[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (9)*

Pukul 12 siang HP berdering. Ada panggilan masuk. Padahal HP-ku nonaktif. 

“Embot, kamu harus pulang,” katanya dengan nada bergetar dari balik telepon.

“Kamu kenapa sayang?” Jawabku.

Setelah kutanya, suaranya terputus. Aku bingung. Masak HP nonaktif, tapi ada suara panggilan masuk, ada apa ya? Apa ada sesuatu yang tidak beres pada Dinda?

Aku mulai panik. Lalu kuputuskan segera pulang ke basecamp. Tapi Dinda ketiduran saat aku tiba. 

Tapi Dinda makin aneh saat aku membangunkannya. Dia berbicara sendiri. Ketawa sendiri dan diam saja saat kutanya. Sedang mukanya pucat pasi.

Masih mata setengah terbuka dia berteriak sejadi-jadinya.

“Siapa kamu??” Dia bertanya dengan suara aneh dan kasar.

“Lah, ini aku Embot, sayang.”

Aku semakin ketakutan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Bagaimana aku menjawab pada keluarganya di seberang lautan?

“Bangunlah sayang! Ini buburnya sudah aku siapkan,” kataku.

“Embot, ada yang memanggil aku dari sana,” katanya sambil menunjuk ke tempat yang agak rendah darinya. 

Setelah itu dia pingsan. Aku kalang kabut. Kini giliranku berteriak di hutan ini untuk meminta tolong. Aku terus berteriak minta tolong, tapi tiada satu pun yang mendengar suaraku.

Aku menyusuri sisi bukit. Siapa tahu ada orang-orang di sana. Tapi apes kudapat. Tidak ada satu orang pun ku temui di sana. Sedangkan Dinda belum siuman. Aku hendak menelepon teman-teman tapi HP mereka nonaktif.

“Oh Tuhan, tolong hambamu. Tunjukkan aku jalan untuk menyelamatkan Dinda. Aku bingung entah meminta bantuan kemana. Hanya Dikau satu-satunya andalanku. Aku hanya pasrah padamu.”

Puji Tuhan, beberapa menit kemudian beberapa kawanku berdatangan. Kejar-kejaran. Pemandangan ini seperti saat aku masih anak-anak nun jauh di kampung halaman.

Mereka rupanya menyusul aku yang sedari tadi ke bukit. Mereka lebih dulu menolong Dinda dan menyusulku ke bukit. 

Ata co’oy e teman (kenapa dia teman)?” Tanya kawan-kawan.

Ole, ase/kaen bantu aku ta (Ole, saudara tolonglah aku),” jawabku dengan napas tersengal.

Mereka pun makin sibuk dan membantu dengan caranya masing-masing. Ada yang mencari minyak gosok. Ada yang lari ke hutan mencari obat-obatan, menelepon ke kampung, dan sebagiannya menjaga Dinda. 

Sedangkan beberapa kawan lainnya ke Kampung Dayak dan Kampung Sungai Telihan. Kampung Telihan adalah tempat dimana Warung Mama Louis berada.

Aku hanya berserah dan berharap pada Penyelenggaraan Ilahi. 

Beberapa detik kemudian HP si Dinda berdering. Rupanya ada telepon masuk.

“Mas Bondan ya. Apa ini kamu?” Tanya si penelepon dengan nada bergetar.

Dinda ternyata sudah menceritakan tentang diriku kepada beberapa keluarganya. Dia memperkenalkan aku dengan nama Bondan kepada mereka dan menyebutku pegawai salah satu bank negara.

Di daftar nama kontak tertulis nama Reta. Aku bergegas menjawab si Reta.

“Iya kakak. Aku Bondan,” jawabku.

“Mas?? Kamu tidak apa-apa?” Dia bertanya.

“Aku tidak apa-apa kakak, tapi Dinda sedang sakit dan pingsan. Apa dia biasa kesurupan atau kerasukan setan?” Kataku.

“Syukurlah, Mas. Kamu baik-baik,” ujarnya.

“Memangnya kenapa kakak?” Aku bertanya.

“Mas, di sini sedang dibuat ritual. Ada tujuh dukun yang diundang,” jawab Reta setengah berbisik.

Aku marah mendengarnya. Ada rasa sesal juga.

“Mas!! Kamu tidak boleh panik. Kamu harus tenang. Lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan untuk Monalisa di situ. Nanti aku ceritakan semua tentang apa yang terjadi di sini ok??” Jawab Kakak Reta sembari menenangkan aku.

Aku semakin marah. Jika aku di sana, aku pasti membunuh semua dukun itu. Mereka hanya budak setan. Hanya Tuhan yang berkuasa. Setan-setan tunduk pada Tuhan. 

Tiba-tiba Kak Reta berkata lagi.

“Mas, Monalisa kan ada bawa rosario sama patung dan salib! Sekarang kamu harus mengambil rosario itu dan kalungkan satu pada lehernya dan satu untuk kamu,” kata Reta menyarankan.

Aku bergegas ke kamar untuk mencari dua rosario seperti saran Kak Reta.

“Mas, ambilkan segelas air putih, dan celupkan rosario itu ke dalam gelas sambil berdoa dengan tulus, bahwa kamu bisa sembuhkan Monalisa sekarang,” pinta Kak Reta.

Aku mengikuti saja apa yang disarankan Kak Reta.

“Mas, kamu hebat. Monalisa sudah cerita semua tentang kamu,” katanya.

Aku semakin serius mendengar cerita Kak Reta. Dia mengungkapkan semua tentang Dinda. 

Dia bercerita bahwa Monalisa memang punya tiga orang anak. Belum berstatus cerai tapi sudah lama pisah ranjang dengan suaminya Rozki.

Rozki berperawakan kasar dan kejam. Dia sering memukul Monalisa. Hal itu membuat mereka pisah ranjang hingga Monalisa kesepian. 

Monalisa bolak-balik pengadilan agama untuk mengurus perceraian. Tapi pengadilan tidak mungkin mengabulkan gugatan cerai, karena salah satu sifat perkawinan Katolik adalah tidak terceraikan. Gereja Katolik tidak mengizinkan pasangan suami-istri oleh alasan apapun kecuali maut.

Kedua orang tuanya bahkan menjodohkan Monalisa dengan pria lain. Namun, Rozki bersikukuh tetap bersama Monalisa dan tidak segan-segan memukul orang tua Monalisa bila menjodohkannya dengan pria lain. 

Aku tertegun mendengar cerita Kak Reta sampai nyaris melupakan suruhannya untuk memercik muka Dinda. Air yang sudah direndam rosario harus diperciki di mukanya dan meminum airnya.

Dinda langsung bangun ketika kuperciki mukanya dan berteriak sekencang-kencangnya. Suaranya berubah seperti suara laki-laki.

Dia merontak, meronta-ronta, dan berteriak sana-sani. Dia mencabut rosario dari lehernya. Melemparnya sampai jauh. Bulir-bulirnya berserakan.

Teman-temanku lari ketakutan. Sedang yang lainnya mendatangkan dukun dari kampung sebelah. 

Mulut si dukun komat-kamit. Membaca mantra. Menghadap si Dinda. 

Dinda menatap si dukun dengan galaknya. Menggertakkan giginya. Bunyi giginya menakutkan kami.

“Siapa kalian??” Tanya Dinda yang menyerupai suara pria.

Dukun kampung langsung terlempar sejauh satu meter. Dinda pun semakin menjadi-jadi. Dia semakin ganas.

“Kubunuh kau Embot!!” Katanya garang.

Aku semakin ketakutan. Dukun kampung juga lari ketakutan.

“Aku tidak bisa melawannya, mereka terlalu banyak. Aku tidak mampu,” kata si dukun.

Dinda makin sangar. Giginya terus berbunyi.

“Dayana, ayo kita pulang. Kamu tidak pantas berada di sini. Kita pulang sayang,” kata Dinda yang menyerupai suara laki-laki. 

“Siapa yang membawamu ke sini Monalisa? Aku mau bunuh dia sekarang,” katanya lagi.

“Aku yang membawa dia. Kamu siapa?” Kataku dengan gemetar tapi penuh percaya diri.

“Kamu jangan dekati Dinda,” kata kawanku memperingatkan jangan sampai terjadi sesuatu padanya.

“Oh, kau yang membawanya ke sini? Siapa kau banci? Aku bunuh kau sekarang!!” Teriak Dinda sambil menunjukkan jarinya ke arahku.

“Kamu siapa? Tunjukkan wujudmu yang asli, dan jangan mencoba mengganggu Monalisa. Kalau kau setan, jin, kuntilanak atau siapa pun hadapi aku sekarang,” kataku.

Teman-temanku menggelengkan kepala. Mereka memuji keberanianku. 

“Monalisa, kau sudah dikuasai setan. Kalau kau Monalisa yang asli, biar kau membunuhku aku menerima itu. Tetapi itu setan, aku tidak mundur selangkah pun,” kataku membisik si Dinda.

Tapi dia menatapku sangat tajam. Matanya memerah. Mukanya pucat. 

“Oh….kamu main keroyokan sekarang,” katanya menyindirku.

“Ok,, aku akan panggilkan saudara-saudaraku. Kamu tunggu di sini,” jawabku.

Ajaibnya, Dinda langsung sadar, kemudian duduk di sampingku ketika mendengar perkataan itu.

“Embot, kamu mau memukulku? Apa salahku, Embot,” kata Dinda.

Air mataku jatuh meleleh di pipi mendengarnya. 

“Kenapa kamu menangis, Embot? Jangan bikin takut dong,” katanya lagi.

Aku tak bisa bicara lagi. Seolah aku dibius setelah dia siuman. Tapi Dinda melihat di sekelilingku dan sontak kaget melihat kawan-kawanku.

“Eh, kalian sudah pulang kerja ya? Kok aku tidak tahu dari tadi sih,” katanya sembari menatap belasan kawanku.

Kawan-kawanku juga diam membisu. Mereka menatap Dinda dengan gembira.

“Kiki, dari tadi kamu pulang ya?” Katanya kepada saudaraku yang sebenarnya bernama Titi.

“Sudah dari tadi kakak,” jawab Titi.

“Sudah makan? Maaf aku tidak memasak buat kalian hari ini,” jawab Dinda.

Eh, tiba-tiba dia bertingkah aneh seperti sebelumnya. Meronta-ronta dan mencari parang.

“Keluar kau setan!!” Aku membentak dan menamparnya ketika hendak mencekik leherku.

“Kalau mau membunuhku, tolong bawa Monalisa pulang. Atau aku bunuh dia biar kita sama-sama tidak mendapatkan dia,” jawab Dinda dengan suara bas.

“Kau dengar baik-baik, iblis. Aku tidak membawa Monalisa ke sini, aku hanya memberikan tumpangan. Aku mau menolong dia karena dia lari dari rumahnya. Dia menghindari kenyataan dan menjadikan aku pelampiasan dengan alasan mencintaiku,” jawabku panjang-lebar.

Baca juga:

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (8)*

“Oh, kamu sok jadi pahlawan ya,” jawabnya.

“Iblis, tunjukkan dirimu sekarang atau kau kubunuh. Dalam hitungan ketiga kau harus keluar dari Dinda atau kau kubunuh. Dengar itu,” kataku dengan penuh emosi.

Dinda pun kembali sadar. Dia berkata lagi.

“Embot, aku capek. Aku mau istirahat.”

Setelah itu dia tidur dengan nyenyaknya. Telepon selulerku berdering.

“Mas, kamu hebat. Di sini ada tujuh orang dukun. Mereka duduk melingkar dan membuat ritual. Foto Monalisa sudah mereka ikat dengan kain kafan dan membakar lilin di sekelilingnya. Sepertinya mereka ingin membunuh Monalisa, kamu, dan keluargamu,” kata Kak Reta di balik telepon.

Aku diam saja. Dia terus berbicara seperti berceramah.

“Tapi mereka tidak mampu dan mereka terlempar satu per satu. Kamu satu-satunya orang Flores yang bisa melawan mereka dari jauh. Aku salut sama kamu, Mas!”

Kak Reta menyarankan agar aku tetap waspada dan terus berdoa, sebab para dukun terus mencobaku. Dia menceritakan semua apa yang dibuat para dukun di ruang tertutup. 

Tapi Kak Reta mengintip pergerakan mereka dan melaporkan kepadaku. Kak Reta seolah intelijen pribadiku sekaligus malaikat yang mengingatkan aku di tengah situasi aneh ini.

“Jumlah mereka sedikit itu kakak. Bila perlu tambah satu kampung lagi,” jawabku pada Kak Reta.

“Sudahlah, Mas. Mereka semakin jahat. Tetaplah berdoa,” jawabnya.

Uhhhh, tiba-tiba Dinda kemasukan roh jahat lagi. Kali ini dia tidak bergerak bebas karena aku memegangnya erat-erat. 

Dia terus meronta dan merobekkan bajunya. Celananya melorot. 

Rofinus teman asal Reo tiba-tiba mendapat telepon dari kampung halaman. Pendeta perempuan menelponnya.

Dia menyuruh Rofinus mendekatkan HP-nya ke telinga Dinda. Aku juga disuruhnya menumpangkan tangan di atas kepala Dinda. Lalu dia berdoa dari seberang.

Satu jam lamanya dia berdoa. Puji Tuhan Dinda sadar lagi.

“Monalisa itu dari salah satu daerah di Sulawesi, ya?”

“Benar ibu pendeta.”

“Pantasan. Dukunnya tujuh orang tadi. Aku hampir tidak bisa melawan mereka.”

“Betul, Bu. Aku juga baru diberitahu Reta kakaknya Dinda. Mereka sedang buat ritual untuk membunuhku.”

“Kamu kuat, nak. Apa kamu pendoa atau ikut organisasi doa?” 

“Tidak, Bu. Aku hanya yakin kuasa Tuhan yang bekerja.”

“Baiklah. Kamu kuat nak. Mereka bahkan tidak bisa melawanmu.”

Aku semakin percaya diri dan yakin bahwa Roh Kudus memang berkarya dalam pribadiku. Aku tetap dilindungi-Nya saat melawan setan. Dia di pihakku bersama malaikat Mikael.

Tidak lama kemudian Monalisa sadar. Ibu pendeta menyuruhku agar memberi Monalisa makan sambil menunggu kabar dari kampung.

“Embot, ada apa denganku? Kenapa kalian mengelilingiku?” Kata Dinda.

Aku menjelaskan apa yang terjadi padanya. Dia pun memelukku dengan erat sambil berbisik, “Embot, kamu andalanku!” Bersambung… []

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di salah satu daerah di Pulau Sulawesi

*Ini adalah kisah nyata. Beberapa tokoh dan tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *