[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (3)*

Teman-temanku pindah ke basecamp. Ke lokasi yang jauh dari perusahaan. Kami tinggal bersama.

Tapi aku tak pernah menceritakan kepada mereka apa yang aku alami. Mereka tidak mengetahui bahwa aku terpikat pada gadis misterius di seberang sana.

Setiap hari aku menyendiri. Jauh dari mereka. Aku menjauh untuk sekadar menelepon Dinda dan bergurau-ramai di telepon. 

Setiap kali Dinda menelepon, aku ke semak-semak. Kami berbicara di semak-semak. Disaksikan daun-daun dan alam Kalimantan. 

Tujuh belas dari teman kerjaku adalah satu suku denganku. Ada dari wilayah utara, selatan, dan bagian barat Manggarai. 

Dari belasan kawan ini, Titi adalah saudara sekaligus teman kerjaku dari kampung. 

Hari ini mereka pindah basecamp. Aku tidak pindah, menetap saja di camp. Di sini terdapat 17 kamar dengan ruang tamu yang begitu luas. 

Hari lepas hari aku bekerja sendiri. Ambil petak sendiri. Ditambah basecamp ini tidak punya lampu. Generator pun tidak. Malamku hanya diterangi pelita.

Menurut kawan-kawan, basecamp ini angker. Dihuni makhluk halus. Siang dan malam basecamp sering didatangi makhluk tak kasat mata itu. Oleh karenanya mereka memilih pindah.

Tapi aku menentang mereka. Aku tak sedikit pun percaya, bahwa di sini ada makhluk halus. 

Orang-orang tua dulu pernah bilang dalam go’et mereka, darat woleng tana poti woleng pong. Secara sederhana diterjemahkan bahwa tiap wilayah punya setan, dan setan di sini tentu beda dengan setan di kampung halamanku. 

Lagian aku belum pernah melihat makhluk semacam itu. Sehingga takut bagiku hanya membuang energi. 

Aku menyendiri di basecamp ini. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana kelak aku hidup sendiri di tengah dunia yang orang bilang penuh makhluk halus. 

Itu aku alami sekarang di sini. Ditambah hanya pelita sebagai penerang.

Namun, suara Dinda yang selalu muncul di sore hingga malam di ujung telepon, membuat aku berkeyakinan bahwa aku tidak sendiri.

Saat kerja, mencuci pakaian, dan tidur pun ditemani Dinda. Ya, Dinda yang aku tidak tahu wujudnya. Hanya suara merdunya yang membuatku merasa, bahwa aku tidak sendiri.

Situasi ini kualami selama tiga minggu. Di minggu ketiga Dinda meneleponku dengan serius. Dia menanyakan identitasku yang asli. Nama asli. Dan biodataku.

“Mas, boleh nggak aku dijadikan sahabat spesialmu?” Katanya pada suatu waktu.

Aku bingung menjawabnya. Tidak tahu apa yang mau dijawab. Tidak mengerti.

“Maksudnya gimana, Dinda?”

Mendengar itu, aku mulai percaya diri. Aku memanggilnya sayang. 

“Ya, spesial itu yang lebih dari teman biasa Mas,” katanya.

Aku semakin tak mengerti. Bahkan terasa lucu dan tidak masuk akal. Bagiku, dia menelepon saja sudah lebih dari spesial. Walaupun tidak berhadap muka, setidaknya jelas dalam setiap tutur katanya. 

“Dinda sudah tahu asalku darimana dan seperti apakah aku?” Aku bertanya.

“Itu dia Mas. Aku mau tahu semua tentang kamu,” jawabnya.

“Uissss ini pasti dalam sekali,” jawabku sambil tertawa, dan disambut tawanya dari seberang.

“Dinda, aku berasal dari Flores,” lanjutku. 

“Portugal ya Mas?”

“Halah, bukanlah. Itu di bagian timur tenggara Indonesia. Utara Australia,” jawabku.

“Berarti kamu orang barat lo Mas?”

“Hush, bukan kali.”

“Hahahha…”

“Kamu dari mana Mbak?”

“Aku dari Sulawesi, Mas. Campuran Jawa dan Sulawesi. Aku bekerja di salah satu perusahaan di Sulawesi.”

Aku ingat sewaktu hari pertama telepon. Dia bilang mahasiswa jurusan psikologi. Kok hari ini dibilang bekerja di perusahaan B? Sudahlah. Barangkali dia bercanda.

“Kamu pasti cantik ya Dinda?” Kataku menggoda.

“Biasa aja kok, Mas. Sama kayak perempuan pada umumnya.”

“Hmmm, apalagi kamu ada darah campuran tuh.”

Aku tidak bisa bayangkan kecantikan gadis Sulawesi berdarah Jawa. Perpaduan dua keturunan yang menurutku begitu komplit.

“Tapi kamu tahu karakter orang Flores kan Dinda?” Tanyaku.

“Gak, Mas. Seperti apa memangnya?”

“Dengar Dinda, dengar baik-baik ya! Aku orangnya sangar. Tampang luar seperti penjahat. Kamu tahu itu?”

“Ah, masa? Tidak mungkin Mas.”

“Betul Dinda. Aku jujur. Bahkan aku lebih jahat. Kalau kamu lihat aku, kamu pasti lari.”

“Serius? Kenapa merendah seperti itu Mas? Jangan begitu dong!”

“Wah, serius kok. Kamu mungkin tertipu dengan suaraku Dinda?”

“Pokoknya aku gak percaya, Mas.”

“Baiklah. Jangan menyesal nanti ya kalo ketemu aku.”

“Tapi aku banyak teman orang Flores kok. Mereka baik-baik. Lucu lagi.”

“Okelah Dinda. Asal aku sudah bicara jujur. Apa adanya.”

“Tapi kamu gak akan memperlakukan aku kasar kan Mas?”

“Pastilah Dinda.”

Aku tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa aku memang sangar. Jangan sampai perempuan ini tertipu oleh karena suara nyaring dan bergema di telepon. 

Ataukah dia mau mengetes lagi tentangku? Sudahlah. Itu urusan dia. Asal aku sudah kasih tahu sejujur-jujurnya. Soal dia percaya atau tidak, itu urusan belakangan.

“Aku gak percaya, Mas. Kamu bukan seperti yang kamu katakan. Aku yakin kamu rendah hati, jujur, setia dan romantis,” jawabnya. 

Jawabannya seketika membuatku meleleh. Seperti lilin yang kupasang di basecamp saat lampu pelita kehabisan minyak.

“Ya, terserah kamu anggap aku seperti apa deh Dinda. Lagian tidak ada untungnya buatku. Kita tak mungkin bisa bertemu kok,” kataku diplomatis.

“Kamu percaya gak Mas? Suatu saat kita bisa bertemu?” Ujarnya.

Aku terpingkal-pingkal mendengarnya. Sampai-sampai perut menahan sakit karena tertawa atas omongannya.

“Hmmm, pokoknya aku gak percaya Dinda,” jawabku.

“Mas, Aku serius, dan akan segera mungkin ingin bertemu kamu.”

“Hah?”

“Iya, karena kamu sangat baik, sopan. Dan lebih lagi aku terhipnotis dengan kamu merendahkan diri.”

“Yaelah ah, biasa saja Dinda.”

“Tidak Mas. Aku sangat bangga bisa kenalan dengan kamu. Makanya aku mau mencari kamu walaupun itu jauh.”

Aku tambah ketawa seperti tidak waras. Tapi bagaimanapun, gadis itu sepertinya sudah jujur. Hanya aku yang tidak yakin.

“Mas, aku serius lho. Izinkan aku menemui kamu,” katanya lagi.

“Jangan, jangan Dinda. Tolong janganlah.”

“Memangnya kenapa Mas? Aku mau ke sana hanya untuk berlibur.”

“Ya, tempat liburan kan banyak. Di Bali bisa. Kenapa harus ke tempatku?”

“Dengar kau Dinda! Di sini angker. Banyak makhluk halus. Dikelilingi hutan rimba,” lanjutku.

“Walah, pokoknya aku mau ke sana Mas.”

“Tolonglah Dinda. Aku di sini sudah empat tahun lamanya. Jadi aku tahu tempat ini, bukan kamu.”

“Pokoknya aku mau ke sana Mas!”

“Jangan Dinda. Aku ini penjudi, pemabuk, dan utang sangat banyak. Bagaimana aku mau tanggung jawab dengan keselamatanmu.”

“Hadeh. Itu kan kamu merendah Mas.”

“Hmmm, aku serius dinda sayang. Aku berani bersumpah.”

Dia menjeda obrolan. Lalu melanjutkan obrolan receh.

“Kamu bilang tinggal di hutan, masa ada jual minuman keras? Kamu bohong ya?” Katanya meragu.

Begitu mendengar ucapannya aku terharu. Ya Tuhan, orang seperti ini langka. Bisa-bisanya ia meluruskan omonganku, yang sudah jelas-jelas bohong agar dia membatalkan niatnya ke Kalimantan hanya untuk menemuiku.

Baca juga:

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (2)*

Aku seperti bermimpi atau mengigau. Ah, tidak mungkin. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Ini adalah percakapan lelaki dan perempuan yang tidak masuk akal bagi kebanyakan orang. 

Jika aku menceritakan kepada kawan-kawanku, mereka tak akan percaya. Bulsyit. Ya, bulsyit

Kalo memang Mas sudah punya istri dan anak, coba kenalin sama aku sekarang!” Pintanya.

“Kamu serius Dinda?”

“Iya, kirim ke aku nomor istrimu. Tapi nanti Mas bilang aku siapa ke istri Mas?”

“Nanti aku bilang kamu temanku.”

“Apa dia gak cemburu Mas?”

“Tidaklah….. Kami orang Flores tidak ada kamus cemburu.”

Keberaniannya membuatku merasa bersalah. Bahwa aku berbohong agar dia tidak melakukan hal bodoh itu.

Aku sebenarnya masih bujang. Sengaja kubilang sudah beristri dan punya anak satu untuk mengelabui dia.

“Waduh, aku gak punya pulsa mau kirim nomor istriku ke kamu ya Dinda.”

“Hmmmmm.”

“Iya, sudah lama gak isi pulsa. Counter jauh di kota. Aku di hutan. Walaupun ke kota isi pulsa, aku gak punya uang.”

“Ya sudah. Aku belikan kamu voucher.”

“Gak usah repot-repot Dinda.” 

Aku berkata demikian karena memang aku tak yakin dia senekat itu. Mustahil itu. Oh Tuhan. Dia membeliku voucher 100.

“Itu Mas. Sudah. Aku kirimkan kode voucher-nya ya.”

“Kode apa Dinda? Aku gak ngerti.”

Tidak lama kemudian di layar HP-ku muncul SMS. Hanya berupa angka. Lalu kuhapus, karena aku berpikir dia cuma mengerjaiku. 

Orang gila mana yang membeli voucher hanya untuk seseorang yang mengenal via telepon? Bodo amat! 

Beberapa detik kemudian…

“Halo Mas!”

“Iya, halo!”

“Sudah isi pulsanya ya Mas?”

“Waduh maaf sayang. Nomornya kepencet. Jadinya terhapus nomornya. Bisa gak dikirim lagi?”

Dia pun mengirim ulang. Luar biasa. Pulsa 100 masuk ke HP-ku. Antara terharu dan ragu bercampur jadi satu. 

Di sisi lain, aku merasa malu karena meragukan kejujuran dan keberaniannya. Tapi di sisi lain aku merasa bersalah karena menipunya. Tujuanku hanya satu, yakni mencegahnya bertindak nekat. Tapi apa daya, tak bisa kuduga dia senekat itu.

Aku berdoa dalam hati. Maafkan aku Tuhan. Tapi aku juga berterima kasih. Bantuan meski kecil tapi sangat berarti bagiku saat ini. 

Tidak pernah orang memberikan bantuan sebesar itu. Jangankan 100, tidak pernah selama ini ada orang mengisi pulsa 10 atau pulsa 5.

Aku terbaring di semak-semak. Tak peduli apa ular memagutku atau tidak. Tak peduli hujan atau rumput-rumput bahkan alang-alang menembus kaos yang kukenakan.

Seperempat jam kemudian aku bangun. Kali ini aku harus menelpon si Dinda. Ini bukti terima kasihku padanya.

Nomor yang Anda tuju sedang sibuk!” Wah, nomornya sibuk. Dia menelepon siapa ya?

“Mas, aku barusan menelepon kamu. Tapi jawaban operator nomormu sibuk!”

“Begitu juga aku Dinda.”

“Wah, kompak ya Mas?”

“Pulsanya kebanyakan Dinda. Apa gak salah kirim?”

“Emang pulsa berapa Mas?”

“Pulsa 100 Dinda.”

“Ya, sudah. Kamu kirimkan nomor istrimu biar aku menelepon dia!”

“Aku saja yang nelpon Dinda. Kan kamu sudah isikan aku pulsa.”

Tapi dia tetap ngotot dan menelpon si Leni. Bersambung…[]

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di sebuah kota di Sulawesi

*Cerita ini adalah kisah nyata dan nama-nama dan tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *