Dua tiga September

Saya kena peluru nyasar di rusuk kanan. Dua kali. Kulit saya lecet. Lalu saya berteriak.

“Tolong! Tolong!”

Beberapa waktu kemudian saya sadar bahwa saya di rumah sakit. Seorang perempuan menolong saya rupanya. Di sekitar saya darah berceceran.

“Kenapa saya?”
“Kau ditembak.”
“Tolong! Tolong!”

Lalu saya terjaga. Kaget bangun. Puji Tuhan ini hanya mimpi. Efek semalam suntuk menonton Rambo: The Last Blood (2019).

Memori dimana John Rambo terbaring lemah di rumah sakit berkat pertolongan jurnalis perempuan, tersimpan di alam bawah sadar.

Jurnalis independen itu melihat Rambo di sebuah klub malam dan membuntuti pergerakannya, hingga menolong dia dari kebengisan kartel opium Mexico.

Rambo yang berusaha mencari keponakannya Gabrielle, terpaksa berhadapan dengan tantangan ganas. Mukanya blau. Digaris pakai pisau. Berdarah-darah.

Dia harus balas dendam demi keadilan. Gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa.

Meski akhirnya dia menyelamatkan Gabrielle, toh keponakan yang keras kepala, imut, dan cantik itu tak tertolong. Nyawanya tak tertolong saat perjalanan pulang ke rumah.

Sedih tentunya. Sia-sia kekuatan dan keahlian sang veteran perang Vietnam di Rambo: The First Blood (1982) itu menyelamatkan nyawa sang gadis belia.

Demikian sepotong adegan yang menjadi pengantar cerita saya hari ini, Senin, 23 September 2019. Saya tidak sedang mengulas Rambo 2019. Sebab soal itu sudah saya baca kemarin sore pada salah satu harian nasional.

Saya melihat jam pada telepon seluler. Oh, ternyata sudah pukul 9 pagi. Saya dibangunkan teriakan minta tolong lantaran peluru nyasar tadi. How pity of me. It’s only nightmare.

Ternyata di luar sana, tiga jurnalis Papua, kawan saya, mendapat intimidasi. Mereka adalah Benny Mawel, Hengky Yeimo dan Ardi Bayage.

Benny bekerja untuk Jubi kontributor The Jakarta Post dan Ucan Indonesiasebuah portal berita Katolik Asia. Menjadi jurnalis setelah menamatkan studi dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura. Hengky juga bekerja untuk Jubi. Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Muhamadyah Jayapura, yang bergabung dengan Jubi usai Majalah Selangkah “gulung tikar”, dan Ardi jurnalis media online Suara Papua. Lulusan Stikom Muhammadyah Jayapura juga.

Tiga kawan ini diintimidasi oknum polisi di Abepura. Dikatai sebagai media provokator saat hendak meliput pembukaan posko 700-an mahasiswa eksodus Papua di depan Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura.

Padahal media-media tempat kawan-kawan ini jelas. Kantornya jelas. Identitas mereka juga jelas. Dan pekerjaan jurnalistik dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Pasal 4 ayat 1, 2, 3, dan 4, serta pasal 5 dan pasal 6 Undang-Undang Pers dengan jelas menyebut soal tugas dan peranan pers sebagai lembaga dan jurnalis sebagai pekerja pers.

Apa yang salah dengan mereka sehingga aktivitasnya dilarang dan dikatai provokator? Baca baik-baik Undang-Undang Pers boleh.

Tapi, susah memang jika kita–meminjam sastrawan Pramoedya Ananta Toer–tidak adil sejak dalam pikiran terhadap sesama. Itu susah diubah. Apalagi jika dibarengi stigma.

Lama-lama muak juga terhadap model praktik oknum polisi seperti itu. Mengapa kejadian hari ini dilarang untuk diliput? What’s wrong? Inikah keadilan?

Mereka tidak diperbolehkan meliput aksi ratusan mahasiswa pagi ini di depan auditorium Universitas Cenderawasih Abepura.

Sebenarnya bukan aksi demo, tapi mahasiswa-mahasiswa itu mau buka posko. Posko mahasiswa eksodus Papua usai mendapat intimidasi di kota-kota studinya di beberapa wilayah di Indonesia.

Setelah dibawa ke kawasan Ekspo-Waena, Distrik Heram, sekitar 10 menit ke arah barat dari Abepura, terjadi keributan.

Di sini tragedi terjadi. Huru-hara. Gas air mata di sekitar kawasan Ekspo. Kemudian empat orang tewas usai pembubaran oleh aparat. Satu tentara dan tiga lainnya warga sipil (mahasiswa Papua).

Situasi jadi tegang. Senin sore hingga malam jadi sepi. Saat bersamaan, hari ini, keributan terjadi di Wamena.

Wamena adalah ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Butuh sekitar 45 menit dengan pesawat dari Jayapura.

Oknum guru di salah satu sekolah diduga menyebut “monyet” kepada siswanya. Umpatan itu menuai solidaritas. Lalu demo. Terjadilah ricuh.

Dua puluh dua meninggal dunia dan 24 lainnya luka-luka, sedangkan 4.500 orang mengungsi. Beberapa kantor juga jadi korban.

Polisi membantah bahwa ada umpatan “monyet” atau kera oleh oknum guru. Lalu kenapa jadi meledak? Kenapa ada protes? Ada asap pasti ada api.

Entahlah. Di tanah ini, segala cara barangkali “didesain” menjadi konflik. Ketamakan dan keegoisan menjadi tameng untuk merebut kepentingan. Mengorbankan nyawa sesama yang tak berdosa. Dan hanya menuntut keadilan.

Meminjam Thomas Hobbes (1588-1679), kini manusia bukan lagi menjadi teman bagi sesamanya (homo homini socius). Manusia justru berubah menjadi srigala bagi sesamanya (homo homini lupus).

Lalu apakah konflik terus dipelihara? Apakah kita hanya menonton atau sebaliknya, apa yang kita mau buat? Dialog damai? Bisa jadi iya.

Dialog itu mengandaikan bahwa tidak ada lagi kepentingan terselubung, selain win-win solution dan satu kata: damai, aman, tenteram, sejahtera, dan indah.

Dalam dialog, atau apapun namanya, kita mendengar dan didengar. Berbicara dari hati ke hati. Komunikasi intrapersonal dan interpersonal dengan orang Papua.

Gagasan dialog sudah lama diperjuangkan Jaringan Damai Papua usai memetakan masalah-masalah Papua dan kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menyebut empat akar konflik Papua.

Empat akar konflik Papua menurut LIPI adalah kegagalan pembangunan, diskriminasi dan marjinalisasi, kekerasan negara dan pelanggaran HAM, dan sejarah dan status politik Papua.

Beberapa hari terakhir yang “memanas” adalah soal rasisme. Korban rasisme menjadi perekat untuk menjaring solidaritas yang solid. Senasib dan sepenanggungan.

Aksi tolak rasisme dimana-mana. Hingga merembes menjadi pertumpahan darah, penangkapan aktivis Papua, pemblokiran internet, dan korban harta benda.

Tapi pelaku rasis tadi masih entah. Dihukum seperti apa juga kita belum tahu. Yang pasti buntut rasisme menjadi panjang. Hingga aksi hari ini.

Ya, sepanjang senjata menjadi mulut, sepanjang penyelesaian masalah Papua tidak menyentuh hal-hal substansial, sepanjang itu konflik terus bergejolak dan derita tak pernah pergi.

Orang-orang “besar” hanya bersiul, dan kita orang-orang kecil hanya berdoa: “kapankah bad day dan badai ini berlalu?” Itulah dua tiga September. Tahun ini. []

Foto: Ilustrasi dari Pixabay

#JPR24919

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *