[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (5)*

Aku langsung mengambil HP saat bangun pagi ini. Tak disangka Dinda meneleponku.

Barakkk!!! HP jatuh dan casing-nya terlempar jauh saat telepon berdering. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi di awal hari.

Lalu aku membetulkan casing yang terlempar sejauh dua meter. Antara harapan dan tiada harapan. Jangan-jangan HP rusak?

Puji Tuhan, HP masih menyala. Aku bergegas menelepon Dinda. Siapa sangka Dinda menelepon lebih dulu.

Astaga, selama aku mengenal dia, tak pernah sekalipun aku menghubunginya. Dia yang proaktif meneleponku.

Sepanjang aku mengenal Dinda, selama itu pula dia menelepon orang tua dan keluargaku di kampung.

“Halo sayang!” Sapa Dinda.
“Halo juga sayang,” jawabku.
“Wah, PD-nya aku memanggil kamu sayang ya, Dos? Padahal kamu sudah punya istri,” ujarnya.

“Mas, bolehkah aku memanggil kamu Embot, seperti yang Leni panggil?” Dia memberiku pertanyaan mengejutkan.
“Tidak apa-apa, Dinda. Dengan senang hati aku mendengar kamu memanggil nama itu,” jawabku.

Sehari ini aku melanjutkan pekerjaan setelah pagi-pagi sekali menelepon.

Aku menuju basecamp untuk melepas lelah, mengumpulkan tenaga yang terbuang menjadi buruh sawit.

“Embot!! Bolehkah, aku jadi pendamping hidupmu?” Kata Dinda di awal pagi.

Aku diam saja. Aku kira dia bercanda. Jangan-jangan mau tes aku lagi.

Dia mau mengetes sejauh mana aku konsisten dengan jawaban “tidak” sejak tawarannya muncul dari balik suara yang terputus oleh jaringan? Apakah dia tidak salah orang? Gila kali ya?

“Embot, kenapa kamu diam saja?” Dia bertanya.

Dia terus mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan, tapi aku tetap diam. Diam bukan berarti pasrah tapi memikirkan jawaban alternatif. Jangan sampai aku salah bicara dan omonganku bisa jadi bumerang.

“Embot! Embot!”

Dia terus memanggilku tapi mulutku seolah dibius oleh pertanyaan-pertanyaan tak terduga.

“Jawab dong, Embot!” Katanya dengan nada rendah.
“Iya, sayang. Aku jawab apa tadi ya?” Kataku berkilah.
“Aku mau dengar jawabanmu Embot. Tolong dong!” Pintanya.

Aku bisa membaca dari nada pertanyaan Dinda. Dia terisak-isak. Kali ini dia ingin mendengar jawaban pasti dari seorang Mados yang kini dipanggilnya Embot.

“Kamu menangis ya sayang?” Aku pura-pura bertanya.
Gak! Gak! Aku tidak menangis kok,” kilahnya

“Entah kamu pakai ilmu apa sehingga aku begitu sayang sama kamu. Sampai-sampai aku lupa siapa diriku,” jawabnya lagi.

“Huhhh, siapa yang pakai ilmu? Kamunya yang merasa ke-PD-an,” jawabku.
“Embot, tolong lepaskan aku dari jerat cintamu. Terus terang Embot, begitu banyak lelaki yang menyukai aku,” jawabnya.

“Lalu masalahnya apa?” Aku bertanya.
“Aku hanya menginginkan kamu, Embot! Aku menolak mereka mentah-mentah,” jawabnya.

“Ahhhh, kamu memang tipe pemilih,” kataku.
“Betul Embot. Mereka ganteng, kaya raya dan mapan. Tapi aku menolaknya.”

“Terus kenapa dong?” Jawabku.
“Aku cuma ingin kamu, Embot. Embot!” Dia berteriak sejadi-jadinya.
“Dinda, kamu jangan berlebihan dong,” jawabku.

“Embot, mau nggak kamu jadi pendampingku?” Katanya lagi.

Aku semakin bingung. Habis kata-kataku kalau sekadar menjawab pertanyaan murah dan tidak masuk akal.

Gak apa-apa aku jadikan yang kedua. Biar Leni tetap yang pertama,” katanya lagi.

Aku tetap diam tapi dia terus bertanya.

“Aku sayang kok sama Leni dan anak kamu. Aku anggap anakmu anakku juga, bisa kan Embot?” Pintanya lagi.

Tentu saja pertanyaan Dinda tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku butuh ketenangan dan kebijaksanaan untuk menjawab pertanyaan Dinda. Aku tidak mau terjebak pada pilihan yang salah. Aku tidak mau terjebak pada pilihan tanpa pertimbangan akal sehat.

Baca juga: 

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (4)*

“Dinda, aku belum bisa jawab sekarang. Terlalu berat bagiku untuk menjawab pertanyaanmu,” jawabku.

“Kenapa, Embot?” Dia bertanya.
“Ya, cukup lewat telepon saja ya,” jawabku.
“Embot!”
“Aku serius, Dinda. Aku orang jahat, penjudi, pemabuk. Semua ada sama aku. Jadi, aku tidak mau kamu nanti menyesal,” jawabku diplomatis.

“Tapi..,” dia menyela.
“Tapi apa? Lagian Leni juga belum tentu menerimanya. Ya, kalaupun Leni menerimanya, aku tidak menerima itu,” jawabku.
“Embot, kalau kamu tidak suka sama aku, lepaskan aku dari sihirmu,” jawabnya sambil menangis.

Dia lantas mematikan telepon. Persetan dengan dia. Aku menganggap dia benar-benar tidak mau lagi menghubungiku. Memang dia misterius.

Mulai saat ini aku tidak boleh menerima telepon dari Dinda. Cukup sudah.

Selama ini dia terlalu baik denganku. Dia terlalu perhatian sampai-sampai mengejarku meski hanya mengenal lewat telepon setelah nomor nyasar.

Di sisi lain aku sangat menyesal sebab aku tidak pernah mengenal orang asing sebaik Dinda, seperhatian Dinda, dan pengertian, serta sejujur Dinda. Belum ada di dunia orang seperti dia.

Aku benar-benar dicoba. Imanku benar-benar dicoba oleh hal-hal yang tidak masuk akal. Ini tidak masuk akal tapi aku mengalaminya. Aku benar-benar berdosa terhadap Dinda.

Dosaku jelas-jelas terjadi karena tidak menerima Dinda. Mungkin dia sedang galau dan mencari perlindungan. Tapi aku belum bisa menjadi rumah bagi harapannya. Tolong aku Tuhan!

Tanpa sadar air mataku jatuh berlinang di pipi. Laki-laki tangguh yang mengarungi lautan dan melintasi ribuan pulau sepertiku akhirnya membiarkan air mata meleleh.

Dalam kondisi seperti ini Roh Kudus pasti memberi kekuatan meski aku kadang-kadang melupakan Tuhan. Maafkan aku Tuhan. Aku tertidur hingga bangun keesokan harinya.

“Embot! Embot! Kamu dimana??? Aku rindu kamu!”

Tiba-tiba Dinda menelepon lagi. Setan apa yang merasukinya?

“Aku rindu Embot. Aku ingin menemuimu,” lanjutnya.
“Ada apa sayang? Kamu lebay deh Dinda. Kita kan cuma kenal di HP. Masa kamu segitunya?” Kataku.
“Bagi kamu itu biasa, Embot! Tapi aku tersiksa. Aku disiksa rindu. Rindu pada sosokmu yang rendah hati,” jawabnya.
“Ha? Apa kamu tidak salah orang Dinda?” Jawabku.

“Embot, tiap hari aku memikirkanmu. Aku penasaran. Sampai-sampai aku salah menyebut namamu. Aku harus jujur. Aku tidak mau berbohong. Lima bulan kita sudah berkenalan. Selama itu aku memantapkan pilihanku padamu.”

Aku seperti mendengar pledoi di ruang pengadilan. Mendengarkan pembelaan yang begitu panjang. Seperti juga sedang mendengarkan pengakuan di ruang pengakuan.

***

Maaf beribu maaf Dinda. Selama ini pula aku berbohong sama kamu. Aku berbohong karena mengatakan bahwa aku sudah punya Leni dan seorang putri. Aku tidak jujur karena aku tidak mau kamu tergila-gila pada ketidakmungkinan.

Aku tidak mau kamu salah memilih. Aku tidak mau kamu terus mengejar aku yang jauh di seberang lautan lantaran tersihir oleh kerendahan hatiku. Aku tidak mau itu. Oleh sebabnya aku mengakui sudah punya Leni dan seorang putri cantik.

Saat memberi nomor Leni ke kamu, aku berharap agar Leni berkata jujur bahwa kami masih berstatus pacaran jarak jauh meski sudah disepakati kedua orangtua kami.

“Maaf Dinda, aku berbohong selama ini,” kataku.
“Jadi, kamu serius Embot? Serius?”

Aku bisa merasakan kegembiraan pada Dinda. Nadanya begitu jelas saat mengetahui aku berbohong soal Leni. Apalagi dia mendengar ceritaku bahwa aku memang sangat muda.

“Embot, kamu itu ya, kamu bikin aku nyaris bunuh diri,” katanya manja.

“Dinda, aku terpaksa berbohong untuk mencegah kamu menemuiku. Aku di sini menderita. Tidak mungkin dalam kondisi seperti ini aku menerima kamu. Yang terjadi bukan bahagia nanti, tapi penderitaan yang sangat menderita. Aku di sini sendirian. Teman-temanku sudah pindah sejak tiga bulan lalu. Cuma aku saja yang bertahan. Aku tidak takut sendirian bertahan di sini karena aku merasa sudah punya kamu. Kamu selalu menelepon aku sehingga aku tidak sendirian lagi. Bahkan mendengar suaramu saja aku jadi kenyang meski sedang lapar.”

Dia terharu mendengar penjelasanku yang panjang lebar. Dia menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa kamu menangis Dinda?” Tanyaku.
“Embot, penjelasanmu itulah yang membuat aku menyukaimu,” jawabnya.

“Biasa saja ya Dinda,” jawabku merendah.
“Kamu begitu polos Embot. Aku tersihir oleh kepolosanmu,” jawabnya.
“Hmmmm!”
“Kamu harus tahu bahwa aku sayang kamu, Embot!”

“Aku tidak layak untuk kamu Dinda. Apalagi mendampingimu. Tidak layak.”
“Siapa bilang tidak layak Embot?”
“Aku yang bilang Dinda. Kamu pasti lari terbirit-birit jika bertemu aku nanti.”

Obrolan empat jam lamanya tidak terasa. Aku dan Dinda berakhir dengan saling menjelekkan diri pribadi masing-masing.

“Kamu pakai HP kamera ya, Embot?” Tanya Dinda.

Ini pertanyaan lucu karena aku menggunakan Nokia 5010. Aku yakin dia bertanya seperti itu agar dapat mengirim fotoku. Begitu pula dia, sehingga kami bisa bertukar wajah melalui pesan multimedia.

“Ini HP kuning Dinda. Game ular!” Kataku.

Dia terbahak-bahak mendengar jawabanku yang menurutnya super polos.

“Kasihan deh kamu Embot.”
“Iya Dinda. Ini hari terakhir kita telpon-telponan.”
“Hah? Kenapa Embot?”
“Sebentar lagi tuan kios menyita HP-ku karena utang belum lunas.”
“Kenapa baru kasih tahu sekarang, Embot?”
“Untuk apa kasih tahu sayang? Toh itu tidak mengurangi utangku.”
“Emang kamu punya utang berapa sih, sampai HP disita?”
“Sangat banyak Dinda.”
“Berapa sih, 100 juta, 500 juta atau 1 miliar? Aku sanggup membayarnya.”

Aku terjatuh tiba-tiba setelah mendengar keberaniannya. Badanku penuh lumpur. Aku tak menyangka dia berbicara seberani itu.

Mana mungkin dia membayar utang sebanyak itu? Bisa saja dia membayar, tapi apa dia senekat itu? Bisa saja dia membayar tapi melalui doa. Huh dia pasti berbohong. Sorry Dinda. Aku tidak mau tertipu.

Namun, Dinda terus memberondong aku dengan pertanyaan.

“Berapa utangmu Embot? Siapa tahu aku bisa membayarnya,” katanya.

Lalu aku memberitahu kepadanya bahwa utangku sebanyak empat jutaan rupiah.

“Cuma segitu to Embot? Kirain lima miliar,” kata Dinda.
“Emang utang apa itu?” Lanjutnya.
“Banyak Dinda. Utang makan, minum, rokok, dan lain-lain. Gajiku hanya 900 ribu sebulan. Gaji sebanyak itu tentu tak bisa melunasi utang,” jawabku.

“Ohhhh, gitu ya?” Katanya.
“Dinda, aku ini pemabuk, penjudi, dan suka foya-foya. Apa kamu tidak salah orang?” Kataku.
“Jangan bicara seperti itu, Embot! Kamu hebat. Kamu jujur dan aku suka itu,” jawabnya.

Dia terus memujiku tapi aku diam saja. Perasaanku campur-aduk. Antara bahagia, terharu, malu, terpukul, dan banyak sekali.

“Embot kamu punya nomor rekening?” Dia bertanya lagi.

Aku seperti sedang bermimpi. Aku memukul-mukul kepala dan mukaku. Aku memukul kepalaku sendiri dengan gagang parang. Apa ini suatu tanda baik, Tuhan? Bersambung… []

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di sebuah kota di Sulawesi
*Cerita ini adalah kisah nyata. Beberapa tokoh dan tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *