Ah, Sophia!

SOPHIA

Sophia. Namanya cantik. Secantik nama artis era 1990-an. Generasi 90-an seperti saya barangkali membayangkan nama artis Sophia Latjuba, atau si robot cantik Sophia —dalam kecerdasan artifisial bikinan perusahaan berbasis di Hongkong, Harson Robotics—yang diaktifkan 19 April 2015 dan menjadi warga negara Arab Saudi pada Oktober 2017 itu.

Bisa jadi sebuah kota Sofia di Bulgaria, karakter dalam serial Amerika yang menceritakan gadis muda yang menjadi putri ketika ibunya bernama Miranda menikahi Raja Roland II dari kerajaan Enchancia, atau philo dan sophia (philosophia) dalam filsafat?

Tulisan ini tidak sedang membahas Teteh Sophia, robot cantik Sophia, Bulgaria, film serial Amerika, dan philospohia. Saya tidak punya kompetensi untuk menulis hal-hal di atas. Namun, tulisan ini akan mengulas sedikit tentang sophia dalam dari bae sonde bae Flobamora lebe bae. Ya, sophia. Akronim dari kata sopi asli.

Saya ingin memberikan gambaran sepintas dalam perspektif budaya, khususnya budaya Manggarai, daerah yang berbatasan dengan Selat Sape dan Wae Mokel, Pulau Flores. Meski Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor)—sebutan provinsi yang dipimpin Viktor Bungtilu Laiskodat—merupakan provinsi dengan 1.100-an pulau dan aneka ragam budaya dan bahasa, lokus penulisan hanya Manggarai yang dikenal dengan sebutan Bumi Congkasae atau Nucalale.

Apa yang tertulis di sini, semata-mata pikiran subjektif dan rekaman fakta yang tersimpan dalam memori penulis. Bagaimana pun stereotip dan stigma (kalau ada) terhadap barang yang satu ini harus dipatahkan. Saya tidak sedang memandang sopi, yang berdampak pada kriminalitas, meski tak dipungkiri ada oknum-oknum tertentu yang bertindak kriminal usai dipengaruhi minuman beralkohol.

Sepanjang 2018, kasus kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polda NTT, kata Kapolda Raja Erizman, lebih dari 1.200 kasus, dan lebih dari 800 korban meninggal. Tak disebut secara rinci penyebab kecelakaan, tetapi disebutkan soal infrastruktur; seperti lampu lalu lintas. Kecelakaan disebabkan oleh kelalaian manusia atau human error.

Tulisan ini pun tak menyoroti kriminalitas, tapi tentang sopi dari sudut pandang lain. Hal ini untuk memberikan gambaran dan merespons peluncuran Sophia, oleh Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang, 19 Juni 2019. Sophia diluncurkan setelah melalui penelitian setahun oleh empat profesor dari Undana. Sophia disebut berkadar alkohol 35-40 persen dan diklaim lebih baik dari minuman di Eropa semisal vodka.

Respons terhadap pelegalan sophia bermacam-macam.  Pro dan kontra menyita perhatian saya atas perdebatan alot di ruang maya. Namun, sebelum bertolak lebih jauh, sedianya pembaca memahami konteks penulisan dan budaya serta lokus penulisannya. Dan fokus penulisan saya adalah tuak dan sopi dalam budaya Manggarai.

Pada tulisan tentang tradisi wuat wai, saya menjelaskan ihwal budaya dan kebudayaan. Secara sederhana hasil dari pikiran/gagasan yang baik dan diyakini masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat disebut budaya. Budaya juga menyangkut hal atau tata cara atau kebiasaan dan tindakan yang baik, karenanya dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun.  Di mana ada masyarakat di sana ada budaya yang dipegangnya. Maka orang berbudaya disebut beradab dan tidak menghargai budaya disebut biadab.

Sopi dan tuak raja

Tuak diproduksi dari pohon enau (Arenga pinnata). Dalam bahasa Manggarai disebut raping. Pohon jenis palem ini banyak dijumpai di beberapa daerah di Indonesia.

Aktivitas memproduksi tuak itu disebut pante tuak. Hasilnya berupa air nira, yang kadang-kadang manis dan pahit. Tuak biasa juga dijadikan air minum saat kehausan manakala ke hutan mencari kayu bakar. Tuak kemudian dijadikan minuman dan makanan (gula). Tepatnya gula merah.

Prosesnya dilakukan dengan cara, air enau itu dimasak. Hasilnya proses tersebut adalah air manis yang disebut mince dan gula aren atau gola malang. Dalam dialek Kolang di Kecamatan Kuwus dan sekitarnya (bagian timur laut Kabupaten Manggarai Barat) adalah minse.

Saya sewaktu kecil dan hingga kini merindukan gola malang dan mince manakala ke kampung mama di daerah Kolang, tepatnya Kampung Suka. Om-om, ipar, nene, dan keluarga biasa mengajak ke kebun untuk mencicipi mince, gola malang, dan memetik kopi. Jika mereka mengunjungi kami, pertanyaan pembuka para cucu yang lugu dan polos adalah, “ada bawa gola malang ka?”

Untuk seluruh Manggarai, hanya Kolang dan sekitarnya yang terkenal dengan mince dan gola malang-nya. Dalam lagu-lagu biasa disebut molas sale mai Kolang kokor gola, artinya gadis-gadis cantik dari daerah Kolang yang terkenal dengan masak dan pembuatan gula merah.

Selain dijadikan gula atau mince tadi, air enau kemudian menjadi minuman lokal beralkohol. Namanya tuak. Namun, tuak juga dimasak. Dikenal dengan nama penyulingan.

Hasil sulingan kemudian menjadi minuman baru bernama sopi. Butuh satu malam, bahkan satu hari untuk mendapatkan tetesan-tetesan uap dalam satu tong.

Sedangkan air enau, yang kadang-kadang dicampur kulit pohon “damer” menjadi agak pahit dan “bikin pusing” namanya tuak. Lebih tepatnya tuak raja.

Saya tidak tahu apakah penamaan tuak raja merujuk pada raja (pemimpin politik) pada masa kerajaaan. Dalam bahasa Manggarai, raja artinya yang kelihatan, secara fisik, yang nyata. Raja lawannya yang abstrak. Dari arti raja (yang nyata) ini saya berkesimpulan bahwa tuak raja merujuk pada tuak yang tidak diproses (air enau asli dan hanya dicampur sedikit kulit kayu), sedangkan sopi itu yang sudah diproses dari tetesan uap (abstrak).

Kadar alkohol tuak raja lebih rendah. Diperkirakan setara bir atau hanya 4 persen etanol (C2H5OH), sedangkan sopi punya tingkatan kadar alkoholnya. Entah berapa persen. Tapi kerap disebut BM (bakar menyala); BM nomor 1 dan 2.

Di beberapa daerah di Flobamora, ada yang menamainya moke dan sopi. Di Maluku juga disebut sopi, dan Cap Tjikoes di daerah Manado dan Minahasa, Sulawesi Utara atau arak di Bali. Dalam KBBI ditemui kata sopi yang artinya minuman keras, dan bahasa Belanda menyebut kata zoopje artinya alkohol cair.

Apa pentingnya saya menulis Sopia? Sopia, epenkah deng ko. Ko siapa jadi? Sebagai orang berbudaya, saya akan memberi tahu bahwa stereotip atau stigma atau apapun namanya, diakibatkan oleh ketidaktahuan. Kalau pun ada oknum-okum yang melakukan tindakan-tindakan kriminal karenanya, itu karena kebodohan kalau tidak mau disebut biadab, dan tidak lantas digeneralisasi. Pada galibnya sophia mengandung nilai-nilai budaya, ekonomi, sosial, dan nilai filosofis, terutama bagi orang Manggarai dan Flobamora pada umumnya.

Oleh karena itu, saya akan mengulas secara sederhana tentang penggunaan sophia dalam budaya Manggarai. Umumnya di Manggarai dalam konteks budaya, baik tuak raja maupun sopi dinamakan tuak. Tuak raja dan sopi hanya soal penamaan. Ketika digunakan dalam aktivitas budaya, maka namanya hanya “tuak”, misalnya tuak kapu atau tuak reis, tuak laing, tuak baro sala, dan lain-lain.

Tuak kapu atau tuak reis

Tuak kapu atau tuak reis merupakan simbol penyambutan. Kapu artinya memangku dan reis artinya menyapa/menegur. Tamu diterima atau disambut dengan cara dipangku. Pada masa lalu, gadis yang sudah dipinang dipangku atau digotong lalu diarak-arak menuju kampung dan rumah adat. Namun dalam situasi lain, kapu hanya disimbolkan dalam tuak kapu tadi.

Dalam upacara atau pesta sekolah misalnya, ada ungkapan seperti ini:

Mori, hitut bao ko?” (Tuan, terima kasih karena kalian sudah datang dan menghadiri undangan kami). Dan dijawab serempak, “Iyo, ite!!” (Ya, Tuan).

Lalu dilanjutkan,

Mori, ai olo lami tombon, rewengn agu wewa te bantang cama reje lele wie ho’o. Ole ho’o neng mai itet Mori. Bombong keta dami rak, mohas nai. Neho joeng tuka koe, neho tendeng tuka mese. Naka lami neho wua pandang kapu neho wua pau. Te kapu lami ite, mese baild itet mori. Ole, hoo kin tuak dami!”

Terjemahan bebas:

“Tuan, sudah lama kami beri tahu, menyuarakan tentang pesta bersama malam ini. Aduh, kami senang karena tuan-tuan sudah hadir. Hati kami berbunga-bunga. Perut kami ibarat buah joeng dan tendeng. Kami menyambut seperti mendapat buah nanas dan mangga. Kami mau pangku kalian, tapi kalian lebih besar dan tidak bisa dipangku seperti anak kecil. Karena itu, inilah tuak simbol penyambutan dan penghormatan kami.”

Joeng merupakan salah satu jenis tumbuhan liar yang tumbuh di hutan. Modelnya seperti pete (petai), tapi agak besar. Buahnya lonjong.

Pada zaman dulu biasanya dijadikan mainan oleh anak-anak di natas (halaman kampung). Jika sudah kering, bunyi joeng seperti kita injak pasir. Nyaring juga. Sedangkan tendeng, maaf, saya tidak pernah melihatnya.

Intinya ungkapan “neho tendeng tuka mese neho joeng tuka koe” menggambarkan kerendahan hati dan kerendahdirian orang Manggarai terhadap tamu. Pada zaman dulu, saat ada tamu, biasanya orang-orang Manggarai menyuguhkannya secara istimewa. Dia diberi makan nasi, sedangkan tuan rumah hanya makan jagung atau ubi. Jika ada lauk, biasanya ayam yang teristimewa. Sedangkan tuan rumah dan anak-anak hanya menunggu sisa.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa orang Manggarai sangat menghargai tamu. Apalagi kalau tamunya pakai celana panjang, wangi, datang dari kota dan berbahasa Indonesia. Pelayanannya sangat istimewa. Ada istilah “toe rombos cokol, toe turas tuda” (kekurangan dalam rumah jangan diketahui orang lain).

Tuak perdamaian

Jika dalam sebuah kampung ada oknum-oknum bermasalah, maka dia harus meminta maaf kepada warga kampung. Kesalahannya bisa bermacam-macam, misalnya, bawa lari istri orang (roko) atau dalam ungkapan bahasa Manggarai “lengga wakas, dan kesalahan fatal lainnya.

Permintaan maaf dilakukan di mbaru tembong (rumah adat), disaksikan tua golo (kepala kampung) dan masyarakat kampung. Oknum tersebut meminta maaf dengan membawa tuak dan rokok. Kalau pun dia nanti didenda (biasanya babi) dan bertobat, terlebih dahulu dilakukan permintaan maaf. Permohonan maaf disimbolkan dengan tuak dan rokok. Pada masa lalu rokok dibuat secara tradisional. Terbuat dari gulungan tembakau dan daun lontar (koli) atau daun jagung.

Tuak permohonan maaf juga diberikan saat dua kubu bermasalah. Namanya tuak baro sala. Tindakan meminta maafnya disebut tuak laing. Mereka pun saling memaafkan dan bersepakat untuk damai, yang disebut hambor.

Ungkapannya misalnya:

Ole Kraeng Nasus (misalnya), ai da’atn mu’u agu salang be pe’ang ngasang pande de mendi kesan ta. Dopo da’at kat kaeng toe nipu tae agu toe nuk wintuk data tua e. Ole neho aku mendi kesam neka keta rabo. Rantang muu kanang, hoo kin tuak.

Terjemahan bebas:

“Aduh Tuan Nasus (misalnya), karena saya, kau punya ipar ini, ada omong tidak baik, berbuat di tidak baik dan di luar jalur. Saya, iparmu ini, minta maaf. Supaya tidak terkesan hanya (permintaan maaf) omong, maka ini tuak sebagai pengikat.”

Tuak jenis ini kerap disebut hambor atau perdamaian. Rapper Flores asal Ruteng, Manggarai, Lipus atau Lipooz (kini grup 16 Bar Indonesia) dalam lagunya “Sopi/Satu Sloki” menyebut tentang sopi sebagai minuman perdamaian. Saya menduga lagu itu terinspirasi atau refleksi dari hambor tadi. Namun, lagu ini lebih pada “kekinian” khas anak muda. Ini dibuktikan dengan adanya kata sloki. “Satu sloki, dua sloki, tiga sloki, minuman perdamaian. Inilah minuman yang membesarkanku supaya tidak menjadi cengeng… dst.” Lebih dari itu tidak menghilangkan esensinya tentang perdamaian.

Tuak dalam pesta dan ritual

Tuak dalam pesta atau upacara lainnya, misalnya, dalam upacara kematian dan peminangan. Dalam hal meminang gadis, ada istilah bekang dan wagal. Secara sederhana bekang adalah berkumpul bersama satu keluarga (klan/fam). Saat yang sama keluarga saudari atau tanta-tanta (woe atau nak wina) datang ke kampung untuk membawa uang dan barang lainnya, demi meringankan beban nara (saudara) yang menikah.

Setelah bekang usai, dilanjutkan upacara wagal. Secara sederhana wagal artinya keluarga pihak laki-laki (woe) mendatangi keluarga pihak mempelai perempuan (anak rona) untuk membawa belis atau maskawin. Keluarga besar satu uku bahkan kampung tadi lalu mendatangi keluarga si istri.

Dalam pembayaran belis ini juru bicara (tongka) kedua belah pihak akan bersepakat, negosiasi, komunikasi, bahkan baku debat, untuk kemudian memutuskan pembayaran maskawin tadi.

Belisnya berupa sejumlah uang dan hewan piaraan (babi, kerbau, sapi dan kuda), serta kain songke sebagai lipa wida.

Dalam tradisi Manggarai, perkawinan bukan hanya soal hubungan si pria dan istrinya, tapi menyangkut hubungan keluarga besar pria dan istrinya hingga kampung yang disebut hubungan woe nelu.

Biasanya dalam upacara wagal ini dipentaskan juga tarian caci Manggarai (semacam tari perang, baku pecut), selama satu, dua atau tiga hari lamanya. Pria berani dan bernyali dari kampung laki-laki akan menantang kampung keluarga si istri dalam laga caci.

Namun, sebelum bekang dan wagal digelar, utusan keluarga anak rona tadi datang ke woe atau anak wina untuk memberi tahu ihwal uparca tersebut. Dia datang untuk omong dan disertai tuak. Formulanya sama. Tujuan kedatangannya apa dan sebagai bentuk bahwa kedatangnya sangat resmi, maka dia membawa tuak, pakai kain songke dan bukan celana panjang.

Saat wagal, bekang, kelas, atau penti (upacara syukuran akhir tahun), biasanya minumannya adalah tuak (baik tuak raja, maupun sopi) dan kopi. Minum dilakukan di rumah dengan cara duduk bersama-sama. Seluas rumah, seluas itu pula masyarakat yang duduk.

Dalam konteks ini, ada sebutan lonto torok atau padir wai rentu sai. Ungkapan ini merupakan metafor kebersamaan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan yang utuh atau tak terpisahkan.

Padir wai artinya duduk merentangkan kaki, sedangkan rentu sai artinya kepala dipertemukan. Jika dibayangkan, orang banyak duduk merentangkan kaki dan mempertemukan kepala-kepala menjadi satu.

Jika kepala dan kaki dipertemukan, maka kelihatan seperti globe atau bulatan lonjong besar. Itulah simbol persatuan, kesatuan, kebersamaan dan kekeluargaan orang Manggarai yang tidak bisa dipisahkan.

Tuak untuk leluhur

Orang Manggarai meyakini bahwa keluarga yang sudah meninggal dan leluhur, merupakan orang-orang yang hidup di dunia seberang. Mereka diyakini sebagai pelindung dan pemberi rejeki, sebab sudah berada bersama Tuhan Sang Pemilik Hidup (Mori Jari Dedek). Mereka diyakini sebagai perantara, oleh karenanya mereka tetap dihormati.

Penghormatan terhadap mereka dilakukan melalui ritual-ritual. Saat masa panen misalnya. Sebelum memanen, sore sebelum keesokan harinya mengetam padi, dilakukan ritual khusus. Namanya tabar cicing. Materinya berupa telur. Telur itu kerap disebut “tuak”. Dalam berbagai ritual juga, misalnya saat memberikan sesajian di compang (susunan batu di tengah kampung dan ditanami pohon dadap), salah satu materi persembahanya adalah telur yang disebut tuak.

Tuak dan filosofi

Pohon enau memiliki banyak manfaat selain airnya yang ditempa. Buahnya (longko raping) dimakan.Daunnya kerap dijadikan orang-orang tua sebagai dinding dan atap pondok di kebun (saung) saat menjaga babi hutan dan binatang lainnya. Sedangkan ijuknya dijadikan atap rumah dan rumah adat (mbaru tembong).

Dalam perkembangannya rumah adat di kebanyakan kampung di Manggarai menggunakan sing dan arsitektur modern. Hanya beberapa kampung yang hingga kini masih mempertahankan keasliannya dengan atap berbetuk kerucut dan ijuk (wunut), di antaranya Mbaru Tembong Ruteng Pu’u di ibu kota Kabupaten Manggarai, Niang Todo dan Wae Rebo di bagian selatan Manggarai.

Karena tetap mempertahankan keasliannya itu, Kampung Wae Rebo akhirnya menyita perhatian dunia. Negara-negara di dunia melalui UNESCO mengakui Wae Rebo sebagai warisan dunia. Pada 27 Agustus 2012 dia memenangkan penghargaan Award Excellence UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation atau penghargaan untuk konservasi warisan budaya. Wae Rebo berhasil mengalahkan rivalnya. Sementara Sethna di Mumbai, India menerima Awards of Distinction karena mempertahankan ciri khas perumahan abad ke-20.

Kini Wae Rebo menjadi objek kunjungan turis di Manggarai selain Mbaru Wunut Ruteng, Niang Todo, Liang Bua, dan Longko Cara di Cancar dengan lodok-nya (pusat) yang disebut menyerupai sarang laba-laba raksasa.

Selain itu, pohon enau atau raping dan rambutnya yang tajam dan keras (rimang) menjadi metafor untuk doa dan nasihat. Ada ungkapan (go’et) seperti: “kimpur neho kiwung cama kiwung lopo, cimag neho rimang cama rimang rana”, artinya semoga tebal (mental dan fisik) seperti pohon tuak yang sudah tua, dan keras seperti rambut dan lidinya.

Tuak dan ekonomi

Setelah membahas tentang kegunaan tuak, lantas kita bertanya: dari mana tuak itu? Di kampung saya, ada bapak tua nama Ema David, Ema Remi, Emar Bin Tenggos, Bela Randu, Riel, Nabas dan Amang Geradus (Emar So).

Namun, Emar Bin Tenggos dan Ema David adalah generasi yang sudah uzur dan penerusnya dari nama-nama tadi. Keahlian mereka tidak diwariskan. Anak-anak muda menganggap “pante tuak” sebagai aktivitas kuno dan karenanya tidak berminat untuk belajar.

Saya masih ingat kala kecil ketika diajak Nene Tomas Jehaut (nene umumnya panggilan kakek dan nenek) bersama saudara saya Sebastianus Gersoni Bntrang untuk lolu tuak di pohonnya. Sebelum menempa ranting pohon tuak untuk menghasilkan air, ternyata mereka terlebih dahulu mengucapkan semacam ritual dan menyanyi dengan syahdu. Hal itu dilakukan agar ranting menghasilkan air (enau) yang banyak. Ketika tuak tersaji lalu kami minum dengan puasnya karena haus dan pulang rumah usai magrib.

Selain diminum bersama di bawah pohonnya, tuak tadi dijual di pasar atau tempat-tempat pesta adat. Meski tiap kampung punya ahli membuat tuak, saat upacara adat tuak harus disiapkan dalam jumlah yang banyak sehingga harus dibeli di kampung lain. Jarak antarkampung pun sangat jauh. Dibutuhkan perjalanan selama dua sampai tiga jam untuk mendapatkan tuak, misalnya kampung Raong, kampung tetangga saya.

Uang hasil jualan tuak dan sopi kemudian bisa membeli garam, ikan, dan keperluan rumah tangga, bahkan bisa menyekolahkan anak-anak hingga mendapat gelar sarjana. Itu tadi; dari tuak.

Nusa Tuak

Lain padang lain belalang. Lain pulau, lain pula kearifan lokalnya. Kira-kira begitu untuk menyebutkan kearifan lokal masyarakat adat di Nusantara. Di Flores, Sumba, Timor, dan Alor atau yang bisa disebut Flobamora, tiap daerah punya cerita tentang miuman lokal.

Pada awal tulisan ini, saya mengulas tuak (sopi) di Manggarai. Menceritakan beberapa daerah di Nusa Tuak hanya sebagai referensi tambahan. Di Lembata, Flores Timur budaya minum tuak berawal dari daerah pedalaman lalu berkembang dan menjadikan tuak sebagai minuman.

Jika di Manggarai tuak dari pohon enau, Lembata terbuat dari pohon lontar. Begitu pula dengan Timor, Rote dan Sabu Raijua, dan pulau-pulau di sekitarnya.

Di Sabu Raijua Sabu Raijua masyarakat sangat bergantung pada pohon lontar. Tuak dari sadapan lontar menghasilkan gula dan tuak. Tuak merupakan sarapan pagi dan makan malam. Aktivitas harian tidak bersemangat dan tidak kuat jika tidak pagi harinya tidak minum tuak. Tuak juga dijual untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

Setiap daerah di Nusa Tenggara Timur mempunyai tradisi menghasilkan tuak dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, saya mempelesetkan Flobamora menjadi Nusa Tempatnya Tuak atau Nusa Tuak.

Setelah peluncuran Sophia Juni lalu di Kupang, kritik bermunculan. segelintir oknum bahkan menggelar demo di beberapa tempat dengan dalih macam-macam. Tapi ada juga pujian. Dirkursus lantas muncul di jagat maya.

Saya mengikuti beberapa grup.dan membaca postingan beserta argumentasinya. Kadang-kadang argumentasinya logis. Tapi bikin geli, dan kadang-kadang bikin tertawa, sehingga kami menjadi “satu nusa satu tawa” atau “satu dalam tawa”. Saya hanya membatin: ah, Sophia!

Pelegalan sopi sedianya menjadi kabar gembira bagi masyarakat, terutama karena sopi dapat menopang ekonomi, memiliki nilai budaya, rasa sosial, perdamaian, dan mengurangi tindakan kriminalitas.

Peneliti Center for Indonesia Policy Mercyta Jorsinna dalam Indonesia.go.id mengatakan bahwa pelegalan minuman beralkohol lebih rasional daripada melarangnya. Pelegalan disebut sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengatur peredaran dan konsumsi sopi.

Tentu harus didukung peraturan daerah jika mau mengakomodasi dan melestarikan kearifan lokal. Menjadikan sopi atau tuak untuk mabuk-mabukan, kriminal, dan “baku tipu rame” serta mencampurnya dengan minuman kios, pantas ditolak dan itu bukan budaya atau biadab. Sophia, selain punya nilai-nilai yang disebutkan tadi, diharapkan menjadi salah satu produk lokal yang bernilai jual tinggi dan mengangkat ekonomi masyarakat, apalagi NTT menjadi salah satu daerah trend wisata andalan di Indonesia. []

Foto: Peluncuran Sophia di Kupang – Pos Kupang

JPR, lajul19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *