[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (7)*

Waktu terus berjalan. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Kudengar teriakan dari luar camp. Bulu kuduk berdiri. Rambut berdiri. Pori-pori terbuka. Keringat dingin.

Di sini aku seorang diri, tapi di luar camp seperti suara-suara berisik. Saat kutengok, tak ada yang tampak.

Tapi langkah kaki seperti ada gema. Semakin aku melangkah, suara langkah kaki semakin mendekat.

Aku melihat ke dapur. Makanan berhamburan. Piring-piring dan periuk tak karuan. Ulah siapa ya? Entahlah.

Aku tidak sedang menonton film, atau mengimajinasikan dunia gaib. Aku mengalami hal-hal di luar nalar.

Pertanyaan demi pertanyaan tak mampu dijawab nalar. Aku pun bergegas istirahat. Mempertanyakan hal-hal di luar otak tentu melelahkan. Maka tidur adalah pilihan.

Tuhan, syukur atas berkat hari ini dan ampuni segala dosaku. Biarkan aku tidur dengan nyenyak dan bangun besok pagi dengan semangat baru, agar dapat memujiMu melalui karya.

Tidurku memulihkan tenaga hingga mengantarku pada pagi yang berseri-seri. Dinda menelepon lagi.

“Halo Dindaku yang cantik, manis, baik hati dan tidak sombong!”

Aku membuka obrolan dengan mengeluarkan segala jurus rayuan maut. Rayuanku meluluhlantakkan hati Dinda di seberang sana. Aku bisa membayangkan senyuman dan auranya melebihi matahari pagi yang muncul di ufuk timur.

“Halo juga, Embot! Kamu semangat sekali hari ini ya? Ada apa Embot? Kamu tidak biasanya seperti itu,” jawabnya.

Ini membuat senyumku makin lebar. Rada-rada kegirangan.

“Bagaimana aku tidak bersemangat sayang, utangku sudah kamu lunasi.  Aku seperti terlepas dari ikatan yang begitu erat. Kaulah penyelamatku.”

“Hhhhh….apa?? Bayar utang?? Aku tidak pernah melunasi utangmu, Embot! Kamu bercanda deh,” katanya sambil tidak mau dipuja-puji.

“Kan kemarin Dinda transfer uang?” Kataku.

“Bukan aku yang bayar sayang!! Tapi kamu sendiri yang melunasinya, aku hanya mengirim buat kamu, terserah kamu mau bayar hutangmu atau tidak itu terserah kamu,” jawabnya.

“Iya sayang, tapi itu kan berkat bantuan kamu,” kataku.
“Ya, sudah. Kamu sudah makan Embot?” Dia bertanya.

“Belum sayang masih dimasak. Semalam aku tidak makan gara-gara menunggu kamu telpon hingga ketiduran,” jawabku.
“Uhhhh, kamu mulai gombal Embot,” jawabnya.

Hari demi hari dilalui hingga dia mengirimkan fotonya melalui GPRS pada Nokia 5010.

Melihat foto yang dikirimnya aku jadi minder. Aku tidak percaya semua ini. Dia bagai bidadari dari langit. Aku dan dia seperti langit dan bumi.

Bagaimana kalau kami berjalan berduaan? Oh Tuhan apa kata dunia. Semangatku kendur. Aku membatalkan niat untuk mengirim foto melalui GPRS. Padahal selama ini kami begitu dekat saat mengobrol.

Komunikasiku dengan Dinda dan keluarga aman-aman saja, bahkan semakin sering. Tidak demikian dengan Leni. Aku jarang menelepon si Leni.

Delapan bulan sudah, suatu waktu, aku dikirimi SMS. Menyusul miscall. Aku cuek saja. Aku pikir tidak ada gunanya meladeni nomor yang tidak terdaftar dalam kontakku.

Tapi aku juga penasaran. Sebab sudah lama tak ditelepon Dinda. Tapi pagi ini SMS itu mengagetkanku. Jangan-jangan dia mengganti nomor baru.

Nana, emo lite telepon nomor hio ga. Tolong ee!!” (Nana, berhenti menelepon nomor itu. Tolonglah!!).

Ini siapa ya? Kalau Dinda, masak dia bisa berbahasa daerahku? Atau siapa yang memberitahu dia? Atau apakah itu pacar, suami, atau keluarganya? Jangan-jangan ini Leni?

Aku penasaran sehingga berusaha meneleponnya. Saat kutelpon dia langsung memutuskan sambungan telepon. Persetan ah. Mungkin salah sambung.

Baca juga:

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (6)*

Lalu aku kembali bekerja. Tapi beberapa menit kemudian muncul SMS dari nomor yang sama tadi.

Nana, emo hubung lite nomor hot 482 musi main ga. Karena ata manga ronan. Momang laku ite.” (Nana, berhentilah menghubungi nomor yang berakhiran 482. Karena itu orang yang sudah bersuami. Aku mencintai kau).

Pada bagian bawah layar ponsel itu ada tertulis lagi:

Nara daku, momang laku ite. Neka koe hemong hi Leni.” (Saudaraku, aku mencintaimu. Jangan lupakan si Leni).

Ini siapa ya? Orang telepon tidak diangkat. Apa maunya sih? Aku pun menghubungi Leni. Bertukar kabar dan tanya-jawab.

“Leni, itu nomor punya siapa?” Tanyaku.
“Aku tidak tahu,” jawab Leni.

Lalu sambungan telepon putus. Dan SMS muncul lagi dari nomor yang sama keesokan harinya.

Nana, nomor hitut telepon dite bos daku. Jadi tolong emo lite angkat telpon diha ga.” (Nana, nomor yang kamu telepon itu bosku. Jadi tolong berhentilah meladeni telponnya).

Saking penasaran aku membalasnya.

Neka rabo ceing ite? Nia mai beo, agu nia kaeng dite?” (Maaf kamu siapa? Darimana asalnya dan Anda tinggal dimana?).

Dia membalasnya.
Nana, ite toem perlu bae ceing aku. Tapi hitu kaut tae daku, aku weta dite. Eme imbi lite tae daku.” (Nana, tidak penting kamu tahu siapa aku. Tapi itu saja pesanku, aku saudarimu. Kalau kau percaya omonganku).

Aku semakin dibuatnya penasaran.

Ceing weta daku hitu,, neka koe pande penasaran.” (Siapa saudariku itu, jangan bikin penasaran).

Setelah itu dia tidak membalasnya. Dan aku pun semakin penasaran.

Dinda menelepon saat malam. Dia menelepon saat aku dan belasan kawanku sedang santai, sehingga Dinda punya kesempatan untuk berkenalan dan bercerita ria dengan mereka.

Uihhhh, nana. Rejeki de hau e ae (Uihhh, nana. Kau punya rezeki ini),” kata salah satu kawan disambut gelak tawa kawan-kawan lainnya, setelah melihat foto Dinda dan mendengar suaranya.

Hari ini muncul pesan dari nomor anonim dua hari lalu.

Halo nana. Hi Mados ite ko?”
(Halo nana. Kau Mados kah)

Iyo enu, tuung. Neka rabo agu ceing bo ho ga (Iyo enu, betul maaf ini dengan siapa)?”

Nana, ngasang daku hi Sedis. Weta dite one mai Ndoso (Nana, namaku Sedis. Saudarimu yang di Ndoso).”

Trus nia main nomor daku lite ge (Terus darimana dapat nomorku)?”

One mai beon nana. One mai hi Leni, wina tungku dite (Dari kampung nana. Dari Leni wina tungku kamu.”

Nana, aku manga rei agu ite. Dan tolong wale jujur. Nomor hot selalu telepon dite. Nana bos daku hia (Nana, aku mau tanya kamu. Tolong jawab dengan jujur. Nomor yang kau selalu telpon itu. Nana itu bos aku).”

Aku langsung lemas mendengar si Sedis. Stres juga.

Bos dite? Co maksudn ta enu. Agu apa kaut campit tara baen lite (Bos Anda? Apa maksudnya, enu. Dan apa gerangan sehingga kau tahu?”

Sedis pun berterus terang. Sebenarnya Dinda adalah Monalisa Dayana. Biasa dipanggil Dayana.

Tapi nana. Tolong neka toi rahasia ho’o eme telepon agu hia e (Tapi nana. Tolong jangan kasih tahu rahasia inu kalau telepon dengan dia),” kata Sedis melalui SMS-nya.

Terus terang aku kecewa. Aku sangat kecewa karena Dinda yang bermanja-manjaan, yang penderma, dan Dinda yang aku panggil sayang ternyata majikan sepupuku.

Dinda terlanjur mencintaiku meski belum bertemu. Begitu juga aku. Aku terjebak dalam rayuan dan kasih sayang semu. Namun, di sisi lain aku takut kehilangan sosok Dinda.

Aku juga kecewa sama Sedis. Kenapa ada Sedis dalam hubungan kami? Kenapa Sedis baru memberi tahu ketika cinta kami bersemi?

Dinda ternyata diam-diam mengambil nomor ponselku dari Sedis saat dia menelepon Leni.

Saat itu aku, Leni, dan Sedis sedang mengobrol dalam percakapan konferensi. Dinda ternyata menguping.

Sontak Sedis kaget dan mempersilakan aku dan Leni mengobrol, sedangkan Sedis melanjutkan pekerjaannya karena dipergoki sang majikan yang bernama Dinda atau Monalisa Dayana tadi.

Saat Sedis ke toilet, diam-diam Monalisa mengambil nomorku dari ponsel si Sedis.

“Eh, Bu. Kok di sini ya?” kata Sedis kepada Monalisa setelah keluar dari toilet dan mendapati majikannya itu menguping pembicaraanku dengan Leni.

“Ini siapa Sedis? Kok obrolannya asyik dan mesra sekali, pacar kamu ya?” Tanya Monalisa.

“Bukan, Bu. Itu saudaraku. Yang cowok berada di Kalimantan dan perempuan di Manggarai,” jawab Sedis.

Lalu Sedis menjelaskan status hubunganku dengan Leni. Tapi Monalisa sudah mengambil nomorku dari ponsel si Sedis.

Lalu Sedis mematikan telepon itu.
Majikannya pun mengatakan, “Biarin dulu mereka bicara, Dis. Jangan dimatikan. Atau pulsamu habis? Aku gantikan pulsamu. Kasihani mereka. Lagi asyik pacaran. Mesra lagi.”

“Tidak, Bu. Lawbat HP-ku,” jawab Sedis sambil meninggalkan bosnya dan mengisi daya baterai ponsel.

Sejak saat itulah Monalisa Dayana si majikan Sedis melancarkan aksinya. Dia mulai merancang strategi. Alih-alih salah sambung dan mengaku mahasiswa jurusan psikologi.

Keesokan harinya dia menelepon aku dan mencari pria bernama Hans seperti katanya dulu kepadaku.

Sedis bahkan makin kaget ketika Monalisa mengajaknya berlibur ke Kalimantan. Tambah kaget lagi Sedis ketika majikannya itu mengetahui nomorku dan mengajak dia menemuiku.

“Kok ibu tahu nomornya Mados?” Tanya Sedis.

Sedis menolak ajakan si bos dengan alasan terlalu jauh jika ke Kalimantan.

“Lah, kan aku yang tanggung tiket, Dis. Kamu hanya menemani aku,” kata Monalisa.
Gak usah deh, Bu. Aku di sini saja,” jawab Sedis.

Karena penasaran, Sedis menanyakan lokasi di Kalimantan yang bakal dikunjungi. Monalisa pun mengatakan bahwa mereka akan menemuiku di Kalimantan. Monalisa lalu menceritakan hubunganku dengan dia

Cerita Sedis kepadaku memang mengecewakan. Tapi apa boleh buat. Dinda semakin nekat menemuiku di Kalimantan.

Namun, Sedis bercerita bahwa bosnya itu belum berstatus cerai. Dia adalah gadis kelahiran 1982 dan lebih tua enam tahun dari usiaku. Dia menikah di usia yang sangat muda dan kini punya tiga orang anak.

Dia memutuskan untuk datang sendiri ke tempatku di Kalimantan.

“Embot, minggu depan aku ke Balikpapan, ya. Kamu harus menemuiku,” katanya di ujung telepon.

Aku diam saja tapi dia terus menanyaiku.

“Jawab dong, Embot. Mau kan menemui ku?”

Di sisi lain aku senang, sangat senang malah. Tapi caranya gimana ya? Tempatku jauh dari Balikpapan. Aku harus menempuhnya tiga kali transit dengan jarak tempuh puluhan kilo, yaitu, Kembang Janggut dan Kota Bangun dengan menyeberangi Sungai Mahakam. Dari Kota Bangun ke Samarinda baru Balikpapan.

Butuh biaya 750 ribu ke Kota Bangun untuk menyewa perahu, sedangkan dari Kota Bangun ke Samarinda butuh biaya 150 ribu naik taksi bebas cargo, sedangkan dari Samarinda ke Balikpapan butuh 25 ribu untuk membayar bus.

‘Waduhhhh Dinda!! Bukannya aku tidak mau ketemu kamu, tapi dari tempatku saat ini ke Balikpapan sangat jauh dan butuh biaya banyak. Belum terhitung belanja selama perjalanan. Aku tidak punya uang dan tidak mungkin aku bisa menemui kamu,” jawabku.

“Ya,, sudah. Berapa semua biaya menuju Balikpapan dari tempat kamu? Aku akan transfer nanti. Asalkan kamu mau menemuiku,” jawabnya enteng

“Waduhhhh, gimana ya Dinda?” Jawabku.

Aku sebenarnya mau bertemu dengan dia. Tapi aku malu dengan kondisiku saat ini. Aku tidak selevel dengan dia. Dia cantik dan kaya raya. Sedangkan aku bukan siapa-siapa.

“Okelah Dinda. Nanti aku ke sana ya?”
“Janji, ya?” Katanya.
“Iya aku janji. Tapi kenapa harus ke Balikpapan?”
“Maksudnya ke tempat kamu sayang,” jawabnya.

Aku takut dia semakin nekat. Aku tidak mau dia ke tempatku. Boleh saja kami bertemu di Balikpapan, asal jangan di tempatku.

“Waduh, jangan deh kalo ke sini. Aku tidak mau kamu ke sini,” jawabku.
“Kenapa, Embot? Gak suka sama aku ya?”
“Bukan begitu sayang. Di sini hutan rimba. Percaya saja aku. Kamu belum tahu tempat ini seperti apa.”
“Kan ada kamu, Embot!”

Dinda terus memaksa dan aku pun mengiyakannya. Pada hari yang dijanjikan, Dinda mengirimkan aku uang transpor sebanyak dua juta lima ratus ribu agar kami bisa bertemu di Balikpapan. Bersambung.. []

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di salah satu kota di Sulawesi
*Cerita ini adalah kisah nyata. Beberapa tokoh dan tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *