Cerita ikan cara

Liburan beberapa waktu lalu ada yang pulang kampung kah? Jika pulang, apa cerita unik kawan-kawan? Ketinggalan pesawat, kapal, bus, lelahnya perjalanan, atau apa?

Kali ini saya tidak bercerita tentang liburan. Tapi oleh-oleh khas liburan. Terutama jika kau adalah orang Manggarai di ujung barat Pulau Flores.

Menulis tentang oleh-oleh liburan, hampir pasti tiap pencerita berupaya membagikan hal yang khas. Saya menulis ikan cara. Salah satu jenis ikan di laut bagian barat Nusa Bunga. Itu karena rindu. Apalagi kau merantau terlampau jauh bertahun-tahun lamanya. Bekas-bekas atau jejak kaki, cerita dan kisah, serta pengalaman berceceran jadi satu: rindu.

Di “rimbunan rindu” cerita adalah obat yang ampuh. Dia yang diidam-idamkan harus menanti pasrah dan penasaran. Namun, kau yang dinanti tak kunjung beri kepastian. Bilakah tibamu saat tawa mereka merekah?

Pada catatan akhir pekan ini, biarlah seberkas rindu terjelma dalam kata-kata biasa. Ditambah gaya bahasa nan biasa. Ah, sudahlah.

Ai mamaeee sa pu tulisan su mendayu-daya ka ini, tra tau mau tulis apa lai. Upss, sa sebenarnya mau tulis tentang hal lain. Saya lantas mencari cara agar bisa menulis tentang ikan cara.

Pada tulisan terdahulu, ada secuil cerita tentang ikan cara–seperti judul tadi. Namun, cerita itu terpotong dan terselip dalam paragraf-paragraf yang berjibun, hingga lima ribuan kata banyaknya. Tulisannya tentang perjalanan pulang tahun kemarin.

Maka dari itu, kini saatnya saya menulis secara spesifik. Tentang ikan cara tadi. Tulisan sederhana ini, seperti kata awal, merupakan cara saya mengobati rindu. Uyeee!!!

Oya, ikan cara adalah ikan yang–saya kira–cuma ada di Manggarai. Biasanya di Reo, bagian utara Manggarai dan Labuan Bajo, Manggarai Barat, bagian barat Pulau Flores.

Kawan saya dari Reo, Yufarlo mengatakan, biasanya ikan cara berukuran kecil, sekira tiga jari orang dewasa, seharga Rp 2.200 per ikat pada tahun 2010. Biasanya satu ikat sekitar sepuluh ekor. Sedangkan ikan yang berukuran besar, sekira satu telapak tangan dibandrol Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu, dengan empat atau lima ekor dalam satu ikat.

Itu sembilan tahun lalu. Kini dijual per kilo. Pasalnya dijual dengan harga sekitar Rp 75 ribu.

Saya punya bapa pernah bercerita. Sewaktu masih muda, mereka biasa mengambil ikan di Berit (Bari), Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat. Mereka ke “biring” (pesisir), sehingga orang “biring” menyebut mereka ata golo atau ata lengko (orang gunung).

Salah satu jenis ikan yang bapa beli dari sana barangkali ikan cara. Lalu dijual lagi dari kampung ke kampung.

Entah alasan apa, dia kemudian tidak melanjutkan berdagang, dan memilih fokus menjadi petani, hingga kami enam bersaudara tumbuh besar.

Kembali soal ikan cara tadi. Ikan itu berbentuk pipih. Tulangnya tajam. Biasa dibikin jadi ikan asin. Amisnya dapat. Tapi saat digoreng, aromanya menyeruak hingga membangkitkan nafsu makan. Orang Manggarai biasa bilang “nendong“. Semacam “harum” yang tiada duanya.

Ketika mencium aroma ikan cara goreng, saya jamin siapa pun sontak jadi lapar. Apalagi kalau sudah menjadi lauk. Makan dengan lahapnya. Loda saung tilu (daun telinga jatuh) kata orang Manggarai.

Saya tidak tahu nama ilmiah ikan ini. Pun bahasa Indonesianya. Hanya itu yang diingat. Ingat rasanya, tra tau (atau trada) melajunya. Menurut catatan Kompas.com (Rabu, 13 April 2011), ikan ini mirip ikan baronang (Siganus limeatus).

Kami di kampung menyebut ikan cara dengan ikan kencara. Ikan ini menjadi lauk andalan saat musim kerja di kebun, mengetam padi, jagung atau saat memetik kopi.

Tatkala di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, 10 Januari 2018, saya ditanya seorang petugas Garuda di ruangan check in.

“Tujuan mana?”
“Jayapura.”
“Di dalam karton ini apa?”
“Kopi.”
“Bukan ikan, to?”
“Silakan buka dan rapikan lagi!”

Saya menduga, ikan yang dimaksud, adalah ikan cara. Mungkin ikan ini tidak diperbolehkan terbang bersama pesawat. Mereka punya habitat di laut to. Smile.

Kawasan Labuan Bajo memang kawasan wisata dengan Taman Nasional Komodonya, pantai pink-nya, dan berbagai jenis ikannya merupakan objek yang memanjakan mata turis. Di lautnya ada terumbu karang dan biota laut, serta ragam jenis ikan, seperti, parimata, hiu, lumba-lumba, dan penyu.

Sedangkan ikan cara bisa dibawa pulang oleh para turis dengan harga terjangkau. Selain ikan cara sebagai ikan khas Manggarai, ada juga ekor kuning, kerapu, teripang, cakalang, dan lobster.

Pasalnya, tiap anak-anak Manggarai menjadikan ikan cara sebagai salah satu oleh-oleh khas liburan. Kardus atau tas biasanya dipenuhi kopi, ikan cara, dan rebok.

Rebok itu makanan khas orang Manggarai. Modelnya seperti tepung. Terbuat dari jagung atau beras yang ditumbuk. Dicampur gola malang (gula merah) dan kelapa parut.

Memakan makanan khas ini, enaknya seperti lidah menari-nari. Hanya satu pantangannya: jangan tertawa atau berbicara saat dia sudah di mulut. Kau hanya tersenyum saat merespons sesuatu. Dari sinilah sebutan “imus rebok” berasal. Nona-nona atau nana-nana Manggarai menyebut imus rebok untuk senyuman yang manis seperti madu.

Jika pantangan tadi dilanggar, maka kau harus menerima risiko. Kau bakalan keselek, batuk-batuk, dan minumlah air bergelas-gelas.

Lalu bagaimana dengan ikan cara? Ini juga. Hati-hatilah saat memilah tulang-tulangnya kalau tidak mau goyangan lidahmu terganggu. Di sini, saya hanya merindu: kenikmatan si cara. []

Foto: Ikan cara, oleh-oleh khas Manggarai – narareba.com

#JPR-SatJ2019

Facebook Comments

2 thoughts on “Cerita ikan cara”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *