[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (6)*

Perihal nomor rekening aku kira Dinda meledekku. Dia tahu bahwa buruh sawit yang menderita sepertiku tidak mungkin punya uang banyak dan menyimpannya di bank. 

“Jangan bercanda seperti itu dong Dinda!” Kataku.

“Ya, sudah. Kalau kamu gak punya, minta rekening temanmu saja,” jawabnya.

Aku meragukan ucapannya. Tapi sontak aku percaya juga. Di sini keraguan dan keyakinan seperti sedang berduel.

“Terima kasih, Dinda!”

“Jangan berterima kasih dulu! Kirim nomor rekeningnya. Kalau aku sudah mengirim uangnya baru kamu berhak bilang terima kasih,” katanya.

“Tapi….,” jawabku.

“Iya, yang paling penting kamu harus selalu berdoa kepada Tuhan dan mensyukuri apa yang kamu miliki,” timpalnya sembari menutup teleponnya.

Sepanjang hari ini aku memikirkan dia; ucapannya, dan keberaniannya untuk membantu. Aku tidak memikirkan apakah itu tulus atau ada motif lain. Aku hanya yakin bahwa ucapan yang berulang-ulang dan konsisten tidak akan meleset. Agaknya dia serius.

Aku terus berusaha agar bayangannya hilang dari kepalaku, agar bayangannya tak menghalau pandanganku ke masa depan. 

“Embot, aku tidak mau menelepon kamu sebelum mengirim nomor rekening ke aku,” tiba-tiba dia menelepon di malam yang sunyi dan dinginnya udara Kalimantan.

Suaranya membuat aku terlelap. Tidur jadi nyenyak. Rindu-rindu yang tertampung beberapa hari ini menyatu dalam mimpi-mimpi.

Hari berganti hari. Satu minggu lamanya dia tidak menelepon. Di hari ketiga usai telepon malam ini, aku diliputi rasa rindu, disiksa ingatan akan fase-fase percakapan, dijejali ingatan akan pertemuan tak terduga lewat telepon seluler dengan si Dia. 

Betapa tidak, itu bagai potongan-potongan bata yang harus aku tata menjadi rumah cerita, bila kelak misterinya terpecahkan.

Aku dirundung sepi. Ingin kutelpon dia, tapi keraguan mendominasi. Aku juga belum berani meneleponnya sebelum janji ditepati, yaitu mengirim nomor rekening. 

Entah dia bersandiwara, entah dia sedang menyusun drama, yang pasti itu yang terlontar dari mulutnya lalu ditangkap kedua telingaku.

Oeh……, ho’o keta perna mai ce’en Kraen e,” kata kawan-kawanku saat menyambutku di rumah mereka.

Oeh Nana, nuk keta ite lami e,” sambung teman lainnya.

Satu per satu mereka mengeluarkan jurus ganda dan joak.

Emad dami poli rowa ite ge,” lanjut kawan satunya, diiringi tawa kawan-kawan satu basecamp.

Cerita dan tawa mereka membuat aku tidak pulang malam ini. Aku bermalam di sini.

Oeh, diong ata manga rekening ta?” Tanyaku sepagi ini.

Te co’on e?” Tanya kawan-kawan serempak.

Toe ta, ata rei bon daku,” jawabku.

Bo dami toe manga e, rei Pak Martin,” kata salah satu kawan menyarankan.

Eng ooo, hemong laku ge. Kali manga one aku rekening di Pak Martin,” jawabku.

Pak Martin adalah pengawas kami. Dia orang Toraja. Orangnya dikenal sangat baik. Punya selera humor juga. Wajar saja karyawan betah saat bercerita dengannya.

Tanpa berlama-lama aku menelepon Pak Martin. Dia merespons permintaannku dan mengirimkan rekeningnya.

“Mau diapakan nomor rekeningnya, Mados?” Kata Pak Martin disertai tertawa.

“Orangtuaku mau kirimkan aku uang, pak. Mau melunasi utang-utangku,” jawabku.

Pak Martin menjawab dengan tertawa. Tentu saja ini mustahil. Orang tua mana yang mengirim uang kepada anaknya yang merantau? Bukankah aku merantau untuk mencari uang untuk hidup dan membantu keluarga? Pantaslah Pak Martin ragu dan menjawabnya dengan candaan.

“Betul Pak Martin. Aku serius. Bapak kan tahu utangku menumpuk,” jawabku.

“Ya sudah, terserah kamu Dos. Itu nomor rekeningnya sudah aku kirim,” kata Pak Martin.

Aku pun berpamitan ke kawan-kawan dan bergegas kembali ke camp

De di’a ge!” Kata kawan-kawan.

Ta, com kaeng camad kat e,” lanjut kawan lainnya.

Toe ta teman. Kolek aku ge,” jawabku.

Eng dapas ge sen, dia-dia kali ga. Mai kin lejong ce’ey e? Neka temo keta awo hitu,” kata kawan-kawanku.

Eng ge teman,” jawabku.

Lalu aku pulang. Sepanjang perjalanan kepalaku dipenuhi bayangan Dinda. Saking tergila-gilanya aku seperti tidak waras. Kadang-kadang berbicara sendiri.

Sesampai di camp aku langsung mengirim SMS kepada Dinda. Memberi tahu nomor rekening yang baru saja kudapatkan dari Pak Martin.

Baca juga:

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (5)*

 “Dos, apa kamu mentransfer uang ke rekeningku?” Tiba-tiba Pak Martin menelepon.

“Apa uangnya sudah masuk, Pak?” Jawabku senang.

“Iya, kamu tunggu ya. Aku ke sana bawa uangmu.”

“Kalau boleh tahu, berapa jumlahnya, Pak?”

“Hanya Rp 250 ribu,” jawab Pak Martin.

“Ada Rp 5,5 juta ini Mados,” lanjut Pak Martin.

Mungkinkah Dinda mentransfer uang sebanyak itu? Ah, tidak mungkin. Pak Martin pasti bercanda.

Tak pake lama, Pak Martin tiba di depan camp.

“Dos, kamu dimana? Aku mencarimu sedari tadi!!” Teriak Pak Martin.

Setelah itu dia menelepon lagi dan berjanji menemuiku di warung. Setibanya di warung, Pak Martin melihatku dengan mata sebelah sambil tertawa. Pandangannya membuat aku terpukul dan tidak PD. Jangan-jangan Pak Martin mengerjaiku.

“Dos, kenapa kamu jauh-jauh merantau kalau akhirnya orang tuamu yang mengirimkan kamu uang?” Kata Pak Martin sambil menepuk-menepuk pundakku dan memberikan nasihat.

“Kamu traktir aku ya. Karena kamu sekarang bosku,” katanya lagi diiringi tawa.

“Siappp, Pak!! Aku traktir bapak,” jawabku.

“Kamus serius, Dos?” Tanya Pak Martin lagi.

“Silakan bapak pesan apa, makanan dan minuman,” kataku.

Lalu Pak Martin mengeluarkan uang dari tasnya. Uangnya sangat banyak. Kami pun memesan 2 gelas kopi. 

“Ini uangnya, Dos. Lima juta lima ratus ribu. Coba hitung ulang,” kata Pak Martin.

Aku terharu. Aku menangis. Aku tak yakin. Ini seperti mimpi. Seperti mimpi siang bolong.

“Kenapa kamu menangis, adek? Kayak anak kecil saja,” kata Pak Martin.

“Kamu gak kasihan ya sama orangtua kamu yang mengirimkan uang sebanyak itu?” Lanjutnya.

Tapi aku terus menangis sejadi-jadinya.

“Orangtuamu masih hidup kah, Dos?” Tanya Pak Martin lagi.

“Mereka sangat kaya ya? Lalu kenapa kamu mau merantau?” Kata dia lagi dengan nada sinis.

Aku diam saja. Seolah-olah Pak Martin berbicara pada lantai, dinding, dan gelas di warung ini.

Kudekati tuan warung ini. Dia baik sekali. Saking baiknya dia mengizinkan kami kasbon. Makan dan minum boleh tiap hari, tapi nanti dilunasi pas gajian akhir bulan.

Kami ada tujuh belas orang. Semuanya perantau dan buruh sawit. Bagi kami tuan warung ini adalah orangtua dan keluarga kami. Dia pengertian. Kami pun mencintainya.

Warungnya menjadi rumah kedua kami. Tiap malam kami nongkrong di sini sepulang kerja. Kami juga sering menumpang charge HP di sini.

“Bu, coba cek kasbonku! Berapa jumlahnya?” Kataku.

“Kenapa, kamu sudah punya uang?” Jawabnya.

“Iya, bu. Mados sudah jadi orang kaya sekarang,” jawab Pak Martin.

Kami pun tertawa. Seisi warung riuh. Ibu ini mengambil buku daftar bon dan menyodorkan kepadaku.

“Ini Mados. Semuanya berjumlah empat juta delapan ratus tujuh puluh sembilan ribu rupiah,” katanya.

Aku kaget setengah mati. Dia memperhatikan ekspresiku dengan hati-hati. 

“Kalau kamu punya uang, kamu bayar dua juta saja ya. Aku coret yang lainnya sehingga jadi lunas,” katanya.

“Kamu beruntung sekali, Dos,” kata Pak Martin sambil melemparkan senyuman.

Kini utangku lunas. Aku memeluk ibu pemilik warung. Dia bagai jelmaan ibuku yang jauh di kampung halaman. 

“Mados, lain kali kamu nyicil saja bayar utangnya. Tempo hari aku memberhentikan kasbon hanya mengetes sejauh mana kejujuranmu,” katanya.

“Terima kasih, Bu. Ibu sudah mempercayai kami,” kataku sambil mengusap air mata di pipi.

“Dos, terus terang, kalian anak-anak Flores yang tinggal di sini sangat baik. Aku anggap kalian adalah anak-anakku,” jawabnya.

“Itu. Ada utangnya Si Kiki,” katanya sambil memperlihatkan daftar utang saudaraku Titi sebanyak satu juta delapan ratus ribu rupiah.

Ibu ini punya anak satu. Namanya Louis. Maka kami memanggil dia Mama Louis. 

Aku dan Pak Martin pun pulang. Pak Martin kembali ke kantornya usai mengantar aku ke camp.

Ternyata Pak Martin cuma bercanda saat di warung. Dialah yang tadi membayar semua makanan dan minuman, kue-kuean, kopi dan rokok. Total tagihannya seratus dua puluh empat ribu rupiah.

Aku melompat-lompat seperti anak kijang setiba di camp. Kegirangan. Dengan apa kubalas semua kebaikan yang aku terima? 

Oh Tuhan, matamu sungguh besar untuk melihat perbuatan amal manusia. Engkau melihat kami meski kami bersembunyi dari sayap-sayap kuasa-Mu. Kuselipkan nama Dinda di doa spontanku. 

Aku mencoba menelepon dia beberapa kali tapi gagal. Nomornya tidak bisa dihubungi. Aku pun kembali tidur. Bersambung.. []

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di sebuah kota di Sulawesi

*Cerita ini adalah kisah nyata. Beberapa tokoh dan tempat disamarkan

Catatan:

Oeh……, ho’o keta perna mai ce’en Kraen e.= oeh, Anda baru kelihatan

Oeh Nana, nuk keta ite lami e = Aduh,Nana, kami sangat merindukanmu

Emad dami poli rowa ite ge = kami kira Anda sudah meninggal

Oeh, diong ata manga rekening ta? = siapakah yang punya rekening?

Te co’on e? = untuk apa

Toe ta, ata rei bon daku = tidak, saya tanya saja

Bo dami toe manga e, rei Pak Martin = kalau kami tidak ada, tanya Pak Martin

Eng ooo, hemong laku ge. Kali manga one aku rekening di Pak Martin = iya, saya lupa. Padahal saya punya nomor rekening Pak Martin

De di’a ge! = hati-hati di jalan

Ta, com kaeng camad kat e = mendingan tinggal bersama-sama di sini

Toe ta teman. Kolek aku ge = tidak teman. Saya harus pulang

Eng dapas ge sen, dia-dia kali ga. Mai kin lejong ce’ey e? Neka temo keta awo hitu= baiklah, hati-hati saja. Bertamulah kemari. Jangan terbuai di sana

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *