lahan, illegal logging dan illegal mining, migrasi, dan baku tembak antara TNI-Polri vs Organisasi Papua Merdeka. Terakhir di Nduga, yang pecah sejak awal Desember 2018.

Baku tembak kemudian mengakibatkan warga sipil jadi korban. Jadi pelanggaran HAM. Juga sebuah ironi di atas negeri yang kekayaan alamnya melimpah.

Deretan masalah-masalah di atas menjadi buncah, hingga yang terakhir dan membuat mata dunia dan Indonesia membelalak: rasisme. Ah, rasisme sehhh. Stop sudah!

Semua masalah di tanah ini harus diselesaikan seadil-adilnya. Ataukah daerah-daerah yang alamnya kaya raya justru dibiarkan atau ditakdirkan menjadi ladang konflik dan kepentingan global? Saya hanya berharap, bahwa damai tetap ada di kitorang pu tanah ini.

MINGGU, 1 SEPTEMBER 2019, sa masih tidur pada pukul 8 pagi. Dari balik telinga saya terdengar suara telepon.

“Jangan pergi kerja dulu ada kaco di Kampkey,” begitu suara telepon dari saudara saya, yang ditelepon kawannya.

Saya langsung terbangun. Kaget setengah mati. Dua saudara saya lainnya masih tertidur. Minggu dinihari terjadi penyerangan terhadap penghuni asrama Nayak di sekitar Lampu Merah Kampkey dan pertokoan Garuda, oleh sekelompok warga.

Peristiwa yang pecah bersama rintik hujan dan terdengar tembakan itu, berangsur pulih ketika hari sudah pagi, saat saya bangun.

Satu mahasiswa menjadi korban timah panas. Tewas. Beberapa lainnya luka-luka.

Kawan saya melaporkan kepada saya per telepon seluler, bahwa adik laki-laki yang tewas dan sedang di Rumah Sakit Abepura pagi menjelang siang itu, bernama Michael Kareth, mahasiswa berusia 20 tahun.

Dia mau cek keributan di sekitar kompleksnya. Dia bersama kakaknya. Naas menimpa Michael. Nyawanya direnggut timah panas. Kawan itu bilang, adiknya disasar peluru nyasar.

Gila. Aksi Minggu dinihari atas rencana siapa? Kok tega-teganya bikin aksi di saat umat beriman siap-siap beribadah? Entah seperti apa kota Jayapura ke depannya.

Yang pasti huru-hara ini bermula dari Jawa Timur: bermula dari teriakan rasisme dan persekusi sekelompok orang kepada sejumlah mahasiswa Papua. Hingga aksi protes pecah di seluruh tanah Papua.

Korban nyawa merenggut. Ada juga yang dibui. Dituduh macam-macam sesuai pasal yang disangkakan. Hukum harus adil. Tak boleh pilih kasih. Jangan tebang pilih.

Tangkap juga otak di balik semua ini: mulai dari aksi rasisme sampe berdampak huru-hara dan korban nyawa.

Bahkan hingga ketakutan melanda, sebab semacam teror psikologis merebak ke mana-mana.

Teror psikologis ini akhirnya membenturkan kelompok warga. Kemudian terjadi saling curiga. Orang sini dan orang sana. Jadi takut keluar malam-malam. Berdiam saja di rumah.

Model teror psikologis seperti ini laiknya di film-film perang. Dihantui rasa takut.Itu kan di film. Ini fakta di depan mata, kawan!

Tapi memang bicara film berarti ada sutradara. Seperti juga dalam permainan catur. Ada raja, permaisuri, dua benteng, dua kuda, dua loper atau perdana menteri dan lainnya di barisan depan adalah pion.

Pion adalah penyerang yang rentan mati, karena cuma satu langkah ke depan dan tra bisa melangkah mundur. Bisa dua langkah maju sebelum garis batas.

Jika pion adalah analogi manusia, barangkali 16 pion berpikir, bahwa mereka ada bekingan pasukan kuda, perdana menteri atau loper, permaisuri dan benteng, sehingga menjadi pasukan “berani mati”.

Berani mati itu menjadikannya menyerang siapa saja, tanpa pikir panjang dan tanpa tahu, bahwa papan catur itu bukanlah miliknya. Papan catur hanya lahan memperebutkan kepentingan, memperebutkan juara, bagi pemain-pemain telaten yang bertanding.

Ah, sa jadi ingat lagu saat tahun 2000-an. Kala itu saya masih kecil. Dinyanyikan penyanyi di kampung tetangga. E wada (ah nasib).

Hanya beberapa lirik yang melekat dalam ingatan, terngiang di telinga, dan sesekali saya nyanyikan meski lidah saya keseleo.

Kenapakah selalu ada yang harus disingkirkan. Kenapakah selalu ada yang harus dikalahkan. Oleh kekuasaan, oleh kesewenangan saudaranya sendiri.

Kenapakah harus ada darah yang diteteskan. Kenapakah harus ada penggusuran dan pemusnahan. Sedangkan di dalam, kasih sayang Tuhan, kita bisa berbagi.

E wada, e wada caul Mori mese. Sangged one lino de Mori de ngaran ta….”

Kelak ketika saya dewasa, saya segera mengetahui, bahwa itu lagunya Om Frangky Sahilatua, yang dipopulerkan Kaka Flavianus Nestor Embun Man atau Ivan Man.

Lagu itu kerap kami nyanyikan tempo dulu. Bersama kawan-kawan seusia saya. Lagunya sederhana dan mudah diingat. Tapi kami berpikir bahwa pesan perdamaiannya begitu mengena. Bilingual. Disampaikan dalam bahasa Manggarai dan bahasa Indonesia.

Semoga damai tak sirna oleh panasnya matahari dan kemilau emas di perut-perut tanah ini. Sebab konflik di tanah ini begitu kompleks.

Penyelesaian masalah Papua sejauh tidak menyentuh substansinya, tidak akan bisa diselesaikan, dan akan tetap “membara” sepanjang Tanah Papua termasuk dalam peta “Dari Sabang Sampai Merauke”.

Masalah Papua memang sangat kompleks. Tidak hanya soal sejarah yang perlu diluruskan, tapi juga kemiskinan, kesejahteraan, pendidikan yang tidak merata, kesehatan, alihfungsi lahan, illegal logging dan illegal mining, migrasi, penghormatan terhadap martabat dan budaya, serta baku tembak antara TNI-Polri vs Organisasi Papua Merdeka, pelanggaran HAM sipil politik (sipol) dan ekosob, dan rasisme, serta, trauma masa lalu atau memoria passionis.

Soal sejarah, misalnya, dalam catatan saya, hampir pasti tiap tanggal bersejarah di tanah ini selalu ada demo. Demo ini untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah dan dunia soal pelurusan sejarah masa lalu.

Hari-hari yang dianggap bikin turun ke jalan, misalnya, 1 Desember 1961 yang dianggap Hari Papua Merdeka, 15 Agustus 1962 New York Agreement dan Perjanjian Roma, 1 Mei 1963 Hari Integarasi atau aneksasi dalam versi lain, 28 Juli 1965 Pembongkaran Markas PVK di Arfai dan pembantaian di Kebar, Sausapor dan Sorsel, 12 April 1967 kontrak karya PTFI antara Indonesia dan Amerika Serikat, 1 Juli sampai September 1969 Pepera (penentuan pendapat rakyat), 1 Juli 1971 Proklamasi Kabinet Negara Republik West Papua dan Militer TPN di Markas Victoria, 7 Desember 1975 sampai 17 Juli 1976/1977 Operasi Seroja daerah Meepago dan Lapago, dan 8 Januari-Mei 1996 Operasi Mapenduma, dan saya kira masih banyak lagi.

Saya kira untuk menyelesaikan masalah-masalah Papua, bukan dengan mengirim ribuan bantuan kendali operasi, menangkap aktivis dan pendemo, “membuat” konflik horizontal, membuat gerakan saya cinta NKRI, pasang bendera sana-sini, memutus jaringan internet, mengklaim “saya cinta Papua dan NKRI”, dan berkantor di Papua.

Atau dengan kata lain: bukan menghilangkan asapnya, tapi api, korek, dan kayu yang menyebabkan adanya api yang harus diselesaikan.

Pada gilirannya, surga kecil yang jatuh ke Tanah Nugini ini, bukan hanya nyanyian. Bukan hanya slogan musiman. Tapi memang damai kita sepanjang masa.

Jangan lagi ada yang bikin surga kecil ini jadi neraka meski semua isi perut buminya dikeruk terus. Jangan ada lagi yang direndahkan dan merendahkan.

Jangan lagi ada nyawa yang menjadi korban arogansi dan nafsu serakah yang sarat kepentingan. Dan ini: orang-orang Indonesia yang mengaku cinta Papua, jangan membiarkan saudara-saidara kita ini seperti orang lain. Jika mental ini yang dibangun, maka tidak salah jika kitorang dianggap bermental penjajah dan penjilat.

Semoga huru-hara di tanah ini segera berlalu. Jangan biarkan damai ini pergi. Seperti “Damai Bersamamu” yang dipopulerkan Chrisye (1996), Virza, Gigi, dan Sheila Marcia tahun 2000-an.

Jangan biarkan damai ini pergi.
Jangan biarkan semuanya berlalu 
Hanya pada-Mu Tuhan. Tempatku berteduh. Dari semua kepalsuan dunia“.

Ya, Damai. Pacem in terra Papuana. Non bellum est. Dominus nostrae cum est. []

Foto: situasi usai demo Kamis lalu di sekitar kawasan Entrop, Distrik Jayapura Selatan – Ramah/Jubi

Jpr, 3 Sept 2019

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *