[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (8)*

Secara tiba-tiba Dinda meneleponku dan memberitahu bahwa besok dia ke Kalimantan pukul 4 sore. Dia memintaku menjemput dia di Balikpapan dan stand by menyambut tuan putri. Aku harus menepati janjinya. Bisa saja dia tersesat di Borneo jika tak dijemput.

Kawan-kawanku sore ini bersedia mengantarku sampai di Sungai Mahakam. Bagi kami lahan sawit membuat persaudaraan dan kebersamaan tertanam kuat dalam sanubari.

Matahari sudah bersandar di atas bubungan rumah dan memantulkan cahaya pukul 7 pagi ketika aku tiba di Balikpapan. Kemarin Dinda memberi tahu bahwa dirinya tiba pukul 4 sore. Berarti butuh sembilan jam aku menunggu dia di bandara.

Aku makin dibuat bingung. Dimana lagi aku beristirahat? Balikpapan adalah kota yang asing bagiku. Aku di sini bagai turis yang tak mengenal siapa pun.

Manga anak de kae daku wa hitu e, wa lupi bandara hitu ka’engd (ada anak dari kakakku tinggal di dekat bandara),” kata seorang kawan saat aku menelepon untuk meminta tumpangan.

Aku coba telpon ise wa hitu kudut ngo curu hau. Gereng wa hitu hau neka ngo bana e (Aku mencoba menelepon mereka agar bisa menjemputmu. Kau tunggu di situ, jangan ke mana-mana)!” Lanjut kawan ini.

Aku diliputi kecemasan. Tidak ada yang menjemputku. Tujuanku ke sini untuk menjemput Dinda. Aku yang tinggal di Kalimantan saja kebingungan, apalagi si Dinda.

Satu, dua, tiga empat menit adalah waktu yang sangat lama bagi mereka yang sedang menunggu kepastian. Demikian juga aku di sini.

Dari balik orang-orang yang berjejalan, seorang pria mendekatiku.

Kesa, ite ngasang hi Mados ko (Ipar, apakah betul Anda bernama Mados)?” Tanya seorang pemuda yang mendekatiku.
“Betul, ipar. Apakah kamu keponakan dari Rofinus?” Jawabku.
“Iya, mari kita ke rumah,” katanya.

Lalu kami ke rumahnya. Di tengah perjalanan kami mengobrol seputar kedatanganku.

Landing jam pisa tong pesawat, kesa (landing jam berapa nanti pesawat, ipar)?” Dia bertanya.
Ae, toe baen gta kesa. Nggo’o kaut tae diha meseng jam 4 star one bandara keberangkatan (Ae, entahlah ipar. Dia hanya bilang star pukul 4),” jawabku.

Eng pe, eme jam 4 star paling jam 6 atau jam 7 tong ga cai ce’e gi (Iya, kalau star pukul 4 berarti sebentar tiba pukul 6 atau 7 sore),” katanya.
Toe baen tong ge kesa (entahlah nanti ipar),” jawabku.

Aku merogoh kantong. Mengambil HP dan menelepon si Dinda. Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Empat jam aku bergulat dengan ketidakpastian.

“Apakah nomornya aktif? Ini sudah pukul 7,” tanya kawan ini.
Aeh, am toe ma jadi main (aeh, barangkali dia batalkan kedatangannya),” jawabku.

Ponsel si Dinda belum kunjung aktif. Ah, mungkin Dinda bukan jodohku.

Tidak mungkin aku berlama-lama di Balikpapan. Lagian aku tidak membawa pakaian ganti. Hanya baju dan celana yang menempel di badan.

Lalu aku pulang ke Kembang Janggut? Itu tidak mungkin. Uangku habis.

Ah, biar aku menetap di Balikpapan saja. Aku nanti mencari pekerjaan di sini. Jika mendapatkan pekerjaan aku bisa kembali.

“Embot, aku sudah mendarat di bandara Balikpapan. Kamu dimana sekarang?” Tiba-tiba Dinda menelepon pada pukul setengah delapan malam.

Aku tak percaya ini terjadi. Betapa hidup bagai teka-teki. Semua terjadi begitu tiba-tiba seperti sebuah kejutan skenario sang sutradara.

Denyut jantungku begitu cepat. Setiap detakan seolah berkata, selamat datang sayang.

“Marilah kawan, pesawat sudah mendarat,” kataku pada kawan yang tadi menjemputku.

Soal tampang, aku dengan kawan ini berbeda jauh. Dia punya hidung mancung. Rambut cepak seperti tentara. Aroma parfum merebak kemana-mana. Casual tapi lebih keren.

Berbanding terbalik dengan aku yang urakan. Pakaian dipenuhi keringat seharian. Udara bandara dengan garang menyebar pesing. Kondisi ini membuat aku semakin tidak PD.

“Embot, kamu dimana? Aku menuju ke luar arrival room sekarang,” tiba-tiba Dinda menelepon.
“Iya sayang! Aku di sini. Kamu pakai baju warna apa?”
“Kemeja kotak-kotak. Gendong ransel.”
“Baiklah. Kalau kamu melihat pria terjelek di arrival room, itulah aku.”
“Kamu itu ya, masih saja merendah Embot!”
“Serius Dinda. Aku serius!!”

Aku melihat ke kiri dan kanan. Tapi tak kulihat si Dinda di keramaian, sebab orang-orang di depanku lebih tinggi dariku.

“Embot!!!”

Tiba-tiba Dinda memanggil aku. Dugaanku tadi benar. Akulah yang terjelek di sini. Terbukti, Dinda dengan mudah mengenal aku meski di sini ratusan manusia banyaknya.

Aku sempat melihat dia dari balik kerumunan. Tapi saat kulempar pandangan dan senyuman dia malah menoleh. Aku kira tebakanku salah.

Dinda berkulit pucat. Mulus. Sedikit semok dan lebih tinggi dariku. Lentik matanya yang aduhai membuat aku mengira dia turis Cina, Korea atau Taiwan.

Tiba-tiba dia memelukku. Diikuti cipika-cipiki sebagai salam pertemuan.

“Halo nona. Aku Afri, temannya Mados,” kata kawanku memperkenalkan diri.
“Halo juga. Oh, terima kasih telah menjemputku,” jawab Dinda datar.
“Namanya siapa nona?” Tanya Afri.
“Tanya saja Mados,” jawab santai.
“Baiklah. Ayo kita ke rumah. Besok baru ke Kembang Janggut,” kata Afri mengajak aku dan Dinda.

“Embot!! Dari sini ke tempatmu masih jauh nggak? Atau ada gak mobil ke sana sekarang? Biar kita langsung jalan aja,” kata Dinda.
“Ini sudah malam, Mbak. Besok baru ada mobil,” kata Afri.
“Iya, Dinda. Kita bermalam di sini saja. Besok baru dilanjutkan ke Kembang Janggut,” kataku.

“Kota Bangun, Kota Bangun!!” teriak sopir taksi.

“Embot, tu ada mobil menuju Kota Bangun, dan saya kira kita tujuan ke sana kan?” Kata Dinda.

“Iya, Dinda. Tapi mahal kalo sudah malam seperti ini,” jawabku

“Emang berapa harganya? Yang penting ada mobil ke sana,” katanya.

“Lebih baik bermalam di sini saja,” kata Afri.

“Ga usah, Mas. Biar kita langsung berangkat saja. Lagian itu ada mobil kan?”

Kami pun bergegas ke Kota Bangun. Tarif normal ke sana adalah 850 ribu rupiah. Tapi sopir menaikkan tarif menjadi 1,6 juta rupiah. Aku pun menyetujuinya karena Dinda terus memaksa sebab aku tidak punya pilihan.

Perjalanan sekira lima jam dari Balikpapan ke Kota Bangun sungguh melelahkan. Itu perjalanan siang hari. Entah malam ini. Apakah sopir melaju bus selama lima jam atau malah lebih lama dari biasanya?

Aku tak tahu itu. Yang aku tahu hanya Dinda. Kini dia milikku dan aku miliknya. Aku tak lagi merasakan berapa lama perjalanan. Bagiku perjalanan akan lama dan melelahkan tanpa cinta yang berkobar-kobar.

Jarak ratusan kilo terlalu singkat untuk kami yang bermesraan sepanjang perjalanan. Sejauh jalan ditempuh, sejauh itu pula kemesraan kami di dalam mobil. Aku tak melihat lagi orang-orang diluar sana. Hanya aku dan Dinda yang menaklukkan malam dengan cinta yang membara.

Tiba-tiba sang sopir mengajak kami berbagi cerita. Tapi kami tak hiraukan dia. Kalaupun diladeni sesekali, kami menganggap bahwa itu iklan yang menjeda adegan dua insan yang diliputi kemesraan. Kehadirannya hanya setitik api dalam bara asmara Dinda dan Mados.

Aku mengecek jam pada layar HP. Oh my God, sekarang pukul 4 dini hari. Ini perjalanan tersingkat setelah memulai perjalanan kami bersama cinta yang menggelora sejak pukul 9 malam dari Balikpapan.

“Kita cari penginapan di sini saja,” kata Dinda.
“Baiklah Dinda,” jawabku.

Bagi kami perjalanan dua belas jam terlalu singkat untuk melepaskan rasa rindu yang telah lama dipendam. Maka penginapan adalah tempat yang nyaman untuk melanjutkan kisah cinta yang terlewati.

****

Kembang Janggut, kami datang! Kakanda Dinda berseri-seri. Mulai sekarang ia memutuskan untuk tinggal bersamaku. Mulai sekarang aku dan dia tinggal serumah sebagai suami istri. Di sini. Di tengah hutan perusahaan MAJA. Entah esok atau nanti.

Di hari ketujuh, Dinda tiba-tiba gak enak badan. Dia menyarankan aku untuk tidak bekerja.

Ini tidak biasa. Sebab seminggu ini dia melayani aku layaknya seorang istri yang baik. Bahkan belasan teman kerjaku rela menjadi ibu baginya. Dia memasak makanan untuk kami. Membuat kopi. Mencuci piring dan bangun lebih pagi untuk membuat sarapan bagi belasan buruh sawit di basecamp ini.

“Embot!! Kali ini aku yang memintamu tidak masuk kerja,” katanya.
“OK sayang. Kalo itu memang maumu,” jawabku.

Aku melihat wajahnya pucat. Tapi kemudian mempersilakan aku pergi bekerja.

“Tapi kamu pucat sekali sayang!!
Kamu kenapa? Apa yang sakit sayang?” Tanyaku.
“Aku tidak sakit, Embot. Tidak tahu perasaan tidak enak saja. Kayak ada yang memanggilku dari jauh,” jawabnya.

“Ya sudah. Biar aku jaga kamu,”jawabku.

Gak usah Embot. Aku baik-baik saja. Gini aja kamu bawa satu HP, dan satunya aku simpan. Nanti kalo ada apa-apa aku hubungi kamu OK.”

“Tapi HP-nya lowbat sayang,” jawabku.

Kebetulan daya baterai kedua HP kami lemah. Semalam tidak diisi.
Biasanya Dinda menyuruhku agar tidak membawa HP ke tempat kerja.

Hari ini dia membiarkanku membawa HP agar bisa bertukar kabar meski lowbat. Bersambung…[]

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di sebuah kota di Sulawesi
*Ini adalah kisah nyata. Beberapa tempat dan tokoh disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *