Cerita keripik Wara Wiri

Wara-wiri. Begitu disebut barang yang mau sa ulas secara sederhana. Kawan-kawan mungkin teringat sebuah acara televisi yang dibawakan dua pelawak kawakan Indonesia. Itu bukan domain saya untuk mengulasnya.

Saya mau tulis sesuatu. Tentang wara-wara itu tadi. Sebelum lanjut, saya terkenang akan suatu hal. Saat mana saya berpikir bagaimana mengusir kantuk.

Bagaimana pun rasa itu tak boleh menghambat kreativitas. Maka harus dienyahkan. Jika kantuk mendera jiwa dan raga, lantas apa yang bisa dibuat?

Pertanyaan tadi simpel saja. Tapi kadang-kadang pertanyaan seperti itu membutuhkan jawaban kalau tidak mau digilas zaman.

Seorang pemuda tetiba muncul dengan motor merah di kawasan Perumnas 2 Waena, Jayapura, Minggu siang, 7 Juli 2019. Ramah namanya.

Dia membawa sebungkus keripik yang dikantungnya dalam paper bag hijau. Saya tak menduga tentengan itu untuk dimakan. Entah mau dijual.

“Saya bawa sesuatu. Produk baru dengan inovasi baru,” katanya.

Wah, kabar gembira untuk kita semua. Kini hadir camilan usir kantuk akhir pekan.

Dia seorang jurnalis pada media daring dan koran lokal di Papua. Daripada bertele-tele, saya kasitau sudah; de jurnalis Jubi, sobat!

Kami pernah bekerja pada media yang sama, sehingga saya mengira keripik tempe dibelinya entah dimana, untuk reuni-reunian. Ternyata tidak.

Dia mengawali cerita produknya. Keripik Tempe Wara Wiri tadi. Awalnya Ramah membeli kedelai Rp 10 ribu sekilo, tepung tapioka 1/2 kilo (500 gr) seharga Rp 7.000, minyak goreng 2 liter Rp 31.500 plus bumbu lainnya seperti bawang. Tapi bawang tidak masuk hitungan karena memakai bawang rumah.

Terhitung modal awal sebesar Rp 50 ribu untuk sekali produksi. Dari Rp 50 ribu menghasilkan 10 bungkus seukuran 100 gram. Dengan demikian uang Rp 50 ribu berkembang menjadi Rp 100 ribu.

Dia menjualnya dengan mengantar sampai di rumah, bahkan hingga pukul 9 malam. Dia juga menitipnya di kios-kios sebanyak 10 bungkus. Jika dijual Rp 10 ribu, maka pemilik kios mendapatkan Rp 1.000 dan Rp 9.000 untuknya.

Sedangkan keripik dengan bungkusan agak besar seukuran 250 gram. Dia menjualnya seharga Rp 25 ribu. Bisa diantar tanpa biaya alias gratis.

Satu kali produksi omzet sebesar Rp 100 ribu. Satu minggu tiga kali produksi atau mendapatkan Rp 1,2 juta per bulan.

“Bisa menutup biaya kontrakan dan keperluan lain,” katanya.

Keripik Tempe Wara Wiri sudah mendapat izin dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Jayapura. Bahkan sudah diperkenalkan kepada Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Jayapura, Robert L.N. Awi.

Menurut Ramah, Roberth Awi menyankan agar Keripik Tempe Wara Wiri masuk ke Bandara Sentani.

“Baru pasaran lokal dari PTSP. Sedang urus izin ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan Kota Jayapura,” ujar Ramah.

Kedelai fermentasi
Proses fermentasi kedelai yang bakal dijadikan keripik tempe – dokpri

Nama Wara Wiri terinspirasi dari seorang kawan wartawan. Nama itu kemudian diabadikannya dalam produknya: Keripik Tempe Wara Wiri.

Saya lantas berpikir bahwa kopi dan rokok sudah lumrah mengusir rasa kantuk. Namun dua barang ini, cepat atau lambat, dapat menyebabkan sakit-penyakit bahkan kematian. Saya memang tak mendapat data yang pasti. Tapi hal semacam itu tidak susah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Kawan saya Amoye pernah berujar, perokok itu orang-orang yang sungguh beriman. Saya lantas mempertanyakan basis argumentasinya.

Dia berseloroh, perokok seperti saya punya keyakinan, bahwa kehidupan adalah milik Tuhan. Mati dan hidup ada di tangan-Nya meski ada imbauan “rokok membunuhmu”. Kira-kira begitu. Eits, tapi jangan merokok kawan. Mending beli barang yang sa tulis.

Obrolan ringan ini membuat saya mengangguk-angguk. Bukan karena kantuk, tapi saya tersenyum lantaran menemukan jawaban baru. Soal itu tadi: teman begadang, kawan baca dan baku bagi cerita.

Pencarian saya terhenti pada sebuah jawaban. Keripik tempe. Jika kawan-kawan pembaca sedang di luar Jayapura dan Papua, maka saya anjurkan untuk tidak membaca celotehan ini sampai selesai.

Tapi jangan bilang “cukardeleng” jika bertemu saya nanti dan melanjutkan, “Keripik Tempe Wara Wiri yang ko ulas ni enak juga.”

Kembali soal pengalaman saya seperti disinggung di awal catatan ini, ihwal mengusir kantuk dan pelengkap carita.

Keripik Tempe Wara Wiri bisa jadi pelengkap cerita. Juga camilan pengusir kantuk, dan pengganti lauk.

Irisan yang tipis, komposisi kedelai, bumbu, tepung tapioka, dan minyak nabati, menjadikan wara wiri jadi gurih atau renyah. Serenyah tulisan ringan akhir pekan yang Anda baca.

Ramah menemukan inovasi baru di tengah kejaran deadline dan kepenatan oleh aneka kata, fakta dan data untuk diolah jadi berita.

Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jayapura, ada 18 ribu pelaku usaha mikro kecil dan menengah sepanjang 2011 sampai 2018. Sebanyak 80 persen di antaranya perempuan.

Ramah mungkin bukan satu dari 20 persen pelaku UMKM tadi, karena usaha rumahan miliknya baru dirintis Juni lalu. Meski demikian, dia optimistis bisa bersaing di pasar lokal, dengan mengutamakan kualitas produknya. Apalagi didukung dengan harga rakat alias ramah kantong.

Meski namanya keripik tempe, ternyata bukan diolah dari tempe jadi. Dia memroses bahan-bahan itu dengan fermentasi beberapa saat. Lalu menjadi keripik dengan harga Rp 10 ribu dan Rp 25 ribu.

Makanan ringan ini ramah lidah, ramah kantong, dan ramah kepada siapa saja yang berminat. Sesuai nama beliau: Ramah. Ai mama Mia e sa takut dikira “tipu banyak” biar dikasih gratis kaapa?

Seramah apakah keripik tempe buatan si Ramah dan istri? Jika pertanyaan seperti itu terlahir dari benak kalian, pastikan bahwa Ramah bisa dihubungi.

Dia juga bersedia mengantar produknya ke tempatmu. Aman terkendali kok. Sekali gas dua tiga kota dilalui. Go road saftey.

Asalkan jangan pesan di saya, karena saya hanya tukang tulis. Tulis tentang pesan-pesan, yang sapa tau yaro bermanfaat.

Saya berpegang teguh pada keyakinan, sebagaimana adagium tete-tete dan nene-nene di zaman Romawi dorang, yang bilang: verba volant scripta manent. Kata-kata yang ditulis kan abadi dan kata-kata yang terucap hilang ditelan komodo. Ups, maksudnya hilang ditelan zaman.

Maka dari itu, saya menulis di sini dan kini. Itu tadi. Jangan pesan di saya. Bukan ramah kantong lagi, melainkan ramah tamah jika kawan-kawan pesan di saya, karena akan meminta satu bungkus lagi to.

Keripik tempe
Keripik tempa Wara Wiri ketika diperkenalkan kepada Kepala Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura, Ronerth L.N. Awi – dokpri

Mo tunggu apa lagi? Beli sudah. Ko tra rugi keluarkan sepuluh ribu rupiah buat beli keripik tempe si Ramah. Seukuran 250 gram atau satu genggaman tangan saja. Pas sudah. Baku bagi carita, melawan kantuk, dan melengkapi kebersamaan dengan keripik tempe wara wiri.

Wara Wiri juga bisa jadi teman jalan. Bawalah dia, karena dia bakal menjadi pelengkap kenangan bersama ade nona di pantai. Sambil bersenandung dan menggubah Om Frangky Sahilatua pu lagu: suatu hari di kala kita duduk di pantai, dan memandang ombak dan mulut yang melumat keripik tempe.

Lagian, wara wiri tak bakalan memadati noken atau tas kalian. Tidak berat memang. Yang berat dipikul kitong kasi ke Dilan saja. Biar dia yang pikul beratnya tak berkesempatan tanpa Milea, eh maksudnya beratnya tanpa wara wiri. []

JPR, tujul19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *