Hari Valentin dan bagaimana merayakannya

0
66
Valentine's day

Saya dan beberapa kawan baku debat. Pasalnya, dalam tradisi barat (kristiani), 14 Februari adalah hari Valentinus dan Valentina.

Tapi menurut Valerianus hari ini adalah hari Valeriana dan Valerianus

Dan Paskaliana bilang, “Aeh hari ini adalah hari Paskalianus dan Paskaliana.”

Lalu Florianus bilang, “Bukan, ini hari Florianus dan Floriana.”

Ignasius menimpal. Ini hari Ignasius dan Ignasia punya hari.

Dan diamini Kornelius. “Begini e kawan (dengan logat Lembor), ini hari Kornelius be agu Kornelia.”

Radus dengan logat Ruteng tidak mau kalah. Dia bilang, “Ba’ang gangga skali kau ta. Bo kamu ge ada harinya. Sa ge tir ada.”

Dengan meyakinkan saya jawab dengan santai.

Itulah hebatnya orang barat. Bisa bikin Walentinus dan Walentina bersatu dalam ikatan kasih sejati.

Mikael dengan logat Loce-Reo jawab, “Jarang Laaaa!!! Salak sebut ta de.”

Adik perempuan saya sambil senyum-senyum dari balik dapur menjawab, “Iya nana, kata Walentina itu pake V Flores, bukan V Weronika.”

Aeh, daripada ribut mari kita putar kopi saja. Lalu kita minum sambil baca-baca dan tukar pikiran.”

Alhasil, ditemukan setidaknya gambaran tentang Hari Valentin atau Valentine’s Day.

Sambil meneguk kopi, dia membagi secuil informasi kepada saya.

“Kau bikin apa?”
“Aeh, ini ada sejarahnya e kaka,” jawabnya enteng.
“Wah, bagus itu. Mana dia?”

Ilustrasi di atas hanya sekadar pengantar sebelum “bertolak lebih dalam” pada catatan sederhana ini, ihwal memaknai perayaan Hari Valentin sesungguh.

Semoga ilustrasinya–terutama bagi pembaca yang kebetulan satu daerah dengan saya–menimbulkan gelak tawa, sembari meresapi tulisan sederhana ini.

Pada gilirannya sejumlah informasi kiranya menjadi rujukan, yang paling tidak, bisa menjawab ketidaktahuan atau kehausan informasi tentang hal tersebut.

Sebelum menulis ulasan kecil ini, ada beberapa pertanyaan yang mengganjal kepala saya.

Pertama; asal-usul Hari Valentin; Kedua, bagaimana pelaksanaannya, terutama oleh kaum muda di kehidupan bermasyarakat, dan; ketiga, bagaimana seharusnya merayakan Hari Valentinus menurut perspektif kasih kristiani.

Bila dilacak dari data historisnya, maka tak dapat disangkal bahwa perayaan Hari Valentin berkaitan dengan penghormatan terhadap tokoh sejarah dan kudus oleh Gereja Katolik, yaitu Santo Valentinus.

Dalam daftar santo-santa (orang-orang kudus) Gereja Katolik Roma, ada dua versi cerita tentang Santo Valentinus.

Pertama, Valentinus, seorang imam dan dokter, yang disiksa dan dianiaya pada tahun 269 pada masa penganiayaan umat Kristen Roma oleh kaisar Klaudius (268-270), karena menolak dekrit Klaudius.

Bangsa Romawi kafir punya tradisi menarik sebelum kekristenan menjadi agama resmi negara Romawi. Para pria menarik undian dari sebuah wadah yang besar. Di dalam wadah itu berisi nama-nama perempuan yang akan menjadi pasangan mereka. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap dewi cinta Romawi bernama Februata Juno.

Pada masa pemerintahan Kaisar Claudius, Romawi dilanda peperangan sehingga para pemuda diharuskan mengikuti wajib militer. Namun banyak pemuda yang menolak wajib militer karena tidak mau meninggalkan kekasih mereka yang sangat dicintai.

Kekaisaran sulit merekrut tentara pada masa itu karena peperangan yang terus berkecamuk. Klaudius pun mengeluarkan dekrit untuk melarang upacara pernikahan di seluruh wilayah kekaisaran.

Namun, ada seorang imam bernama Valentinus, pada suatu hari, diam-diam memberikan sakramen pernikahan kepada pasangan yang dipaksa untuk berpisah karena wajib militer.

Peristiwa itu terdengar sampai ke telinga sang kaisar sehingga aktivitas pemberian sakramen itu dianggap menentang maklumat kaisar. Valentinus akhirnya dianiaya dan kepalanya dipenggal di Via Flavinian. Di sini juga dia dimakamkan.

Paus St. Julius I (337-452 Masehi) kemudian membangun gereja di dekat Ponte Mole, tahun 350, untuk mengenang Santo Valentinus. Relikwinya disimpan di Gereja Santo Maria Praxedes, dekat Basilika Santa Mayor, dekat Roma, dan relikwi lainnya di Irlandia, Shrine of St. Valentine;

Valentinus dalam versi kedua adalah seorang uskup dari Terni, sebuah dusun kecil, sekitar 1,6 kilometer ke utara Kota Roma. Ia juga mengalami nasib yang sama; disiksa dan dianiaya, serta dipenggal kepalanya atas perintah Prefek Plasidus, sekitar tahun 269 Masehi.

Kemungkinan dua santo ini adalah orang yang sama, tetapi diceritakan dalam versi berbeda. Dalam laman Indonesianpapist.com (2012) disebutkan bahwa Santo Valentinus dari Roma tampaknya adalah seorang imam dan sudah ditahbiskan menjadi uskup, sebab dalam penggambaran tradisional Roma uskuplah yang punya kewenangan menikahkan atau memberi sakramen pernikahan kepada pasangan pria dengan perempuan.

Selain itu, bisa dimungkinkan bahwa Santo Valentinus dari Roma tersebut ditahbiskan menjadi uskup di Terni.

Sekitar tahun 300 Masehi, Kaisar Konstantinus Agung (306-337) menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi. Padahal sebelumnya orang Kristen dianiaya dan dikejar-kejar.

Ketika Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi, Gereja pun mengutuk tradisi penyembahan berhala yang awalnya ditentang Santo Valentinus tersebut, dan Paus Gelasius I (492-496) menetapkan tanggal 14 Februari sebagai pesta Santo Valentinus atau Saint Valentine Day.

Valentinus telah dengan pertimbangan moral rela berkorban, demi pemuda dan pemudi yang menerima sakramen perkawinan, agar tidak menjadi wajib militer dan melakukan praktik kafir yang melenceng dari norma moral.

Tahun 1969 Gereja Katolik mengeluarkan pesta Santo Valentinus yang dianggap minim informasi. Namun dalam sebuah katakombe di Roma (Youtube.com, Catholic Online, St. Valentine, 5 November 2019), ditemukan bahwa Santo Valentinus dari Roma adalah martir dan orang kudus historis, yang diperingati tiap 14 Februari.

Lalu kenapa 14 Februari merupakan harinya Valentinus dan Valentina, serta sederet akhiran –us dan akhiran -a lainnya seperti disebutkan awal tulisan ini?

Dalam tradisi kekristenan nama bayi atau orang Kristen Katolik diberi sesuai tanggal pesta atau peringatan orang-orang kudus (santo/santa).

Misalnya, ketika seorang bayi lahir dan kebetulan saat itu gereja memperingati atau merayakan pesta Santo Hieronimus, maka nama baptisnya adalah Hieronimus.

Namun, ketika bayi yang lahir adalah perempuan, maka nama baptisnya adalah Hieronima. Dalam tata bahasa Latin, akhiran -us digunakan untuk nominativus jantan (pria) dan akhiran –a untuk nominativus betina (perempuan), dan bahasa Latin adalah bahasa resmi gereja.

Valentinus bisa jadi berasal dari kata kerja valere, yang berarti kekuatan dan menjadi valentinus yang berarti orang kuat atau mempunyai kekuatan.

Lalu ihwal 14 Februari sebagai hari Si Us dan Si A, seperti di awal tulisan, terutama dan pertama-tama sekadar gambaran untuk memudahkan pemahaman tentang kasih sayang sesungguhnya, dan mengandaikan bahwa hal tidak melenceng dari norma moral dan hukum, terutama di Indonesia.

Dalam perjalanan waktu, Valentine’s Day menjadi populer dengan Hari Kasih Sayang. CNN Indonesia Jumat, 14 Februari 2020, menulis bahwa pada abad pertengahan, Geoffrey Chaucer, pada tahun 1375, menulis puisi sepanjang 699 bait tentang Hari Valentin sebagai hari kasih sayang.

Salah satu baris puisi “Parliament of Foules” adalah:

“For this was on Seynt Valentyne’s day
Whan every foul cometh ther to chese his make
Of every kinde, that men thynke may.” (For this was on Saint Valentine’s day, When every fowl comes there his mate to take, Of every species that men know, I say”

Terjemahan harafiah versi saya:
“Karena pada Hari Santo Valentinus, Ketika setiap burung datang ke sana pasangannya mengambil, Dari setiap spesies yang diketahui para lelaki, kataku”

BBC Indonesia 13 Februari 2019, melaporkan bahwa perayaan Hari Valentin di Indonesia menuai kontroversi. Di beberapa daerah perayaan hari kasih sayang tidak dilarang dan di daerah tertentu instansi pemerintah dengan keras melarangnya. Misalnya Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Jawa Timur, sejak tahun 2017, dengan alasan agama dan budaya Indonesia, melarang sekolah-sekolah swasta dan negeri merayakan Hari Valentin.

Daerah lain yang “penguasanya” melarang perayaan Hari Valentin adalah Aceh Besar, Jawa Barat, hingga Bima, Nusa Tenggara Barat.

Dilaporkan Tempo.co, 14 Februari 2020, Bupati Bogor, Jawa Barat, Ade Yasin mengatakan bahwa Hari Valentin bukan budaya Indonesia, tetapi budaya barat. Sang bupati juga beralasan bahwa kasih sayang tidak harus dirayakan khusus (14 Februari), tetapi ditunjukkan sehari-hari kepada keluarga: adik, kakak, suami, dan istri.

Pernyataan beliau justru paradoksal. Di satu sisi dia menyebut “kasih sayang”, harus dirayakan setiap hari, tetapi di sisi lain budaya merayakan Hari Valentine justru melahirkan perilaku buruk bagi generasi muda.

Pelarangan atau penolakan terhadap perayaan Hari Valentin bisa jadi karena ketidaktahuan. Saya kira hal ini wajar.

Namun, jika pelarangan, barangkali, berdasarkan sentimen terhadap komunitas tertentu, sebut saja agama, hal ini patut disesalkan mengingat hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kebhinekaan di negara Indonesia.

Apalagi, semua hal terkait dengan “atribut” agama yang dianut di Indonesia adalah hasil impor atau dibawa dari luar, baik dari dunia barat (Kristen), maupun dunia timur (Islam, Hindu, Budha, Konghucu).

Pertanyaannya, melarang dalam batasan apa dulu? Saya kira siapa pun, atas nama moral dan budaya ketimuran, sepakat bahwa Hari Valentin tidak identik dengan “seks bebas” atau “maksiat”, tetapi bentuk kasih sayang yang ditunjukkan kepada teman, sahabat, keluarga, bahkan pacar dalam batasan yang wajar, yang ditandai dengan pemberian hadiah berupa kartu ucapan selamat, barangkali cokelat, atau hanya sekadar berdoa dan “bernyanyi” ria, atau bahkan memakai kostum bernuansa merah jambu, seperti yang saya temukan di media sosial facebook.

Di Papua, sejumlah anak muda merayakan Hari Valentin dengan unik. Di Sentani Jayapura, misalnya, mereka yang bergabung dalam Forum Pemuda-Pemudi Peduli Kabupaten Jayapura Tolak Minuman Beralkohol memaknai hari kasih sayang dengan longmarch, mengrakkan peti mati, dan mengeluarkan sejumlah pernyataan di kantor bupati setempat, tentang penolakan terhadap minuman beralkohol (Jubi.co.id 14 Februari 2020).

Di Nabire, kawan-kawan saya yang tergabung dalam Komunitas Enaimo Nabire (KENA) bersama beberapa mitranya malah lebih beda. Mereka mengundang penyanyi Vicky Salamor dari Maluku untuk melakukan konser, disertai dengan membawa pesan-pesan kasih sayang Valentin (Jubi.co.id, 10 Januari 2020).

Kawan saya mengatakan, bahwa konser ini (Suarameepago.com, 16 Februari 2020) bertujuan untuk melakukan kampanye anti atau menolak penyalahgunaan lem aibon di kalangan anak-anak.

“Berbagi kasih dengan adik-adik generasi emas Papua biar mereka juga punya masa depan yang cerah,” kata Philemon Keiya, penjaga gawang komunitas KENA, ketika saya menghubunginya viaa pesan WhatsApp, Sabtu, 15 Februari 2020.

Dia berpandangan bahwa kasih sayang diberikan untuk siapa saja, termasuk generasi emas Papua di Nabire.

Bentuk-bentuk perayaan Hari Valentin seperti disinggung di atas, merupakan bentuk lain dan sisi positif yang dilakukan oleh anak-anak muda, ada juga yang sekadar memberi ucapan selamat di media sosial. []

Foto: Pixabay

#Jpr15FB20

Artikel ini dipublikasikan 16 Februari 2020 dan diperbaharui pada 19 Februari 2020

Bacaan tambahan:

Dominicus Bernardus dan tim, dalam e-Katolik, Riwayat Orang Kudus, Santo Valentinus, Martir, Tanggal: 14 Februari, diakses di Jayapura, 15 Februari 2020
Facebook.com/Karya Kepausan Indonesia, Jumat, 14 Februari 2020
Iman Katolik, Santo-Santa, 14 Februari, dalam http://www.imankatolik.or.id/kalender/14Feb.html, diakses di Jayapura, Papua, 15 Februari 2020
Katolisitas.org, dalam http://www.katolisitas.org/tentang-st-valentines-day/, 19 Februari 2020
New Advent, The List of Pope, dalam http://www.newadvent.org/cathen/12272b.htm, diakses di Jayapura, 15 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here