[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (11 – selesai)*

Satu bulan kemudian…..

Aku dan kawan-kawan berpisah. Kami meninggalkan daerah yang memberi warna pada perjalanan hidup kami masing-masing. Kami mempunyai cerita berbeda yang kami bawa pulang sebagai pengalaman. 

Berat hati kami meninggalkan tempat ini. Berat meninggalkan kebaikan orang-orang yang mencintai kami dengan caranya masing-masing. 

Begitu kami berpamitan, Mama Louis menangis sejadi-jadinya. Dia kehilangan anak-anak baik yang kerap menjadi bagian dari kisah-kisah kasbon dan cerita tawa anak-anak rantau. Begitu juga Pak Martin yang baik hati. Dia tak rela melepaskan kami. 

Tapi kepergian kami bukan tanpa alasan. Bukan karena takut dililit utang atau tidak menyukai pekerjaan di hutan sawit yang dipimpin Pak Martin.

Sejak kepergian Dinda, basecamp kami sering kemalingan. Ada-ada saja tingkah laku tamu tak diundang ke camp kami. Beras di dalam karung kadang-kadang dicampur kerikil dan sebagiannya berhamburan di lantai lantaran ulah mereka.

Suatu malam aku marah besar. Lalu aku menanyakan rumah Pak Lurah kepada Mama Louis. 

Setelah diberitahu Mama Louis aku menuju rumah Pak RT. Dengan refleks aku melemparkan batu besar ke arah rumah mereka saking tak bisa membendung emosi.

Aku melempar batu ke rumah itu karena aku melihat pencuri lari ke sana saat kami mengejarnya. 

Pemilik rumah pun kaget dan ramai-ramai mendatangi kami. Dua kawanku lari ketakutan. 

Aku menenangkan mereka agar tidak panik, sebab aku yang bertanggung jawab atas peristiwa tengah malam ini.

Mama Louis datang membela kami begitu tahu kami terlibat adu mulut dengan warga. 

Tiba-tiba dia menghadap satu pemuda dan menghalaunya saat hendak memukulku. Rupanya pemuda ini kesal karena kami berteriak “ada maling” malam ini.

“Berani kamu pukul anakku berarti kamu berurusan dengan aku!!” teriak Mama Louis.

Mereka ketakutan. Diam seribu bahasa. Lalu terjadilah proses negosiasi hingga  tercipta perdamaian dan komitmen bersama.

Para tetua adat dan warga pun meminta maaf atas kejadian itu. Mereka berjanji sesegera mungkin mencari pelaku pencurian.

Meski demikian, kami akhirnya memutuskan hijrah ke tempat lain. Kami bubar. 

Saat kami mencari jalan masing-masing, Titi masih mengutang satu juta tiga ratus ribu rupiah. Dinda berbaik hati melunasi utangnya.

Sejak saat ini kami berpencar, merantau ke tempat yang lebih jauh. Ada pula yang memilih pulang.

Rikardus menjadi tukang ojek di kampung halaman, Ronaldus ke Sulawesi bersama istrinya, sedangkan Titi tetap di daratan Kalimantan setelah menikahi gadis Dayak.

Aku sempat ke Melak tetapi sebulan kemudian menyeberang ke Sulawesi bersama Savrianus dan Inosensius.

Tak disangka, Dinda sudah menungguku di sebuah hotel. Dia menyarankan agar aku menemuinya di hotel itu. 

Tapi….

Aku menolak tawarannya. Aku takut Dinda berubah pikiran lantas menjebakku dan membunuh atau meracuniku.

Namun alasan itu tak kuberi tahu ke Dinda. Aku hanya bilang butuh istirahat sehingga minggu berikutnya baru bisa bertemu.

Dua puluh hari aku tinggal di kota ini. Aku menata kembali harapan-harapan yang terbuang. Aku menyusun kembali komitmen untuk merantau lebih jauh atau terbuai dalam pelukan mesra di rahim Bumi Celebes.

Rumah Kakak Nandus adalah tempat aku beristirahat sekembalinya dari Kalimantan.

Di sini, pertama-tama yang harus aku temui selain Dinda dan Kakak Nandus adalah Sedis. 

Aku berusaha mencari Sedis untuk meminta maaf dan mendengar cerita sebenarnya tentang si Dinda alias Monalisa Dayana.

Sedis dengan jujur menceritakan semuanya. Tak satu kata pun meleset dari mulutnya. Persis seperti yang diceritakan Dinda sendiri kepadaku, dan saat Sedis menceritakan kepadaku via SMS tempo dulu.

Aku juga menceritakan semua tentang Dinda kepada Nandus kakakku. Dinda memang sering menelepon mereka, tapi baru kali ini Kakak Nandus mendengar kronologi yang detail dariku.

Suatu hari yang tak kuduga, angin sepoi meniup ke seluruh pori-pori. Dinda datang lagi. Aku hanya kaget kenapa Dinda menemui rumah Kak Nandus. Dunia ini memang terlalu kecil untuk manusia yang bertualang.

Usai menyambut si Dinda, Kak Nandus ke rumah keluarga. Kak Nandus rupanya memahami bahwa aku dan Dinda butuh ruang sunyi untuk mendengar suara hati masing-masing. Kami pun berduaan. Rumah Kak Nandus jadi saksi.

Di sini kami saling berbagi cerita dan berkomitmen untuk menentukan  hubungan kami selanjutnya.

“Hubungan kita bagaimana selanjutnya sayang? Aku sudah sah bercerai dengan Rozky,” katanya.

Aku diam saja begitu dia meminta pendapatku. Perasaan malu, merasa bersalah, dan ragu seolah bercampur aduk lalu membiusku. 

Aku malu sebab dia telah banyak membantu aku dan keluargaku tanpa diminta. Di sisi lain, aku tak mau hubungan kami tidak direstui keluarganya. 

“Embot, jawab dong! Apa pendapatmu?”

“Aku jawab sejujurnya, Dinda. Tapi aku punya pertanyaan.”

“Apa itu, Embot?”

Pertama, apa keluargamu sudah mengizinkan aku untuk menikahimu? Kedua, apa keluargamu menerima jika aku ke rumahmu? Ketiga, tentu kita tidak bisa menikah karena menurut ajaran Gereja Katolik, suami atau istri tidak bisa menikah lagi sebelum salah satunya meninggal. Suamimu belum meninggal dan kamu tidak mungkin kawin lagi. Aku tidak bisa menikahimu sebelum kamu berstatus janda. Keempat, aku tidak mau kalau kamu jadi tulang punggungku, sedangkan kamu orang kaya dan aku tidak punya apa-apa. Kelima, aku tidak mau jika hubungan kita menggantung alias tanpa status yang jelas dan tidak direstui keluarga,” jawabku.

“Lalu?”

“Iya, apakah kamu sudah menceritakan semua tentang aku kepada keluargamu dengan jujur? Aku mendengar informasi bahwa kamu memberi tahu keluargamu bahwa aku adalah Bondan dan bekerja di sebuah bank negara,” jawabku.

Dia diam seribu bahasa dan aku melanjutkan penjelasanku.

“Kalau di pihakku, keluarga tidak masalah. Begitu juga aku. Tapi bagaimana keluargamu? Jika kamu betul-betul mencintaiku, sekarang ini juga tolong pertemukan aku dengan keluargamu. Aku siap.”

Baca juga:

Dia menangis sejadi-jadinya mendengar penjelasanku. Situasi jadi tegang karena Dinda hanya menangis. 

“Embot, bunuh aku sekarang juga. Aku tidak mau hidup lagi. Bunuh aku, Embot!!!”

Dia terus berteriak. Merengek dan bersandar di pundakku. Tapi tak berani menjawab pertanyaan-pertanyaan dan permintaan tadi. 

Seketika mulai saat ini hubungan kami tidak jelas. Seperti di persimpangan. Dia tidak memberi jawaban pasti dan hubungan kami berakhir di persimpangan.

Kakak dan bapakku bahkan menangis begitu mendengar informasi ini. Mereka tidak rela hubunganku dengan Dinda berakhir. 

Di satu sisi Dinda tak memberi jawaban pasti. Tapi di sisi lain dia terus berusaha menemui dan membujukku untuk tinggal bersama, bahkan mengiming-imingi aku dengan motor, rumah mewah dan sejumlah uang. 

“Semua ini sebagai tanda terima kasihku kepada kamu, Embot. Kamu sudah menolongku, sudah menyelamatkan aku dari mati. Walaupun kamu sudah tidak mau lagi denganku, itu tidak masalah, tapi tolong terima semua ini sebagai kenangan akan daku,” ujarnya.

Aku tetap pada komitmen bahwa lima pertanyaan tadi harus dijawab. Jika Dinda tidak memberi kejelasan, aku anggap dia belum siap dan hanya menjadikanku pelarian.

“Tuhan Mahatahu, Tuhan Maha Pendengar….”

Doa singkatku didengar-Nya. Tiba-tiba seseorang mengajakku ke Papua. Astaga kapal seukuran lapangan bola kaki membawaku ke negeri matahari terbit. Lebih jauh dari sebelumnya ke utara.

Selang beberapa hari Dinda menyusulku ke Papua. Dia terus mengejarku. Namun dia akhirnya kembali pulang begitu tak mengetahui alamat di Bumi Cenderawasih.

Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dia lagi. Aku terus berdoa semoga Tuhan melindunginya meski kami mustahil bisa bersama. Selesai. []

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di salah satu daerah di Pulau Sulawesi

Catatan redaksi:

Ralat: Pada bagian 1 – 10 di akhir cerita tertulis “Ini adalah kisah nyata. Beberapa nama dan tokoh disamarkan”, yang seharusnya “cerita ini terinspirasi dari kisah nyata dan refleksi penulis”. Terima kasih. Semoga menginspirasi.

Facebook Comments

2 thoughts on “[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (11 – selesai)*”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *