Human rights for all: Suatu keniscayaan

Semua orang yang ditekan dan disiksa jiwa raganya secara tidak patut oleh orang lain, apalagi menggunakan senjata tajam sudah pasti melanggar hak hidup seseorang.

Menghina, menyinggung orang lain dengan menjelekkan agama, iman dan kepercayaan pun sudah mengganggu keamanan dan kenyamanan hidup. Menghina suku dan ras dan orang lain pun sudah melanggar harkat dan martabat sesama manusia.

Itulah sedikit yang masih diingat ajaran dan didikan para dosen dan para guru tentang bela hidup dan bela negara. Masih banyak lainnya yang tertuang dalam declaration of human rights.

Tanpa menguraikannya lagi satu per satu, tentu semua tokoh alim, cerdas dan sudah menjadi figur publik sudah pasti memahami seluk-beluk HAM dan ejahwantahnya.

Semua SDM Indonesia sudah pasti banyak yang masih berguru bagaimana hidup dengan bebas, aman dan nyaman di bumi pertiwi yang sudah merdeka ini.

Semua juga sudah yakin bahwa alim ulama, guru bangsa, para dosen, para guru, dan tokoh-tokoh bangsa lainnya, sudah sangat bijaksana dalam hal mengajar dan mendidik, tentang apa yang patut dan tidak patut dalam bergaul dengan sesama.

Militansi mencintai sesama adalah unsur hakiki dalam diri semua manusia. Diingat lagi bahwa kita ini homo homini socius (teman bagi sesamanya), bukan homo homini lupus (srigala bagi sesama).

Kita ini homo educandum sekaligus homo educandus (dapat mendidik sekaligus dapat dididik). Dengan kata lain, kita ini menurut Ki Hajar Dewantara adalah manusia yang dapat diasuh, diasah dan diasih, sekaligus juga dapat mengasah, mengasih dan mengasuh.

Jika ingatan ini dikontekskan pada situasi dan kondisi keindonesiaan kita hari ini, rasa-rasanya menyebalkan. Bahwa masih ada oknum kaum cerdas, yang senang memprovokasi warga untuk bertutur dan bertindak secara tidak patut.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman suku, agama dan budaya. Indonesia adalah Nusantara. Kita bhineka tunggal ika.

Jika menghargai substansinya dan menghayatinya secara sungguh-sungguh, maka semua warga negara di NKRI ini pasti berbangga dan berbahagia menikmati semua ada di negeri ini.

Presiden RI sekarang sedang getolnya berjuang untuk menghadirkan SDM unggul Indonesia yang berkarakter positif: rajin bekerja dan berdoa, melayani, murah senyum, sopan dan santun dengan sesama, gemar membaca dan suka meneliti, bermental pemenang, bukan pecundang dan suka bekerja sama.

Konteks ini rupanya ada oknum yang sudah melupakannya, tidak waras lagi. Tentu ini terjadi karena ingin instan untuk mendapat kekuasaan dan ketenaran. Haus popularitas, haus harta. Menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Ini perlu segera dihentikan. Oknum seperti ini perlu ditindak secara patut. Hukum harus tegak lurus berdiri kokoh untuk menghukumnya. Panglima hukum harus segera hadir.

Semua sedang berharap dan berjuang agar bangsa dan NKRI ini terus maju, semakin sejahtera, adil dan makmur.

Selamat berjuang dan terus belajar, hadirkan inovasi baru, temukan pembaharuan hidup. Bergerak dan mari bangkit berjuang menghadirkan SDM unggul di NKRI ini.

Nyatakan terus HAM untuk semua dan milik semua di NKRI ini.
Pancasila dan UUD 1945 adalah dasarnya! []

Foto: Pixabay

Penulis: Geradus Wen, PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi, Papua. Tinggal di Kepi

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *