[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (4)*

Leni berasal dari daerah Ndoso. Saat ini dia berstatus pacaran denganku. Dia adalah anak dari omku. Masih satu darah. Tapi dalam tradisi kami, ada yang disebut perkawinan tungku.

Secara harafiah tungku artinya menyambung atau menyambungkan. Kata tungku biasa dalam konteks menyambung tali dan salah satu jenis perkawinan dalam tradisi kami.

Jenis perkawinan tungku menjadikan aku dan Leni berpacaran. Sebenarnya bukan tungku cu atau tungku dungka, tapi tungku neteng nara. Leni punya bapak adalah nara (saudara laki-laki) sepupu dari mamaku.

Tiap minggu, hampir pasti aku harus mengisikan si Leni pulsa. Begitu juga saudara-saudaranya.

Kedua orangtua kami sudah bersepakat bahwa hubungan aku dan Leni harus sampai pada tahap serius, yaitu suami-istri.

Artinya tinggal tunggu waktu saja aku menikahinya, dan keluarga besarku ke kampung Leni untuk melakukan pembicaraan adat.

Meski Leni adalah wina tungku, aku dan dia belum pernah bertemu. Hanya melalui sambungan telepon.

Tibalah suatu sore Dinda menelepon si Leni. Telepon bertiga atau konferensi. Jadi aku, Leni, dan Dinda berbicara melalui telepon.

“Halo,” kata Leni di ujung telepon.

Aku dan Dinda diam saja. Rupanya Dinda menunggu aku merespons duluan. Kemudian dia menyusul. Entah menyela atau melanjutkan obrolan.

“Iya, halo sayang,” jawabku kepada Leni.
Hae, ganti nomor ite ko?” Kata Leni lagi.
Toe ye, nomor de teman ho’ot telepon ite,” jawabku polos.
Tombo agu hia pe ia. Hitu hia. Ai segi tiga liha bo telepon ho’o. One mai Sulawesi,” lanjutku.

“Halo!!” sapa Leni.
“Iya, Mbak,” jawan Dinda.

Leni belum pernah memanggil dengan sapaan manis atau sayang di HP selama ini meski kami sudah berhubungan cukup lama. Apalagi pujian.

Saat ini, meski telepon konferensi, aku diam saja dan membiarkan Leni mengobrol dengan Dinda.

“Apa betul Mbak itu istrinya Mas yang aku telepon?” tanya Dinda kepada Leni.
“Iya, Mbak. Aku istrinya Mados,” jawab Leni.

“Oya, terus sudah punya anak berapa?” Tanya Dinda.
“Iya, baru satu anak sih. Emang Mados cerita apa ke Mbak? Jangan sampai dia berbohong,” kata Leni lagi.
“Dia jujur kok. Dia memang mengatakan bahwa dia sudah punya anak satu,” jawab Dinda.

Aku mengetahui dari suaranya, Dinda kecewa. Dia berharap bahwa selama ini aku menipunya dengan mengatakan sudah punya satu anak.

Nyatanya tidak. Leni justru dengan tegas mengatakan seperti yang aku katakan kepada Dinda.

“Kamu sudah kenal lama ya dengan suamiku?” Tanya Leni.
“Tidak, Mbak. Kita hanya berkenalan lewat HP. Suaminya mbak tidak bersalah kok,” jawab Dinda.
“Hahaa, aku tidak marah kok. Aku tidak cemburu. Lagian Mados adalah suamiku,” kata Leni sambil tertawa.

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (3)*

Leni bekerja di kantor kecamatan di Golowelu, Kabupaten Manggarai Barat. Dia tinggal di rumah kos.

Dia memanggil anak dari saudaranya untuk tinggal bersama. Kebetulan rumah tidak jauh dari kos. Umur anak ini 4 tahun.

“Ini lho anak kami, Mbak. Apa mau bicara dengan dia?” Kata Leni sambil memperdengarkan suara keponakannya dan mengajak Dinda menanyai anak ini.

Gak usah, Mbak. Aku percaya kok.
Lagian aku sudah mendengar suara anak kamu itu. Anak perempuan kan?” Kata Dinda.

“Iya, Mbak. Anak perempuan yang nakal. Sama seperti bapaknya. Hahaha,” kata Leni.
“Tapi suami Mbak tidak nakal kok. Dia baik. Kamu beruntung punya suami kayak dia,” jawab Dinda.

“Terima kasih pujiannya. Tapi sekali kubilang nakal tetap nakal,” kata Leni.

“Mungkin Mbak berpikir aku selingkuh dengan suami kamu? Gak kok. Kami hanya berteman dan kenal lewat telepon,” jawab Dinda.

Empat jam lamanya kami telepon. Aku bisa merasakan dua gadis ini begitu kecewa. Leni kecewa karena berprasangka bahwa aku selingkuh, dan harapan Dinda sia-sia karena aku sudah punya istri dan anak. Akhirnya kuputuskan sambungan telepon.

“Maaf sayang. HP lowbat dan besok baru dilanjutkan,” kataku kepada Leni.

Baru kali ini aku memanggil Leni dengan kata sayang untuk meyakinkan si Dinda.

Selama ini juga Leni juga hanya memanggilku Mados. Sesekali memanggilku Embot atau Bovan.

Aku merasa bersalah dan mengasihani dua perempuan ini. Tadinya aku berharap agar Leni bicara jujur dan apa adanya. Ternyata harapanku sia-sia juga. Leni malah mengaku punya anak satu dari perkawinan denganku.

Memang perkenalanku dengan Leni biasa-biasa saja. Komunikasi biasa-biasa saja. Hanya aku yang memanjakan dia.

Berbeda dengan Dinda yang selalu memanjakan aku meski baru beberapa hari berkenalan. Aku berpikir kadang-kadang dunia sungguh terbalik.

Aku yang seharusnya lelaki yang memberikan perhatian kepada Dinda. Tapi ini terbalik, Dinda malah memanjakan aku dengan terus menghubungiku, mengobral obrolan, bahkan rela mengisikan pulsa, dan merasa yakin aku adalah pria beristri dan beranak satu.

Lima bulan sudah lamanya aku dan Dinda berkenalan. Utangku juga semakin menumpuk. Sekira 4,8 juta rupiah banyaknya. Kenapa? Karena sejak mengenal Dinda, aku sering bermalas-malasan dan absen dari lahan sawit, tempatku bekerja.

Tujuh bulan sudah utangku belum lunas. Sampai-sampai tuan kios menyetopkan kasbon. Bayar dulu utang lama baru bisa kasbon lagi.

Hari demi hari aku kelaparan, sebab makan tidak bisa kasbon seperti sebelumnya. Kadang-kadang aku harus makan umbut sawit.

Di daerah yang punya perkebunan sawit seperti pulau yang aku tinggali, umbut sawit adalah makanan khas yang bisa diolah dengan berbagai macam.

Siang dan malam aku hanya memakan umbut sawit. Umbut dan ikan dimakan bersama. Aku memang hobi memancing sehingga ikan tangkapan menjadi lauk.

Memakan umbut sawit hanya bertahan tiga hari tiga malam. Tiba saat malam di hari ketiga perutku mules. Aku kena diare. Aku kira penyebabnya karena tidak biasa makan umbut sawit. Jadi, perutku beraksi.

Di tengah kondisi seperti ini, aku dan Dinda tetap berkomunikasi dengan baik. Malahan makin akrab.

Aku juga jarang menelepon Leni. Begitupun dia. Namun, Dinda selalu mengingatkan aku agar tidak melupakan Leni, agar aku terus menelepon Leni.

Anehnya, Dinda terus mengisikan pulsaku hingga beratus-ratus tanpa memberi tahu terlebih dulu kepadaku. Pernah suatu waktu aku mengecek pulsa dan terbaca pesan “sisa pulsa Anda Rp 450 ribu”.

Aku memang jarang menelepon Leni. Sehingga pulsaku menumpuk seperti itu. Ini berkat perbuatan baik si Dinda.

Aku terus bertanya, siapa sebenarnya Dinda itu? Apakah dia malaikat pelindung dan penolong kala aku dilanda sengsara? Dalam tradisi iman kami, tiap pribadi punya santo-santa dan malaikat pelindung. Apakah Dinda merupakan jelmaan malaikat pelindungku?

Pertanyaan ini terlintas begitu saja. Sebab aku seperti melupakan segala beban dan utang sejak mengenal Dinda. Meski tak makan sekalipun, aku merasa kenyang ketika dia menelponku.

Aku ingat saat sebelum mengenal dia sering berdoa agar Tuhan memberikan jalan kepadaku, untuk bisa melunasi utang yang menumpuk. Aku kira Dinda adalah jawabannya.

Dinda membuatku terlelap dalam tidur panjang, dan dia hadir dalam mimpi yang belum pernah aku alami. Sampai kapan pun aku tetap mengingat mimpi itu. Bersambung… []

Foto: Ilustrasi - Pixabay
Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di sebuah kota di Sulawesi
*Cerita ini adalah kisah nyata. Beberapa tokoh dan tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *