Cowboys in paradise

0
29
Tangkapan layar Youtube

Lukman dari Jakarta, merantau ke Bali. Di sana dia bekerja. Lalu bertemu dua teman kerjanya. Namanya Bambang dan Sadikin.

Bambang adalah komika jebolan Suci 3 Kompas TV dan Sadikin adalah komika Muhadkly Acho yang kental dengan logat Makassar-nya, sedangkan Lukman adalah Ricky Harun.
Tiga sekawan ini menceritakan motivasi masing-masing. Sadikin bekerja untuk membiayai adik-adiknya, Lukman untuk menampung uang, agar bisa menyusul Dewi (Jessica Mila); pacarnya yang kuliah di London, dan Bambang untuk…, ups sa lupa.
Itulah sepintas film berjudul “From London To Bali (2017)” yang saya tonton Kamis, 30 April 2020.
Karena hampir tiap channel menyajikan berita virus corona, dan saya su bosan dengan berita-berita virus corona tiap hari, dengan terpaksa saya menonton sinetron, yang kebetulan film tadi sedang nongol di salah satu channel. Terutama juga karena setting-nya di Bali.
Ceritanya kurang lebih tentang si Lukman dan dua kawannya yang bekerja sebagai cowboy.  
Dalam sepenggal dialognya, Putu (Nikita Willy) yang awalnya jatuh cinta dengan Lukman, kemudian tidak menyukainya setelah mengetahui, bahwa Lukman bekerja sebagai cowboy dan cowboy dianggap merusak pariwisata Bali.  

Keduanya lalu kabur dan kawan-kawan bisa tonton sendiri di youtube. Saya kira ada di sana dan semoga tontonannya menghibur.  
Saya pun penasaran dengan kata “cowboy” dan “merusak Bali” tadi. Apa dan mengapa “cowboy” dan “merusak Bali” itu?
Tahun 2012, saya ada kaos jogger bertulis, kurang lebih seperti ini:

“Cowboys in paradise
Pagi jadi room boy
Siang jadi cow boy
Malam jadi play boy.”

Kalau numpang lewat di Bali atau kebetulan mengikuti kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan jurnalistik, seperti pelatihan, saya biasa maen-maen ke Krisna, untuk sekadar mencari kaos dengan tulisan nyentrik, tapi asyik dan agak bijak. Bukan bijok.  

Seperti tulisan itu tadi, atau yang ini:

“Good morning selamat pagi, berpikirlah yang baik-baikGood morning selamat pagi berkatalah yang baik-baikGood morning selamat pagi, berbuatlah yang baik-baik.”  

Mungkin juga ini: In Bali everyday is holiday“.

Wait, forget it! Kembali ke muka. Soal dua barang itu tadi. 


Setelah berkutat dengan penasaran, saya lalu jalan-jalan ke google. Cek and recheck kata “merusak” dan “cowboys” itu. Hitung-hitung, jalan-jalan di laman Paman Google itu, semacam “my trip my day in my dumay.

Eh, mumpung hari ini 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, maka ditambah “Happy May Day” juga, atau Bulan Maria dalam tradisi kami—tradisi Kristiani Katolik.

Setelah berjalan lama di laman maya, saya mendapat, paling tidak, sedikit gambaran. 

Selama ini saya hanya mengetahui cowboy di film-film gembala sapi di Amerika, lagu-lagu berirama country dan topi cowboy. Itu saja.
Peternak sapi di Amerika Serikat, tepatnya di pinggirian kota Dodge, negara bagian Kansas, menceritakan bagaimana keras dan sederhananya bekerja sebagai peternak sapi. 

Mereka bekerja sejak pagi dan pulang pada sore harinya. Hidup mereka sangat sederhana dan peternakan sapinya menjadi tempat magang. 

Dalam kamus saku terbitan Oxford University Press (New Edition hlm. 95) cowboy berarti “man who looks after cattle in western parts of the US (Pria yang memelihara ternak di Amerika Serikat bagian barat), dan builder, plumber, etc who does work poorly or dishonestly dalam percakapan informal bahasa Inggris British (pembangun, tukang ledeng, dan lain-lain yang bekerja buruk atau tidak jujur).

Kata cowboy juga sudah dibahasaindonesiakan. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinikan kata koboi yang berarti penggembala sapi yang menaiki kuda di Amerika, dan orang yang bertindak seenaknya sendiri (melanggar aturan, menghakimi sendiri, suka berkelahi, dan sebagainya).
Cowboy juga lekat dengan perang, seperti di film-film itu, yang dengan gagah menaiki kuda bersama senapan revolver dan beradu tembak, serta lekat dengan kriminalitas.
Pencarian saya tidak berhenti di situ. Kalo itu yang dimaksud, masa dianggap merusak Bali seperti dalam dialog dalam sinetron tadi?
Tahun 2010, film berjudul “Cowboys In Paradise” menjadi booming dan juga ditolak orang-orang Bali. 

Film dokumenter yang disutradarai pria asal Singapura, Amit Virmani itu, menceritakan kehidupan para “cowboy” atau “anak pantai” dan disebut terinspirasi dari artikel dalam majalah lokal berjudul “Kuta Cowboys” seperti ditulis Wikipedia.
Film ini kemudian ditolak karena dianggap melenceng dan merusak pariwisata Bali. Pariwisata Bali dikenal dengan 3S—Sea, Sand, Sun—selain religiositas dengan 1000 Pura-nya.
Kantor Berita Antara dalam berita berjudul Cowboys in Paradise” Langgar UU Perfilman” Rabu, 28 April 2010 memberitakan bahwa pengambilan film diduga melanggar Undang-Undang Perfilman Republik Indonesia dan pemerannya diduga ditipu seperti dilaporkan Voa Indonesia.
Film itu juga dinilai oleh tokoh agama merusak citra pariwisata Bali, seperti diberitakan Voa Indonesia dalam berita berjudul Tokoh Agama di Bali Protes ‘Cowboys In Paradise’, yang dipublikasikan 4 Mei 2010.
Setelah membaca berbagai referensi-referensi di atas, setidaknya saya mendapat gambaran dari rasa penasaran atas dua pertanyaan pada awal tulisan kecil ini. 

Saya pun teringat lagi pada Bali, pada tulisan pada kaos oblong terkeren.
Good morning selamat pagi, berpikirlah yang baik-baik
Good morning selamat pagi berkatalah yang baik-baik
Good morning selamat pagi, berbuatlah yang baik-baik.
Tulisan kecil ini pun selesai dan tidak sedang menganalisis atau mengomentari film Cowboys in Paradise, tetapi mencari sebuah jawaban. 

Bisa jadi film From London To Bali terinspirasi dari film dokumenter ini?  Oh, saya tidak tahu dan tidak sedang mengulas film itu. 

Selamat Hari Buruh Internasional dan libur corona dan juga selamat menonton film-film menginspirasi dari rumah. []
#JPR1520

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here