Elegi di tanah kami

Mgr John Philip Saklil

Tiba-tiba saya teringat pada lamentasi atau elegi. Lamentasi merupakan ibadat. Semacam ratapan penuh air mata dan refleksi mahadalam.

Ini merupakan sebuah ibadat dalam tradisi gereja Katolik saat paskah. Dalam pekan paskah di ibadat trihari suci: Kamis putih, Jumat agung, dan Sabtu suci. Saat ibadat lamentasi, nyanyian dan doa dilantunkan penuh refleksi.

Umat beriman merenungkan penderitaan dan peristiwa keselamatan, baik peristiwa tentang bangsa Israel dalam perjanjian lama, maupun peristiwa keselamatan dalam perjanjian baru.

“Yerusalem, Yerusalem, kembalilah pada Tuhan Allahmu. Kini mulalah ratapan Yeremia… dst.”

Demikian penggalan syairnya. Kami menyanyikannya sejak SD. Dinyanyikan dengan koor. Suara sopran, alto, tenor, dan bass jadi satu: kidmat dan sendu.

Itu lain cerita. Dan hanya lamentasi saat pekan paskah. Awal Agustus tahun ini beda lagi. Ratapan itu kembali terdengar. Menggema sampai ke lembah, ngarai, bukit, kali, dan rawa-rawa Tanah Papua.

Ada berita kepada kawan. Kabar dari umat beriman. Kabar kematian. Papua diliputi duka. Pekan berkabung. Dari Timika hingga Jayapura. Lenso atau sapu tangan belum kering, air mata berderai di pipi.

Sedih. Sedih itu pasti, dan akan terus terkenang dalam catatan sejarah di tanah ini. Siapa yang air matanya tidak jatuh saat seorang anak manusia pergi untuk selamanya? Apalagi tokoh yang dianggap berkarisma dan menjadi gembala–pergi untuk selamanya berturut-turut dalam sepekan? Sebagai manusia, saya kira, siapa pun, air matanya menganak sungai

Pertama, Sabtu, 3 Agustus 2019. Uskup Timika Mgr Yohanes Philipus Gaiyabi Saklil Pr. meninggal. Awalnya dia jatuh, tapi nyawanya tidak tertolong saat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat Timika.

Dia baru seminggu ditunjuk Vatikan menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke menggantikan Mgr. Nicolas Adisaputra MSC.

Jadi, saat meninggal Uskup Saklil menjabat sebagai gembala umat di dua keuskupan di wilayah selatan Papua.

Lalu yang kedua, Pastor Yulianus Mote, Pr. Pastor Mote meninggal di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta, Minggu, 4 Agustus 2019. Dikabarkan bahwa kematiannya berawal saat jatuh di bandara Wamena, Jayawijaya. Lalu ia dibawa ke Jakarta untuk berobat. Di sana ia menghembuskan napas terakhirnya.

Beberapa tahun terakhir, ia memang dikabarkan sering sakit, sehingga harus keluar-masuk rumah sakit untuk berobat (cuci darah).

Dilanjutkan Pastor Izak Resubun MSC. Antropolog Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura ini, meninggal pada Kamis pagi, 8 Agustus 2019 di Jakarta.

Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa kematian itu pasti. Waktu dan tempatnya memang misteri. Tapi kematian itu pasti.

Siapa pun pasti akan meninggal dunia dan memulai kehidupan baru di alam baka. Kehidupan baru di surga atau neraka setelah melalui api pencucian. Itu keyakinan umat beriman Kristiani.

Namun, sebagai orang awam, peristiwa seperti di atas menimbulkan tanda tanya. Ada apa? Apakah Tuhan tidak menghendaki kehidupan di tanah yang disebut “surga kecil yang jatuh ke bumi” ini?

Saya yakin manusia-manusia di luar sana punya pertanyaan demikian. Walaupun formulasinya berbeda, toh intinya sama: bertanya. Apalagi di Papua.

Papua tentu berbeda. Kematian di tanah ini mesti dilihat dari beragam perspektif, sejauh untuk menjawab dahaga nalar.

Papua masuk dalam wilayah administrasi Republik Indonesia melalui penentuan pendapat rakyat (pepera) 1969. Lalu jadilah sekarang. Dua provinsi di ujung timur Nusantara. Punya Otonomi Khusus sesuai Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001.

Harus diakui, di sini, tragedi demi tragedi dilalui. Kematian misalnya. Saya tidak bisa menyebutkan satu per satu.

Tapi jika berjalan-jalan di laman maya, baik media sosial (medsos), maupun media massa dan buku-buku serta kajian, peristiwa kematian tentu tidak asing lagi. Bahkan lumrah terdengar dagelan: di sini semua mahal kecuali nyawa.

Musababnya bermacam-macam. Misalnya, sakit-penyakit, kecelakaan, dan konflik bersenjata.

Konflik bersenjata tak berujung. Bahkan sejak tanah ini masuk dalam wilayah “Dari Sabang Sampai Merauke”. Belakangan santer di Nduga–TNI vs TPN OPM–yang pecah sejak Desember 2018 dan mengorbankan masyarakat sipil.

Bagi orang Papua, saya kira, terutama penggiat kemanusiaan, kematian tokoh-tokoh umat, terutama umat Kristiani di atas tadi, menimbulkan semacam “ketakutan” dan juga protes. Seolah-olah dunia tidak adil bagi tanah air kami–tanah yang perut buminya dikeruk, hasil laut dan hasil hutan-hutannya berlimpah.

Saya kira, ini kematian yang lain dari yang lain selama satu dekade terakhir. Kenapa lain dari yang lain? Ya, itu tadi. Beruntun.

Peristiwa kematian tiga tokoh sepekan, akan menambah daftar trauma dan memoria pasionis. Barangkali. Bahkan kita lantas memerotes pada kenyataan.

Kawan saya menulis surat terbuka kepada Sri Paus Fransiskus di Vatikan. Entahlah pesannya sampai dan Beliau membacanya. Ataukah tertahan oleh jaringan internet yang macet-macet mengingat itu disebar ke media sosial.

Yang pasti, dia menulisnya berangkat dari rasa kehilangan mahadalam. Saat membaca surat kawan ini, saya jadi teringat Uskup Oscar Romero di El Savador.

Dia adalah uskup pembela rakyat kecil. Dia melawan ketidakadilan sosial, pembunuhan, penyiksaan, dan kemiskinan struktural. Suara-suara kritisnya berujung di depan senapan. Dia ditembak dan meninggal dunia saat sedang memimpin misa, pada suatu kesempatan di sebuah kapel, tahun 1980.

Beda memang dengan kematian tokoh-tokoh di sini. Lain di sini lain di sana. Lain Amerika Latin, lain Nugini Belanda. Uskup Romero ditembak tapi Uskup Saklil jatuh dan meninggal beberapa saat setelahnya.

Keduanya sama-sama pembela hak-hak domba-dombanya. Pastor Mote dan beberapa tokoh yang lainnya juga jatuh, berobat, dan meninggal. Mereka dikenal vokal bersuara dengan gaya khasnya tentang ketidakberesan di Papua.

Kehilangan jiwa, tiang, dan tokoh atau sosok yang dianggap sebagai pemimpin tak dibatasi ruang dan waktu. Artinya, penembakan Uskup Romero dan kematian beruntun sepekan di Papua, memang bikin “down”. Pukulan telak bagi pendamba keadilan. Domba-domba kehilangan gembalanya.

Apakah Vatikan sudi datang ke tanah ini, dan menurunkan timnya, untuk meneliti jazad para tokoh tadi? Ini mustahil. Tapi…

Pada 11 Juli 2019, otoritas Vatikan menggali dua kuburan di Vatikan, untuk menemukan jazad Emanuela Orlandi–gadis remaja Italia yang hilang misterius pada 1983. Penggalian dilakukan dengan mengambil sampel untuk dilakukan penyelidikan. Namun, kematian gadis itu belum menemukan titik terang.

Seandainya upaya Vatikan juga dilakukan di Tanah Papua. Terutama untuk menjawab pertanyaan dan kesangsian. Entahlah. Tapi harapan masih ada: dum spiramus speramus.

Kalaupun tidak menyata, semoga nyanyian ratapan menyulut semangat, terus menggema, mempertebal iman, dan memompa spirit perjuangan akan perdamaian dan cinta pada orang dan Bumi Cenderawasih. Berat memang. (*)

 

Sumber foto          : Katolik News

Sumber tulisan : Jubi.co,id

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *