Hari yang tak biasa

 

Hari ini tidak biasa. Awal pekan. Mulainya aktivitas mahaberat. Tapi saya menyempatkan diri buka hal biasa-biasa: media sosial.

Beranda akun media sosial banjir. Oleh ucapan, foto-foto, video, dan lagu. Apa isinya? Berupa doa, nostalgia, harapan, dan lain-lain.

Selamat hari ayah. Happy father’s day. 12 November. Begitu.

Saya pun tergoda untuk memencet gawai. Mengucapkan salam serupa. Lalu puas. Itu saja. Masalah selesai.

Godaan itu berat. Teramat berat. Seberat memejamkan mata usai meneguk segelas kopi. Jelang tidur lagi.

Saya tahan saja godaan itu. Berpikir dua kali. Merenung, bertanya, mencari jawaban, mencari inspirasi.

Apa gunanya untuk saya? Sekadar ikut-ikutan? Berdoa? Bernostalgia? Harapan?

Bisa jadi jawaban dari semua pertanyaan ini: iya. Bisa jadi tidak sama sekali.

Memang ada yang serius. Dua rius malah. Ups. Tapi ada yang lebih penting.

Saya bolak-balik ke laman maya. Mengecek sejarahnya. Referensinya. Makna juga.

Sepintas, ternyata diawali niat baik Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) tahun 2014 di Surakarta, era Presiden SBY. Prosesnya panjang. Hingga akhirnya dideklarasikan di Solo dan Maumere, Flores.

Saya lalu terhenti pada suatu titik. Pada titik tertentu, ucapan seperti itu harus. Tidak bisa tidak. Apalagi tiap hari. Dari hati. Dalam segala situasi.

Tapi jika sekadar ikut rame, MPO (menarik perhatian orang) alias cari muka, bualan belaka, itu celaka.

Ungkapan selamat tak harus ditulis. Jadi tontonan. Dapat komentar. Berbalasan. Jadilah layar gawai penuh. Bukan itu soalnya.

Persoalannya, jika sekadar itu, du’ang dari sang bapak juga tahu. Kita pun terbebani sebab perkataan dan perbuatan harus sesuai.

Soal lain, jika ayah bundamu masih ada, sehat-sehat, dan mereka membaca, senanglah hatinya. Mungkin dalam hati dia berkata. Mengutip kitab suci: “Inilah anak yang kukasihi. Kepadamulah aku berkenaan.”

Jika anak yatim piatu, atau piatu, kepada siapa dia harus mengucapkan selamat? Ini ribet. Bisa jadi postingan saya jadi sumber beban. Tapi saya memilih berdoa dalam hati. Memohon pada Tuhan Yang Maharahim. Itu saja.

Tuhan pasti tahu betapa bapak yang baik senantiasa didoakan, dikenang, dan dicintai anak-anaknya. Dengan caranya masing-masing. Dan saya memilih jalan berbeda. Jalan yang tidak biasa. Di sini dan kini.

Saya teringat suatu ketika. Pada sesosok bapak lima puluhan tahun. Bungsu dari lima bersaudara. Namanya Ludovitus. Begitu disebut. Ya, siapa lagi kalau bukan “Spirit from my father”. Ame rinding mane.

Dia sangat bijaksana. Suaranya bagai guntur. Gemetar kalau didengar saat khawatir. Kuat dan bijaksana, jiwa sosial dan seni, gemar berkelakar yang segar, pekerja keras.

Tapi agak darah tinggi. Cepat naik darah jika kawan bicaranya tidak becus. Apalagi jika mempertahankan kesalahan dengan cara yang salah. Pemaaf memang.

Dia punya pesan bagi anak-anaknya: menjadi yang terbaik dan terdidik, tidak sombong dan tetap rendah hati.

“Kau dapat salam dari kawanmu,” ujarnya suatu ketika di ujung telepon.
“Oh, apakah mereka baik-baik?” saya menjawab.
“Mereka tanya apakah kau sudah kawin.”
“Heheh…”

Lalu saya membatin. Berat ini. Anak yang baik tentu tahu bagaimana membahagiakan bapaknya. Begitu pun sang bunda.

Orang beriman Kristiani paham bagaimana sang bapak mencintai anak-anaknya. Kristus mengajarkan bagaimana menghormati dan mencintai mereka

Saya jadi teringat film Tomb Raider. Produksi 2018. Cerita petualangan dan action yang menyentuh nurani dan rasa. Mengisahkan Nona Lara Croft (Alicia Vikander) yang melalui lika-liku perjalanan menantang adrenalin. Mengandalkan akal dan keyakinan serta semangat demi sang bapak–Lord Richard Croft yang dibintangi Dominic West.

Dalam banyak karya lainnya ada yang mengabadikan untuk sang ayah. Memoar Dreams From My Father Barack Obama, misalnya.

Berterima kasih kepada Sang Ayah melalui karya adalah cara yang tidak mudah dan tidak biasa. Butuh berember-ember keringat, jalan berliku, dan berkantung-kantung air mata.

Saya tidak sebisa sutradara Roar Uthaug dan produser Graham King yang memproduksi Tomb Reider, atau Presiden ke-45 Amerika Serikat itu, apalagi penulis terlaris Andrea Hirata yang menulis Ayah.

Tapi suatu hari nanti, semua ada jalannya. Seperti Kebijaksanaan Salomo: semua ada waktunya. Indah pada waktunya.

Seorang kawan menulis untuk bapaknya, “kini status ayah itu sudah kusandang. Butuh kesabaran dan pengorbanan untuk menjadi sosok bapak yang ideal.”

Saya lalu melanjutkan pekerjaan harian. Langit Port Numbay mulai terang. Saya senang. Pagi ini juga tidak biasa: pertengahan pekan. Awal hari. Begitulah tulisan ini berwujud. Catatan dinihari. Hari ini. Halo Bapa, apa kabar? Semoga tetap sehat dan kuat. Amin! (*)

Foto: Inilah sosok Sang Bapa, Januari 2018. Ame rinding mane. Mirip kan? (Dok. Pribadi)

Catatan:


Du’ang : semacam roh, jiwa. Dalam tradisi orang Manggarai, diyakini bahwa manusia punya du’ang, yang tak terpisahkan dari raganya. Pribadinya yang lain. Kalaupun seseorang tidak mengetahui tentang dirinya, misalnya berbuat jahat terhadapnya, du’ang-nya tahu, dengar, lihat.

Ame rinding mane : Goet atau ungkapan bahasa Manggarai. Ame atau ema (bapak), rinding (jaga, pagari, lindung), mane (sore, senja). Artinya, bapa sebagai pelindung atau penjaga.

#JPR, EBNOV18

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *