Hiu paus di Papua

Mei yang lalu, ketika mengikuti Forum for International Tourism and the Environment yang diselenggarakan oleh Institut Francais Indonesia dan Kementerian Pariwisata muncul ide tulisan ini.

Forum itu mengangkat tema “Can Indonesia’s Maritime Identity Support Sustainable Tourism Development?”

Sebuah tema yang menarik, bagaimana menjadikan potensi wisata maritim yang berkelanjutan.

Berdasarkan namanya, wisata maritim tentu saja tidak jauh-jauh dari laut. Wisata maritim yang sudah populer saat ini adalah Raja Ampat, Papua Barat.Sedangkan untuk Papua sendiri, konsep wisata maritim dapat diterapkan dimana?

Pesisir Papua memiliki pantai yang indah, pantai tropis berpasir putih dan pohon kelapa di mana-mana. Tetapi ada yang lebih menarik lagi, yaitu keberadaan ikan hiu paus di Nabire, Kabupaten Nabire.

Hiu paus (Rhincodon typicus) di Papua dikenal sebagai gurano bintang, bule menyebutnya whale shark. Hiu ini spesies ikan terbesar. Ia bukan paus walaupun namanya hiu paus.

Hiu paus terkenal tidak berbahaya bagi nelayan dan cenderung jinak. Ikan ini mudah dijumpai sepanjang tahun di perairan Kwatisore, Teluk Cenderawasih, Kabupaten Nabire. Ciri khas ikan hiu paus yaitu berwarna abu-abu bertotol-totol putih.

Pola totol-totol putih merupakan keunikan masing-masing individu ikan. Pola ini yang digunakan peneliti untuk mengidentifikasi individu ikan paus. Ikan ini merupakan ikan pelagis, selalu berenang ke sana kemari untuk menjaga keseimbangan tubuh dengan air agar tidak tenggelam dan pernapasannya tergantung sebagian besar pada air yang masuk melalui mulutnya dan keluar melalui lubang insang.

Hiu paus mempunyai alat yang efisien untuk melokalisasi makanannya yang disebut garis lateral (lateral line), yang terletak di bagian punggung memanjang dari kepala ke ekor. Garis lateral ini terletak di masing-masing sisi tubuh hiu paus.

Hiu ini dapat tumbuh sampai 18 hingga 20 meter dengan berat sekitar 20 ton.

Makanan hiu paus berupa plankton dan ikan-ikan kecil. Cara makan ikan ini dengan membuka mulutnya lebar, kumpulan plankton atau ikan kecil langsung ditelan, karena ikan ini tidak memiliki gigi.

Dalam satu kelompok ikan ini bergerombol hingga enam ekor. Untuk melihat ikan ini di perairan Kwatisore Nabire, dapat dilakukan pada pagi atau sore hari.

Keberadaan ikan hiu paus di Kwatisore telah menjadi destinasi favorit wisatawan. Wisatawan bahkan menceburkan diri sambil berenang dengan hiu.

Tetapi sangat disayangkan bahwa ada beberapa wisatawan yang berenang sambil memegang ikan ini.

Hal tersebut tidak bisa dibiarkan, karena dikhawatirkan akan mengganggu perilaku alami ikan.

Selain itu, walaupun ikan ini dikenal sebagai ikan jinak, kibasan ekornya mampu mematahkan perahu nelayan.

Perilaku wisatawan yang memberikan makanan berupa ikan-ikan kecil yang dibeli dari nelayan, akan mengubah kebiasaan ikan. Dikhawatirkan akan mengganggu hiu paus dalam mencari makanan alaminya, berubah menjadi tergantung pada manusia.

Ikan hiu paus perlu dilindungi dan dijaga. Tidak hanya oleh pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih saja, tetapi juga oleh semua pihak, baik nelayan dan masyarakat, maupun pelaku usaha wisata dan wisatawan. []

Foto: Hiu paus di Nabire – facebook/lexi jehatu

Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *