Cerita radio Nikolaus Dahu di Lembah Wajur

Penulis: Markus Makur, kontributor Kompas.com

0
radio zaman dulu
Penulis dan sketsa Nikolaus Dahu - Dok. Pribadi

Kampung Lembah Wajur, Desa Wajur, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur memiliki cerita dan kisah menarik. Dulu kampung ini adalah sebuah dusun, yang tergabung di Desa Tueng, Kecamatan Kuwus. Saat itu belum mekar menjadi Kabupaten Manggarai Barat, masih bergabung dengan kabupaten induk Manggarai. Apa cerita dan kisahnya? 

Adalah seorang kepala keluarga di uku Besi Kolang. Namanya, Nikolaus Dahu. Anak sulung dari pasangan Antonius Agur dan Paulina Pawil. Antonius Agur merupakan anak sulung dari pasangan Lasarus Sambung dan Nati. Buah hati dari Sambung dan Nati, lahirlah, Antonius Agur, Nikolaus Nekeng dan Beda Bakung. Saya lupa saudari mereka.

Zaman dulu, sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, kampung ini sunyi. Sepi. Jauh dari keramaian. Penduduknya juga masih sedikit. Penuh hutan. Penuh dengan pohon Wajur. Maka dinamakan Kampung Wajur. 

Mereka semua migrasi atau long, cari tanah subur dari kampung asli Kolang yang berada di Lembah Kolang. Mungkin zaman primitif itu menganut kepercayaan animisme. Tahun demi tahun, masuklah penjajah Belanda dan diikuti penjajah Jepang. 

Kemungkinan perkembangan media komunikasi zaman itu adalah radio. Radio berfungsi untuk menyiarkan berita dari berbagai belahan dunia. 

Kemudian, lahirlah Nikolaus Dahu. Putra sulung dari pasangan Antonius Agur dan Paulina Pawil. Dirawat. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Diberikan asupan gizi yang bersumber dari alam hasil olahan tangan kedua orangtua. Tentu yang bergizi adalah asupan air susu ibu (asi) dari Mama Paulina Pawil. 

Ia bertumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu, hari ke hari. Minggu demi minggu dan tahun demi tahun. Kemudian masuk misionaris Serikat Sabda Allah dan memperkenalkan Sang Emanuel (Allah menyertai kita).

Kemudian Nikolaus Dahu mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat Katolik (SRK) Wajur yang didirikan misionaris Serikat Sabda Allah (SVD). 

Dikisahkan secara lisan bahwa Nikolaus Dahu sangat pintar, cerdas selama mengikuti pendidikan aljabar, membaca dan menulis. 

Zaman itu menjadi sarana utama adalah batu tulis. Dibutuhkan kecerdasan ingatan karena setelah diajarkan oleh guru katekis zaman itu langsung dihapus. 

Nikolaus Dahu ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Namun, adik-adiknya sudah lahir. Orang tuanya meminta dia untuk menyelesaikan pendidikan dasar saja dan membantu orangtua untuk merawat dan mendampingi adik-adik. Karena permintaan orangtuanya, maka Nikolaus Dahu mengalah.

Selanjutnya bersama orang tua ia kerja kebun. Tanam jagung. Tanam padi di ladang. 

Saat itu belum mengenal sawah. Tekun. Fokus. Disiplin dengan waktu. Bangun pagi sebelum ayam berkokok menjadi kebiasaan hariannya. Ulet. Kerja kerja keras. 

Dempul wuku tela tuni menjadi prinsip hidupnya. Kemudian dia menikah dengan tulang rusuknya, Maria Ke’set, asal Kampung Lembah Wetik. 

Belajar secara mandiri dengan keterampilan pante minse. Dari pante minse memiliki uang. Uang itu untuk keperluan dalam keluarga. Membeli kain songke. Kain tetoron. Celana pendek, dan lain sebagainya. Dan satu hal yang baik adalah membeli radio. 

Merek radio yang terkenal waktu itu adalah National. Muncul Sony dan philips. Mengapa Nikolaus Dahu membeli radio. 

Dalam benaknya, perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan harus diketahui hingga di pelosok-pelosok Indonesia. Mendengarkan perkembangan Indonesia dan luar negeri. Mendengarkan musik lewat radio. Siaran-siaran BBC London, BBC Australia dan siaran berita seputar perkembangan Indonesia harus diketahui olehnya. 

Hingga saya lahir, besar, sekolah sampai kuliah masih ada radio tersebut. Saat itu belum berkembang pesat produksi elektronik seperti televisi. Penghasilannya dari olahan gola Kolang diperuntukkannya beli baterai. 

Setiap pagi dan sore, radio dihidupkan untuk mendengarkan RRI, BBC London dan BBC Australia. Perkembangan politik, ekonomi dunia diketahui lewat siaran radio tersebut. Perkembangan perpolitikan, ekonomi Indonesia diketahui lewat siaran RRI. 

Biasanya, baterai dijemur jika tidak ada energi lagi, sebelum membeli yang baru. 

Seluruh anggota keluarga di rumah damai Wajur selalu terhibur. Biasa dipinjam oleh adiknya, Benediktus Nehe untuk mendengarkan siaran berita serta mendengarkan lagu-lagu nostalgia zaman itu.

Adiknya itu biasa beli baterai agar radio tetap berfungsi. Bersyukur bahwa radio tidak rusak. Ada saatnya radio rusak. Beli yang baru di Kota Ruteng. Mencari merek yang lebih bagus. Radio itu untuk mendengarkan siaran dari RSPD Ruteng, milik Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai.

Dalam kesunyian di kampung lembah Wajur yang hanya dinyalakan oleh lampu pelita dihibur oleh siaran dari radio tersebut. Dalam kesepian serta melepaskan kelelahan karena kerja keras sepanjang hari dihibur dengan siaran radio dari frekuensi BBC London dan BBC Australia. 

Pemancar dari BBC London dan Australia bisa tembus di pelosok-pelosok Nusantara Indonesia. Biasanya sebelum makan malam bersama anggota keluarga serta Nenek Antonius Agur, radio diputar di ruang tamu yang luas. Volume radio besar agar semua anggota keluarga mendengarkan siaran yang diselingi lagu-lagu, baik lagu barat maupun Indonesia. 

Terima kasih banyak Ame Nikolaus Dahu yang mendidik, melatih kami anak-anak untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Syukur kepada Tuhan karena melahirkan Ame Nikolaus Dahu dengan talenta yang banyak. Terima kasih juga kepada En’de Maria Ke’set yang setia dan tulus hati mendampingi Ame Niko dan merawat kami 11 orang di rumah damai Wajur. 

Mohon maaf karena kami belum membalas semua jasa dan kebaikanmu sebagai orangtua. Ame Niko sangat irit berbicara. Sekali berbicara maka menusuk sanubari. Bahasanya dengan berbagai perumpamaan dan sastra lisan orang Kolang. Berkat banyak mendengar melalui siaran radio miliknya. 

Hanya dia yang bisa membeli radio di zaman itu berkat keterampilan olah gola Kolang. Saya ingat pasi-nya “Ghem Laing” dan penghasilan tujuh pintu. []

Waelengga, Senin, 18 Januari 2021

Cataran:

Uku=suku
Dempul wuku tela tuni (secara harafiah, dempul=tumpul/patah, wuku=kuku, tela=terbelah, tuni/toni=tubuh bagian belakang/punggung). Kuku tumpul karena cabut rumput atau membersihkan tanaman dan punggung terbelah karena terpanggang panas matahari. Dempul wuku tela toni adalah ungkapan/go’et berbahasa Manggarai yang berarti kerja keras.

Pante minse = aktivitas mengambil air enau/aren dan memasaknya menjadi gula merah (gola malang) dan tuak. Minse/mince = manis
Kain songke = kain tenunan khas Manggarai
Gola Kolang = sebutan gula merah atau gola malang. Disebut gola kolang karena hanya diproduksi di kedaluan Kolang dan sekitarnya
Nene = kakek. Orang Manggarai menyebut nenek untuk kakek dan nenek.
Ame atau ema = bapak
Ende/ine = mama

Pasi/paci= julukan atau simbol kejantanan petarung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here