Ditempa di asrama

Tadi malam, seorang kawan pulang dari kampung. Sebut saja namanya Inigos. Tiap Sabtu memang anak-anak diizinkan pulang. Terutama mereka yang rumahnya tak jauh dari sekolah. Dia salah satunya.

Inigos membawa oleh-oleh. Ada lombok, latung cero (jagung goreng) dan koja cero (kacang tanah goreng). Dia menyimpan oleh-oleh itu dengan sangat rapi. Dibungkus dalam kardus dan plastik kantungan. Lalu ditaruh di dalam peti.

Tiba-tiba datanglah dua kawannya, Gonzales dan Diabolus. Mereka hendak meminta koja dan latung cero pada Inigos.

“Kawan, bagi dulu!” Pinta Gonzales.
“Saya tidak bawa oleh-oleh, kawan!”
“Tapi tadi sa melihat kau makan koja di sudut asrama,” sambung Diabolus.
Tida ada e..!”

Karena penasaran, Diabolus mencari cara. Jemekos pun merapat. Dia memperhatikan kawannya yang satu ini. Mereka pun berembuk. Merancang strategi apik.

Inigos tak mengetahui rencana jahat beberapa kawannya itu. Ia melenggang kangkung. Malas tahu.

Teng!!!

Lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak berlari ke halaman sekolah. Meski lupa memasukkan baju ke dalam celana atau rok, anak-anak tak boleh absen mengikuti apel pagi. Jadi, pagi ini mereka harus berlarian ke sekolah.

“Tidak usah ke sekolah, kawan!” Ujar Jemekos.
“Baiklah. Kita bagi tugas,” jawab Diabolus.
“Saya eksekutor,” kata Gonzales.

Tibalah saatnya tiga serangkai ini beraksi. Gonzales lihai mencungkil grendel. Dia tahu seluk-beluk meninggalkan jejak paku dan parang. Diabolus hebat mengelabui dalam senyap, sedangkan Jemekos memantau kompleks asrama. Formasi yang lengkap. Masing-masing punya peran.

Singkat cerita koja dan latung cero berhasil diambil. Raib sekejab. Di peti seukuran 30×50 sentimeter hanya tersisa pakaian.

Beberapa jam kemudian…

“Astaga, siapa yang mencungkil peti saya?” Inigos memberi pengumuman.

Dia marah besar. Tapi seluruh penghuni asrama diam seribu bahasa. Lalu dia mendobrak meja makan. Membanting apa saja di depan mata. Menendang sejumlah peti, tikar, dan sepatu, di asrama dengan dua lantai itu.

Adik-adik kelas ketakutan. Kawan-kawan sekelas tidak merespons si Inigos. Tapi tiga serangkai ini saling beri kode. Ekspresi ditahan, jangan sampai diketahui si kawan yang mengamuk bagai singa kelaparan.

Beberapa waktu kemudian, selepas doa sore di gereja, mereka berkumpul di halaman asrama. Main gitar, diskusi dan men-sharing-kan pengalaman dan mimpi-mimpinya.

Inilah saatnya Gonzalez, Diabolus, dan Jemekos mengakui perbuatannya. Saat yang sama, Inigos menyadari bahwa dia dikerjai tiga kawannya. Jahil memang, tapi begitulah adanya.

Mereka lantas baku rangkul. Baku “olok” dan mengakui kesalahan masing-masing. Juga merelakan “kepergian” oleh-oleh tadi dan memaafkan satu sama lain.

Kacang tanah dan jagung boleh habis. Mereka su jadi tai. Tapi torehan persaudaraan, kerendahan hati dan refleksi terjelma di sini. Membekas.

Kisah di atas merupakan satu dari banyak kisah klasik yang terekam dalam ingatan selama belajar di SMPK Santu Stefanus Ketang, Lelak, Manggarai. Itu kiriman salah seorang kawan. Semacam kilas balik grup alumni. Saya mengolahnya kembali. Hanya pengantar refleksi singkat ini. Daripada ribut tentang zonasi, saya hanya menulis kisah kecil dan kesan yang tidak kan berlalu.

Bahwasannya kejadian semacam tadi pernah atau sering dialami anak-anak sekolah yang tinggal di asrama. Meski dengan versi berbeda, kejahilan seperti itu tak luput dari kehidupan berasrama. Semacam rupa-rupa kehidupan.

Tinggal di asrama sewaktu sekolah, baik SMP, maupun SMA memberi warna tersendiri bagi penghuninya. Mereka dilatih untuk hidup disiplin, rajin, solider, tekun, loyal, dan tabah menghadapi berbagai persoalan.

Kecuali itu, mereka benar-benar ditempa agar memiliki rasa memiliki terhadap kehidupan dan peka terhadap persoalan di sekitarnya.

Anak-anak yang masih lugu, mungkin manja–anak mami dan anak papi—kaya, miskin, semua disatukan dalam atap asrama, tempat tidur bertingkat, belajar sore, kerja sore, misa pagi, nonton bareng, dan segala tetek-bengeknya.

Mereka betul-betul dilatih untuk “mati raga” dan bukan mati rasa. Makanannya bukan empat sehat lima sempurna, melainkan seadanya: nasi, sayur, dan sesekali ikan asin dan daging babi saat pesta famili–pesta santo pelindung, sekolah, dan gereja.

Hal-hal kecil yang luput dari didikan orangtua, boleh jadi ditempa di sana. Anak-anak betul-betul dibina dengan disiplin yang ketat.

Mereka belajar, tidak hanya ilmu pengetahuan saat kegiatan belajar mengajar, tapi juga menjalani kehidupan bermasyarakat yang ideal.

Orang-orang yang pernah tinggal di asrama pasti mendapatkan banyak hal. Lebih dari apa yang saya sebutkan tadi.

Pendidikan berpola asrama merupakan ciri khas didikan gereja Katolik di Pulau Flores. Terutama sejak misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) menapakkan jejak pengabdian pada Tana Congkasae, awal abad ke-20.

Hampir pasti sekolah-sekolah swasta (yayasan) mewajibkan anak-anak tinggal di asrama. Tak hanya seminari dengan keunikan dan kekhasannya, tapi juga sekolah-sekolah swasta lainnya, baik di ibu kota kabupaten, maupun di daerah pelosok.

Biasanya anak-anak asrama punya seorang pembina. Umumnya guru berpengalaman atau frater yang menjalani masa tahun orientasi pastoral (TOP) dan suster-suster untuk anak-anak perempuan.

Mereka melakukan aktivitas secara bersama: belajar sore, malam, doa pagi (sore dan malam), kerja bakti, rekreasi, pesiar, diskusi, dan satu meja makan beranggotakan enam sampai tujuh orang.

Saat berkumpul di meja makan, misalnya, lombok atau lauk apapun yang dibawa dari kampung, dirasakan bersama. Satu meja satu rasa.

Sebenarnya masih banyak hal yang dilukiskan. Intinya, dalam kehidupan berasrama, banyak hal didapat.

Kebersamaan, kekompakan, kejujuran, solidaritas dan rasa sosial, serta kedisiplinan sangat dijunjung tinggi.

Itu juga terbentuk dengan sendirinya, seiring pertumbuhan dan kematangan usia remaja. Maka tidak mengherankan ikatan batin dan jalinan kekerabatan mengakar kuat di sanubari alumni.

Betapa tidak, semua kegiatan dilakukan bersama-sama; mulai dari belajar, kerja, doa, hingga pesiar dan pacaran. Ups, yang terakhir adalah pengecualian.

Meski demikian, ada anak yang tidak tahan lantas keluar dan memilih pindah sekolah. Namun, masih banyak yang bertahan dalam situasi seperti itu hingga tamat.

Jika sistem zonasi, seperti yang diberitakan di media massa–mewajibkan anak-anak di untuk sekolah di lingkungannya, maka cepat atau lambat sistem pendidikan berpola asrama ditiadakan.

Untuk daerah dengan tingkat kesulitan yang tinggi seperti Flores (dan Papua)–medan yang bergunung-gunung, bukit, lembah–sistem pendidikan berpola asrama, merupakan kekhasan yang mesti dipertahankan, dan merupakan keharusan. Model seperti ini, terutama di Manggarai, bahkan sudah menginjak usia seabad bila merujuk misi gereja sejak awal abad 20. []

Foto: Kompleks SMPK St. Stefanus Ketang, Manggarai, Flores – Facebook/Lerry Jempau

Jpr, 25JN19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *