Empat belas hari tahun ini: Tentang kehidupan, cinta, dan kehilangan

1
138
ost
Ilustrasi - Foto/Dokpri

Hari ketujuh dalam hitungan saya, kota-kota di negeri ini seperti kota mati. Layaknya kota tak berpenghuni. Jalan raya juga demikian. Sepi. Jangankan dua, tiga, lima atau sepuluh, satu roda pun tak berani berputar di atas campuran aspal yang telah lama dibangun. 

Berapa puluh tahun lalu, hampir tak terekam baik oleh sejarah bangsa kita, di atasnya terdapat hati yang dirundung pilu, sebab tengah meratapi kepergian orang-orang terkasih yang dulunya dengan gigih mempertahankan tanah tempat mereka berpijak, agar terhindar dari gusuran alat berat demi akses jalan masuk menuju kota. 

Kerja paksa terjadi di mana-mana, bahkan terdapat ceceran darah yang tumpah di atasnya. Mengubah status istri jadi janda dan anak-anak jadi yatim, sebab ayah pergi dengan cara yang tidak wajar. Sangat keji!

Dan saat ini, kota itu terlihat gagah dan megah. Gedung-gedung bertingkat berdiri nan kokoh seakan berlomba menuju langit. Tinggi sekali. 

Di pelataran rumah-rumah warga, terdapat lampu berbagai rupa tampak elok menepi di antara pekatnya malam.

Di kota, tidak hanya orang-orang kota yang menetap. Ribuan orang desa juga ada di sana. Mereka adalah orang-orang pendatang yang memiliki tekad mengubah nasib agar sedikit membaik selain memenuhi kebutuhan untuk menafkahi istri dan anak.

Namun, hari ini, kita seakan kembali dijajah. Beberapa potong cerita, canda juga tawa terpaksa berhenti begitu saja. Bukan karena tidak ada pilihan lain bagi mereka yang menghabiskan separuh waktu dalam sehari di warung kopi, di emperan toko, pun di pinggir jalan—di atas trotoar.

Tukang becak turut mengambil langkah tepat untuk tidak lagi berada di persimpangan jalan, apalagi menumpuk di tengah keramaian.

“Harus bagaimana setelah stok makanan ini habis?” Tanya saya pada malam hari ketiga. 

Namun jarum jam tetap berjalan tanpa memberi tanda-tanda akan ada jawaban setelah pertanyaan itu. 

Tujuh puluh kali tujuh kali banyaknya pertanyaan yang muncul dalam benak saya.

“Bagaimana cara bertahan hidup di kota yang mati ini?” Pertanyaan lain ikut mengalir dengan sendirinya.

Bayangkan saja, antara memilih bertahan hidup di balik kota yang sudah berapa hari yang lalu telah mati. Keduanya berada pada titik yang berbeda. Namun masih saja menyatu dalam putaran waktu yang sama. Hidup dan mati.

Sedang media-media sibuk menyalurkan informasi terkait sejumlah korban yang jatuh terkapar secara bersamaan tanpa disadari, baik di rumah sakit, di jalan, maupun di rumah-rumah tempat tinggal warga.

Benar begitu adanya. Beberapa bagian hidup (memang asyik) berjalan di luar rencana. 

Seperti saat ini. Kematian itu datang secara tiba-tiba. Tak ada satu pun yang tahu bagaimana kematian itu masuk melalui sentuhan tangan. 

Tak ada lagi yang berani menertawakan peristiwa pilu yang mulanya dianggap sebagai lelucon setelah hari pertama media sosial ramai membagi tagar #dirumahsaja.

Atas tagar ini, saya kembali berpikir. Namun kali ini bukan lagi tujuh puluh kali tujuh kali, melainkan lebih banyak dari hitungan itu.

Jika air saja tak cukup untuk menghilangkan dahaga, bagaimana mungkin kita dapat bertahan di rumah, sedangkan tak ada satu pun jenis makanan yang kita kunyah dan masuk ke dalam perut?

“Apa benar peristiwa ini adalah satu strategi yang menghancurkan perekonomian bangsa kita?”

“Iya, bisa saja demikian!” 

Tetapi itu hanya sebatas perkiraan yang kebenarannya harus dipertimbangkan secara matang.

Pada hari kedelapan, media-media kembali memberikan informasi. Tetapi bukan lagi tentang grafik virus yang beredar, melainkan sepotong rekaman video berdurasi singkat. 

Potongan video tersebut berisi kebijakan baru yang bagi sebagian orang melegakan dan menjadikan anak tiri bagi sebagiannya lagi.

“..untuk segala bentuk pinjaman, kredit dan sejenisnya diberi kelonggaran selama satu tahun. Dan bagi perusahaan pembiayaan tidak diperkenankan untuk mempekerjakan pihak ketiga atau jasa penagihan.” 

Begitu kira-kira isi rekaman itu.

Mendengar itu, saya tarik napas dalam-dalam, lalu hembus, hingga tarikan ketiga, hampir tidak normal. 

Berat sekali rasanya membayangkan seberapa besar angka pengangguran di negara kita setelah perusahaan pembiayaan tidak lagi mendapat cicilan biaya pinjaman.

Pertanyaan lain juga muncul. Berapa banyak perusahaan pembiayaan yang ada di Indonesia? Berapa pajak yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut untuk negara? Berapa banyak karyawan yang di-PHK? Bagaimana nasib rumah tangga mereka itu? Siapa saja pihak yang diuntungkan dalam kebijakan ini? Adakah pihak yang merasa rugi dengan kebijakan itu? 

Sungguh pertanyaan-pertanyaan ini bikin merinding. Hari kedelapan berakhir begitu saja dengan memikul beban atas pertanyaan-pertanyaan itu hingga semburat warna merah kuning kembali menyapa dari ufuk timur.

Memasuki hari kesembilan dari empat belas hari. Pagi-pagi sekali, sepotong lirik lagu diputar berulang kali: (Bintang) 14 hari kumencari dirimu. 

Lagu yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Kangen Band. Salah satu ‘band Indonesia’ yang dulunya saya idolakan pada masanya berhasil membawa saya untuk kembali merefleksi diri. Tentang perjalanan panjang selama 14 hari. Entah itu mengisahkan tentang sebuah proses hidup, cinta untuk diri sendiri dan orang lain , atau berakhir dengan kehilangan. Ketiganya menyimpan banyak misteri. 

“Sampai kapan anak-anak kita tidak lagi mengkonsumsi susu, Pak?” 

Demikian ingatan saya tertuju pada pertanyaan istri pada suami suatu malam sebelum tidur. Cinta orangtua pada anak begitu besar di tengah situasi ini. 

Bagi saya, semua lagu yang berhasil ditulis dan dinyanyikan oleh penyanyi merupakan bentuk lain dari ungkapan hati. Indah nian nada yang dihasilkan dari petikan melodi. Do ke re, re ke do begitu seterusnya hingga menghasilkan nada-nada indah.

Lain lagi, di sudut ruangan, tepat berada di samping tape yang terus memutar lagu itu; beberapa buah buku tergeletak di atas meja kerja. 

Pesan dari setiap halaman di dalamnya juga beragam. Ada yang tak memberi makna sama sekali, beberapa lagi seperti mati, dan sebagiannya lagi memilih bertahan hidup tapi seperti tak memiliki banyak harapan. 

Betapa buku itu menggambarkan situasi 14 hari ini. Terus mencari, memutus, pergi dan menghindar lalu berakhir dengan tetap #dirumahsaja meski tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dari rumah.

Tidak sampai di situ. Putaran jarum jam secepat kedipan mata. Cepat sekali. Hampir tiga pekan tak lagi terdengar lonceng gereja berseru. Yang biasa setiap hari Sabtu menjelang maghrib atau hari Minggu setelah adzan subuh. Sedang, April sudah beranjak sejak Minggu kemarin. 

April bagi kami orang Nasrani bukan bulan biasa. Terbersit kisah di balik perjamuan malam terakhir di Yerusalem puluhan abad lalu. Mengenang peristiwa itu, kami pun turut merayakan kembali perjamuan itu dengan sebutan hari raya Paskah. 

Namun berbeda dengan tahun kemarin, dan kemarinnya lagi, tahun ini tak ada tanda-tanda bagi kami untuk merayakan perjamuan itu. Bahkan, perayaan minggu palma pun kami seperti kehabisan daun yang biasanya menghiasi rumah-rumah ibadah. Hampir tak ada sehelai daun pun dipajang di depan altar Gereja.

Minggu Palma merupakan perayaan pembukaan sebelum tri hari suci. Biasanya berselang selama tiga hari sebelum Kamis putih. Palma identik dengan hijau. Daun.

Bayang-bayang Paskah tetap bersikeras untuk tetap tinggal dalam ingatan. “Seperti apa Perjamuan Malam Kudus tahun ini?” atau “siapa saja orang-orang yang dipilih untuk mengisahkan kembali kisah sengsara yang tak pernah dilewatkan selama perayaan Paskah setiap tahun?”

“Siapa yang akan menjadi Yudas? Si pengkhianat dalam kisah itu?”

Namun hari ini, selang sehari sebelum hari raya Kamis Putih, berbagai kabar datang dari seantero jagat. 

Masih dalam minggu pertama bulan April, di tengah kabar Covid-19 yang terus mencetak angka kematian yang luar biasa, media sosial ramai dibanjiri kabar duka. Seorang telah pergi. Salah satu musisi legendaris Indonesia timur, Kaka Glenn Fredly berpulang. Ia pergi dua hari sebelum Jumat Agung. Kematian Kristus. 

Sungguh 14 hari yang menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehidupan (life), cinta (love), dan kehilangan (lose). []

 

Penulis: Osth Junas. Laki-laki penyuka anggrek. Lahir dari keluarga yang gagal terapkan program KB di salah satu desa kecil nan sunyi di Kecamatan Lamba Leda, Manggarai, Flores, NTT. Saat ini menetap di Surabaya, Jawa Timur

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here