Di Manggarai Timur kenapa kita mesti ‘nge-gas’?

4
174
Lambaleda Manggarai Timur
Lokasi tambang mangan di Sirise, Desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur, NTT - Foto/JPIC-OFM/Mongabay Indonesia

Ada dua catatan yang semestinya diselesaikan saat ini yakni Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan rencana pembangunan pabrik semen di Luwuk, Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur, Flores, yang menuai banyak pro dan kontra dari masyarakat di Manggarai Timur khususnya, dan Nusa Tenggara Timur umumnya, para aktivis mahasiswa, LSM, maupun peneliti lingkungan hidup.

Beragam kampanye beredar di media sosial. Banyak pihak yang menolak kehadiran pabrik ini dan tidak sedikit juga yang mendukung. Semuanya terekam baik melalui media cetak maupun elektronik.

Beberapa waktu lalu sebelum beredar isu pembangunan pabrik semen, Bupati Agas menuai banyak komentar positif dari masyarakat terkait langkah cepat dan tepat dalam mengambil keputusan menangani sejumlah warga yang hendak pulang kampung dari daerah yang terpapar pandemi Covid-19.

Namun, komentar tersebut tidak bertahan lama setelah kehadiran satu persoalan pelik. Pemerintah kita kembali dihadapkan pada satu permasalahan lain yang tidak kalah serius dari pandemi Covid-19. 

Dari persoalan itu, masyarakat justru menilai bahwa Manggarai Timur di bawah kepemimpinan Bupati Agas sangat buruk. Rekam jejak kepemimpinan Bupati Agas kembali ditelusur mulai dari persoalan tapal batas Kabupaten Manggarai Timur dengan Kabupaten Ngada pada akhir tahun 2019, hingga rencana pembangunan pabrik semen yang melahirkan banyak perdebatan.

Isu pembangunan pabrik semen ini belum menemukan titik terang. Langkah PT Istindo Mitra Manggarai (IMM) dan PT Semen Singa Merah (PT SSM) NTT, yang masing-masing akan membuka pertambangan batu gamping dan pabrik semen di Kampung Lingko Lolok dan Kampung Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda, kini menuai pro dan kontra di berbagai kalangan.

PT IMM berencana melakukan penambangan di area seluas 599 ha di Lingko Lolok dan sudah mengantongi IUP Eksplorasi. Bermitra dengan PT. SSM, keduanya juga berencana membuka pabrik semen di Kampung Luwuk.

Beberapa pihak mengaku trauma dengan kehadiran tambang yang pernah beroperasi di wilayah tersebut. Kehadiran perusahaan tambang tidak sedikit pun memberikan dampak baik bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. 

Sedangkan pihak lainnya tetap bersikeras mempertahankan argumen, bahwa dengan kehadiran pabrik ini, lapangan kerja akan terbuka luas. Dengan begitu angka pengangguran di Manggarai Timur akan menurun.

Dari kedua tanggapan sederhana itu, yang bagi saya merupakan akar persoalan dari perdebatan panjang antara pihak pro dan kontra dengan kehadiran pabrik semen ini, saya coba mengambil sebuah kesimpulan berdasarkan pandangan personal.

Tanggapan ini bisa dibawa ke ranah diskusi yang tidak menyesatkan publik. 

Bahwa pihak pertama sudah mengalami hal serupa, sehingga mereka tidak ingin kembali jatuh ke dalam sejarah masa lalu yang buruk, dan tanggapan pihak kedua adalah bentuk tanggapan yang belum tentu benar-benar akan terwujud.

Kenapa demikian?

Pertama, seberapa besar angka pengangguran di Manggarai Timur? Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Manggarai Timur mencatat pada tahun 2017 jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka sebanyak 0,50%. 

Itu artinya selain bekerja di instansi pemerintahan, warga Manggarai Timur masih berharap penuh pada sektor pertanian. Ketika masyarakat Manggarai Timur kehilangan lahan pertanian, apakah itu tidak mencatat angka pengangguran yang baru?

Kedua, perusahaan mana yang mau mempekerjakan tenaga kerja dengan keahlian yang terbatas? 

Sederhananya begini; perusahaan mana yang menginginkan kerugian besar dengan cost of production (biaya produksi) menurun yang erat kaitan dengan komponen laba-rugi (income statement)?

Keduanya menjadi satu komponen yang cenderung tidak stabil apabila kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menurun. 

Kendati demikian, pihak perusahaan sudah mempersiapkan alat produksi yang canggih di bawah kendali orang-orang yang berkompeten di bidangnya. 

Berkaca dari fakta, di Manggarai Timur kualitas SDM kita masih terbatas, khusus untuk pengoperasian alat-alat produksi modern. Lalu, siapa yang harus bekerja di sana? 

Kembali ke pertanyaan kedua; perusahaan mana yang menginginkan kerugian dengan memberi upah tenaga kerja dengan cost produksi menurun? 

Kalau pun mempekerjakan warga asli tempat pabrik itu dibangun, tetapi dengan kapasitas yang sedikit sebagai tenaga harian lepas, bukan pekerja yang memiliki kontrak tetap dengan perusahaan.

Pro dan kontra terus-menerus membayangi pembangunan pabrik semen ini. Kajian teori sudah disodorkan kepada pihak pengambil keputusan, baik itu upaya meminimalisir angka pengangguran di Manggarai, maupun seberapa besar dampak kerusakan lingkungan akibat kehadiran pabrik serupa, seperti yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Para petani akan kehilangan lahan pertanian.

Di Manggarai Timur; kenapa kita mesti nge-gas?

Nge-gas bukan bahasa baku. Istilah ini sangat dekat dengan generasi millenial yang dapat diartikan sesuai konteks. 

Sederhananya, nge-gas itu cenderung ingin menang sendiri, keras kepala dan selalu menganggap diri benar tanpa berdasar pada data yang akurat. 

Pada konteks ini, nge-gas dikaitkan dengan dialog interaktif, baik antarpihak pro dan kontra (beberapa elemen baik mahasiswa, pakar politik), maupun masyarakat umum yang memberikan komentar tanpa melalui kajian teori yang matang.

Sejak dikabarkan akan ada pembangunan pabrik semen di Luwuk, Kecamatan Lambaleda, pengguna facebook ramai membuka forum diskusi. Salah satu forum diskusi yang saya ikuti yaitu Pembangunan Manggarai Timur

Forum ini dinilai cukup baik karena mampu membuka forum diskusi publik dengan mengangkat topik hangat yang terjadi di Manggarai Timur saat ini. Tetapi beberapa pihak dengan sengaja menggiring diskusi ini melalui akun-akun palsu yang bersifat provokatif. 

Kehadiran akun palsu ini dengan mudah mengangkat opini di dalam forum diskusi yang berakibat pada etika komunikasi media sosial masyarakat kita menjadi lebih buruk. 

Pihak pro dan kontra diadu dengan nada komentar nge-gas yang berakibat ingin menang sendiri.

Menanggapi isu pembangunan pabrik semen ini, saya mengajak semua pihak yang terlibat dalam mengawal proses pembangunan di Manggarai Timur saat ini, agar kembali mempertimbangkan dengan matang. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan cara nge-gas

Kita perlu memikirkan juga pihak-pihak yang menjadi korban dari kebijakan itu. Adakah pihak yang merasa dirinya dirugikan dan diuntungkan? Siapa yang peduli? []

Penulis: Osth Junas,. Laki-laki penyuka anggrek. Lahir dari keluarga yang gagal terapkan program KB di salah satu desa kecil nan sunyi di Kecamatan Lamba Leda, Manggarai, Flores, NTT. Saat ini menetap di Surabaya, Jawa Timur

4 KOMENTAR

  1. Dampak yang terjadi jika dibuka pabrik Semen, yaitu:
    Dampak Positif
    1. Dapat meningkatkan Pendapatan Aset daerah
    2. Lapangan pekerjaan dapat bertambah
    3. Angka penggangguran dapat menurun
    Dampak Negatif
    1. Faktor Lingkungan : Seperti Kebun, sawa, akan menjadi hilang dan akibatnya pendapatan daerah dibidang pertanian akan menurun.
    2. Kehilangan aset dalam keluarga yaitu tanah. Mereka tidak pernah berpikir generasi yang akan datang khusunya anak cucu mereka, jika mereka membutuhkan tanah untuk mendirikan rumah, tidak tau mereka mau dapat tanah darimana.
    3. Kembali ke dampak positif, jika pengangguran dapat menurun, belum tentu. Alasannya karena tidak semua masyarakat yang menganggur dikabupaten manggarai Timur akan memiliki pekerjaan yang sama, apabila menjadi tenaga kerja Dipabrik semen yang dominan pekerjaannya menggunakan tekonologi yang belum tentu masyarakat mengerti mengerti dalam menggunakan teknologi tersebut.

    Semoga pendapat saya bisa diterima.

    • Di lain sisi saya kadang berpikir jauh kalau misalnya pabrik semen ini ada di Matim. Saya dukung dengan alasan begini; pertama, kita tidak tau kedepannya Matim ini seperti apa serta perkembangan di dalamnya. Kemudian dengan kahadiran pabrik ini mampu mempekerjakan tenaga kerja kita (pribumi). Hanya rusaknya skrng, setiap pembangunan apa saja di Indonesia umumnya selalu dilabeli dengan isu politik dan seakan keuntungan berpihak pada penguasa.

      Sah2 saja pabrik ini dibangun, hanya harus dengan pertimbangan matang karena saya pribadi mengamati sejauh ini SDM maupun infratruktur kita masih di bawah angka layak. Apalagi dikabarkan warga kampung akan dipindahkan ke tempat lain setelh pabrik semen berhasil direlokasi. Masyarakat kita susah untuk berpikir sejauh itu.
      Kedua, kalau memang niat pemerintah baik, setidaknya pola pendekatan ke sana mestinya ditata. Dengan demikian, kesannya pemerintah tidak sedang meraup keuntungan sendiri.

      Dan tidak salah juga masyarakat di sana traum, sebab dulu pernah ada tambang di tempat yang sama. Tugas pemda matim harus mampu meyakinkan mereka.
      Itu kalau mau jalan, saya pikir sederhana sekali cara pendekatan ke masyarakat. Tetapi setelah melihat tayangan video yang beredar, seolah Bupati Matim sedang memaksa masyarakat untuk setuju dengan kehadiran pabrik semen ini. Padahal kita di Manggarai ada salah satu tradisi yg baik untuk membuka forus diskusi. Yaitu lonto cama. Saya melihat sekarang masyarakat kehilangan pilihan lain. Kenapa Pemda Matim berpihak pada pabrik? Kalaupun alasan lainnya PAD akan meningkat, kita coba berkaca pada Kabupaten lain di Indonesia timur, apakah instansinya kaya dari perusahaan yang sedang beroperasi? Tidak juga. Yg ada bukan instansi yg kaya, tapi orang2 di dalam instansi tersebut.

  2. Di lain sisi saya kadang berpikir jauh kalau misalnya pabrik semen ini ada di Matim. Saya dukung dengan alasan begini; pertama, kita tidak tau kedepannya Matim ini seperti apa serta perkembangan di dalamnya. Kemudian dengan kahadiran pabrik ini mampu mempekerjakan tenaga kerja kita (pribumi). Hanya rusaknya skrng, setiap pembangunan apa saja di Indonesia umumnya selalu dilabeli dengan isu politik dan seakan keuntungan berpihak pada penguasa.

    Sah2 saja pabrik ini dibangun, hanya harus dengan pertimbangan matang karena saya pribadi mengamati sejauh ini SDM maupun infratruktur kita masih di bawah angka layak. Apalagi dikabarkan warga kampung akan dipindahkan ke tempat lain setelh pabrik semen berhasil direlokasi. Masyarakat kita susah untuk berpikir sejauh itu.
    Kedua, kalau memang niat pemerintah baik, setidaknya pola pendekatan ke sana mestinya ditata. Dengan demikian, kesannya pemerintah tidak sedang meraup keuntungan sendiri.

    Dan tidak salah juga masyarakat di sana traum, sebab dulu pernah ada tambang di tempat yang sama. Tugas pemda matim harus mampu meyakinkan mereka.
    Itu kalau mau jalan, saya pikir sederhana sekali cara pendekatan ke masyarakat. Tetapi setelah melihat tayangan video yang beredar, seolah Bupati Matim sedang memaksa masyarakat untuk setuju dengan kehadiran pabrik semen ini. Padahal kita di Manggarai ada salah satu tradisi yg baik untuk membuka forus diskusi. Yaitu lonto cama. Saya melihat sekarang masyarakat kehilangan pilihan lain. Kenapa Pemda Matim berpihak pada pabrik? Kalaupun alasan lainnya PAD akan meningkat, kita coba berkaca pada Kabupaten lain di Indonesia timur, apakah instansinya kaya dari perusahaan yang sedang beroperasi? Tidak juga. Yg ada bukan instansi yg kaya, tapi orang2 di dalam instansi tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here