Festival Budaya Lembah Baliem dan persiapannya

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-30 Tahun 2019, diselenggarakan 7 – 10 Agustus di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Wisatawan dan turis mancanegara tentu saja bermalam di hotel-hotel di Wamena kota. Pada pagi harinya wisatawan pergi ke lokasi festival dan sore harinya kembali ke hotel.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Alpius Wetipo mengatakan para turis asing dan travel agent sudah booking hotel-hotel yang ada di Wamena.

Wisatawan Korea bahkan sudah bayar penuh seluruh kamar salah satu hotel di Wamena.

Jadi, menurut Alpius, para wisatawan yang berencana datang ke FBLB, mulai sekarang harus mencari informasi hotel-hotel yang kamarnya masih kosong pada 7 – 10 Agustus 2019.

Hingga 2017, menurut Data BPS, terdapat 18 hotel dengan 350 kamar dan 494 tempat tidur di Wamena.

Selain itu, para wisatawan harus beli tiket pesawat pulang pergi jauh-jauh hari, karena biasanya pesawat selalu penuh pada tanggal tersebut.

Sekembalinya dari lokasi festival, pada malam harinya, wisatawan dan turis mancanegara dapat menikmati Baliem Night Market yang memamerkan produk kuliner khas Baliem di depan kantor bupati Jayawijaya selama festival berlangsung.

Sampah dan persiapan FBLB

Pusat administrasi Kabupaten Jayawijaya adalah Wamena. Wamena merupakan pusat keramaian, ibu kota kabupaten, pusat ekonomi, dan sebagai daerah penghubung beberapa kabupaten di pegunungan tengah Papua.

Wamena menjadi titik temu modernitas dan kehidupan tradisional. Sangat mudah menjumpai toko yang menjual telepon seluler dengan segala aksesorisnya. Di pasar-pasar juga ditemui penjualan anak babi.

Sebagai tujuan daerah wisata yang telah mendunia, terutama Festival Budaya Lembah Baliem, Wamena memiliki persoalan dengan pengelolaan sampahnya.

Sampah terkumpul di trotoar begitu saja, kadang berhamburan oleh anjing yang sedang mencari makan.

Tidak hanya itu, pada beberapa titik, terlihat sampah dibakar begitu saja di atas trotoar.

Setiap pagi ada truk pengangkuymt sampah ke TPA. Ironisnya, TPA berada di ujung landasan Bandara Wamena. Kardus dan ban bekas kadang dibakar begitu saja.

Sebenarnya itu sangat mengganggu pesawat yang take off atau landing. Sampah logam, seperti kerangka mobil, bekas atap seng, dan sejenisnya dibiarkan begitu saja.

Ongkos angkutnya lebih mahal daripada nilai jual sampah logam ini, karena transportasi menuju Wamena hanya melalui transportasi udara.

Apakah FBLB sudah siap? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab, karena berdasarkan pengamatan di dalam Wamena kota, jalan-jalan beraspal sebagian berlubang, contohnya terlihat jalan di depan Mal Wamena.

Trotoar pejalan kaki yang di bawahnya berupa saluran air selokan, juga banyak yang berlubang sehingga sangat mengganggu kenyamanan pejalan kaki.

Sampah juga banyak berserakan di ujung landasan Bandara Wamena. Ini tentu mengganggu pemandangan bagi pengunjung meski lokasi festival bukan di Wamena.

Selain itu, jaringan internet di Wamena yang lambat. Banyak wisatawan selama yang mengeluh. Walaupun FBLB dilaksanakan di Distrik Walesi, wisatawan lebih banyak menginap di Kota Wamena. Sehingga pagi hari mereka pergi ke lokasi festival, sore harinya kembali ke penginapan.

Ratusan wisatawan asing tercatat selalu mengunjungi FBLB tiap tahunnya.

Semua pihak, baik masyarakat, maupun dinas terkait harus bersama-sama menyukseskan FBLB 2019, yang tinggal satu bulan ke depan. Masih cukup waktu untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. []

Foto: dok. penulis

Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *