Fakfak: dari ikan sampai pala

Kampung Goras, Distrik Mbahamdandara, Kabupaten Fakfak, Papua Barat memiliki potensi perikanan yang tinggi. Potensi perikanan ini berupa lobster, udang, kerang dan kepiting. Masyarakat Goras dalam menangkap ikan, lobster dan kepiting hanya mengandalkan jaring.

Menangkapnya pun seperlunya saja, hanya sebatas dikonsumsi saat itu juga. Sehingga keberadaan biota laut tersebut tetap terjaga. Sebagian ikan hasil tangkapan diolah menjadi ikan asin, ikan yang dijadikan ikan asin pada umumnya adalah tengiri.

Satu ekor lobster dihargai dua puluh ribu rupiah, dengan berat sekitar setengah kilogram per ekor. Untuk satu tali ikan atau satu paket yang berisi tiga ekor ikan segar berukuran sedang dihargai sepuluh ribu rupiah.

Bagi masyarakat Goras, mereka tidak menyukai ikan asin karena ikan segar mudah didapat di perairan mereka.

Untuk menuju Kampung Goras, dari Fakfak Kota menggunakan transportasi darat sekitar satu jam kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut menggunakan perahu nelayan sekitar dua jam dari Distrik Kokas.

Selain itu dapat juga menggunakan jalur darat, namun membutuhkan waktu lebih lama, yaitu 3 hingga 4 jam dan harus menggunakan mobil double gardan.

Dipastikan bahwa jika akses jalan bagus dan transportasi lancar maka kesejahteraan nelayan Goras akan meningkat. Sebagai gambaran, harga lobster di Fakfak Kota sekitar 100 ribu rupiah untuk setiap kilogramnya.

Selain itu di Kampung Goras, tidak ada akses telekomunikasi, untuk itu perlu dibangun jaringan telekomunikasi di wilayah ini, sehingga membantu dalam pemasaran produk laut kampung mereka. Penangkapan biota laut secara tradisional dan metode penangkapan selektif harus terus dijaga agar keberadaan biota laut ini tetap ada.

Kota pala

Fakfak, Papua Barat juga dikenal sebagai kota pala. Pala merupakan produk unggulan dan sumber pendapatan utama para petani di pedesaan Fakfak.

Buahnya sangat berharga, fuli dan bijinya dikeringkan untuk diekspor, sedangkan daging buah segarnya diolah menjadi oleh-oleh khas Fakfak yaitu manisan atau sirup.

Biji pala sudah lama dikenal sebagai bumbu masak karena minyak asirinnya yang sedap.

Manisan pala dibuat dengan merendam daging buah pala dalam air gula kemudian dikeringkan.

Karakteristik buah dan biji pala Fakfak (Myristica argentea Warb) yaitu bentuk buah lonjong ukuran kecil dengan biji bentuk lonjong ukuran kecil.

Berdasarkan daerah asal tanaman, pala Fakfak termasuk dalam East Indian Nutmegs.

Pala Fakfak tumbuh di hutan terutama di dataran rendah sampai pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Biasanya petani Fakfak menanam pala ini di kebun yang terletak pada lereng-lereng perbukitan. Pohonnya dapat mencapai tinggi 15 m.

Ciri khas pohon pala ini adalah bagian bawah daunnya berwarna putih keperakan, daunnya bulat memanjang berukuran sedang. Tajuk pohon pala Fakfak berbentuk silindris, percabangan rindang ke atas.

Fuli atau ari yang berwarna merah tua dan merupakan selaput jala yang membungkus biji pala ini disebut fuli liar karena kualitasnya yang berbeda serta aroma kurang halus dibandingkan dengan pala Banda (Myristica fragrans Houtt). Kandungan minyak aeteris dari fuli pala Fakfak ini hanya 6,5%. []

Nelayan fakfak

Foto: dok. Penulis. Geser slide…

Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *