Di Dondai ditemukan situs hunian prasejarah

Penelitian arkeologi di Danau Sentani bagian barat, tepatnya Kampung Dondai, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, Papua menemukan situs hunian prasejarah. Situs ini oleh masyarakat setempat disebut Yomokho, dipercaya sebagai lokasi hunian nenek moyang mereka.

Survei di Situs Yomokho, berhasil menemukan manik-manik batu, pecahan gerabah dan gigi babi. Manik-manik yang ditemukan berbentuk bulat dengan panjang 17 cm dan lebar 7 cm serta diameter lingkaran lubang 2 cm.

Situs Yomokho terletak di tepi Danau Sentani dan dekat dengan hutan sagu. Manusia prasejarah memilih tempat ini untuk dihuni dengan pertimbangan permukaan tanah datar, dikelilingi oleh bukit sebagai perlindungan, dekat dengan sumber air danau serta sumber makanan berupa hutan sagu.

Hutan sagu menghasilkan tepung sagu, ulat sagu dan daun. Pelepah dan kulit pohon sagu dapat digunakan untuk konstruksi rumah.

Selain itu, Danau Sentani terdapat berbagai jenis ikan yang dapat dikonsumsi. Berdasarkan ukuran manik-manik yang ditemukan, manik-manik tersebut tidak dipakai sebagai perhiasan, tapi digunakan sebagai alat pembayaran mas kawin.

Temuan gigi babi, menunjukkan bahwa manusia prasejarah yang menghuni Situs Yomokho juga hidup berburu. Di balik bukit yang melindungi Situs Yomokho terdapat hutan hujan tropis.

Ekskavasi atau penggalian yang dilakukan oleh Balai Arkelogi Papua di Situs Yomokho, Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura juga berhasil menemukan obsidian.

Obsidian yang ditemukan dalam bentuk pecahan. Pecahan obsidian ini dihasilkan lewat pemangkasan dari batu inti dalam proses pembuatan alat serpih. Obsidian menjadi komoditas utama yang diperdagangkan oleh mereka yang mempunyai budaya Lapita.

Orang-orang Lapita berasal dari Pulau Manus, Britania Baru, sebelah utara Papua Nugini. Mereka melakukan serangkaian perdagangan jarah jauh dengan menggunakan perahu layar bercadik pada 3500 tahun yang lalu.

Jaringan perdagangan orang Lapita ini termasuk salah satu jaringan dagang yang paling mula-mula sekaligus paling luas jangkauannya pada zaman prasejarah, hingga mencapai Sabah dan Fiji.

Secara geologis, obsidian tidak didapatkan di kawasan Danau Sentani dan pegunungan Cyclops, temuan obsidian di Situs Yomokho, membuktikan bahwa pada masa prasejarah, telah terjadi kontak antara manusia penghuni Danau Sentani dengan luar.

Obsidian yang ditemukan di Situs Yomokho, menunjukkan bahwa kawasan Danau Sentani pada masa prasejarah, menjadi bagian dalam jaringan perdagangan Lapita.

Hal ini didukung oleh hutan sekitar Danau Sentani dan pegunungan Cyclops yang menghasilkan komoditas khas berupa burung cenderawasih, untuk dipertukarkan dengan obsidian-obsidian dari Britania Baru.

Budaya Lapita telah sangat maju sehingga memungkinkan orang Lapita mampu mengadakan perjalanan laut yang sangat jauh sampai bisa mencapai pulau-pulau di Pasifik hingga pesisir utara Papua dan pulau-pulau di lepas pantai Papua. Sekitar 2500 tahun yang lalu, jaringan dagang Lapita mengalami kemunduran. []

Foto: Obsidian – Dok. Penulis
Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *