Cerita mengenai pilot-pilot pertama Fransiskan di Papua

Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT “Fajar Timur” Abepura, Papua

0
134
pesawat fransiskan
Setelah tiba di Papua, pesawat-pesawat itu diberkati oleh Mgr. Staverman, OFM pada 23 Maret 1959. Tanggal ini menjadi tanggal resmi mulainya penerbangan misi di Papua - Dok. Penulis

Di samping permasalahan helikopter atau pesawat terbang, yang pada waktu sangat mendukung kelancaran misi, ada juga pertanyaan darimana dapat diperoleh pilot-pilot. Akhirnya oleh para Fransiskan diputuskan untuk mendidik saudara-saudara Fransiskan sendiri menjadi pilot.

Dari enam calon yang ditentukan oleh dewan pimpinan persaudaraan OFM, terpilih tiga orang untuk mengikuti pendidikan pilot. Saudara-saudara yang terpilih itu adalah sdr. Frans Verheijen, OFM, sdr. Henk Vergouwen, OFM dan Sdr. Karel Hermans, OFM.

Pendidikan menjadi pilot itu ditempuh di Belanda dan Amerika. Mereka dinyatakan lulus sebagai pilot pada Oktober 1957.

Sementara itu juga sudah diambil keputusan perihal pesawat mana yang akan diterbangkan. Maka dipilihlah pesawat Cessna 180.

Pada tahun 1957 pesawat-pesawat mulai dipesan. Setelah tiba di Papua, pesawat-pesawat itu diberkati oleh Mgr. Staverman, OFM pada 23 Maret 1959. Tanggal ini menjadi tanggal resmi mulainya penerbangan misi di Papua.

Pada mula misi ini terasa susah. Misalnya sesudah setiap 25 jam terbang, pesawat terbang itu harus diterbangkan ke Wewak (PNG) untuk pemeliharan teknis, yang belum dapat dilakukan di Hollandia (sekarang dikenal dengan Jayapura). Tetapi yang terpenting yaitu penerbangan sudah dimulai.

Pada Juni 1959 sdr. Frans Verheijen, OFM tiba di Hollandia dengan sebuah CPL dan selembar lisensi mekanik di tangan. Maka pada bulan September pada tahun yang sama sebuah hanggar dibuka di Hollandia. Dengan demikian perusahan penerbangan dapat berjalan. Pertama-tama Wamena dan Sibil. Kemudian menyusul Kepala Burung dan pada bulan September di Paniai siaplah strip landasan yang pertama di Epouto. Peristiwa ini menjadi peristiwa besar dalam sejarah penerbangan misi Fransiskan di Papua.

penerbangan misi Papua
Penerbangan itu mula-mula bernama MILUVA (Missie Lucht Vaart) atau dikenal dengan sebutan penerbangan misi. Pada tahun 1963 diubah menjadi AMA (Associated Mission Aviation) sampai saat ini – Dok. Penulis

Insiden kecelakaan pesawat di hutan Keerom

Setelah melalui proses yang panjang dalam memajukan misi pewartaan Injil di Papua, para Fransiskan mempunyai perusahaan penerbangan yang sangat berjasa mendukung misi tersebut. Penerbangan itu mula-mula bernama MILUVA (Missie Lucht Vaart) atau dikenal dengan sebutan penerbangan misi, demikianlah nama organisasi penerbangan itu.

Di kemudian hari pada tahun 1963 diubah menjadi AMA (Associated Mission Aviation) sampai saat ini.

Perusahaan penerbangan ini berkambang baik. Namun pada 27 April 1963 terjadilah kecelakaan pesawat yang dikemudikan oleh Pater Henk Vergouwen, OFM (dia adalah salah satu pilot pertama dari kalangan Fransiskan). Dia dinyatakan hilang saat sedang dalam perjalanan dari Sentani menuju Oksibil. Ketika ia dinyatakan hilang kontak, mulailah proses evakuasi dan pencarian dimulai.

Dalam proses pencarian itu AMA dibantu oleh para pilot dari Zending (MAF) dan yang lain ikut ambil bagian dalam proses itu.

pesawat misi di Papua
Pendidikan menjadi pilot itu ditempuh di Belanda dan Amerika. Mereka dinyatakan lulus sebagai pilot pada Oktober 1957 – Dok. Penulis

Selama kurang lebih satu minggu proses pencarian secara intensif dari udara para pilot mencari suatu tanda yang menunjukkan titik pesawat yang hilang itu, tetapi ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Tidak ada titik terang keberadaan pesawat yang jatuh. Baru setelah kurang lebih dua tahun setelah insiden ini, pada 21 Januari 1965.

Bangkai pesawat ini beserta jasad dari Pater Vergouwen, OFM ditemukan di hutan Keerom. Dari hasil penyelidikan, diduga kuat pesawat ini telah memasuki suatu down draft (kawasan hampa udara) dan tidak memiliki lagi kekuatan untuk naik kembali. Pesawat ini menabrak puncak pepohonan dan menghujam ke bawah. Keseluruhan jam terbang dari Pater Vergouwen, OFM mencapai sekitar 2.000 jam.

Pater Henk Vergouwen, OFM meninggal dalam usia 32 tahun. Sebagai Fransiskan selama 13 tahun dan sebagai imam 6 tahun. Ia sendiri tiba di Papua pada tahun 1958. Ia adalah imam Fransiskan pertama yang ditugaskan untuk mengikuti pendidikan pilot dan akhirnya ia berhasil dengan hasil yang memuaskan. Dikemudian hari ia bersama dengan Pater Karel Hermans, OFM (juga seorang pilot) dan beberapa pilot yang lain mendirikan penerbangan misi di Papua. []

Sumber:

Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua, Jayapura; Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2012,  Jilid I

———-, “Fransiskan Masuk Papua, Jayapura; Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2016,  Jilid II

Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua, “Necrologium” (Mereka Yang Sudah Berbahagia), 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here