Guruku, ini kisah yang ditinggal pergi

0
37

“Oeeeh, Ponsianus, dengar kah adik!!”

“Saya bukan Ponsianus, Pak. Saya Timoteus.”

“Iya kah, Ponsianus aeh….”

Lalu saya yang duduk dengan kawan Ponsiaus tertawa. Ia pun tertawa. Tersenyum. Dan kami semua tertawa ria. Satu kelas riuh. Suasana jadi cair. Kantuk segera pergi. Dialog kocak ini bikin kami terhibur.

Kami diam lagi. Fokus pada pelajaran sastra. Kala itu periodisasi sastra.

“Maka tidak begini hidup kah adik: berburu ke padang datar dapat rusa belang kaki.” Ia melanjutkan.

Lalu kami terdiam lagi. Sebentar tertawa lagi. Riuh lagi. Sepertinya dari kursi bagian belakang yang masih “riuh”. Barangkali kawan Marselinus Rancu, Ignasius Suradin, Meinradus Jewaru, Valerius Umatron, Ronaldus Kunjung, Fransiskus Xaverius Juru. Saya yang duduk di kursi kedua dari depan pun demikian.

“Aehhh, Adik, sekali berarti sudah itu mati!!!!”

Lalu disambut senyumnya yang khas. Tampak malu-malu, tapi bercahaya dari muka hitam khas kota panas, Labuan Bajo.

Ini secuil dari banyak cerita tentang kelas kami, kelas III Bahasa; Pa Guru Lambertus Lahu dan kami, suatu siang yang terik di ruangan kelas III Bahasa SMAK St. Ignatius Loyola. Ketik itu meminjam ruangan kelas III Seminari Labuan Bajo. Pertengahan tahun 2005 silam.

Guru asal Kempo, Manggarai Barat, Flores ini mengajar dengan gaya khas. Dialek khas. Metode khas. Dan khas-khas yang lain.

Ia adalah wali kelas III Bahasa kala itu. Kelas kami. Maka tiap hari kami bertemu beliau.

Cerita itu segera berganti dengan kabar kepergian beliau setelah beberapa jam yang lalu, Selasa, 4 Oktober 2016, saya mendapat informasi di grup SMAK St. Ignatius Loyola dan salah satu postingan kawan. Guru andalan itu terlah pergi untuk selamanya. Entah karena apa.

Pak Lambertus Lahu menyusul dua guru lainnya, Pak Alexander Budi Baik–guru Biologi dan Pater Patris Meko, SVD–guru bahasa Jerman, yang beberapa waktu lalu juga meninggal.

Kami kehilangan beliau. Tapi cerita, kenangan dan nasihat masih membekas. Terpatri dalam setiap langkah kaki. Terngiang dalam denyutan nadi. Kisah dan ceritanya ditinggal pergi.

Ah, guruku. Tepat katamu ketika itu tatkala meminjam penggalan syair Chairil Anwar:

“Adik, sekali berarti sudah itu mati”

Dan dilanjutkan syair lain: “Adik, maka tidak begini hidup kah adik, berburu ke padang datar dapat rusa belang kaki.” Dan kami tidak mau “dapat rusa belang kaki”.

Ia bahkan selalu menyarankan kami untuk menulis dan kirim ke Pos Kupang atau Flores Pos kala itu. Tapi hingga tamat, yang tulisannya lolos ke Pos Kupang cuma kawan Laurensius Gafur (kini Pater Laurensius Gafur, SMM).

Tulisan ini hanya kesan dan kepingan cerita tentang kepergian almarhum. Sebagai bekas murid, saya patut berterima kasih karena atas jasa mereka kami dapat memahami dunia dan hiruk-pikuknya.

Guru adalah teman cerita, teman berkisah, sumber informasi, orangtua dan pembimbing. Apa jadinya manusia jika tak ada guru yang mengajar dan membimbing?

Jasa guru memang tak bisa dibayar dengan uang sekolah semesteran atau triwulan. Tulisan ini pun tak cukup untuk menyampaikan terima kasih seorang murid kepada sang guru. Namun ini adalah saksi bahwa kami pernah dididik seorang guru yang dapat diandalkan, humoris, tegas, cerdas dan menuntun kami agar menjadi orang pintar dan baik.

Ia bahkan menyarankan agar kami harus kuliah di Universitas Indonesia selepas dari SMAK Loyola Labuan Bajo.

“UI, adek! UI…,” katanya suatu ketika.

Sio sayang ee… Selamat jalan Pak Lambertus. Tuhan menyambutmu di Surga. Beristirahatlah dalam damai [RIP]. Doa kami mengiring kepergianmu. (*)

#Jayapura, 4 Oktober 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here