[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (2)*

Dua hari dia tidak menelepon. Aku juga tidak mau menelepon dia. Bagiku, dia adalah orang asing, dan dia yang seharusnya meneleponku kalau memang betul-betul membutuhkanku.

Namun, dua hari dia tidak menelpon, selama itu juga aku lupa akan utangku. Seperti tidak ada beban sama sekali.

Sesuai janjinya dia baru memberi tahu namanya pada hari ketiga.

“Halo, Mas! Apa kabar, baik-baik kan?”
“Alhamdulillah aku baik-baik, Mbak. Di situ kabarnya gimana?”
“Seperti yang Mas dengar suaraku saat ini.”

“Oh, syukurlah Mba! Ini kan hari ketiga, boleh dong aku tahu namamu.”
“Iya Mas. Aku tidak ingkar janji kok!
Tapi, apakah Mas percaya jika aku kasih tahu nama lewat telpon?”
“Terseralah…”
“Kan lewat telepon. Bisa saja aku berbohong.”
“Kok gitu, ya?”
“Aku serius, Mas!”
“Yah, bagiku yang penting kamu punya nama. Entah nama asli atau palsu. Biar kita saling menyapa dengan nama masing-masing.”

“Kalau begitu, terserah Mas aja deh mau panggil aku siapa?”
“Wah, dari suaranya kayaknya kamu cantik ya. Kupanggil Dinda saja deh.”
Gak apa-apa deh!”

Mulai hari ini aku memanggilnya Dinda.

“Eits, kamu nama siapa, Mas?” Tanyanya.
“Panggil saja Van.”
“Hahaha, itu nama asli apa palsu,” katanya meragu.
“Terus siapa dong kalau gak percaya?”
“Hmmmmm, sepertinya nama kamu diawali M dan diakhiri S.”

Busyet!! Kok dia tahu namaku? Astaga ada yang tidak beres rupanya. Aku langsung mematikan telepon.

Apakah aku memberi tahu namaku kemarin ya? Mudah-mudahan aku belum amnesia. Seingatku, aku belum memberi tahu nama kepada gadis misterius ini.

Tidak! Tidak mungkin. Kalaupun aku sudah beri tahu namaku, mustahil dia masih ingat.

Aku terus bertanya. Meragukan keberadaan gadis ini. Jangan-jangan dia mengenalku tapi pura-pura tidak tahu. Atau mengetes kejujuranku.

Awas saja. Akan kumaki-maki orang ini jika dia mengerjaiku. Aku seperti tidak waras. Maki sana-sini.

“Kenapa teleponnya langsung diputuskan, Mas?” Dia bertanya lagi.
“Oh, maaf Dinda! Tadi kepencet.”
“Oya?”
“Hei, Dinda yang serius dong. Kamu siapa sebenarnya? Jangan bercanda dong!” Kataku.
“Lha, kenapa Mas? Tidak percaya sama aku ya?”
“Bukan begitu sih. Tapi kok kamu tahu namaku. Padahal aku belum kasih tahu,” jawabku.

“Mas, aku kuliah di Universitas A Jurusan Psikologi. Jadi, aku bisa mengetahui kamu dari suara.”
“Wah, kamu hebat dong!” Kataku memuji dia.
“Ya, itu juga belum pasti sih. Aku cuma menebak-nebak.”
“Tapi tebakanmu tepat sekali, Mbak. Namaku memang bukan Van, tapi Mados!” Jawabku.

Aku mulai percaya diri. Memujinya lalu mengumbar gombal receh.

“Dinda, boleh ya aku tanya kamu?”
“Tanya apa, Mas?”
“Tidak! Tidak! Tidak jadi Dinda. Aku cuma mau tes doang kok.”
Gak apa-apa, Mas. Tanya saja!”

Padahal aku mau tanya dia, apa dia sudah punya pacar, atau suami.
Tapi aku tidak jadi bertanya. Alasannya aku masih malu-malu.

“Mas? Boleh tanya sesuatu gak?” Ujarnya.
“Boleh!! Tanya apa Dinda?”
“Ah, nanti masnya gak mau gimana???”
“Tanya aja Dinda! Lagian kan kita tidak saling kenal!! Hanya dalam HP kok. Kenapa takut?”

Lama sekali dia mengelak pertanyaan itu. Dengan berbelit-belit dia berbicara.
Seolah dia tidak mau kalau nanti pertanyaannya tidak dijawab.

Aku juga ingin sekali mendengar pertanyaan perempuan yang penuh dengan misteri itu. Dalam hati aku berharap dia belum punya pacar. Aku pun kembali bertanya sama dia.

“Dinda mau tanya apa sih? Kok kayak ada yang disembunyikan deh…Tanya saja ga apa apa kok… Aku pasti menjawab, apa pun pertanyaannya kalo aku bisa jawab.”

Dengan volume suara yang sangat kecil dia berbisik, “Apa kamu sudah punya pacar, Mas?” Katanya sambil mengalihlan ke pembicaan yang lain.

“Apa, apa? Apa tadi Dinda? Kurang jelas kedengarannya. Coba diulang??”
“Ulang apa, Mas??”
“Kata yang tadi kamu ucapkan sebelumnya itu lho.”

“Kata apa sih, Mas? Aku tidak mengatakan apa-apa kok. Haha, Masnya aja yang salah dengar,” katanya mengelak sambil tertawa.

“Ah,, kamu curang Dinda. Masa kamu mengelak sih??”
“Apa Mas sudah punya pacar atau belum???”

Aku ketawa terbahak-bahak mendengarnya. Dalam hati aku merasa senang jika digombali duluan. Melompat-lompat. Ingin kukatakan yes, yes, tapi aku tidak berani mengucapkannya agar dia tidak tahu bahwa aku sangat gembira.

Baca juga:

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (1)*

“Halah, kalaupun aku kasih tahu, Dinda pasti tidak percaya kalau aku sudah punya pacar atau istri, atau mungkin sudah punya anak. Tidak mungkin juga aku kasih tahu kamu,” kataku.

“Tapi…,” lanjutnya.

“Dan kalaupun pun aku kasih tahu kamu pasti tidak percaya! Ya, namanya juga kenal di udara ya kan?”

Biasanya banyak orang yang mengaku bujang atau singel, padahal sudah beristri, anak, bahkan punya cucu jika berkenalan dengan cewek. Seperti di lagu-lagu tempo dulu. Apalagi berkenalan melalui nomor HP. Orang susah berkata jujur. Dari situlah lahir perselingkuhan tipis-tipis.

“Tapi terserah kamu deh Dinda! Aku sudah punya istri lho, anak satu. Mereka ada di kampung.”

“Ah, Mas pasti bercanda deh. Kalo dari suaranya, Mas pasti belum kawin ni, apalagi pacar,” katanya menggodaku.

“Hahah, berarti kamu itu sudah terhipnotis oleh suaraku. Aku sudah punya istri kok.”

“O ya,” jawabnya dengan nada kecewa.

Aku menangkap suara kekecewaan dari balik telepon. Antara percaya dan tidak. Aku tak percaya dia seberani itu menggodaku yang sudah jelas-jelas sudah jujur.

“Pasti istri kamu bahagia ya Mas bisa mendapatkan kamu?” katanya.

Sebenarnya aku juga berbohong. Hanya mau mengetes apakah dia betul belajar psikologi seperti ceritanya di perkenalan awal.

“Eh, kalau Dinda betul mengenal seseorang dari suaranya, mana buktinya? Aku kan sudah jujur, sudah beristri,” kataku.

“Ya, tidak selamanya benar kan? Namanya juga manusia biasa. Jadi aku harus belajar lagi,” jawabnya.

Mulai saat ini dia rajin meneleponku. Tapi dia tidak pernah memberi tahu asalnya. Ataupun nama aslinya.

Meskipun demikian, Dinda cepat akrab dan nyambung. Aku bahkan semakin dewasa setelah mengenal dan mengobrol begitu akrab dengan dia. Bersambung…[]

Foto: Ilustrasi - Pixabay.com
 
Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di sebuah kota di Sulawesi 
*Cerita ini adalah kisah nyata. Nama-nama tokoh dan beberapa tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *