Genderuwo itu setan

genderuwo di hutan

Sejak beberapa bulan terakhir saya penasaran dengan narasi yang satu ini: genderuwo. Terutama karena menonton televisi dan membaca berita-berita yang berseliweran di jagat maya.

Saya pun langsung mengecek pada kamus. Bagaimana pun kamus harus menjadi salah satu rujukan bila mendapat kosakata baru. Terlepas dari tafsiran sana-sini. Kamus harus menjadi salah satu referensi terpercaya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V (luring) ditulis, genderuwo artinya, 1) hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat; 2) pohon yang banyak tumbuh di kompleks pekuburan, berakar sangat dalam berbentuk mangkuk, bijinya mengandung asam lemak sterkulat.

Saat masih SD di kampung nun jauh di tenggara Nusantara biasanya orang-orang tua, kawan-kawan dan keluarga menceritakan dongeng. Sebelum tidur atau saat bermain bersama, dongeng menjadi menu obrolan andalan.

Begitu pun di sekolah menengah pertama. Ketika itu kami tinggal di asrama dengan disiplin dan tradisi kristiani yang ketat. Meski rumah berada di kompleks sekolah, kami harus tinggal di asrama yang diasuh yayasan Katolik. Anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi, suku dan kelompok harus tinggal di asrama.

Dongeng menjadi materi ganda-ganda (obrolan) semasa kami di asrama selepas belajar atau rekreasi bersama di gedung serba guna. Satu kawan kami—sebut saja namanya Simus—paling jago mendongeng. Salah satu dongeng favorit kal itu adalah Empo Rua.

Dalam bahasa Manggarai, Flores, empo rua berasal kata empo dan rua. Empo (e dibaca seperti pada kata emak atau elang) artinya setan, cucu, dan nenek moyang, sedangkan rua artinya berbulu lebat. Rua juga kependekan dari kata jenggerua (kedua huruf dibaca seperti kata emas), yang artinya banyak (lebat) dan tidak karuan. Misalnya tentang rambut panjang saat bangun tidur. Jadi, empo rua artinya setan yang berbulu sangat lebat dan tidak karuan.

Dongeng empo rua membuat anak-anak kecil memang menyeramkan. Tambahan pula diceritakan saat malam menjelang tidur. Adu mama sayang eee, sungguh mati!!

Pasalnya, empo rua suka makan daging manusia, terutama anak kecil. Bicaranya pakai suara hidung. Biasanya dia ditemui di hutan—saat mana cuma ada pondok dan di situ pengembara hampir pasti terjebak.

Biasanya anak kecil menemuinya dan terjebak dalam perjalanan mencari kayu bakar di hutan rimba. Empo ini pasti langsung akrab dengan anak-anak dengan bujuk rayunya yang khas.

Dalam dongeng empo rua dinarasikan memang menyerupai manusia. Tapi dia bodok, licik dan mudah tertipu.

Alkisah, dua anak ke kampung seberang. Kakak-beradik ini melewati hutan, lembah, bukit, ngarai, jurang dan tebing, serta onak dan duri-duri tajam. Karena perjalanan melelahkan, mereka tiba di hutan saat kolep leso (matahari terbenam).

Saat malam, dua saudara ini menjumpai manusia tua yang ramah. Dia menawarkan tumpangan.

“Aduhhh anak sayang. Kalian mau kemana?”
“Kami mau ke seberang, empo.”
“Mari kita ke rumah. Beristirahatlah di rumahku!”
“Baiklah, empo.”

Di tengah situasi seperti itu, dalam keluguannya, dua anak ini mengiyakan tawaran si empo. Tibalah saat makan malam. Tapi kakak-beradik ini tidak makan, karena lauknya menyerupai jari-jari dan daging manusia.

Empo rua mengira mereka makan dengan lahapnya. Itu karena dia tidak melihat dengan jelas, sebab penerangnya hanya api.

Saat tidur, sang kakak punya firasat buruk. Dia pun hanya pura-pura tidur. Sebagai kakak, dia punya kewajiban moral untuk menjaga adiknya. Di lain sisi, dia juga harus memastikan, bahwa mereka harus tiba di kampung seberang sana dengan selamat. Matanya memicing. Mengintip aktivitas si empo.

Ketika dia tahu empo masih memasak, sang kakak membangunkan adiknya, sebab bahaya dan maut sudah di depan mata. Mereka pun lari sekuat tenaga dan penuh keyakinan. Si empo mengejar, tapi mereka terus berlari.

Tidak dijelaskan apakah mereka selamat hingga pagi atau menjumpai tantangan lainnya. Yang pasti mereka selamat. Demikian dikisahkan dalam dongeng.

Namun, masih ada versi lainnya. Sebut saja si empunya dongeng, kawan Jemeko namanya. Dalam versi lainnya, Jemeko menceritakan bahwa empo rua terus mengejar dan mendapati dua anak ini di atas pohon. Empo rua berniat memanjat pohon untuk mengejar dua anak malang ini. Tapi keduanya lebih pintar.

“Bagaimana kamu bisa naik ke atas pohon itu?”
Tente one watu lolo, empo (mendudukan pantat ke batu karang yang tajam).”
“Aduh sakit, apakah tidak ada cara lain?”
“Ooo, kalau begitu, kepala ke bawah dan pantatmu ke atas!!”

Tanpa pikir panjang, empo rua mengikuti perintah mereka. Di situlah kesempatan bagi kakak-beradik untuk menjatuhkan lombok yang sudah keco (ulek). Si empo berteriak sejadi-jadinya dan meronta-ronta meminta permohonan.

“Bagaimana saya mengobati pantat ini?”
“Benturkan pada batu yang tajam.”

Empo rua juga mengiyakan arahan itu dan dia akhirnya meninggal. Dua anak ini lalu melanjutkan perjalanan ke kampung yang dituju. Eh, setan kok meninggal? Hmmm, begitulah ceritanya. Namanya dongeng.

Beberapa dialek dalam kosakata bahasa Manggarai juga mengartikan rua dengan mendidih. Kami di kedaluan (wilayah setingkat distrik/kecamatan pada zaman dulu) Lelak menyebutnya lua.

Rua juga merupakan rait atau paci (julukan, gelar atau yel-yel kejantanan) dari pahlawan asal Manggarai saat mengusir penjajah. Namanya Guru Ame Numpung, tapi lebih populer disebut Motang Rua.

Motang Rua lahir sekitar 1890-an di Beo Kina, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Flores. Ema Motang Rua (1890-1952) dikenal pemberani dan tidak mau takluk pada penjajahan. Karena itu, ia harus bersikukuh mengusir mereka dari Bumi Congkasae.

Meski senjatanya hanya tongkeng toda dan cola koe (perisai dan kapak kecil), dia bersama kawan-kawannya berhasil mengusir penjajah. Dia juga punya ilmu kebal dan ilmu menghilang. Tapi dia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda dalam perang tahun 1900-an di Manggarai. Kemudian dipenjarakan di Aceh, Saigon (Vietnam), Batavia, dan Nusa Kambangan, sebelum akhirnya meninggal di Manggarai dalam usia 90 tahun.

Motang Rua diabadikan dalam nama lapangan bola kaki–yang kini menjadi halaman kantor bupati Manggarai di Ruteng–dan nama jalan, serta patung Motang Rua, dan lagu-lagu.

Motang rua adalah lalong tana Manggarai (si jago tanah Manggarai). Orang Manggarai mengenalnya sebagai pahlawan, tapi kami tak pernah melihatnya dalam sejarah nasional di buku pelajaran sejarah, kecuali (barangkali) muatan lokal.

Demikian sekilas etimologi empo dan rua serta empo rua. Lalu apakah empo rua berkaitan dengan genderuwo? Keduanya berbeda dalam istilah atau sebutan. Genderuwo (mungkin) untuk istilah berbahasa Jawa, sedangkan empo rua untuk orang-orang Manggarai, Flores. Namun merujuk kepada satu hal: setan.

Genderuwo memang setan yang menakutkan. Empo rua juga setan. Pendengar dongeng saat kecil, terutama anak kecil, sudah pasti takut pada setan. Oleh karena itu, keberadaannya harus diantisipasi dan diwaspadai. []

#Jpr18

Artikel ini diposting di blog sebelumnya (Lujunai) dan kini diposting kembali dengan edit seperlunya.

Ilustrasi foto-sumber pixabay

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *